Pembantaian Umat Manusia Yang Pernah Terjadi Dalam Sejarah

Pembantaian Sabra dan Shatila


sabra_and_shatila.jpg

Pembantaian Sabra dan (Shatila/Chatila) terjadi pada September 1982, di Beirut, Lebanon, yang saat itu diduduki oleh Israel. Pembantaian ini dilakukan oleh para milisi Kristen Maronit Lebanon atas para pengungsi Palestina di kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Pasukan-pasukan Maronit berada langsung di bawah komando Elie Hobeika yang belakangan menjadi anggota parlemen Lebanon, dan pada tahun 1990-an juga menjadi seorang menteri di kabinet Lebanon.

Sepanjang peristiwa ini, kamp-kamp tersebut dikepung oleh tentara-tentara Israel, dan para milisi itu dikirim oleh Israel untuk mencari anggota-anggota PLO. Sejauh mana Israel bersalah dalam pembantaian ini banyak diperdebatkan, dan Israel menyangkal bahwa pihaknya bertanggungjawab langsung. Namun temuan-temuan membuktikan bahwa orang-orang Israel, antara lain Ariel Sharon, secara tidak langsung bertanggungjawab...

Sejak 1975 hingga 1990, Lebanon terlibat dalam perang saudara antara kelompok-kelompok yang bersaingan, dan didukung oleh sejumlah negara tetangga. Orang-orang Kristen Maronit, yang dipimpin oleh partai Falangis dan milisi, mula-mula bersekutu dengan Suriah, dan kemudian dengan Israel, yang mendukung mereka dengan senjata dan latihan untuk memerangi fraksi PLO (Organisasi Pembebasan Palestina). Sementara itu, fraksi-fraksi yang lainnya bersekutu dengan Suriah, Iran dan negara-negara lain di wilayah itu. Selain itu, sejak 1978 Israel telah melatih, mempersenjatai, memasok dan menyediakan seragam bagi Tentara Kristen Lebanon Selatan, yang dipimpin oleh Saad Haddad..

Sabra adalah nama dari sebuah pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut Barat, yang bersebelahan dengan kamp pengungsi UNRWA Shatila yang dibangun untuk para pengungsi Palestina pada 1949. Selama bertahun-tahun penduduk dari kedua wilayah ini menjadi semakin bercampur, sehingga istilah "kamp Sabra dan Shatila" menjadi biasa. Penduduknya membengkak oleh karena pengungsi-pengungsi Palestina dan Syi'ah dari selatan yang melarikan diri dari perang.

PLO telah menggunakan Lebanon selatan sebagai pangkalan untuk penyerangan-penyerangan mereka atas Israel, dan sebagai balasan Israel mengebomi posisi-posisi di Lebanon selatan. Upaya-upaya pembunuhan atas Duta besar Israel, Shlomo Argov di London pada 4 Juni menjadi sebuah alasan peperangan (meskipun pada akhirnya ternyata ini dilakukan oleh sebuah kelompok yang memusuhi PLO, Abu Nidal) dan mengubah saling permusuhan ini menjadi perang besar-besaran. Pada 6 Juni 1982, Israel menyerang Lebanon dengan 60.000 pasukan dalam suatu tindakan yang dikutuk oleh Dewan Keamanan PBB. Dua bulan kemudian, di bawah suatu kesepakatan gencatan senjata yang disponsori AS yang ditandatangani pada akhir Agustus, PLO setuju untuk menyerahkan Lebanon kepada pengawasan internasional, dan Israel setuju untuk tidak menyerang lebih jauh ke Beirut, dan menjamin keamanan warga sipil Palestina yang tertinggal di kamp-kamp pengungsi.

Pada 23 Agustus 1982, Bachir Gemayel, yang sangat populer di antara kaum Maronit, terpilih menjadi Presiden Lebanon oleh Dewan Nasional. Israel telah mengandalkan Gemayel dan pasukan-pasukannya sebagai suatu kekuatan tandingan terhadap PLO.

Pada 1 September, evakuasi para pejuang PLO dari Beirut selesai. Dua hari kemudian, Israel mengerahkan angkatan bersenjatanya di sekitar kamp-kamp pengungsi. Hal ini jelas merupakan pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata, tetapi Israel tidak diminta mengundurkan diri oleh tentara-tentara pengawas internasional yang mengawasi penarikan mundur PLO dan menjamin keamanan para pengungsi Palestinayang tertinggal pada 11 September, setelah penarikan yang lebih awal dari pasukan-pasukan AS.

Hari berikutnya Ariel Sharon, menteri pertahanan Israel pada waktu itu, mengklaim bahwa 2.000 pejuang PLO masih berada di Beirut. Klaim ini dibantah oleh pihak Palestina. Perdana Menteri Israel Menachem Begin membawa Gemayel ke Nahariya dan dengan keras mendesaknya untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Menurut sejumlah sumber, ia pun menuntut diterimanya kehadiran militer di Lebanon selatan di bawah pengawasan Mayor Saad Haddad (seorang pendukung Israel), dan tindakan dari Gemayel untuk memindahkan para pejuang Palestina yang menurut Israel masih bersembunyi di kamp-kamp pengungsi, termasuk Sabra dan Shatila.

Namun, kaum Falangis, yang sebelumnya bersatu sebagai sekutu Israel yang dapat diandalkan, kini terpecah karena berkembangnya aliansi dengan Suriah, yang menentang Israel. Gemayel kini harus mengimbangi kepentingan-kepentingan dari banyak fraksi yang bersaing di Lebanon. Selain itu, menurut sejumlah laporan saksi mata, ia secara pribadi merasa tersinggung atas apa yang dilihatnya sebagai sikap yang sok dari Begin atas dirinya. Ia menolak tuntutan-tuntutan Israel untuk menandatangani perjanjian itu ataupun memberikan kuasa untuk dilakukannya operasi militer di kamp-kamp pengungsi.

Sabra-Shatila_massacre%206.jpg

Pada 14 September 1982, Gemayel dibunuh dalam sebuah ledakan hebat yang menghancurkan markas besarnya. Para pemimpin Palestina dan Muslim menyangkal bahwa mereka bertanggung jawab. Namun Ariel Sharon mempersalahkan orang-orang Palesina, sehingga membangkitkan kemarahan kaum Falangis terhadap mereka.

Hari berikutnya, 15 September, tentara Israel menduduki kembali Beirut Barat, membunuh 88 orang dan melukai 254 orang. Tindakan Israel ini melanggar perjanjiannya dengan AS untuk tidak menduduki Beirut Barat. AS pun telah memberikan jaminan tertulis bahwa AS akan menjamin perlindungan warga Muslim di Beirut Barat. Pendudukan Israel juga melanggar perjanjian perdamaiannya dengan tentara-tentara Muslim di Beirut dan dengan Suriah.

Menachem Begin membenarkan pendudukan Israel sebagai "hal yang perlu untuk mencegah langkah-langkah balasan oleh orang-orang Kristen terhadap orang Palestina" dan untuk "menjaga keamanan dan kestabilan setelah pembunuhan Gemayel." Namun, beberapa hari kemudian, Sharon mengatakan kepada Knesset, parlemen Israel: "Masuknya kita ke Beirut Barat dimaksudkan untuk memerangi infrastruktur yang ditinggalkan oleh para teroris."

Tentara Israel kemudian melucuti senjata para milisi yang tidak pro Israel maupun warga sipil di Beirut Barat, semampu mereka, sementara membiarkan para milisi Falangis Kristen di Beirut Timur tetap bersenjata lengkap.

Peristiwa

Ariel Sharon kemudian mengundang satuan-satuan milisi Falangis Lebanon untuk memasuki kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila untuk membersihkannya dari para teroris. Di bawah rencana Israel, tentara-tentara Israel akan mengontrol daerah sekeliling kamp-kamp pengungsian itu dan memberikan dukungan logistik sementara milisi Falangis memasuki kamp-kamp itu, mencari para pejuang PLO dan menyerahkannya kepada pasukan-pasukan Israel.

Namun pada akhirnya tidak seorangpun yang diserahkan kepada pasukan-pasukan Israel. Tak ada pertempuran ataupun senjata yang ditemukan di kamp-kamp itu. Dokumen-dokumen yang diajukan kepada tuntutan atas kejahatan-kejahatan perang di Belgia terhadap Ariel Sharon konon memperlihatkan bahwa kalim mengenai kehadiran para pejuang PLO di kamp-kamp itu hanyalah sebuah cerita rekaan yang disiapkan oleh Israel.

Sabra-Shatila_massacre%205_small.jpg

Perintah Sharon kepada para milisi Falangis menekankan bahwa militer Israel berkuasa atas seluruh pasukan di daerah itu. Militer Israel telah sepenuhnya mengepung dan menyegel kamp-kamp itu dan mendirikan pos-pos pengintaian di atap gedung-gedung tinggi di sekitarnya pada 15 September. Hari berikutnya Israel mengumumkan bahwa mereka telah mengendalikan semua posisi penting di Beirut. Militer Israel bertemu sepanjang hari dengan pucuk pimpinan Falangis untuk mengatur rincian operasi. Selama dua malam berikutnya, sejak senja hingga larut malam, militer Israel menembakkan cahaya-cahaya suar di atas kamp-kamp itu.

Pada malam 16 September, 1982, para milisi Falangis di bawah komando Elie Hobeika, memasuki kamp-kamp itu. Selama 36 hingga 48 jam berikutnya, para milisi Falangis membantai para penghuni kamp pengungsian itu, sementara militer Israel menjaga pintu-pintu keluar dan terus-menerus menembakkan suar di malam hari.

Sebuah satuan yang terdiri atas 150 milisi Falangis (termasuk sejumlah pasukan SLA, menurut Saad Haddad, seperti yang dikutip oleh Robert Fisk, dan juga sumber-sumber lainnya) dikumpulkan pada pk. 4 sore. Para milisi ini dipersenjatai dengan senapan, pisau, dan kapak dan memasuki kamp-kamp itu pada pk. 18.00. Seorang perwira Falangis melaporkan 300 pembunuhan, termasuk korban sipil, kepada pos komando Israel pada pk. 20.00, dan lebih jauh melaporkan bahwa pembunuhan-pembunuhan ini berlanjut sepanjang malam. Sebagian dari laporan-laporan ini diteruskan kepada pemerintah Israel di Yerusalem, dan dibaca oleh sejumlah pejabat senior Israel.

Pada satu kesempatan, seorang anggota milisi mengirimkan lewat berita pertanyaan kepada komandannya Hobeika tentang apa yang harus dilakukannya dengan kaum perempuan dan anak-anak di kamp pengungsian itu, dan terdengar oleh seorang perwira Israel yang mendengar jawaban Hobeika bahwa “Ini adalah kali terakhir anda mengajukan pertanyaan seperti itu kepada saya, anda tahu benar apa yang harus dilakukan.” Para tentara Falangis kedengaran tertawa di belakang.

Sang perwira Israel melaporkan hal ini kepada atasannya, Jenderal Yaron, yang memperingatkan Hobeika agar tidak melukai warga sipil, tetapi tidak mengambil langkah lebih jauh. Letnan Avi Grabowsky dikutip oleh Komisi Kahan bahwa ia melihat (pada hari Jumat itu) pembunuhan atas lima orang perempuan dan anak-anak. Ia berbicara kepada komandan batalyonnya tentang hal ini; ia menjawab “Kita tahu, memang kita tidak menyukainya, dan kita tidak ikut campur.” Pasukan-pasukan Israel yang mengepung kamp-kamp itu bermasa bodoh terhadap para pengungsi yang melarikan diri dari pembantaian itu, seperti yang difilmkan oleh seorang kamerawan Visnews.

sabra_4.jpg

Para milisi Falangis secara teratur kembali ke satuan-satuan Israel dan diberikan makanan, air, dan amunisi selama pembantaian itu berlangsung. Belakangan sore itu, terjadilah rapat antara Kepala Staf Israel dengan staf Falangis. Menurut laporan Komisi Kahan (berdasarkan laporan seorang agen Mossad), Kepala Staf itu menyimpulkan bahwa kaum Falangis harus “melanjutkan aksi, menyapu bersih kamp-kamp yang kosong di selatan Fakahani sampai besok pk. 5 pagi; pada saat itu mereka harus menghentikan aksi mereka karena adanya tekanan dari Amerika. Ia mengklaim bahwa ia “tidak merasa bahwa sesuatu yang tidak lazim telah terjadi atau akan terjadi di kamp-kamp itu.” Pada rapat itu, ia pun setuju untuk memberikan milisi itu sebuah buldozer, yang konon dimaksudkan untuk merubuhkan bangunan-bangunan.

Pada hari Jumat, 18 September, sementara kamp-kamp itu masih disegel, beberapa pengamat independen berhasil masuk. Di antara mereka adalah seorang wartawan Norwegia, diplomat Norwegia, Ane-Karine Arvesen, yang mengamati kaum Falangis pada operasi-operasi pembersihan mereka, yang menyingkirkan mayat-mayat dari rumah-rumah yang dihancurkan di kamp Shatila.” [Harbo, 1982]

Pasukan-pasukan Falangis tidak meninggalkan kamp-kamp itu pada pk. 5.00 pagi hari Sabtu, seperti yang diperintahkan. Mereka memaksa mereka yang masih tersisa untuk berbaris keluar dari kamp, dan secara acak membunuhi mereka, sementara yang lainnya dikirim ke stadion untuk diinterogasi. Hal ini berlangsung sehari penuh. Milisi akhirnya meninggalkan kamp pada pk. 8.00 pagi pada 18 September. Wartawan-wartawan asing pertama yang diizinkan masuk ke kamp pada pk. 9.00 pagi menemukan ratusan jenazah yang berserakan di seluruh kamp itu, banyak di antaranya yang terpotong-potong. Berita resmi pertama tentang pembantaian ini disiarkan sekitar tengah hari.

Jumlah korban sebenarnya diperdebatkan. Ada kesepakatan umum bahwa jumlah yang pasti sulit ditentukan, karena kondisi yang kacau pada saat dan setelah pembantaian, penguburan, dan penghitungan awal para korban. Selain itu, malah ini juga sangat sensitif secara politis bahkan hingga hari ini. Diperkirakan bahwa sekurang-kurangnya seperempat dari para korban adalah orang Lebanon dan sisanya Palestina. Berikut ini adalah klaim-klaim utama yang disusun berdasarkan jumlah korban:
  • Surat dari kepala utusan Palang Merah kepada Menteri Pertahanan Lebanon, yang dikutip dalam laporan Komisi Kahan sebagai "bukti 153", menyatakan bahwa wakil-wakil Palang Merah telah menghitung 328 mayat; tetapi komisi ini mencatat bahwa "namun demikian angka ini tidak mencakup semua mayat..."
  • Komisi Kahan mengatakan bahwa, menurut "sebuah dokumen yang tiba di tangan kami (bukti 151), jumlah korban keseluruhan yang tubuhnya ditemukan sejak 18.9.82 hingga 30.9.82 adalah 460". Komisi ini mengklaim bahwa angka ini terdiri dari "jumlah mayat yang dihitung oleh Palang Merah Lebanon, Palang Merah Internasional, Pertahanan Sipil Lebanon, korps medis dari tentara Lebaon, dan oleh keluarga para korban."
  • Angka yang diberikan Israel, berdasarkan intelijen Angkatan Pertahanan Israel (IDF), menyebutkan 700-800 mayat. Menurut pandangan Komisi Kahan, "ini mungkin sekali angka yang paling dekat dengan realitas."
  • Menurut BBC, "sekurang-kurangnya 800" orang Palestina meninggal.
  • Bayan Nuwayhed al-Hout dalam bukunya Sabra and Shatila: September 1982 (Pluto, 2004) menyebutkan jumlah minimum 1.300 nama korban berdasarkan perbandingan terinci dari 17 daftar korban dan bukti-bukti pendukung lainnya dan memperkirakan jumlah yang bahkan lebih tinggi lagi.
  • Robert Fisk, salah seorang wartawan pertama yang mengunjungi tempat kejadian, mengutip (tanpa membenarkan) para perwira Falangis yang mengatakan bahwa "2.000 'teroris' - perempuan maupun laki-laki - telah terbunuh di Chatila." Bulan Sabit Merah Palestina menyebutkan angka lebih dari 2.000 orang (Schiff and Ya'ari 1984).
  • Dalam bukunya yang diterbitkan segera setelah pembantaian itu, wartawan Israel, Amnon Kapeliouk dari Le Monde Diplomatique, menyimpulkan sekitar 2.000 jenazah yang disingkirkan setelah pembantaian itu menurut sumber-sumber resmi dan Palang Merah dan "perkiraan yang kasar sekali" menduga 1.000-1.500 korban lainnya yang disingirkan oleh para Falangis itu sendiri. Angka keseluruhannya yaitu 3.000-3.500 ini yang sering dikutip oleh orang Palestina.
Pembantaian ini membangkitkan kemarahan di seluruh dunia. Pada 16 Desember 1982, Sidang Umum PBB mengutuk pembantaian ini dan menyatakannya sebagai suatu tindakan genosida. Namun tidak ada tindakan, baik nasional maupun internasional, yang dilakukan terhadap komandan Falangis, Elie Hobeika, yang terbunuh oleh sebuah bom di Beirut pada 2002.

Peranan Israel

Dalam pernyataan-pernyataan awalnya, pemerintah Israel mula-mla menyatakan bahwa para kritikus yang menganggap bahwa Pasukan Bela Diri Israel (IDF) bertanggungjawab atas kejadian-kejadian di Sabra dan Shatila telah melakukan "tuduhan berdarah terhadap negara Yahudi dan pemerintahnya". Namun demikian, sementara berita tentang pembantaian itu menyebar ke seluruh dunia, kontroversi itu makin berkembang dan pada 25 September, 300.000 orang Israel berdemonstrasi di Tel Aviv menuntut jawaban.

Pada 28 September, pemerintah Israel memutuskan untuk membentuk sebuah Komisi Penyelidik, yang dipimpin oleh bekas Hakim Agung Kahan. Laporan itu mencakup bukti-bukti dari para personil pasukan Israel, maupun para tokoh politik dan perwira Falangis. Dalam laporan itu, yang diterbitkan pada musim semi 1983, Komisi Kahan menyatakanb bahwa tidak terbukti bahwa satuan-satuan Israel ikut serta langsung dalam pembantaian itu dan bahwa semua itu adalah "tanggung jawab langsung kaum Falangis." Namun demikian, Komisi itu mencatat pula bahwa personil militer Israel sadar bahwa pembantaian itu berlangsung tanpa mengambil langkah-langkah serius untuk menghentikannya, dan bahwa laporan-laporan mengenai pembantaian yang berlangsung itu disampaikan kepada para perwira senior Israel dan bahkan kepada seorang menteri di kabinet Israel. Karena itu, Komisi menyimpulkan bahwa Israel ikut "bertanggung jawab secara tidak langsung". Di antara mereka yang dianggap "bertanggung jawab secara tidak langsung", komisi itu menyimpulkan bahwa Ariel Sharon bertanggung jawab "secara pribadi", dan mengusulkan agar ia dipecat dari kedudukannya sebagai menteri pertahanan. Komisi juga merekomendasikan pemecatan Direktur Intelijen Militer Yehoshua Saguy, dan penurunan pangkat atas Komandan Divisi Amos Yaron sekurang-kurangnya selama tiga tahun. Rekomendasi-rekomendasi ini dilaksanakan. Meskipun Komisi Kahan menyimpulkan bahwa Sharon tidak boleh mengemban jabatan publik lagi, belakangan ia menjadi Perdana Menteri Israel.

Para kritikus laporan komisi itu menunjukkan kenyataan bahwa Israel melakukan investigasi atas dirinya sendiri dan berpendapat bahwa laporan itu merupakan upaya untuk membersihkan nama Israel. Misalnya, Noam Chomsky mengatakan:

"Laporan Komisi Kahan ini adalah upaya pembersihan nama yang memalukan; lihat Fateful Triangle, chapter 6, and Shimon Lehrer, Ha'ikar Hehaser ("The Missing Crucial-Point"; Amit, Jerusalem, 1983). Dalam analisis kritis yang cermat terhadap kejadian-kejadian sekitar pembantaian itu dan laporan Komisi Kahan, Lehrer memperlihatkan bahwa kesimpulan-kesimpulannya tidak dapat dipertahankan dan berpendapat bahwa, di bawah hukum Israel, Menteri Pertahanan dan Kepala Staf mestinya diganjar hukuman penjara selama 20 tahun atas pembunuhan terencana. Sementara dikritik tajam di Israel, di AS, laporan Komisi Kahan itu digambarkan, tanpa analisis, sebagai laporan yang paling mengesankan dan bahkan hampir menakjubkan."

Sebagian komentator, seperti Noam Chomsky dan Robert Fisk, menyatakan bahwa Israel mestinya dapat mencegah pembantaian itu. Lebih jauh, mereka meragukan bahwa di kamp-kamp itu memang ada anggota PLO, karena (1) Komisi Kahan mengklaim bahwa pasukan Israel hanya mengirim 150 orang Falangis untuk memerangi anggota PLO yang konon jumlahnya 2.000 orang. Ini tentu suatu keputusan militer yang tidak realistik dan buruk. (2) kaum Falangis hanya menderita dua korban, sebuah hasil yang tidak mungkin terjadi dalam sebuah pertempuran yang berlangsung selama 36 jam antara 150 orang militan melawan 2.000 pasukan PLO yang berpengalaman.

ELIE+HOBEIKA++%3D+HK.jpg

Para pembela Israel menunjukkan bahwa Israel tidak pernah mengklaim bahwa semua anggota PLO (dan bukan para militan Fatah) itu bersenjata atau berusaha menyusun suatu pertahanan. Selain itu, pada beberapa kesempatan sebelumnya, kaum Falangis digunakan oleh tentara Israel untuk menyaring para anggota PLO dari sisa penduduk Lebanon. Mereka mengklaim bahwa pada kesempatan-kesempatan lain itu, kaum Falangis berperilaku baik. Israel menunjukkan bahwa komandan lapangan Falangis, Elie Hobeika, pada saat itu sudah memelihara hubungan dengan Suriah (ia secara terbuka mengalihkan kesetiaannya kepada Suriah), hingga memberikan kesan bahwa ia mungkin telah menciptakan pembantaian itu sebagai sebuah provokasi politik terhadap sekutu-sekutu Israelnya. Akhirnya, Israel menyatakan bahwa ia tidak pernah mengeluarkan perintah (pada kesempatan ini maupun yang lainnya) yang akan mengizinkan pembunuhan terhadap kaum sipil yang tidak bersenjata.

Namun demikian, Israel telah memberikan komitmen tertulis bahwa ia akan melindungi kaum sipil Palestina (sebagai tanggung jawabnya sebagai kekuatan pendudukan di bawah hukum internasional), namun Israel tidak melakukan apa-apa untuk melindungi warga sipil ketika ia sadar bahwa pembantaian sedang berlangsung.

ariel-sharon.jpg

Ariel Sharon​

Pada 4 Februari 1983, Der Spiegel (sebuah majalah Jerman terkemuka) memuat sebuah wawancara dengan salah seorang falangis yang ikut serta dalam pembantaian itu. Menurut orang ini, para pasukan Israel berperang bersama-sama kaum falangis serta mengebomi kamp itu untuk menolong mereka mengatasi perlawanan Palestina.

Pada 1987, "Time" menerbitkan sebuah laporan yang menyiratkan bahwa Sharon bertanggung jawab secara langsung atas pembantaian-pembantaian itu. Sharon menuntut Time dengan tuduhan pencemaran di pengadilan Amerika dan Israel. Time memenangi tuntutan itu di pengadilan AS karena Sharon tidak dapat membuktikan bahwa Time telah "bertindak dengan maksud jahat," sebagaimana yang diharuskan di bawah undang-undang pencemaran AS, meskipun para juri merasa bahwa artikel itu keliru dan mencemarinya.

Sabra dan Shatila setelah penyerbuan Israel

Israel mulai meninggalkan Beirut tak lama setelah berita tentang pembantaian itu menyebar. Perlindungan kamp-kamp itu dipercayakan kepada Italia. Setelah sejumlah serangan atas pasukan penjaga perdamaian, Italia meninggalkan Lebanon. Keamanan kamp-kamp itu kemudian dipercayakan kepada milisi Amal.

Sabra dan Shatila di Pengadilan Belgia

Setelah terpilihnya Sharon pada tahun 2001 sebagai Perdana Menteri Israel, kaum keluarga para korban pembantaian ini mengajukan tuntutan di Belgia dan menuduh bahwa ia secara pribadi bertanggung jawab atas pembantaian-pembantaian itu, dengan menggunakan undang-undang yang pertama kali digunakan terhadap mereka yang terlibat dalam Genosida Rwanda. Mahkamah Agung Belgia memutuskan pada 12 Februari 2003 bahwa Sharon (dan mereka yang terlibat lainnya, seperti Jenderal Yaron dari israel) dapat dikenai tuntutan di bawah tuduhan ini. Israel mengklaim bahwa tuntutan ini dilakukan dengan alasan-alasan politis.

Sebuah kasus lain diajukan di Belgia yang menyatakan bahwa Presiden George H. W. Bush dan Menteri Luar Negeri Colin Powell bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan perang dalam Perang Irak pertama. AS mempertanyakan yurisdiksi pengadilan Belgia untuk mengadili kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan di tempat lain, dan meminta sekutu-sekutu Eropanya untuk menekan Belgia serta mengancam untuk memindahkan markas besar NATO dari Belgia. Selain itu sejumlah kasus lainnya terhadap para pemimpin dunia, seperti Fidel Castro, Augusto Pinochet, dan Yasser Arafat, juga diajukan di pengadilan Belgia, hingga menimbulkan sejumlah masalah diplomatik. Akhirnya Belgia mengamandemen hukumnya dan menyatakan bahwa pengaduan-pengaduan hak asasi manusia hanya bisa diajukan apabila korban atau tertuduhnya adalah warga Belgia atau sudah lama menjadi penduduk negara itu pada waktu kejahatan yang dituduhkan itu terjadi. Parlemen Belgia juga menjamin kekebalan diplomatik bagi para pemimpin dunia dan pejabat pemerintahan lainnya yang berkunjung ke negara itu.

Elie Hobeika, komandan Falangis pada waktu pembantaian itu tidak pernah diadili dan ia memegang jabatan menteri di pemerintahan Lebanon pada tahun 1990-an. Ia dibunuh dengan sebuah bom mobil di Beirut pada 24 Januari 2002, sementara ia bersiap-siap untuk memberikan kesaksian dalam sebuah peradilan Sharon.

Pada 24 September 2003, pengadilan tertinggi Belgia menolak pengaduan kejahatan perang terhadap Ariel Sharon, dan menyatakan bahwa pengaduan itu tidak mempunyai basis hukum untuk dijadikan tuntutan.



Foto:
Google Image
Sunray





-dipi-
 
NKVD Prisoner Massacre

nkvd.jpg

Pembantaian tahanan NKVD adalah runtutan pembunuhan masal yang dilakukan oleh NKVD Soviet terhadap para tahanan di Eropa Tengah, Polandia, Ukraina, negara2 Balkan, Bessarabia dan beberapa daerah yang termasuk kedalam Soviet Union. NKVD ini adalah sebuah badan kepolisian rahasia milik Soviet Union.

NKVD dan Tentara Merah membunuhi para tahanan dibanyak tempat, mulai dari Polandia sampai ke Crimea. Hal itu dilakukan sesaat setelah pasukan Jerman mengadakan invasi ke Soviet Union. Pada saat itu NKVD melakukan ekskusi terhadap para tahanan di sel mereka, dan sebagian lagi diekskusi secara masal. Kebanyakan dari mereka adalah tahanan politik, dipenjara dan dieksekusi tanpa pengadilan.

Pembantaian ini berhasil didokumentasikan oleh pihak Jerman, dan dipakai dalam propaganda Anti Soviet dan Anti Yahudi.

Dari catatan yang ada, diperkirakan ada 25 penjara yang para tawanannya diekskusi atau dievakuasi (dengan melakukan long march) atau dievakuasi sekaligus diekskusi.

Peristiwa2 yang berhasil dicatat adalah seperti dibawah ini:

Belarusia
  • Hrodna (Grodno): 22 Juni 1941. NKVD mengekskusi lusinan tahanan di penjara lokal. Ekskusi terhadap 1.700 sisa tahanan tidak sempat dilakukan karena keburu pasukan Jerman menyerbu dan membuat mundur pasukan NKVD.
  • Berezwecz, dekat Vitebsk: 24 Juni 1941. NKVD mengekskusi setidaknya 800 tahanan, kebanyakan dari mereka adalah orang Polandia. Beberapa ribu lainnya tewas saat melakukan long march menuju Nikolaevo dekat Ulla.
  • Chervyen, dekat Minsk: Akhir Juni. NKVD mulai mengevakuasi tahanan ke Minsk. Antara 24 Juni dan 27 Juni, ribuan orang terbunuh di Cherven dan selama melakukan long march maut itu.
  • Vileyka (Wilejka): 24 Juni. Lusinan tahanan, yang kebanyakan tahanan politik, diekskusi sebelum para penjaga meninggalkan penjara.
Estonia
  • Tartu: 9 Juli 1941, hampir 250 tahanan di penjara Tartu mati ditembak. Mayat mereka dikuburkan secara masal di kuburan darurat atau dilemparkan begitu saja di depan gedung pengadilan Gray House atau ditinggalkan di dalam penjara[15]
  • Pembantaian Kautla: 24 Juni 1941, pasukan tentara merah membunuh lebih dari 20 penduduk sipil dan membakar ladang pertanian mereka.
Latvia
  • Litene: 14 Juni 1941, 120 perwira tentara Latvia digiring ke dalam hutan. Mereka menganggap hal itu adalah bagian dari latihan militer, tapi begitu tiba di dalam hutan, senjata mereka dilucuti dan diekskusi oleh NKVD.
Lithuania
  • Vilnius: Setelah invasi Jerman, NKVD membunuh sejumlah besar tahanan di penjara Lukaskes.
  • Rainiai dekat Telsiai: 79 tahanan politik dibunuh pada sebuah peristiwa yang disebut Rainiai massacre, pada 24 Juni.
  • Penjara Pravienisks, dekat Kaunas: pada Juni 1941, NKVD membunuh 250 tahanan politik dan pekerja yang berasal dari Lithuania di dalam penjara.
Ukraina
  • Lviv (lwow): pembantaian di kota ini dimulai segera setelah serangan Jerman pada tanggal 22 Juni dan berlanjut sampai 28 Juni. NKVD Mengekskusi ribuan tahanan penjara. Cara2 yang dipakai dalam melakukan pembunuhan adalah dengan cara ditembak di sel, melempari sel2 mereka dengan granat atau mengurung mereka di ruang bawah tanah dan membiarkan hingga mati kelaparan. Hanya beberapa orang saja yang tercatat mati karena ditusuk bayonet. Pelaksanaan pembunuhan sempat terhenti saat NKVD diserang oleh pasukan pemberontak lokal Ukraina, tapi tidak lama kemudian berlanjut kembali. Diperkirakan sekitar 4 ribu orang terbunuh.
  • Lutsk (Luck): ketika penjara ini berhasil dibom oleh pasukan Jerman, para tahanan yang ada dijanjikan pengampunan oleh tentara merah, untuk mencegah mereka melarikan diri. Ketika mereka keluar dari tahanan, mereka ditembaki oleh senapan mesin dari tank-tank tentara merah, setelah itu ada perintah untuk bangun bagi yang masih hidup, dan ada sekitar 370 orang yang masih hidup diperintahkan untuk menguburkan mereka yang sudah mati. Tapi pada akhirnya 370 orang ini juga diekskusi. Kementrian luar negeri Nazi mengklaim korban mencapai 1500 jiwa orang Ukraina mati, sedangkan badan intelijen Nazi mengklaim ada sekitar 4 ribu orang yang meninggal.
  • Berezhany (Brzezany) dekat Ternopil (Tarnopol): Penjaga penjara yang berasal dari penduduk lokal diekskusi oleh NKVD tanpa bentuk pengadilan, ikut serta terbunuh adalah 350 polisi Polandia. Namun sebagian besar dari yang meninggal adalah warga Ukraina.
  • Vinnitsa: lebih dari 9 ribu orang diekskusi.
  • Dubno: semua tahanan termasuk wanita dan anak2, diekskusi di penjara Dubno.
  • Sambir (Sambor): 570 orang terbunuh.



-dipi-
 
Katyn Massacre

Katy%C5%84%2C_ekshumacja_ofiar.jpg

Pembantaian Katyn, juga dikenal sebagai Pembantaian Hutan Katyn adalah pembunuhan massal yang dilakukan terhadap bangsa Polandia oleh polisi rahasia Soviet, NKVD pada April-Mei 1940...

Di musim gugur 1939 Tentara Merah Uni Soviet menawan 250.000 orang Polandia. Dari jumlah itu dipilih sekitar 21 ribu orang terpelajar dan perwira tentara. Mereka diasingkan di dua biara dan barak-barak tahanan di Kosielk, dekat hutan Katyn, dari Moskwa 200 km ke barat laut. Schainberg, kolonel intelijen Polandia (Breaking With the KGB, 1986) mengisahkan peran Marsekal Lavrenti Beria, kepala intel Uni Soviet NKVD yang memerintahkan "likuidasi", istilah teknis pembantaian manusia di Hutan Katyn itu...

Tawanan yang 21 ribu orang itu (Brian Bailey, Massacres --- An Account of Crimes Against Humanity, 1994), intinya terdiri dari 200 pengacara, jaksa, hakim dan petugas pengadilan, 300 insinyur berbagai disiplin, beberapa ratus guru SD, SLTP dan SMU, 800 dokter umum, dokter spesialis dan dokter bedah, kemudian serombongan pendeta, pastor dan rabbi. Selebihnya tentara, yang terdiri dari 2 jenderal mayor, seorang admiral, 100 kolonel, 300 mayor, 1.000 kapten lalu perwira junior dan kadet akademi militer....

Mereka, yang merupakan lapis atas penting pemerintahan Polandia, diindoktrinasi Marxisme-Leninisme agar bila kelak Uni Soviet selepas perang menguasai Polandia, akan menjadi aparat birokrasi penyokong Uni Soviet. Dari tawanan sebanyak itu, sesudah diberi penataran intensif, cuma 6 orang yang menjadi Marxis. Enam orang saja. Indoktrinasi itu gagal total. Lavrenti Beria, kepala intel Uni Soviet murka besar. Para tahanan ini, bila tetap hidup, pastilah akan menjadi penentang utama komunisasi Polandia kelak. Diperintahkannya pembantaian terhadap orang-orang itu. Tawanan sebanyak itu total dihabisi. Tapi fakta pembantaian di hutan Katyn itu 50 tahun lamanya tertutup rapat. Rakyat Polandia dan Rusia ngeri membicarakannya. Kebengisan intel dan militer Marxis membuat rakyat Polandia dan Rusia ketakutan..

Katyn_massacre_1.jpg

David Remnick, wartawan Washington Post, berhasil mewawancarai seorang pensiunan polisi rahasia Uni Soviet yang ikut bertugas membantai 250 tawanan setiap malam, selama sebulan, di hutan Katyn itu (Lenin’s Tomb, 1994). Ketika diwawancarai, Vladimir Tokaryev berumur 89 tahun, mata buta tapi ingatan masih tajam...

Para Marxis pembantai itu, kisah Tokaryev, membawa koper penuh dengan revolver Walther 2, bikinan Jerman. Senjata TT buatan Soviet, kalau dipakai menembak berjam-jam, larasnya jadi sangat panas, lantas macet. Kepala jagal bernama Blokhin, dia dibantu 30 orang NKVD, termasuk sopir. Dia memakai seragam serba coklat. Topi kulit, apron panjang dan sarung tangan coklat sampai ke siku.

Tawanan Polandia itu satu-satu masuk, lalu ditanya nama keluarga, nama kecil dan tempat lahir. Kemudian dibawa ke kamar kedap suara, pistol melekat di tengkuk, lalu ditembak, langsung mati. Satu peluru satu orang. Sangat efisien. Tidak ada keputusan yang dibacakan untuknya...

Menghabisi nyawa lawan dengan metoda menembak di tengkuk, di basis otak, memang cara favorit polisi rahasia Palu Arit Uni Soviet. Metoda ini populer digunakan di penjara Lubyanka, Moskwa. Di novelnya mengenai Stalinisme (Darkness at Noon, 1941), Arthur Koestler terperinci menceritakannya. Dalam tugas membantai yang tidak perlu ditonton orang banyak, orang Palu Arit memakai cara ini. Karena ujung laras pistol melekat di tengkuk kepala, penembakan tak mungkin meleset. Peluru akan menembus otak kecil dan otak besar, dan satu tembakan langsung mencabut nyawa korban...

Di malam pertama, 300 orang dibantai. Tapi itu terlalu banyak, karena ketika selesai, matahari sudah terbit. Padahal perintah bilang, pembantaian harus dilakukan dalam gelap. Besoknya dikurangi jadi 250 orang. Berapa malam? Di hutan Katyn tawanan 6000, saban malam 250. Dikurangi hari libur, satu bulanlah, sepenuh April 1940. Tapi Blokhin mengaku tidak terlibat penembakan. Tugasnya menggiring tawanan masuk ruangan. Kemudian, begitu selesai pembantaian, membawa kotak-kotak kardus berisi vodka untuk para Marxis penjagal itu, yang diminum ramai-ramai. Sebelum dan sedang bertugas, mereka tidak minum, untuk mencegah mabuk...

katyn6.jpg

Berapa orang yang bertugas menggali kubur? Dua orang NKVD, dengan sebuah bulldozer. Mayat-mayat itu dilemparkan ke atas truk terbuka, kemudian dituangkan ke lubang besar berukuran 8 kali 10 meter. Satu lubang bisa memuat 250 mayat. Supaya mulus, sesudah lubang kuburan ditimbuni, dipindahkan pohon-pohon berumur 2 tahun, dan ditanamkan apik-apik di atasnya, agar kelihatan seperti hutan. Semua barak tahanan dirubuhkan dan lahannya dibersihkan rapi-rapi, sehingga tidak meninggalkan bekas....

Tapi serapi-rapi Marxis Palu Arit membungkus barang busuk, tercium juga pada akhirnya. Pasukan Nazi Jerman yang masuk ke wilayah itu (1943) mencurigai ada gundukan tanah, menggalinya dan menemukan mayat berseragam militer lengkap, bertumpuk dua belas lapis dari atas sampai ke bawah. Lubang yang satu itu ternyata besarnya 16 x 28 meter, berisi 3.000 mayat. Biasanya di kantong mayat berseragam itu masih ada mata uang koin, kotak rokok, catatan, surat dan buku harian, dan tanda jasa melekat di dada. Yang selalu diambil pembunuh itu cincin dan arloji, karena gampang dan tak makan waktu mengambilnya. Semua tengkoraknya berlubang di tengkuk dan di dalam lekuk tengkorak banyak ditemukan peluru yang tidak tembus keluar kepala (James F. Nihan,The Marxist Empire, 1987). Di rahang sering terdapat serbuk gergaji, rupanya untuk menyumpal agar tahanan tidak bisa berteriak-teriak.

n30.jpg


n31.jpg


n32.jpg


Orang-orang Polandia terus gigih bertanya-tanya, tentang sisa dari tahanan yang 250.000 yang sudah dilepas dulu, kemana yang 21 ribu lagi itu? Di depan utusan Polandia yang menanyakan itu, Joseph Stalin bersandiwara, dengan menelepon Molotov dan Beria. Stalin bertanya apakah sudah semua tahanan Polandia dibebaskan dari penjara Soviet? Molotov dan Beria menjawab ya, sudah. Dusta besar yang busuk ini, bertahan 5 windu lebih lamanya.

Belakangan ketika pasukan Nazi Jerman menemukan kuburan berisi mayat tentara Polandia berseragam lengkap dan tengkorak mereka berlubang peluru di tengkuk, Stalin justru balik menuduh anak buah Hitler-lah yang membantai mereka. Stalin membentuk panitia penyelidik dan, tentu saja, hasilnya sesuai dengan kemauan Stalin (Edvard Radzinsky, Stalin, 1996). Pasukan Nazi Jerman-lah yang melakukan pembantaian itu di tahun 1941, bukan Marxis NKVD di tahun 1940, tuduh panitia penyelidik tersebut. Presiden Roosevelt dan Perdana Menteri Churchill terpaksa percaya pada Stalin, sebagai sekutu mereka di waktu Perang Dunia II itu.

Walaupun sejumlah kubur belakangan ditemukan dan penggalian dilaksanakan, tetap saja penghitungan korban dibandingkan dengan jumlah orang yang hilang, tidak klop. Diduga, selisih jumlah tersebut dibuang ke laut (Nihan, The Marxist Empire, 1987). Sejumlah saksi rakyat Rusia, di tahun 1940, melihat beberapa perahu besar pengangkut barang yang diseret kapal laut, padat berisi orang-orang Polandia itu, 1.700 sampai 2.000 orang dimuat di tiap perahu, mungkin sekali ditenggelamkan di Laut Putih (Beloye More). Laut itu berjarak sekitar 400 kilometer di utara lokasi Hutan Katyn...

Di tahun 1990, ketika Solidarity berkuasa, melalui Jenderal Wojcieh Jaruzelski yang berkunjung ke Moskwa, Gorbachev resmi mengakui kesalahan Uni Soviet terhadap Polandia seraya menyerahkan setumpuk besar dokumen catatan pembantaian di Katyn, Starobelsk dan Kalinin, yang berlangsung di tahun 1940...



Foto:
Wikipedia
Katyn.org.au



-dipi-
 
seperti para binatang saja, nyawa manusia sangat terlihat tidak berharga sama sekali....


btw, wah malah ngasih kerjaan buat mba dipi miy gara gara thread ini.... :)
 
Massacre of Thessalonica

TheodosiusAndAmbrose.jpg

Ambrosius dan Theodosius​

Pembantaian Tesalonika adalah sebuah tindakan balasan oleh Kaisar Romawi Theodosius I pada tahun 390 terhadap penduduk Tesalonika, yang pada saat itu melakukan pemberontakan.

Pada bulan April 390, Butheric, komandan militer Romawi yang memerintah di Illyricum (termasuk wilayah Tesalonika), memiliki kusir ternama yang pada saat itu ditangkap karena tuduhan pelanggaran seksual terhadap seorang cupbearer (pelayan yang bertugas menuangkan minuman). Rakyat Tesalonika menuntut agar kusir tersebut dibebaskan dari segala tuntutan, tapi Butheric menolak. Akibatnya terjadilah pemberontakan terhadap kekuasan Butheric dan Romawi. Hal ini didengar oleh Theodosius, yang menjadikan sang Kaisar sangat marah. Kaisar segera memerintahkan serangan balasan ke Tesalonika. Pasukan romawi yang dikirim oleh Theodosius bertindak seolah-olah semua rakyat Tesalonika adalah musuh, dan karena itu semua harus dimusnahkan dengan membantai ribuan penduduknya. Sejarawan Theodorotus mencatat lebih dari 7 ribu penduduk Tesalonika terbantai. Dalam catatannya, Theodorotus mengatakan: "Kemarahan kaisar naik mencapai tingkat tertinggi, dan Dia melakukan balas dendamnya dengan pedang dan tangan besi yang memperlakukan orang salah dengan yang tidak bersalah pada perlakuan yang sama, semuanya dibunuh. Tujuh ribu orang tewas tanpa diadili. Semua orang diberlakukan sama seperti ladang gandum yang siap panen. Semuanya ditebang."

Walaupun akhirnya dengan cepat kaisar berubah pikiran dan mengirim utusan untuk membatalkan perintah sebelumnya serta mencegah pasukan romawi melakukan pembantaian, tapi hal ini sudah sangat terlambat.

Ambrosius, Uskup Milan, setelah mendengar adanya pembantaian ini, segera meninggalkan Milan, yang aman merupakan kota tempat kediaman Kaisar. Dan menolak melakukan upacara-upacara serta perayaan kenegaraan bersama Kaisar, sebelum Kaisar Theodosius melakukan pertobatan. Dalam suratnya kepada kaisar, Ambrosius menjelaskan posisinya sebagai pejabat keagamaan dan menawarkan solusi untuk Theodosius, yang isinya: "Apa yang bisa saya lakukan? Haruskah saya tidak mendengar peristiwa itu? Tetapi saya tidak bisa menyumbat telinga saya dengan lilin, seperti dongeng yang saya dengar. Haruskah saya kemudian berbicara tentang apa yang saya dengar? Tapi saya punya kewajiban untuk mencegah dari hasil apa yang anda perintahkan, yaitu pertumpahan darah. Haruskah saya diam? Tapi kemudian hal2 buruk terjadi di mana hati nurani dan segala petuah saya akan hilang begitu saja. Dan akan berada di mana mereka kemudian? Ketika seorang imam tidak berbicara dengan orang yang melakukan dosa, maka orang berdosa itu akan mati dalam dosa, dan imam akan bersalah karena ia gagal untuk mengoreksinya."

Menurut para sejarawan, ketika Kaisar masuk ke dalam sebuah gereja di Milan, di mana Uskup Ambrosius sedang melakukan misa, Ambrosius melakukan teguran keras terhadap kaisar terhadap apa yang sudah dia lakukan. Dikatakan bahwa kaisar mendesah dan menangis untuk kemudian kembali ke Istananya.

Delapan bulan sudah berlalu dan Kaisar masih tampak murung di Istananya. Rufinus, seorang pejabat Magister Officiorum, yang akrab dengan kaisar dan punya kebebasan berbicara dengan kaisar, memberanikan diri untuk bertanya. Ketika tahu masalahnya, Rufinus menawarkan diri untuk menemui Uskup Ambrosius dan berusaha membujuk untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Kaisar dengan ragu menyetujuinya dan mengikuti Rufinus dari kejauhan saat dia menemui Ambrosius. Ketika ditemui rufinus, Ambrosius sangat marah dan mengatakan bahwa Rufinus ikut terlibat dalam pembantaian itu. Ketika Kaisar muncul, Ambrosius masih dalam posisi marah tapi akhirnya berubah pikiran setelah Theodosius berjanji akan membuat UU tentang hukuman mati dan mengadili orang-orang yang dianggap bersalah dengan tuntutan mati.


Gambar: Google Image.




-dipi-
 
Pembantaian Granada

Pembantaian Granada terjadi pada tanggal 30 Desember 1066. Pembantaian ini terjadi saat pasukan Muslim menyerbu sebuah istana kerajaan di Granada...
Granada sendiri pada saat itu sedang berada dalam kekuasaan pemerintahan muslim Al Andalus..

Pada saat penyerbuan tersebut salah satu pemimpin Yahudi, Yusuf bin Naghrela terbunuh beserta sejumlah orang Yahudi lainnya. Yusuf pada saat itu terbunuh dengan keadaan tersalib. Total dari korban menurut beberapa klaim sekitar 1.400 keluarga Yahudi dengan total sekitar 4.000 jiwa. Salah satu klaim tersebut terdapat dalam sebuah ensiklopedia Yahudi. Namun pada edisi tahun 1971, Ensiklopedia tersebut memperbaharui jumlah korban dengan menyebutkan bahwa tidak ada angka yang pasti mengenai jatuhnya korban...

Istri Yusuf berhasil selamat dan melarikan diri ke Lucena bersama anaknya yang bernama Azariah...

Menurut sejarawan Bernard Lewis, peristiwa ini dipicu karena reaksi dari kaum muslim terhadap kekuasaan dan kekuatan Yahudi yang begitu mendominasi di dalam sebuah pemerintahan Muslim Al Andalus...

Masih menurut Lewis, reaksi ini juga dipicu oleh provokasi dari sebuah puisi yang ditulis oleh Abu Ishaq, seorang penyair yang dikenal sebagai anti Yahudi. Salah satu baitnya berbunyi seperti ini:

Jangan menganggap sebuah pelanggaran keimanan karena kita membunuhi mereka, pelanggaran iman akan membuat mereka terus berkembang.
Mereka telah melanggar perjanjian dengan kita, jadi bagaimana kamu bisa dapat dinyatakan bersalah terhadap pelanggar?
Bagaimana mereka bisa membuat sebuah perjanjian di saat kita seperti tidak jelas dan mereka begitu menonjol?
Sekarang kita sangat rendah hati disamping mereka, seakan-akan mereka benar dan kita yang salah.


Lewis menambahkan, provokasi yang dilakukan Abu Ishaq dan pembantaian granada yang menyusul kemudian, merupakan sebuah kejadian yang langka dan jarang terjadi dalam sejarah Islam...






-dipi-
 
Pembantaian Tentara Elphinstone

Pembantaian tentara Elphinstone adalah tindakan penghancuran yang dilakukan oleh tentara Afghanistan di bawah pimpinan Akbar Khan (putra dari Muhammad Khan) terhadap pasukan Inggris dan India yang tergabung dalam pasukan British East India Company di bawah pimpinan Mayor Jenderal William Elphinstone. Peristiwa ini terjadi pada bulan Januari 1842..

Setelah pasukan Inggris dan India ditangkap di Kabul pada tahun 1839, kalangan pemberontak Afghanistan memaksa para tahanan tersebut untuk keluar dari kota dan menggiring mereka. Pasukan dari East India Company yang terdiri dari 4.500 pasukan bersama dengan 12.000 pekerja dari perusahaan tersebut, meninggalkan Kabul pada tanggal 6 Januari 1842. Mereka berusaha menuju ke markas pasukan Inggris di Jalalabad, sekitar 140 km dari Kabul, tapi dalam perjalanannya rombongan tersebut dicegat oleh pasukan pemberontak dan terjadilah pembantaian tersebut...

Sekitar selusin perwira tinggi termasuk Elphinstone dan wakilnya Brigadir Shelton tewas dan hanya ada satu perwira tinggi yang selamat yaitu William Brydon, dan berhasil mencapai Jalalabad...



-dipi-
 
wuuiihhhh....SEREEEMM..btw Bagaimana dengan Pembantaian orang2 Exs atw yg dituduh PKI di INDONESIA ?????? sepertinya gk jauh beda HOROR"nya dgn peristiwa disebut diatas..
bangsa ini terlalu pintar dan berhati KERDIL tuk menutupi dan mengakui kekhilafan sejarah............
 
Silahkan Den Cakra kalo mau menuliskan soal pembantaian yang berhubungan dengan PKI...:)(
Tulisan sebelumnya hanya mengikuti daftar yang ditulis oleh den Zoeratmand...
Jika ada tambahan lainnya tentu sangat diperbolehkan, mengingat peristiwa2 pembantaian ini banyak sekali terjadi di dalam sejarah....



-dipi-
 
Back
Top