Tren Mode 2011, Sentuhan Etnik nan Eksotis

Kalina

Moderator
0KxAxgBkV9.jpg


ELEMEN etnik masih menjadi kunci tren busana pada 2011, namun dalam balutan palet penuh warna. Terlihat dari berbagai sentuhan eksotis yang menjadi pilihan para desainer, baik perancang internasional maupun lokal. Seperti apa?

Tahun baru tentu saja identik dengan penampilan baru. Karenanya, wajar bila para desainer telah meramalkan tren gaya terbaru sejak pertengahan 2010 lalu. Dari berbagai pergelaran mode yang digelar, baik pekan mode internasional maupun koleksi milik para desainer lokal, dapat ditarik satu kesimpulan. Tahun 2011 mendatang, busana berelemen etnik masih akan menjadi kunci untuk tampil up-to-date.

Matthew Williamson misalnya. Desainer yang juga menjabat sebagai direktur kreatif rumah mode Emilio Pucci ini menghadirkan koleksi yang terinspirasi gaya bohemian kaum hippies. Nuansa etnik ala gipsi terasa kental mendominasi rancangan Williamson, yang dipertunjukkan di London Fashion Week, September lalu.

Koleksi tersebut langsung memberikan kesan etnik di antara koleksi lain yang cenderung bergaya kontemporer. Terutama melalui sentuhan hippie ala Meksiko yang dipadukan dengan combat boots beraksen. Rancangan Williamson rupanya senada dengan koleksi besutan Luella Bartley. Desainer yang sebelumnya berprofesi sebagai jurnalis ini menampilkan gaya eklektik dalam tema “Geek Chic” yang memadukan corak floral, detail sequin, dan jubah ala Batman. Unik, bergaya etnik, sekaligus atraktif.
Di kesempatan yang sama, Christoper pun tidak ketinggalan menghadirkan nuansa etnik dalam palet lembut yang langsung menjadi incaran fashionista London.

Kesan etnik pun tidak ketinggalan dihadirkan para desainer Indonesia. Mulai pergelaran tahunan Fashion Tendance Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Trend Show Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), Jakarta Fashion Week, serta beragam perhelatan mode yang digelar sepanjang tahun 2010, sentuhan tradisional dan elemen etnik hadir di sana-sini.

Bukan hanya dari segi penggunaan warna yang mengarah pada palet eksotis, juga beragam material yang digunakan. Kain tradisional Indonesia, seperti batik dan tenun, tetap merajai panggung pergelaran mode busana. Lihat saja koleksi para perancang lokal yang tidak jauh-jauh dari nuansa etnik khas Tanah Air, seperti halnya Carmanita, Tuty Cholid, Priyo Oktaviano, Sofie, dan Lenny Agustin.

Carmanita, melalui Trend Show IPMI, kendati menggunakan palet pastel, juga tetap ikut bermain warna pastel dalam potongan busana asimetris dan dekonstruktif dengan motif ragam hias tenun Ujung Pandang. “Semua rancangan dibuat tanpa patron,” sebutnya. Karenanya, wajar bila blus yang dipadukan dengan celana galembong besutannya tampil natural. Pasalnya, setiap koleksinya dibuat dari selembar kain yang tidak dipotong ataupun dijahit. Hanya dililitkan begitu saja dengan bantuan peniti atau jahitan sederhana. Feminin, kasual, dan tentu saja etnik.

Tuty Cholid mengusung ragam busana batik Solo dengan kombinasi tenun ikat Bali dan sarung Makassar yang dihadirkan dalam palet pink, hijau, magenta, dan kuning kecokelatan. “Menurut saya, warna-warna itu akan menjadi tren warna tahun depan,” paparnya singkat. Sofie menyuguhkan napas kontemporer berbalut etnik yang mengisahkan emansipasi wanita modern masa kini.

“Koleksi ini saya tujukan bagi wanita urban yang mapan, mandiri, dan penuh percaya diri,” ujar desainer yang memiliki nama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini.

Priyo, yang menghadirkan koleksi bernapas etnik, juga tetap ikut bermain warna. Songket Palembang serta tenun dan songket Bali dihadirkan dalam paduan warna kontras yang dikemas dalam gaya tribal dengan sedikit sentuhan “Western”. Adapun di panggung pergelaran Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia, Lenny Agustin dengan “Unconcious”, bercerita mengenai sisi mistik dan ritual adat masyarakat pedalaman yang disajikan dalam kemasan kontemporer.

Sementara Dina Midiani dengan tema “Pasar” menghadirkan sisi lain batik yang disajikan tidak beraturan, saling tabrak warna, tabrak motif, dan berpotongan asimetris. Namun, secara keseluruhan terlihat apik dan membawa pesan moral akan Bhineka Tunggal Ika, berbeda tapi tetap satu.
 
Back
Top