~DESCENDANT OF THE DEATHMASTER~ by:DYNA

bagaimana menurut kalian novel pertama Dyna (daina) ini?


  • Total voters
    35
Tasuku.

_________________________
____________________



Seharusnya ini sudah waktunya aku dan kakak kembali ke London.
Dengan berat hati, Izin tinggal kami disini sudah hampir habis,

Daina pemurung dan tidak mau bicara padaku maupun kakak, tidak bisa diapa-apakan, ia menderita trauma sangat hebat sampai sampai ia sering terbangun setiap malam dan histeris sendiri.
Tak bisa disalahkan memang, aku yang sudah melewatinya bertahun tahun saja, kadang kadang masih terbawa mimpi, berteriak dalam tidurku.

Seperti umumnya adat Thailand, upacara pemakaman melalui proses kremasi terlebih dahulu dan pihak keluarga memilih menyimpan abunya, Tapi karena mereka sudah tidak memiliki rumah lagi, maka pemerintah setempat membuatkan rumah penyimpanan khusus untuk menyimpan abu Jenazah.

Dan Daina termasuk salah satu yang tidak mau beranjak dari sana.
Tidak hanya padaku, ia bahkan tidak bersedia membuka mulut pada kak Ari.
Merasa tidak berdaya, aku dan kakak hanya bisa diam dan menunggu, tak terasa sebulan berlalu, masa tinggal kami disini nyaris berakhir.

Aku dan kakak hendak berpamitan pada Daina sore itu karena rencananya besok, kami akan segera kembali ke London.
Kami melihat ada cukup banyak orang dan anggota kepolisian yang memeriksa diklinik tempat mereka merawat Daina, Daina juga ada disana, kelihatannya sedang bicara pada mereka.
Entah memberikan keterangan atau apa,
Gadis itu kelihatan sudah terbiasa, karena sejak ia terlihat mulai sehat dan bisa bicara, ia sudah diberondong macam macam pertanyaan.
Aku dan kakak juga menghadapi keadaan yang sama tapi karena kakak seorang Prajurit bayaran dan ini memang pekerjaannya, disisi kami sama sekali tidak ada kesulitan.

Beda dengan Daina...


Aku dan kak Ari berpandangan, memutuskan mendekat untuk melihat lihat, apa sekiranya yang tengah terjadi.

Betapa kagetnya kami, ketika seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk penuh emosi menampar wajah Daina keras keras, sambil berteriak teriak dalam bahasa daerah.

“Kenapa kau yang hidup?!” Teriak wanita itu, “Kenapa bukan putriku dan keluarganya?!” Lalu menangis tergugu, “Kuizinkan ia pindah ke desa itu mengikuti suaminya… Tapi kenapa malah kau?! Kenapa kau yang hidup?! Ini tidak adil… ini benar benar tidak adil… cucuku, putriku yang malang…”

Beberapa orang menghentikan gerakannya, mencoba menenangkan jiwa yang baru saja mengalami kehilangan tersebut.

Daina memegangi pipinya yang memanas, ia menerima begitu saja perlakuan yang diberikan padanya seakan ia memang pantas mendapatkannya.


Para polisi dan beberapa orang warga desa melepaskan si wanita tua yang tampaknya sudah bisa mengendalikan diri, namun sekali lagi, tanpa bisa ditahan, Ibu tua itu melayangkan tangannya untuk kedua kali kearah Daina begitu melihat celah terbuka,

Aku langsung melompat diantara mereka.
Bahkan Kak Ari saja kaget melihat apa yang kulakukan.

Aku menghalangi luapan kemarahan dan kekecewaan bertubi tubi itu dengan tubuhku sendiri, aku tidak paham kenapa aku senekat itu, padahal aku sendiri juga baru sembuh dari cidera yang kudapat malam itu.

“Ini tidak seperti dia menginginkannya…” Tahanku, “Jangan bicara seolah olah hanya kau yang menderita, tidak ada yang tahu!”

Ya, ini tidak seperti dia hidup lalu dia lantas menjadi yang paling bahagia diantara yang lain.
Bertahan hidup, dalam konteks seorang diri sementara yang lainnya mati, tidak selalu adalah baik, bahkan meskipun banyak orang mengatakan hal itu sebagai suatu keberuntungan.
Ini adalah perang, kami hidup disini dan bertarung dengannya selama bertahun tahun.
Orang menilai hanya dari luar, bicara seenaknya dan menyalahkan.
Jika Daina tak mengeluh, itu bukan karena ia bahagia,
Justru ia takut merepotkan orang lain, khas yatim piatu, dan aku memahami perasaannya melebihi siapapun didunia.
Iapun tak berharap ia hidup setelah apa yang baru saja ia alami, rasa sakit, ia juga tahu dan merasakan.
Hanya kekuatan dan Imannya lah yang menahannya untuk tidak menyayat urat nadi sendiri saat ini.

Mereka… tidak bisa melihat itu, kah? Menyepelekan perasaannya…
Biasanya aku tenang, tapi aku paham sekali perasaan Daina sampai pada titik aku tidak bisa diam melihatnya dinilai seenaknya.

Bahkan hiduppun… hidup sudah tidak ada gunanya lagi, saat kau sendirian.

Kugigit bibirku, betapa kekanakannya tindakanku sekarang,kubentangkan kedua tanganku selebar mungkin, bertindak sebagaimana bocah yang melindungi gadis kecil seusia yang membawa takdir sama dengannya.

Baik pak polisi maupun beberapa warga yang ada disana, ikut terdiam.
Lalu Ibu tua itu menangis sejadinya.
Mungkin sadar bahwa apapun yang dilakukannya, siapapun yang disalahkannya, anaknya takkan kembali hidup.

Aku sendiri juga ikut diam, menyesal,
Karena tadi sempat berteriak kepada orang lain yang lebih tua dariku.
Itu tidak sopan...
Walau pada kenyataannya kami tidak salah, Terkadang orang dewasa membingungkan, usia mereka tidak selamanya menjamin apakah mereka akan selalu bijaksana...
Tapi kami para anak kecil, senantiasa memiliki hati yang cukup lapang untuk memaafkan...

Kemudian seakan tersadar dari hipnotis, orang orang dewasa lainnya dengan sigap memapah sang nyonya.
Meninggalkan aku, bertiga dengan Daina dan Kak Ari saja.

Aku berpaling kepada Daina dibelakangku, Daina sedang berdiri menunduk, airmatanya mengalir deras.
Menggunakan segenap kekuatan yang kupunya, aku memeluknya, merengkuhnya kedalam dekapanku.

Gadis itu tangisnya makin kencang, tapi tak sekalipun aku menyuruhnya diam, sebaliknya, aku malah ikut menangis juga, padahal aku laki laki.
Jangan lihat, Imej-ku benar benar runtuh sekarang…

Kusadari, puncak kepalaku dibelai sedemikian rupa, saat aku menengadahkan kepala, kakakku tersenyum arif disampingku, melakukan hal yang sama kepada Daina, ia kembali merangkul kami berdua seperti waktu kami di klinik,
Sebagai satu satunya orang dewasa yang paling kupercaya didunia.
“Maaf…” Bisikku tanpa suara, kakak selalu bilang laki laki tidak boleh menangis,
Tapi kakakku diam saja membiarkan, ia menempelkan dagunya pada bagian ubun ubunku, sambil mengusap usap bahu Daina.
Seperti menyembunyikan kami dengan tubuhnya yang besar.

“Aku bangga padamu,” Senyumnya padaku secerah matahari, Inilah orang dewasa kami.
Sialnya, malah aku menangis makin keras, beradu nyaring dengan Daina.
Bodoh sekali kan?


Benar benar bocah…
Sangat tidak keren,
Hari ini adalah hari paling memalukan, sepanjang sejarah hidupku.

+++
 
Last edited:
Ari.

_______________________________
_________________________



Kedua bocah itu sudah tidur sekarang, kelelahan menangis,
Daina bertelungkup diatas ranjang klinik, sementara Tasuku meringkuk diatas sofa didekatnya.

Aku menghela nafas seraya meneguk bir dingin yang kudapat diam diam dari kantor pengurus didesa.
Mereka selalu membiarkan dan memperlakukanku dan Tasuku dengan amat hormat seakan kami adalah pahlawan,
Padahal aku merasa tidak adil pada perlakuan yang mereka berikan pada Daina..
Namun yang paling kelihatan keberatan adalah Tasuku sendiri,
Karenanya ia selalu berusaha ada didekat gadis itu.
Aku tak menyalahkan, paham saja, dulu kami berdua juga mengalami hal ini dan tak bisa disalahkan jika rasa empatinya pada Daina demikian besar...

Aku yang membawa mereka kedalam sini, mendengarkan mereka satu sama lain terisak, begitu selanjutnya hingga mereka capek sendiri dan larut dalam mimpi, kompak sekali, aku cukup berpengalaman mengasuh anak –kulirik Tasuku yang sedang tidur- jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan gejala gejala tantrum seperti ini.

Dibilang sudah besarpun, Daina dan Tasuku masih tetap remaja.
Ya, Remaja yang baru berangkat dari usia kanak kanak, sekeras apapun mereka mencoba, tetap saja mereka belum siap dan masih butuh sandaran.

Namun kuakui aku cukup kaget karena Tasuku dengan nekat melompat ketengah keributan seperti tadi, padahal selama ini dia tipe anak yang paling menghindari masalah.
Sampai sebegitunya...

Ada semacam ikatan batin aneh antara ia dan Daina.
Aku terdiam, ya, benar juga… Kau juga merasakannya kan’ Ar?
Kami bertiga sama.

Apa yang dialami Daina juga pernah kami rasakan, aku dan Tasuku.
Tasuku melihat Daina, dan ia melihat dirinya sendiri disana, bukan kepribadian palsu sekedar selubung agar terlihat kuat, melainkan rasa sepi anak manusia ‘sebatang kara’.
Aku tersenyum, kudatangi Daina dan Tasuku satu persatu, membelai rambut mereka berdua.

Rasa sayangku pada Daina mulai tumbuh menguat bahkan mengalahkan rasa cinta.


-
-
-


Tasuku membangunkanku saat aku tertidur sambil duduk diruang tunggu, adikku mengguncangkan bahuku begitu saja,
Aku menggeliat dengan hanya separuh nyawa terkumpul, berusaha melihat lebih jelas.

“Uhh.. Ya?” tanyaku melenturkan urat leher, aku sedang dalam keadaan senam muka saat Tasuku menyambung lagi perkataannya barusan yang tak begitu kudengar jelas.

“Daina tidak ada dikamarnya,” Ceritanya pendek.

“Ha? Mungkin di… tempat dimana abu orangtuanya disimpan?” saranku bego, Tasuku menggeleng muram,

“Sudah kucari, memang disana, tapi kata pengurus tempat penyimpanan… dia tidak mau menemuiku, tidak ingin ketemu siapapun,”

Yah, aku hanya bisa mengelus dada seperti nenek nenek,
Sungguh tidak paham pikiran anak anak, hanya saja aku yakin, Daina memiliki alasannya sendiri.
Manggut manggut saja, aku mengelusi cambangku yang sudah mulai tumbuh lebatb lantaran sekitar sebulanan ini aku tidak bercukur.

“Sudah jam delapan,” Tasuku mengingatkan lagi, membuatku tersentak kaget.

“Kita berangkat sekitar jam 9 kan? Rencananya?” Tanyaku panik, menyadari betapa lamanya aku tertidur.

Tasuku mengangguk, Masih layu dan lemas, kukendalikan diri sedikit agar ia lebih tenang. “Tak apa apa, kita akan menemui Daina sebelum berangkat,” kukatakan sambil mengurut dagu, “Tapi sebelum itu aku harus bercukur dulu…”


++++
 
Daina.

_________________________
______________________



Aku hanya bisa meringkuk didekat guci tempat abu kedua orangtuaku disimpan.
Kak Ari dan Tasuku seharusnya sudah berangkat sekarang, aku mengangguk lemah pada udara kosong.
Sebenarnya aku ingin sekali menahan mereka.
Tidak, aku sudah sangat merepotkan, aku tidak ingin lebih merepotkan lagi, makanya aku disini.
Memberitahu pengurus tempat ini bahwa aku tak mau ditemui siapapun,
Jarang ada orang yang berkunjung ketempat penyimpanan abu jenazah didesa kecil ini pada pagi hari, jadi aku leluasa mengunci pintu, mengurung diri diantara ratusan guci yang menyimpan sisa sisa kenangan tersebut.

Saat Tasuku dan kak Ari membelaku kemarin, aku sangat bahagia.
Aku merasa dipahami, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku ‘Tidak sendirian’.
Setiap hari aku harus bergulat dengan perasaan sepi setiap kali kuingat hari itu.
Dan aku ketakutan.

Ah, aku tidak ingin bergantung…
Kak Ari maupun Tasuku, mereka punya kehidupannya masing masing, dan aku tidak boleh menyusahkan mereka, ataupun menjadi beban.

Tasuku, aku menyukaimu… amat sangat teramat suka sekali,
Terima kasih kau sudah menjaga dan melindungiku, kau juga membelaku kemarin,
Aku salah... Karena aku hidup,
Jadi Aku takkan memintamu memikul bebanku juga…
Selamat tinggal…

Tidak, aku menangis lagi, kuusap airmata yang sepertinya mengalir semakin deras saja,
Daina jelek, berhentilah menangis, mulai sekarang kau harus mandiri, kau tidak punya siapa siapa lagi…

Ayah, Ibu….


Tolong aku… Siapa saja, tolong...
Aku takut…


+++
 
Tasuku.

_____________________________
_______________________



Kami sudah setengah jalan menggunakan mobil jeep yang disewa oleh kakakku,
Debu disepanjang jalan membuatku harus menutup kepalaku dengan hoodie, kukenakan kacamata bacaku, melamun tidak jelas,
Kakak disampingku yang sedang menyetir juga tak kalah bungkamnya.
Sampai akhir, Daina tetap tidak mau menemui kami, ia mengunci dirinya begitu saja didalam sana,
Aku bertanya tanya apakah ia membenciku, apa salahku padanya, atau… apakah ia berencana menghabiskan sisa hidupnya ditempat seperti itu.

“Jadi begini saja yah?” Tanya kakak melirikku dibalik kacamata hitamnya, “Padahal aku berniat lebih.”

Aku memalingkan wajah.
Bagaimanapun, aku, yang meminta kakak untuk segera pergi saja, meninggalkan Daina disana.
“Negara ini adalah tempat kelahirannya, ” jawabku, “Jika ia tetap tinggal disini, itu pasti yang terbaik,”

Kak Ari menarik nafas, “Bisa jadi dia akan diadopsi keluarga baru, ya kan?”

Aku mengangguk, sekali lagi, akulah yang meminta pada kakak, aku hanya merasa inilah yang seharusnya.
Kami berdua tidak akan bisa menggantikan ayah dan ibunya Daina…
Sampai kapanpun tidak akan pernah...

“Tapi apa kau yakin, bahwa ini adalah apa yang benar benar diinginkan olehnya?”

Kata kata kak Ari menohokku amat dalam.
Bukankah ini keputusanku? Meninggalkannya?
Keputusanku,



tapi bukan keinginannya.


‘Aku selalu rindu untuk berkeliling dunia… pergi ketempat tempat jauh…’

Bisikan hasrat gadis remaja itu mengangguku.
Ia mengatakan tidak, ia tidak mau menemui kami lagi.
Oh tidak, ia melihat kedalam hatimu, Tash,
Tidakkah kau bisa melihat jauh kedalam hatinya sekarang?!


Dadaku berdenyut, sakit sekali.

“Putar balik,” Seruku cepat pada kak Ari, yang langsung mengerem mendadak dengan tampang pura pura tidak suka. “Kak, putar balik, sekarang,” Aku melanjutkan, berubah ubah keputusan, betapa kekanakannya, “Aku sudah menunggumu empat tahun waktu itu, Daina menunggu kita, dan kali ini aku tidak akan membiarkan sepuluh menitpun terbuang,”

Kak Ari hanya tersenyum kecut, aku tahu ia juga mengharapkan kata kata itu keluar dariku sejak tadi, Jika ada yang tidak ingin meninggalkan Daina begitu saja, maka dialah orangnya, tapi ia sengaja mengetes, diam saja membiarkanku, ia tahu hatiku, dasar iseng…
Mungkin saja ia sekalian ingin mengajariku, tapi aku tahu hati kami satu, kami berdua sependapat.

“Kalau kau punya adik baru,” Kakak menjawab, memutar mobil kearah sebaliknya, “Uang jajanmu berkurang separuhnya,”


++++
 
Daina.

_______________________
____________________



Aku tidak paham, kurasa aku sudah gila,
Aku mendengar suara mereka memanggil manggil namaku, jelas sekali.
Padahal seharusnya aku tidak berharap.
Tidak mungkin, mustahil…
Mereka sudah pergi berjam jam lalu, sekarang mungkin sudah di Airport...

Kenyataannya begitu tahu mereka sudah pergi, aku malah langsung berlari pulang ke klinik, dan mengemasi pakaianku yang jumlahnya tidak seberapa kedalam koper kecil,
Padahal aku yang sok kuat dan sok tidak butuh bantuan.
Aku ingin mengejar mereka, Aku harus mengejar mereka!
Disebut benalu atau apapun saat ini, aku tidak peduli… aku tidak bisa terpisah dari mereka!
Aku tidak mau, tidak mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya!

Pintu kamarku diketuk, aku kaget sekali, secepat kilat menarik resluiting koperku,

“Mereka datang…!” Seorang perawat memunculkan wajanya dari balik pintu, “Daina, cepat! Mereka kembali!”

Kututupi mulutku menggunakan tangan kanan, menghalangi apapun itu teriakan penuh luapan kegembiraan keluar.
Mustahil… mustahil…!
Aku baru saja berpikir akan mengejar mereka walaupun harus berlari jalan kaki,
Dan sekarang mereka…
Mereka kembali…?


+++
 
Ari.

________________
___________



Baru saja aku dan Tasuku memarkir mobil kami didepan klinik,
Daina sudah berlari keluar, tampak ngos-ngosan, aku dan Tasuku terbelalak melihatnya sudah menenteng koper dorong,

Aku benar benar ingin tertawa sekarang.

Pantas saja aku menyukainya, dia dan Tasuku sama sekali mirip.
Terlalu lemot untuk menyadari perasaan masing masing, terlalu banyak memikirkan sesuatu, pikirannya berubah ubah, serta terlalu payah berpura pura sok kuat tidak butuh bantuan, aku senang kami bertiga sudah membuat ikatan...


Daina kelihatan bahagia sekali, ia berjalan cepat cepat menyongsong kedatanganku dan Tasuku, ups, koper kecil saja terlalu berat untuk ia tarik, ia berusaha, satu, dua, tiga, tapi kemudian ia mengabaikannya begitu saja,
Aku tidak bisa berhenti mengulum senyum, Daina sungguh lucu.
Tasuku juga tak kalah lucunya, dengan kedua lengan terbuka ia menyambut Adik barunya,
Seperti sepasang boneka porselen, kedua tangan mereka berpegangan dan diayun ayunkan.

Dasar bocah.

Kemudian gadis itu berpaling kearahku dan memeluk, membuatku berdebar tapi rasa syukurku jauh lebih besar,
Entahlah, mungkin ini yang disebut ketulusan?
Tidak ada satupun niat didalam hatiku kecuali untuk memastikan bahwa ia benar benar bahagia.

Ia dan Tasuku.
Ya, kelihatannya aku hanya harus bekerja dua kali lipat lebih keras lagi untuk makan tiga orang, kan?

Aku tertawa, siapa peduli.



Aku mencintai mereka.



+++
 
Daina.

__________________
____________



“Keluarga,” Itulah satu kata yang dibisikkan Tasuku saat ia meraih tanganku,

Ia dan kak Ari membantu menaikkan barang barangku kedalam mobil sementara aku berpamitan kepada para juru rawat dan dokter setempat, beberapa penduduk juga turut mengiringi kepergianku penuh haru.

Tangis bahagia tidak dapat kubendung saat aku pergi meninggalkan tanah kelahiranku.
Aku akan memulai kehidupan baru mulai sekarang, Ayah… Ibu… doakan aku, tunas baru semoga tumbuh, karena itu adalah cinta kalian kepadaku.
Aku akan selalu baik baik saja dengan cinta seperti ini…

“Kita akan kemana?” Tanyaku pada Tasuku, aku duduk dibagian belakang sementara ia dan kak Ari didepan, ia memberikan jaketnya menutupi kepalaku dari debu dan angin, sangat perhatian.

“Berkeliling dunia,” Ia sukses membuatku terkesima kagum atas jawaban yang ia berikan, sebelum kemudian ia menyambung lagi, “Tapi kau tahan hidup miskin, kan?”

Aku mendengar kak Ari terbahak dibelakang setir, dan jadi ikut tertawa juga,
"Aku akan membagi uang saku, tenang saja," Ia menambahkan, membalikkan tubuhnya menghadapku, memasang ekspresi lucu setengah bercanda.

Aku senang, aku melihatnya, Tasuku yang sebenarnya...
Ia sama sekali tidak berpura pura lagi, aku tahu, sebab saat ia bicara padaku, mata itu memancarkan ketulusan yang luar biasa.
Aku sampai ingin menangis karena senang.

Aku berkata seenakku, “Siapa takut, kita keluarga, kita punya cinta, kalau lapar tinggal makan cinta saja.”

"Tunggu, siapa yang mengajarinya kalimat itu?" Kak Ari menyela.

"Bukan aku," Tasuku mengangkat tangannya.

"Tapi... Makan cinta, itu terlalu..."

"Sudahlah, yang mana saja, yang penting enak didengar,"

"Itu sama sekali tidak enak didengar, Aku kan' bukan Oom-Oom yang kawin lari,"

"Jangan panik kak,"

"Kak Ari dan Tasuku berisik, Serius nih, Kita kemana setelah ini? London yah? Amerika?"



++++
 
Stast

_____________________
___________________



“Tidak apa seperti ini saja?” Luciferina dan Bruce membantuku membuka pintu belakang mobil khusus milik pemerintah,
Mereka mengawalnya dengan ketat bersama pasukan bersenjata, tentu saja,
Tapi aku dan keturunanku melumpuhkan mereka dengan mudahnya.
Mayat tentara anjing anjing pemerintah itu berserakan ditengah jalan begitu saja,
Dan karena kami para Undead kelas satu tidak sembarangan menginvasi wilayah tanpa alasan khusus atau yang kami nilai cukup berharga untuk dijajah, Ferina dan Bruce melumatkan mayat mayat itu hingga kedalam taraf tidak bisa bangkit sama sekali sebagai Undead.
Apa yang kami lakukan bukannya tanpa tujuan,
Kami mencegat truknya begitu saja karena mendengar sesuatu yang tak biasa terjadi di wilayah barat Thailand,

Hmm… kecelakaan, kekacauan, atau apapun itu, sebenarnya adalah hal yang biasa saja bagi kami.
Tidak sedikit manusia manusia picik yang menggunakan virus Undead untuk menyakiti sesamanya, dan selalu di akhir cerita, Akulah yang disalahkan,

Tapi tidak mengapa, Deathmaster disebut Deathmaster karena ia membawa pergi begitu saja semua kesialan bersamanya, bukan?

Itulah kenapa kami selalu merasa lebih tinggi daripada mereka.
Karena mereka tidak hanya menyimpan rasa takut tapi juga sekaligus kekaguman pada kami.
Secara tidak langsung.

Apa yang membuat kejadian kali ini menjadi istimewa adalah…

Aku menyingkap kain penutup peti es itu, mereka pasti berencana membawanya ke tempat fasilitas penelitian milik pemerintah…
Tapi tak semudah itu.

“Benar, ini Chimera,” Luciferina berdecak kagum, diikuti Bruce, “Kita tidak pernah melepas yang seperti ini disini,” ia menyentuh bangkai chimera itu, memberikan penilaian dengan mata telanjang, sekali lihatpun kami sudah tahu, “Kau, Stast?” Tanyanya padaku,

Aku tersenyum lembut, “Bahkan membuatnya pun aku tidak pernah…”

Itu benar, baru pertama kali aku melihat model seperti ini,
Struktur tulangnya lemah dan lunak, seperti ciptaan setengah jadi yang canggung, walau demikian kemampuan dan daya rusaknya tidak perlu dipertanyakan.

Aku memejamkan mata, dalam sekejap saja tombak tombak yang terbuat dari tulang belulang keluar dari balik punggungku,
Luciferina dan Bruce diam saja menyaksikan aku menusukkan tombak tombak itu kedalam tubuh bangkai Chimera dihadapan kami, menyesap sedikit darahnya dan menganalisa.

“Harusnya ia sejenis kita,” sorakku gembira,
Baik Luciferina maupun Bruce sama sama mengerinyitkan alis mereka,

“Tapi dia sudah mati, Stast, apa kabar baiknya kalau begitu?”

“Tidakkah kau lihat?” Seringaiku girang, “Dia jadi seperti ini… tandanya ada orang lain yang membuatnya jadi begini,”

Dan anak anak malamku takjub, ikut berbinar bersamaan dengan penjelasanku.

“Orang lain, manusia, kemampuannya nyaris menyamai kita, kalau kita jadikan dia teman, alangkah baiknya!” Memikirkannya saja, Stast ini sudah sangat bersemangat!

“Maksudmu… seseorang yang pintar sekali…?” Ferina menyambar antusias,

“Tapi kemana kita mencarinya?” Bruce ikut membuka mulut, ekspresinya agak kebingungan, dan Ferina menyikutnya geram,

“Dungu!” Bentaknya, “Tentu saja ada banyak informasi mengenai hal itu, dan jangan perlihatkan ketololanmu, tidak didepan Stast,”

Aku mengangguk memaafkan, sudah terbiasa dengan sikap keturunanku tersayang.

“Kudengar orang yang sama disewa untuk mengatasi kekacauan didesa ini,”

Yang bicara adalah seorang wanita cantik berambut hitam, Vampir betina sama seperti Luciferina,

“Elsida…” Panggilku mesra,

Putri keduaku, Elsida, mengangguk hormat, “Namanya Gabriel, atau setidaknya begitulah, aku tidak begitu tahu, tapi ia ikut dalam peristiwa penghancuran Marine dan Sealine di Nepal beberapa tahun lalu… Setiap kali ia terlibat dengan kaum kita, tidak pernah berakhir baik,”

Alisku naik dalam rasa kepenasaran yang sangat.
Oh? Lelaki yang berhasil menghancurkan beberapa Vampir…?
Aku cukup penasaran ingin tahu, orang macam apa ‘Gabriel’ ini.

“Dan sekarang Insiden yang melibatkan Chimera buatan tanpa campur tangan Stast the origin, padahal selama ini hanya kaum kita yang mampu menciptakan dan menggerakkan Chimera… ” Sambung Ferina, aku membenarkan, Undead jenis Chimera, jangan harap bisa mengendalikan ataupun membawa bawanya sesuka hati...
Harusnya hanya kami yang bisa...

“Cari tahu tentang orang ini, Ferina, Bruce,” Pintaku halus, kedua anakku mengerti betul dan segera mengangguk taat. “Gabriel… Seperti apa dia…”

“Aku akan kembali ke Spanyol, kalau begitu, jika ada perlu kau tahu kemana harus mencariku, Stast,” Elsida mengibaskan rambut halusnya angkuh, “Dan Haruskah mereka kubunuh?” Ia menarik keluar dua orang petugas yang ketakutan, mereka gemetar dan memohon ampun, saat Elsida sudah akan mematahkan pergelangan tangan salah satunya.

“Jangan,” Bantahku menghentikan, “Biarkan mereka melanjutkan tugasnya, membawa peti dan makhluk ini ke pusat penelitian bangsa mereka, toh’ sekeras apapun mereka mencoba, manusia sendiri takkan bisa menyingkap rahasia kekuatan Undead…” Aku menatap dalam langsung ke mata dua orang manusia dihadapanku, memperlihatkan wajah paling mengerikan...



“Pergi dari sini cepat, dan bawalah berita tentang pertemuan menyenangkan kita ini pada petinggi sampai anak cucu kalian, ceritakan pada mereka betapa mengerikannya kami.


+++
 
Last edited:
Ari.


6 bulan kemudian.

________________________
_____________________



“Kak… Tunggu!” Seru Daina tergesa gesa sambil memegangi topi boater bermodel imut yang dihiasi pita dan bunga bunga diatas kepalanya, agar tidak terbang ditiup angin, sebelah tangannya yang lain menggotong tas,

“Aku sudah bilang kan,” Tegurku kesal, “Jangan bawa barang banyak banyak, barang lainnya sudah diatur agar dipaketkan, jadi tak usah serepot itulah,”

“Tidak banyak kok,” Daina membela diri, “Hanya beberapa baju, pakaian dalam dan kosmetik,”

Aku hanya geleng geleng tidak mengerti, mengapa hanya baju dan kosmetik bisa memenuhi koper dorong mungil warna pink itu sampai begitu susah untuk ditarik tarik.
Ataukan Daina-nya saja yang lamban?

“Jangan begitu kak, Daina kan’ perempuan… ”

“Tasuku…!” Daina langsung menyambut kedatangan adikku dengan penuh sukacita, Aku tahu apa yang diincarnya, karena saat ini Tasuku baru saja kembali dari toserba, kedua tangannya penuh memeluk sekantong besar camilan dan cokelat berbagai merk.

Dasar, mereka berdua sama saja…

Kupandangi tiket kereta api ditanganku, waktunya sebentar lagi, yah,
Minimal Daina dan Tasuku bisa tenang kalau ada makanan, masalah itu tak kucemaskan, suasana disekitar stasiun tampak sedikit lengang,
Baik Daina maupun Tasuku sepertinya terlibat obrolan asyik tentang merk merk makanan ringan terbaru yang baru saja mereka temukan,

“Ayo naik,” ajakku pada mereka berdua akhirnya.
Kedua buntutku langsung menurut tanpa membantah, Melihat Daina sedang kesulitan menyeret koper dorongnya aku berinisiatif membawakan, gadis itu tersenyum berterima kasih.
Untuk menutupi rasa gugup dan malu kupasang tampang semasam mungkin, tapi ia tahu hatiku, aku telanjur kalah sebelum perang.

Didalam kereta, Daina bersebelahan dengan Tasuku dan tanpa menunggu lebih lama ia memilih tempat duduk disebelah jendela, nampak antusias melihat lihat pemandangan.
Ia menempelkan wajahnya ke kaca sampai melekat, norak sekali,
Sementara Tasuku menyambar kantung keripik dan meletakkan sisanya pada tempat duduk kosong disampingku.
Memulai acara ngemil dengan rakus.

Menggunakan kereta model lama yang paling murah ini, perlu waktu 3,5 jam untuk sampai ke tujuan,
Aku hanya menghela nafas melihat kelakuan mereka berdua sepanjang perjalanan.

Enam bulan berlalu sejak Insiden Kanchanaburi,
Pemerintah telah memberlakukan aturan baru yaitu penyatuan Negara Negara di Asia, mempertimbangkan kecilnya kemungkinan Negara kecil seperti Thailand bertahan dari serangan Invasi.
Umat manusia tidak sanggup mengambil resiko kehilangan wilayah sekecil apapun.
Mereka mengambil langkah yang sejatinya memang diperlukan untuk mencegah penyebaran virusnya.
Seharusnya dari dulu saja mereka melakukan ini,
Terus terang saja, jika bukan karena Daina, aku takkan mengambil pekerjaan tanpa sokongan pemerintah seperti di Thailand kemarin…

Bulan bulan terakhir kami habiskan di London, pada awalnya Daina masih sering bermimpi buruk, selalu begitu, Tasuku merawatnya dengan penuh kesabaran, dan sekarang, walau terkadang raut kesedihan masih terlihat jelas ketika ia sedang sendirian, Daina sudah mulai sehat.
Ia bisa ceria lagi, bercerita macam macam secara aktif.

Kali ini aku bermaksud mengajaknya pindah ke Manchester untuk beberapa hal, Terutama sekali, urusan sekolah Daina,
Ya, dia perlu itu, Aku memang belum secara resmi memberitahu niatanku ini padanya, malahan tadinya aku sempat cemas karena aku takut ia tidak bisa mengikuti gaya hidup kami yang nomaden.
Ya, aku dan Tasuku selalu berpindah pindah tempat tinggal, mengikuti pekerjaanku,
Atau alasan pendidikan Tasuku.
Aku memang tidak pernah memberitahukan tempatku berada saat aku bekerja, tapi secara diam diam aku selalu menitipkan Tasuku ditempat yang dekat, aku tidak nyaman harus meninggalkannya…
Tasuku mungkin sadar, makanya dia diam saja, jika tidak ada keperluan yang berhubungan dengan sekolahnya, ia selalu bersedia dipindah pindah.

Diam diam aku tahu dia berusaha lebih keras dari biasanya agar bisa meraih prestasi yang memberikannya nilai lebih saat ia pindah ketempat baru.
Semua agar tidak mempersulitku.

Dan Daina ternyata juga sama penurutnya, menerima hal tersebut seperti tidak masalah sama sekali,
Malah, ia sepertinya senang sekali bisa mendapatkan kesempatan berkeliling dunia.

Kami memang tidak kaya, berpindah pindah tentu saja membuat keadaan semakin berat,
Tapi kami perlu kebersamaan agar bisa bertahan…
Aku takkan membiarkan adikku dan Daina mati kebosanan menungguku yang tidak jelas akan kembali hidup hidup atau tinggal nama.

“Apa ada sesuatu yang dibutuhkan lagi, Tuan?”

Aku menoleh pada wanita petugas kereta api yang menawarkan makanan kecil, aku menolaknya halus, sudah cukup banyak cemilan yang dibeli oleh Tasuku dan aku tidak punya ide akan dihabiskan dengan cara apa.
Tapi Ibu itu tidak langsung pergi, malah memandang bahagia kearah Daina dan Tasuku,

“Adik?” Ia bertanya, membetulkan letak selimut Daina dan Tasuku, mereka tertidur, Daina memegangi topinya diatas pangkuan, pipinya merona merah muda, tubuh mungilnya berbagi selimut kecil dengan Tasuku yang juga sama baby face nya, Kepala mereka saling menyender satu sama lain, mirip sepasang boneka porselen pajangan, Aku ikut tersenyum geli.

“…Ya.” Jawabku bangga,

“Manis sekali,” Puji ibu itu, memberikan sekotak permen kepadaku, “Berikanlah ini pada mereka jika mereka sudah bangun, Gratis, hadiah dariku,”

Aku tersenyum mengucapkan terima kasih, dan wanita itupun berlalu, Tasuku kalau bangun nanti pasti senang sekali, Daina juga.
Sebenarnya Tasuku sejak masih kecil disekolah sering sekali menerima pemberian seperti ini dari guru gurunya, orang menyukainya karena wajahnya yang tampan dan imut.

Ditambah Daina, keimutan itu jadi dobel.

Kuletakkan kotak permen itu disampingku,
Padahal aku berencana untuk tidur, tapi nanti tidak ada yang tahu kalau kami sudah sampai, The Babies –Aku menatap Daina dan Tasuku- sedang tidur pula…

Haha, tak apalah, tunda saja sebentar, menyamankan diriku, aku bersandar,
Berharap kantuk tidak segera menyerang.

+++
 
Daina.

________________________
_____________________




“Coba di jurusan seni rupa saja!”

“Tidak, aku lebih setuju kalau dia di teknik akutansi,”

“Kalau dia bisa menjahit… melukis… atau apa, dia bisa mengembangkan kreatifitasnya lebih lagi, itu bagus untuknya,”

“Bagus menurut kakak, Bagiku akutansi lebih menjanjikan, dia bisa jadi sekretaris bahkan pegawai bank, dia bisa punya pensiun dan tunjangan hari tuanya,”

“Aaaah, kalau pekerjaan itu sebegitu bagusnya, kenapa kau tidak jadi pegawai negeri saja sekalian?”

“Kakak sendiri? Kenapa kakak tidak jadi penjahit baju?”


Lalu perdebatan itu dilanjutkan sampai berjam jam lamanya,
Aku garuk garuk kepala sendiri melihat kak Ari dan Tasuku meributkan masa depanku, Padahal aku sendiri tidak begitu tertarik,
Aku tidak ingin masuk ke sekolah seni rupa karena aku amat ceroboh, begitu pula akutansi, aku tidak pandai hitung hitungan…

Aku memilih berkeliling kontrakan baru kami, tidak ikut campur mengenai pembicaraan tentang kemana aku akan bersekolah.
Kakak mengontrak sebuah apartemen yang lumayan besar menghadap langsung ke jalan Wilmslow, dekat dengan sekolah, lokasinya cukup strategis dengan empat kamar, tempat kami ditengah tengah, alias lantai dua, memang capek harus turun naik tangga,Tapi Tasuku puas bisa mendapatkan ruang kerjanya sendiri,

‘Adik’.

Begitulah kak Ari dan Tasuku menjawab setiap kali ada orang menanyakan tentang aku.
Dan memang kami bertiga selama ini hidup sebagai kakak beradik.
Aku disayangi, dan aku merasa beruntung, merekalah keluarga baruku.
Kak Ari sering pergi meninggalkanku berdua saja dengan Tasuku, tapi kami berdua memainkan peran dengan sangat baik, atau sebut saja, akulah yang memainkan peran dengan sangat baik.
Karena diantara aku dan Tasuku, hanya aku yang menganggap lebih…
Sebaliknya Tasuku menanggapi dan memperlakukanku biasa saja.

Menuntut? Tidak, aku terlalu pengecut untuk itu.

Kami sudah hidup bersama sebagai kakak beradik, dia dan kak Ari mengurusku, memberikanku tempat tinggal, dan sebentar lagi aku akan disekolahkan…
Dulu aku pernah mencintainya, bahkan sekarangpun masih, menatapnya saja aku sudah merasa bahagia,
Tapi aku harus cukup puas dan amat berterima kasih atas kebaikan ini, terlalu tidak pantas jika aku meminta lebih…

Kalau kakak ada dirumah, kami makan enak karena kakak bisa memasak makanan lezat bahkan dari bahan paling sederhana sekalipun,
Tapi kalau kakak tidak ada, Tasuku lebih banyak mengurung diri didalam lab kecilnya.
Aku bisa memasak tapi kemampuanku terbatas, dan aku amat bersyukur Tasuku bukanlah tipe orang yang suka menuntut, dia selalu memakan apapun yang kumasak tanpa peduli bagaimanapun rasanya,
Memuji, tidak pernah mengeluh, dan tidak ada permintaan khusus.

Pada siang hari kerjaku mencuci baju dan membantu pekerjaan rumah lainnya, tapi sebenarnya aku lebih banyak menonton tv dan hidupku sekarang jauh lebih ringan daripada dahulu.
Karena kakak maupun Tasuku sama sama menganut prinsip ‘Sesukamu sajalah’, selama aku tidak membakar rumah, mereka takkan ambil pusing apapun yang kulakukan.
Pun kami tidak kaya, tapi kakak tidak pernah mengizinkan aku bekerja,
Praktisnya, aku hanya diam dirumah dan bersantai.

Barang barang kami masih berserakan dikardus kardus, belum dirapikan, aku berusaha membuka jendela yang agak berkarat, hari masih mendung, tapi jendelanya terlalu keras untuk kudorong, mungkin aku harus meminyakinya nanti…
Kuseka embun yang menutupi kaca, Jalan Wilmslow kelihatan ramai dengan para pejalan kaki, ini sungguh sebuah kota besar, terbesar kedua di Inggris, beda sekali dengan desaku.
Tasuku bilang penduduknya sekitar 2,6 juta jiwa, udaranya bersih, dan berada dikota ini, aku seakan bisa menjelajah waktu, baik masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

Aku benar benar pergi jauh… Ayah… Ibu…

Bunyi jendela dibuka mengejutkanku, kak Ari menyentakkannya mudah sekali, padahal aku sudah menyerah.
Segera saja udara luar masuk, membawakan aroma jalanan basah setelah hujan.

“Bagus yah,” Pujinya pada pemandangan didepan kami, Aku mengangguk bersemangat.
Tasuku membawa roti selai kacang kemana mana, melemparkan dirinya diatas sofa.

Aku melongokkan kepalaku dari jendela, melihat sesuatu pada dahan pohon didekat jendelaku, aku mengulurkan tangan ingin meraihnya, tetapi tidak sampai.

Kak Ari lagi lagi membantuku, dengan tubuh tingginya, mudah saja dia menjangkau sesuatu yang tadinya amat sulit bagiku.

Kakak meletakkan kupu kupu itu diatas kedua telapak tanganku,
Sayapnya lelah dan rapuh tak bernyawa.

“Kedinginan sepertinya,” Ujarku mengeluh, “Ah, dia tidak bergerak,”
Aku langsung membawanya ke atas meja tamu, menyambar kotak P3K didalam lemari dapur dan segera membukanya, Tasuku ikut memperhatikan disampingku,

“Apa yang mau kau lakukan, Daina?” Tanyanya lembut, saat aku meniup niup binatang lemah itu, mencoba membuatnya merespon.

“Dia… sekarat…” Ujarku menunjukkan, “Mungkin kau bisa melakukan sesuatu, kau dokter kan?”

Tasuku menggeleng pelan, “Tapi aku tidak bisa menghidupkan apa yang telah tiada,” Dia juga kelihatan sedih dan menyesal.

Aku menunduk, mendekap erat binatang malang berusia pendek itu didadaku, kurasakan kakak membelai bahu kananku lembut, ikut memberikan semangat.
Sayang sekali ya, didunia ini juga ada yang seperti itu…
Susah payah terlahir dalam bentuk yang indah, kemudian mati dalam waktu singkat…
Betapa tidak bergunanya aku…

Kukepalkan tanganku erat, menyesali keadaan, kemudian terpikir.
Coba aku lebih bisa berguna,
Mendadak muncul suatu keinginan untuk membantu, impianku yang sempat pudar perlahan berkobar,
Menyadari ketidak mampuanku, betapa aku harus belajar.

“Kak…” Kataku lirih, baik Tasuku maupun kak Ari sama sama mendengarkan dengan serius,
Aku tersenyum, menghimpun keberanian untuk bicara,
Sejak pindah kesini, ini pertama kalinya aku punya keinginan…
Apakah mereka akan mendengarkanku atau tidak, tidak masalah, yang penting aku sudah mencoba…

“Aku…” menelan ludah, aku meneruskan, “Aku tidak ingin akutansi atau seni…” ah, lanjut, “Aku ingin jadi perawat!”

Hening,
Kak Ari dan Tasuku masing masing mengangkat alis mereka, tidak menyangka aku akan mengeluarkan suara selantang itu,

Aku menunduk dalam dalam, aduh, kurang ajar sekali, “K-kumohon… aku akan belajar dengan giat, aku takkan malas, jadi… kumohon izinkan aku…”
Kalau mereka mengusirku, apa boleh buat…
Aku menutup mata kuat kuat, pasrah sajalah…


Tapi kak Ari dan Tasuku malah ketawa.

Aku semakin kebingungan dan malu, ah, bagaimana sih, aku kan sudah mempertaruhkan segalanya ingin mengatakan hal itu…

“Bagaimana sih?! Padahal ngomong saja terus terang sejak awal,” kakak seperti biasa mengacak rambutku kuat kuat,

“Perawat? Kenapa tiba tiba ingin jadi perawat?” Tanya Tasuku kalem,

E…Ehhhh?

“M-maksudnya… Diizinkan nih? Benar?” Teriakku kaget, kedua ‘saudaraku’ tertawa makin hebat.
“Aku… mungkin aku terlalu bodoh kalau ingin jadi dokter…” Kulirik Tasuku sekilas, “Lebih baik kalau aku jadi perawat saja, disesuaikan dengan kemampuanku.”

Tawa diwajah Tasuku berhenti, ia menjulurkan tangan membelai pipiku, “Hee? Itu saja? Karena aku, bukan karena keinginanmu sendiri?”

Tuh kan!
Si pintar ini… Pertanyaannya amat menjebak, kurasa ia ingin mengetahui seberapa jauh niatku,
Aku harus berhati hati dalam menjawab setiap pertanyaannya…
Aku harus jawab apa? Aaaa tapi aku bukan tipe yang pandai cari alasan!
“Ha… habisnya!” Ngototku, “Baik kak Ari dan Tasuku sudah melakukan bagiannya masing masing! Aku mana? Akupun ingin berguna!” Aku menambahkan, “Aku juga bagian dari keluarga, kan?”

Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak bisa memikirkan hal lain selain itu, jadi bisa kukatakan bahwa itu adalah suara hatiku, ah, lemah sekali, alasan kekanakan.
Kak Ari, juga Tasuku, saling melempar senyum puas mendengar jawabanku,


“Dimana sekolah perawat terbaik disekitar sini?”


++++
 
Ari

Bulan berikutnya,
Wilayah Argentina.

____________________
_________________



Sebanyak dua puluh delapan orang berkumpul didepan lokasi pertambangan perak santa Cruz, Argentina.
Aku saat ini sedang menjalankan misi yang dilimpahkan padaku beserta puluhan prajurit bayaran lainnya, mengevakuasi tambang santa Cruz.

Tapi mereka tidak serta merta memanggil Paladin, karena ada perusahaan perusahaan besar yang tidak ingin pemerintah ikut campur dalam urusan mereka.
Yang jelas infeksi sudah menyebar didalam wilayah pertambangan, kami harus meledakkan tambang dari dalam untuk mencegahnya keluar karena mereka tidak tahu sampai kapan pintu berlapis baja itu bisa menahannya.

Ada kota kota di argentina yang terancam akan terkena wabah Undead jika kami tidak segera bertindak.

Entah apalagi yang terjadi, tapi dengan campur tangan vampir, tidak ada yang mustahil.

Aku heran mengapa mereka tidak langsung menginfeksi kota kota berpenduduk saja, tetapi benar juga, khas vampir…
'Tidak ada gunanya melakukan kejahatan jika tidak bisa dikenang sebagai mahakarya.'
Mereka makhluk yang senang pamer kecerdasan dan kelebihan mereka.
Seperti biasa mereka ingin menebar teror, senang menunjukkan kekuasaan mereka serta betapa lemahnya kami para manusia.

Aku duduk didepan pertambangan menunggu waktu serangan ditentukan,
Mengelap pedangku, aku terbiasa sendirian, meskipun para prajurit bayaran lainnya kelihatan memiliki partner, mungkin aku memang kenal satu dua diantaranya, tapi tetap saja aku terlalu acuh bahkan untuk mengingat nama.

“Kabarnya Vampir yang ada didalam sana perempuan,” Suara lembut yang renyah mengagetkanku,
Saat ia duduk disampingku, bersikap sok akrab padahal aku tak pernah mengenalnya.

“Benar kan? Vampir sangat cantik sekali… kan? Aku jadi ingin segera bertemu,”

Aku diam saja, tapi ia terus terusan mengajakku bicara,

"Menurutmu, apa dia berbahaya?"

"Menurutku dia pasti sudah pergi sekarang, dengan hanya meninggalkan jebakan untuk memerangkap kepala kita didalam sana." Setelah menakut nakuti dan setengah malas, aku buru buru menjauh, sangat terganggu,
Aku tidak tahu siapa dia, pemuda itu berambut cokelat dan bermata hazel dengan kisaran usia sama denganku,
Ia biasa saja tersenyum padaku, seperti tidak mengambil pusing atas sifatku padanya.
Dengan wajah penuh senyum yang sama, ia sibuk mengajak prajurit bayaran yang lain berkenalan.
Reaksi yang didapatnya beragam, kadang dibentak, kadang disambut baik,
Tapi wajah cengengesan penuh senyum itu tidak pernah berubah tak peduli apapun,
Padahal apa gunanya menambah teman dimedan pertempuran seperti ini?
Sampai sampai aku jadi berpikir apakah dia bodoh?

Beda sekali dengan Tasuku,
Adikku sangat elegan…

Ah, kenapa pula aku jadi membanding bandingkan semua orang dengan Tasuku?
Tentu saja adikku adalah yang terbaik!

Jam empat sore sudah diputuskan kami akan masuk kedalam, memasang peledaknya, lalu keluar.
Walau harus mati, kami akan berhasil, sebagian orang mengatakan ini pekerjaan gila, tapi itulah seni dari menjadi prajurit bayaran.

Kau mempertaruhkan nyawa menghadapi bahaya, tanpa terikat nama organisasi.
Jika kami mati, kebanggaan itu juga kami bawa sendiri.
Kami hanya suka bertarung, itu saja.
Sebenarnya aku ingin bergabung ke Paladin, tapi biaya menuju markas pusat mereka sangat mahal,
Lagipula aku harus mencari uang lebih demi Tasuku, mimpi besar adikku tidak bisa menunggu, dan untuk memulai penelitiannya dia butuh biaya besar serta dana yang tidak sedikit.
Tidak ada perusahaan yang mau membiayai percobaan pertama yang tidak jelas uruh-arahnya.
Paling tidak sabar saja dulu,

Yak, aku mengangkat senjataku, menaruhnya dipundak,
Sebentar lagi.

Aku berbeda dengan mereka.
Aku akan pulang hidup-hidup dan membawa kebanggaanku, langsung ketangan Tasuku.


+++
 
Daina.

________________
____________________


“Kenapa murung?” Tasuku berguling disofa dengan remote tv ditangannya, aku tersadar, segera melanjutkan acara merajutku.
Sebentar lagi musim dingin, aku sedang mencoba membuatkan syal untuk Tasuku dan sweater untuk kak Ari.
Mudah mudahan waktunya cukup, karena aku sendiri sangat lamban.
Aku berhati hati agar hasil rajutanku tidak kelihatan sembrono walau aku tidak bisa menjamin hasil rajutan tanganku akan seratus persen bagus.

“Tidak…”

“Ada masalah disekolah?”

Seperti biasa, Tasuku sangat peka.

“Ummm… Itu…” Aku menghentikan kegiatanku, ragu ragu. “Aku… susah punya teman…”

“Kau tidak sedang dibully kan?”

Aku menggeleng, Tasuku… sampai sebegitunya berpikir,
Tapi tentu saja tidak, aku tidak sedang dibully, aku hanya kesepian, aku kesepian saat Tasuku dan kak Ari tidak ada…
Aku ingin menjelaskan, tapi aku tidak pandai bicara.

“Kau lapar?” Tanyaku pada Tasuku, mengalihkan pembicaraan,
Tasuku mengangguk, masih bergulingan saat aku beranjak meninggalkannya kedapur.
Memanaskan minyak dan memasukkan segenggam kentang goreng beku kedalam wajan, Ia akan memakan apapun yang kusiapkan, tidak pernah banyak menuntut, aku tersenyum senyum sendiri.

“Agak banyakan,” Tanpa kusadari Tasuku sudah berada disampingku, ia mengambil sebuah kentang yang sedang kutiriskan, memasukkannya dalam mulut, “Panas!” Katanya megap megap, lalu ia berjalan sendiri mengambil air dingin dikulkas, aku tertawa sendiri melihatnya begitu tidak sabaran.
Bahkan ia minum langsung dari botolnya, tidak seperti perangainya diluar yang begitu menjunjung tinggi sopan santun.

Yah, aku maklum sih, kadang saat sedang sarapan pagi saja caranya memenuhi semangkuk sereal dengan susu segar sungguh sangat tidak rapih, ia suka sekali minum susu, itu tak terbantahkan.

“Oh yah, ” Katanya lagi saat aku merebut botol ditangannya, berpura pura memasang tampang galak sambil membantu menuangkan air kegelas.

“Kalau orang yang sinis, aku juga pernah mengalami kok,” ia tersenyum kalem, melihatku dengan tatapan charming yang menyihir, aku terpesona sesaat.

“Hee? Tasuku juga?” Aku yang sedang melirik kearah penggorengan dimana minyak panas dan kentang menggelegak bersama, jadi menutup mulutku spontan.
Hey, bukankah aku sudah berniat diam saja?
Aku mendelik heran padanya, ia selalu seperti pembaca pikiran.
Orang yang terlalu pintar kadang menakutkan…

“Maksudku…” Aku menyambung, “Kalau orang seperti aku dibenci, sih, aku tidak heran… Aku memang bukan tipe tipe yang berguna,” Kuketuk dahiku sendiri, “Tapi masa’ Tasuku juga pernah…? Kau kan…”

“Apa? Tampan?” Sambar Tasuku cepat,

Aku melemparinya dengan kentang yang sudah dingin, Pemuda itu tertawa ngakak sambil menghindar.

Bukan itu maksudku…, Yah, Tampan, memang..., tapi bukan begitu!
Tasuku itu kan’ baik hati…
Dia mempesona, sopan, ketulusannya saat ia membantu orang lain sulit dibandingkan, dia hanya ngomong apa yang baik baik saja, didepan orang lain dia nyaris tanpa cacat, rasa rasanya akan amat sangat keterlaluan sekali kalau sampai ada yang tidak suka dia…

“Well, Wajah yang super tampan tidak akan menjamin kau akan lulus universitas dalam dua menit,” ia mengangguk angguk sok penting, bicara ngaco dan aku nyaris melemparinya dengan kentang lagi, jika saja aku tidak ingat bahwa membuang buang makanan itu bukanlah hal baik.
Jadi kuurungkan niatku, kentang siap lempar ditanganku malah kumasukkan dalam mulut, mengunyah sambil membuang muka.

“Ka-kalau kau… apa yang kau lakukan?” aku bertanya hati hati, Tasuku sedang membujukku menyerahkan sepiring kentang yang sudah siap makan dengan cara melambai lambaikan tangannya,
Aku merasa jika saja ia bisa sihir ia akan menerbangkannya, tidak, aku takkan buru buru memberikan, ia harus menjawab pertanyaanku dulu, Aku menutupi berhala super lezat itu dengan tubuhku sendiri.

Ah? Iya, kami seperti sedang main masak-masakan sekarang ini.
Bukan itu saja, terkadang hidup bersama Tasuku seperti sedang bermain rumah rumahan saja, karena dia orangnya sangat suka mengajak bercanda,

“Kau mau tahu apa pendapatku?” Tasuku menelungkupkan wajahnya diatas meja, menyerah.
Lalu wajah tampan itu melirik kearahku, benar benar cute.

“Apa? Apa? Apa?” Antusias, aku menyerahkan kentang-kentang itu kedepan Tasuku, Prince charming juga tak kalah bersemangatnya menyambutku.

“Kalau aku, pasti aku akan mendatangi mereka, lalu aku tanya, ‘Aku ada salah yah? Kenapa sinis? Kalau ada, ya aku minta maaf,’langsung didepan orangnya, kalau perlu didepan banyak orang juga, Gitu.”

Headshot, Kali ini giliranku yang membenamkan wajahku dimeja. “Meh…

Tasuku buru buru mengamankan kentangnya, takut diambil lagi.
Ia berlagak waspada, lalu ketawa.

“Itu sih super duper percaya diri sekali,” Aku tidak yakin apakah aku memiliki keberanian sebesar itu untuk bertanya pada orang lain, meskipun itu sama sama manusia dan sama sama makan nasi.

“Tidak apa apa, bilang saja, kalau tidak begitu mana tahu, kan? Lagipula aku tidak menyarankan padamu untuk memulai perkelahian, aku bilang kalau ada salah jangan segan segan untuk bertanya dan minta maaf, bahkan akupun tidak bebas dari kesalahan.” Tasuku menambahkan saos tomat banyak banyak, tapi kemudian ia menukas, “Yah, kakakku sering bilang aku memang bermasalah dengan percaya diri yang berlebihan.”

Aku tersenyum lemah,
Beginilah Tasuku, ia tidak bermaksud memaksakan kehendaknya pada orang lain, akulah yang terus bertanya padanya tentang bagaimana harus bersikap, bukan? Kendatipun aku tahu caraku dan caranya dalam bertahan tentu saja tidak dapat disamakan.

Ia menyadarinya, dan ia bicara tanpa terkesan menggurui, Orang hebat Tasuku…,

“Kalau kakak…” Aku menerawang, “Kira kira kalau kak Ari yang mengalami, dia akan bagaimana ya?” Aku memain mainkan jemari tanganku, “Aku ingin tahu seperti apa saran yang akan diberikan olehnya.”

“Dia akan langsung berkata ‘Jangan pedulikan orang yang tidak peduli padamu’, percayalah padaku,”
Tasuku menunjuk kearahku dengan mulut penuh berisi makanan dan pipi mengembung, gayanya yakin sekali.
“Kakak itu beda, kalau orang lain mulai bersikap menyebalkan padanya, dia akan jadi seratus kali lebih menyebalkan lagi,”

Tanpa membuang buang kesempatan aku langsung menuangkan lagi air putih kedalam gelas kosong milik Tasuku, membiarkannya melanjutkan cerita.

"Ah, silahkan, segelas lagi!" Bujukku, Tasuku mengelus hidung mancungnya, berlagak sok penting.

“Aku pribadi tidak setuju pada sikap itu,” keluh Tasuku, ia menepuk nepukkan lalu melipat tangan didada,

Oooh, aku menaikkan alisku, tidak biasanya, kukira apapun yang dikerjakan kak Ari selalu dianggap hebat oleh Tasuku… Dia kan’ Brother complex.

Aku terkikik sendiri.

“Apa?” Tanya Tasuku, tampangnya sangat penasaran, sebisa mungkin kugelengkan kepalaku.

“Yah, kau tahu kan, kita tidak bisa membuat hubungan antar manusia yang baik kalau sama sama keras kepala begitu,” Pangeranku menjelaskan, “Ilmu karet, jika satu sisi tegang, satu sisi harus elastis, kalau sama sama bersitegang, tanpa diragukan lagi akan putus.”
Sudah barang tentu, kakak tidak merasa membutuhkan apapun didunia ini selain Tasuku, terlepas dari itu semua, justru dialah yang banyak dibutuhkan orang lain.
Kakak punya kemampuan unik bisa mengatasi masalah sebesar apapun masalah itu.
Orang yang begitu kuat tak terpatahkan.
Dan aku yang tidak berguna ini mau mengikuti tingkah belagunya itu?
Pasti tertendang-sekali-nantang, yakin deh.

“Tapi bagaimana kalau orang itu tetap bersikeras? Menurut saja jadi musuh?” Tanyaku mulai bawel, dan langsung dibantah keras keras oleh Tasuku.

“Tidak akan, harus ada cara untuk berdamai apapun itu, jika orang punya seribu cara untuk mengajakmu bermusuhan, maka kau harus punya sepuluh juta cara untuk membuat mereka jadi temanmu.” Ia nyengir.

Ah yah, benar juga sih…
Aku mengangguk sambil membenarkan dalam hati.
Ini Tasuku sih yah, dia bisa apa saja, orang yang tidak berteman dengannya pastilah akan sangat merugi.
Sedangkan aku?
Aku bisa menguntungkan dalam hal apa kalau dijadikan teman? Mau dibuang juga aku sudah tidak ada harganya…
Memikirkannya saja aku sudah jadi semakin frustasi.

“Mau kuberi saran yang sekiranya cocok untuk Daina?” Tasuku tersenyum manis menawarkan, ia terus mengawasiku yang tercenung depresi.
Kubulatkan bola mataku sebesar besarnya, memasang telinga yang benar supaya tidak ada satu katapun terlewatkan.

“Tersenyum saja,” Tasuku menunjukku pakai kentang. “Tidak peduli mereka pasang muka sesangar apa padamu, tetaplah ramah dan rendah hati, sapalah mereka, jangan diambil hati apapun sekiranya ucapan dan tindakan yang menyakitkan hatimu, yang paling penting adalah, fokus pada tujuanmu.”

“Itu saja?” aku sangat ingin tahu,

“Ya, kalau kau fokus dan tidak membiarkan dirimu terganggu, itu akan membantumu meraih pencapaian yang lebih baik lagi, bahkan dari mereka yang saat ini sibuk memikirkan berbagai cara untuk membuat sedih, lalu bersiaplah karena hari dimana mereka membutuhkan bantuanmu, akan segera datang.”

Aku terpana.

“Wow,”

“Itu sudah semua.”

“Tapi aku bukan tipe yang berguna… aku sangat payah…”

Kata kataku terhenti karena Tasuku sedang menyelipkan kentang diantara gigiku.

“Bahkan sepotong kayu yang hanyut disungai saja masih bisa dipakai untuk ganjal pintu, Apalagi manusia,” Kilahnya diplomatis, “Percayalah padaku, kau bisa,”

“Apa kau yakin?” Kutelan makananku, ragu ragu.

“Ya, Manusia itu mahkluk yang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, itu sudah kodratnya.”

Kali ini aku sungguh sungguh bisa tersenyum dari dalam hatiku, kata kata Tasuku, semuanya, telah menghapus keraguanku.
Memang tidak salah aku menyukainya… Dia sangat baik dalam memotivasi orang, dan mendapatkan semangat dari orang sebaik dan sehebat dirinya, merupakan sebuah terapi yang menyembuhkan,
Aku bisa melangkah lebih tegar lagi.
Aku meraih kentang banyak banyak dan menyuapnya, Tasuku kelihatan geli melihat tingkahku.

Yah, besok aku akan mencoba lagi, tak apa.
Aku sudah tidak apa apa, bukan?

++++
 
Ari.


_________________________
______________________



“Cepat bantu aku, Tolol!” teriakku.
Tapi si brengsek itu diam saja, ia bahkan tidak bergeming sementara aku sibuk mengutak atik alat kontrol ditanganku, mencoba menguraikan kombinasi passwordnya dan menutup pintu tambang untuk selamanya,
Ketika aku bicara sembarangan tentang 'pintu jebakan' atau semacamnya, aku tidak menyangka bahwa perkataan asal yang kukatakan sungguh sungguh menjadi kenyataan.
Kami terperangkap disini, seakan para makhluk kematian itu ingin menunjukkan pada kami, dengan siapa sebenarnya kami berhadapan, sial, sialan...
Diluar dugaan tidak ada yang selamat, bahkan puluhan prajurit bayaran yang mereka sewa.
Hanya aku dan bajingan berambut cokelat itu, aku menggeram tidak sabaran.

Ia bahkan tidak mencoba membantu yang lain!
Ia bersikap seakan ia bertarung untuk dirinya sendiri tanpa mau bekerja sama!
Kepada teman temannya yang terluka, ia memperlakukan mereka seolah umpan…
Memang benar ada juga jenis prajurit bayaran yang menyerahkan partnernya sebagai umpan, itu adalah resiko, tapi tak kusangka orang serendah ini eksis didunia.

Dan sekarang ia diam saja didepan tambang, memain mainkan ponselnya, kurang ajar betul…
Padahal kami baru saja bisa mengaktifkan peledaknya dan keluar susah payah.

“Lakukan saja sendiri, aku sedang sibuk,” katanya acuh,
Aku menggeram, apa apaan sih orang ini?
Dilain pihak, aku memasukkan kode kode secara acak untuk menutup gerbangnya.

“Setidaknya kau bantu aku, kau bersama mereka ketika memasang peledaknya!”

“Aku tidak lihat, mereka semua kan’ sudah mati, bagaimana mungkin kau berharap mereka akan memberitahu aku? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

Kaulah yang bercanda, bajingan, runtukku dalam hati.
Seharusnya dia mati saja dengan mereka didalam sana.
Lagi lagi aku mendengar suara gaung geraman Zombie Zombie itu mendekat, mereka akan mencapai pintu keluar sesaat lagi!
Aku mengerang luar biasa kesal.

Kulemparkan alat pengendali kode itu ke kaki si bodoh.

“Urus itu,” Bentakku, “Biar aku yang menahan mereka didalam, yang penting pintunya bisa ditutup dan pemicunya bisa diledakkan untuk memusnahkan mereka, jangan sampai makhluk makhluk kotor ini, memasuki kota.”

Untuk pertama kalinya Pemuda itu mengalihkan pandangan dari ponselnya kearahku, “Kau serius? Kau bisa mati, Kau tidak takut?” Ia bertanya linglung, seakan aku sudah gila, aku serasa ingin berteriak saking marahnya, mengatakan bahwa dialah yang gila dan bukannya aku!
Kenapa aku bisa bekerja dengan orang tidak waras begini? Yang lebih penting lagi- Kenapa bisa orang sakit mental sepertinya lulus psikotes sebagai prajurit bayaran?!
Siapa orang yang mau mempekerjakan orang macam ini?!

Aku tidak melihatnya mengambil alat kontrol itu, tapi aku tidak ada waktu lagi,“Aku tidak akan mati!” Teriakku asal sambil mencabut pedangku, menghambur masuk kedalam menghalau puluhan Zombie yang akan mencapai pintu keluar.

-
-
-

Sudah setengah jam berlalu dan aku bertarung sia sia begini, bahkan orang sialan sakit jiwa itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.
Apakah dia sengaja meninggalkanku sendirian disini? Atau dia kaki tangan Undead?
Apa tujuannya sebenarnya?

“Bedebah, kalau kau lari, aku akan membunuhmu!” Teriakku penuh murka, aku tidak pernah- semarah ini- pada orang lain sebelumnya.
Kulampiaskan kekesalanku pada Undead terdekat dengan memotongnya menjadi berkeping keping.
Tidak ada habisnya, setiap kali aku berhasil memusnahkan lima atau enam ekor, sekitar sepuluh lima belas ekor keluar lagi dari dalam lubang tambang.
Tidak menguntungkan sama sekali dan staminaku bukannya tanpa batas.
Apalagi aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku tak boleh membiarkan seekorpun lolos dariku menuju pintu keluar.
Sialnya, semakin lama aku semakin terdesak keujung, sudah setengah jam dan tetap begini begini saja,
Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat mereka akan meringsek menuju luar.

Aku sedang meninju dan mematahkan leher mayat mayat itu, bergulat dan salah satunya akhirnya bisa melewatiku, aku mengejarnya, tanpa mempedulikan bahwa yang ada dibelakangku ternyata masih banyak dan mereka terseok mendatangiku.
Tindakanku makin membingungkan, disatu sisi aku ingin menahan mereka, disisi lain dengan keadaan ada yang lolos dariku biarpun seekor saja tetap tidak mengubah keadaan dan aku tanpa sadar bahwa aku telah dengan begitu bodoh menggiring mereka keluar seperti anjing gembala.
Ini bukan hal yang bisa dikerjakan seorang diri…
Bedebah kurang ajar, aku tidak tahu siapa dia, tapi kalau aku menemukannya aku pasti akan menghabisinya.

Bang!

Aku terkejut, dari arah luar, sebatang anak panah besi menancap dikepala Zombie yang tengah kukejar.
Lalu wajah bocah penuh senyum itu muncul begitu saja,

“Bagus kau belum kabur terbirit birit,” Aku meludah,

Ngaku saja deh, kau butuh bantuanku kan?”

“Tetap disitu karena setelah ini giliran gigimu yang akan kurontokkan.”

Bicaraku memang sok sok-an, kenyataannya serombongan Zombie melewatiku begitu saja, aku sempat panik padahal biasanya aku sangat tenang, menebas mayat hidup dihadapanku demi melindungi nyawaku sendiri, tapi masih ada banyak sekali yang mendesak keluar, semakin lama semakin dekat!
Kalau saja aku tahu kode kombinasi untuk menutup gerbangnya, dengan senang hati aku membiarkan Zombie Zombie kelaparan ini memangsa orang sinting yang berdiri bloon didepan sana.
Sayang sekali…

Aku berlari secepat yang aku bisa menyusul mereka, ini sangat gawat, apalagi bocah itu hanya bersenjatakan panah, parah sekali, panah kan’ bukan tipe senjata yang bisa digunakan dengan cepat… Pilihan senjata yang buruk, terlalu buruk untuk ukuran pemburu profesional…

Bunyi berdesing berulang kali mematahkan semua prasangka yang kubuat.
Karena sekarang jarak kami dekat sekali, aku bisa melihat dengan jelas sekali jenis senjata apa yang digunakan oleh anak itu,
Bukan, bukan tipe panahan biasa, itu adalah bowgun!
Terpasang ditangannya, dan bisa menembak secara cepat sekaligus tepat berulang kali dalam hitungan waktu sepersekian detik.

Tapi senjata semacam itu kontrolnya sulit, bahkan lebih sulit daripada pedang milikku…
Dia itu sebenarnya…

“Hei kakak disana,” Ia tertawa ramah padaku dengan ujung bowgun yang berasap. “Ayo main bunuh bunuhan,” Ajaknya ceria.


Aku tersenyum kecut.
Aku akan membunuhmu juga setelah ini, orang gila…


Selanjutnya aku hanya bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku, walau sudah fatal sekali, aku nyaris terdepak keluar dengan Zombie zombie itu berdesakan menggapaiku.
Kuputar tubuhku seperti gasing, membuat jarak sekaligus menghancurkan, sementara orang gila itu nyanyi nyanyi tidak karuan, sesekali menembaki mangsa yang tidak sengaja lepas dari pengawasanku.
Bukannya aku tidak senang, tapi mau sampai kapan disini?!
Apa dia Cuma ingin menghabiskan waktu menontonku bertarung sampai mati disini?!

“Kak, kok tidak mati mati sih? Tidak menyerah juga?” Seringainya jahil, membuatku naik pitam.

“Jangan panggil panggil kakak!” Aku membentak, jijik sekali, “Aku bukan kakakmu.”

Dibentak-bentak, bukannya malah bereaksi dia malah semakin cengengesan.
“Cepat tutup pintunya!” Teriakku tidak sabar, anak muda senewen itu malah garuk garuk kuping seakan omonganku barusan hanyalah angin lalu.

“Pintu apa?”

“Kau tahu kodenya, jangan berpura pura bodoh!”

“Kalaupun aku tahu, akan kulakukan setelah kau mati.”

Bajingan… aku memaki, apa maksudnya itu, memangnya aku punya dosa apa padanya?

“Yang akan mati itu…” Aku menghela nafas, kendati otot ototku sudah mulai kram karena tak henti hentinya bergerak. “Adalah kau!”

Aku mendesak sekuat tenaga kebelakang, menggunakan tenaga habis habisan, bisa kulihat ekspresi luar biasa kaget pemuda sinting itu, terima kasih padanya karena sudah membuatku sangat kesal sehingga aku bisa membantai sebanyak ini.

Bahkan para Zombie kelaparan itu terdesak kebelakang, masuk lagi, aku tidak peduli, tubuhku berlumuran darah mereka kendatipun aku masih belum terluka, tapi kontrolku mulai melemah.
Seluruh badanku terasa nyeri karena bertarung tanpa jeda selama hampir dua jam.
Seluruh stamina terkuras habis.

“Kenapa keras kepala sekali,” Aku mendengar suara menyebalkan itu bergema,

“Tutup saja pintunya, sekarang!”

Hening, kemudian terdengar suara kekehannya yang menyebalkan, sangat santai seperti tidak menyadari bahwa ia sedang bermain main dengan hidup orang lain.

“Kau kuat ya, sungguh pantas untuk ditolong, tidak seperti mereka yang lemah,” Ia memuji, tapi itu tidak membuatku senang sedikitpun, “Tidak akan pernah mati, dan akan selalu hidup,” Aku mendengarnya bergumam, “Jika kau bisa berjanji bahwa kau tidak mungkin terkalahkan, Aku bersumpah bahwa aku adalah milikmu.”

B4ngsat benar, apa lagi dia ini? Melantur.
Namun karena aku sudah telanjur, dengan sangat terpaksa aku balas berteriak, “Kau ini ngaco apasih? Tentu saja!”

Baru saja aku menjawab, tahu-tahu gerbangnya sudah bergerak menutup begitu saja, Tuh kan!
Dasar Iblis!
Aku berlari dengan kecepatan setan, siapa juga yang mau mati disini! Bedebah!
Seribu satu sumpah serapah rasanya ingin keluar dari mulutku.
Namun kakiku bereaksi lebih cepat, gerbangnya nyaris tertutup, aku melemparkan pedangku sebagai ganjalnya,
Sialaaaan!

Masih sempat untukku, dengan tenaga yang berasal dari keinginan luar biasa untuk bertahan hidup, sekuatnya aku mendorong gerbang itu membuka, dan menyusupkan tubuhku.
Aku nyaris keluar, tapi seekor Zombie menarik lenganku dari dalam, mataku melotot melihatnya membuka mulut bersiap menggigitku, sedangkan aku dalam keadaan tersangkut begini…

Lalu sebuah pertolongan membantu menarikku keluar, aku terguling diatas tanah, selamat tanpa kurang suatu apapun.
Aku terbatuk, Gerbang tertutup.

Bocah berambut cokelat itu, dia berdiri diatasku, memegang alat kontrol ditangannya, ia tersenyum bangga.

“Nyaris ya?”

Lalu detik yang sama, ia telah menekan tombolnya dan gaung ledakan yang terjadi didalam tambang menggema sampai keluar.

“Aaah, Misi selesai,” Komentarnya singkat, menguap, “Kali ini aku berbaik hati deh, kau boleh ambil semua uang yang dijanjikan termasuk bagianku, kan’ yang kerja cuma kau,”


Aku meninju wajahnya, keras sekali.


Tapi aku tahu orang ini juga punya kemampuan hebat, jika saja ia tidak menebak timing pukulanku, rahangnya pasti sudah patah sekarang,

“Kenapa kau galak?” Protesnya seakan tanpa dosa, aku kembali mendatanginya,
dan menghajarnya lagi, aku tidak peduli tubuhku sudah sangat kram, aku akan tetap memukulinya walau tanganku copot sekalipun.

“Anjing!” Makiku dahsyat, “Akan kupotong potong tubuhmu lalu kuhanyutkan disungai, aku sudah bilang kan?” Ia mengaduh dibawahku, saat aku menginjak dadanya.

Si bodoh bukannya menyesal lalu minta maaf, malah pasang muka ‘Oh-jadi-itu-masalahnya’.

Aku bersiap akan menginjaknya lagi, tapi gerakanku sudah sangat sempoyongan dan mataku agak buram, ia bersalto, menyarangkan tendangan diperutku sambil berteriak “Yah~haaa~” norak.
Aku tergerak mundur, menahan nyeri.
Kurang ajar, seandainya saja aku tidak sedang sekarat…

“Membunuhku? Kau bisa menunda itu untuk nanti,” Aku mendengarnya bicara santai.

Bruk.

Aku ambruk ketanah, samar samar bayangan sepatunya tertangkap olehku.
Apa ia akan balas menendang wajahku kali ini?
Awalnya kusangka demikian,
Tapi ternyata tidak, sebaliknya ia malah duduk mencangkung memandangiku sambil memasang wajah paling bersahabat yang pernah kulihat.

“Istirahatlah dulu, setelah itu –mau balas dendam ataupun menguburku hidup hidup- kau boleh lakukan apa saja sepuasnya.”

-
-
-
-
-

Beberapa hari kemudian...



“Kenapa kau mengikutiku?”

“Aku tidak mengikutimu, aku sudah bilang kan? Kita searah.”

“Tapi aku tidak pernah bilang padamu kemana tujuanku selanjutnya,”

“Sama denganku, aku juga tidak pernah bilang padamu kemana tujuanku selanjutnya kan?”

Aku mengertakkan gigiku kesal.
Semenjak dari santa cruz kemarin, bedebah ini tak pernah berhenti mengikutiku,
Dirumah sakit, selama masa penyembuhan, ia tak pernah absen mengunjungiku setiap harinya,
Menceritakan hal hal membosankan, lawakan tidak lucu, berusaha membawakanku buku aneh atau menyelundupkan seperangkat alat karaoke yang membuatnya ditendang sekuriti rumah sakit.


Aku terganggu!

Apa kepala dia ini terbentur atau apa, yah? Aku tidak paham.
Ia bahkan benar benar menyerahkan semua hasil yang ia terima dari pekerjaan kali ini padaku –tentu saja aku menolak mentah mentah- dan ia selalu gigih untuk datang lagi dan lagi.

Aku tidak peduli padanya, mengingatnya saja membuat aku ingin meremukkan batok kepala itu sekali saja.

Dan sekarang untuk keberapa kalinya, kami satu kereta, setelah sebelumnya satu pesawat, dan satu taksi…

“Kenapa kau tidak terima saja uangnya?” Lagi lagi ia bertanya seolah ingin berbasa basi mengajak bicara, pilihan topik yang buruk karena aku sudah keburu bosan diajukan pertanyaan yang sama berkali kali.
Aku sudah cukup dengan bagianku, kenapa dia memaksaku mengambil bagiannya juga?
Aku bukan orang serakah dan aku benci utang budi.
Dan sekalinya aku tidak menyahut, anak muda ini malah semakin nyerocos.
“Aku akan membuatkan rekening baru untuk uangnya, jadi kapanpun kau perlu, bilang saja,”

“Kenapa kau melakukan itu?” Potongku mendadak,duduk bertopang dagu dekat jendela,

“Melakukan apa? Karena kau yang kerja kan?” Tanyanya bego, aku mendengus tidak sabar.

“Bukan itu, yang kemarin, kau tahu itu nyaris membunuhku?!”

Dia mengerjap, lagi lagi tampang bodohnya keluar, ingin kusilet rasanya…

“Karena aku bosan,”

Aku nyaris menendangnya lagi mendengar kata katanya, jawaban macam apa itu?!


“Aku bosan sendirian, semua orang yang kusukai biasanya cepat mati,” ia mengangguk angguk serius, “Aku tidak sengaja ingin menjadikan mereka semua sebagai umpan, aku hanya meninggalkan mereka dibelakang -mereka tidak secepat aku- dan ingin melihat siapa diantara mereka yang paling kuat,” Ia menghembuskan nafas, terlihat kecewa, “Ternyata semuanya mati.”

Lalu ia melirik kearahku, “Tapi kau berbeda, kau seperti punya tujuh nyawa, kau tidak menyerah sampai akhir, kurasa kau orang yang selama ini kucari,”

“Aku tidak tertarik,” Jawabku ketus.
Aku tidak terbiasa punya partner, sendirian sudah bagus, apapun yang ditawarkan orang ini padaku, aku takkan terbujuk.
Lagipula apapun yang kupikirkan, orang sepertinya yang bisa dengan mudah membiarkan banyak orang mati didepan mata… apa bisa dipercaya?

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” Ia menunjukku sambil tertawa ceria, “Tapi aku sudah menyelamatkan nyawamu, ingat? Aku bisa saja meninggalkanmu saat itu kalau saja aku mau,”

“Menyelamatkan aku? Aku mengatasi kekacauan yang kau buat!” Teriakku, beberapa penumpang kereta api yang lainnya menoleh kearah kami, wajahku memerah, secepat aku bisa kembali duduk, berusaha tenang.
Tasuku menungguku, aku harus cepat pulang… yah,
Aku tidak ada urusan dengan bedebah ini.

“Baik, baik, aku minta maaf ya?” Melihatku santai, ia berkata maaf seakan itu mudah sekali.
Aku melipat kedua tangan didada, berusaha mengacuhkannya.

“Apa yang harus kulakukan supaya kau tidak marah padaku, Ari?”

Aku tersentak, “Kau…! Darimana kau tahu…!”

Nama kecilku…

“Waktu kau pingsan di rumah sakit, Aku sempat lihat ponselmu, lewat email email adikmu,” Ia lagi lagi ngomong seakan itu bukan masalah besar, “Aku perlu tahu dimana kau tinggal, jadi aku nanti bisa berkunjung.”

“Kau sadar tidak, kalau kau itu sangat sangat menjijikkan?” Umpatku, melihat kekiri dan kanan, memastikan bahwa suaraku tidak akan kedengaran terlalu menggelegar karena pada saat bersamaan didalam gerbong juga terdapat banyak ibu ibu yang membawa anak kecil mereka yang tertidur, beberapa nenek nenek bahkan melotot tidak suka, aku menghela nafas.

“Jangan galak-galak, Ar,” ia mencondongkan tubuhnya menepuk nepuk bahuku bersahabat, aku ingin sekali menendang wajah inosennya, “Lagipula bukan ‘Kau’, aku punya nama, namaku Ryo Kisaragi.” Ia memberitahu,
Aku membuang muka seakan tak peduli.
Ryo bersandar pada bangkunya,

Diam lagi, selama beberapa saat, kereta memasuki terowongan, aku ikut bersandar dibangkuku sendiri.
Apa aku terlalu pemarah? Tapi kan’ dia yang mulai duluan?
Kenapa malah aku!

“Kau punya orang tua? Keluargamu?” Tanyaku pada akhirnya, entah karena apa.

Ryo menggeleng, “Ibuku sudah meninggal, ayahku tidak tahu kemana,” Ia tertawa seraya menambahkan, “Pacarku juga hilang, kasihan sekali kan?”

“Kau tidak punya keluarga?! Lalu kau akan tinggal dimana di Manchester?!” Aku bertanya lagi sambil melotot,

“Tidur dijalan, gampang,” Ryo menurun naikkan alisnya,
Berdecak kesal, aku kembali memalingkan muka, repot sekali, terpekur sejenak, Tunggu, kenapa aku yang harus memikirkan dia mau kemana? mati saja dia sana.

Tanpa terasa menit menit yang kunantikan hampir tiba,
Kereta sudah sampai di stasiun Manchester, tempat tujuanku.

“Kita berpisah disini, Awas jangan sampai aku melihat wajahmu lagi.” Ancamku sungguh sungguh.
Ryo bersikap santai, matanya sayu memandang kearahku, tidak melakukan apapun, juga sepertinya tidak menunjukkan gelagat bahwa ia akan turun juga, tetap bersandar ditempat duduknya sambil tersenyum lembut, seakan mempersilahkan aku untuk mengambil barang barangku duluan.

Bulir bulir salju turun, tanpa terasa sudah bulan desember lagi… Aku merapatkan mantelku seraya mendorong koperku keluar, menariknya tanpa hambatan.
Kuperhatikan si bocah berambut cokelat ini sepertinya tidak membawa barang sama sekali.
Kecuali mungkin tas jinjing kurus panjang yang kuat dugaanku adalah tempat dia meletakkan senjatanya.

Aku berlalu acuh, bersikap seakan dia tidak ada, beranjak turun dari kereta.

Dinginnya udara membuat nafasku mengepulkan asap dingin, aku menoleh kearah toko kelontong distasiun,
Yang menjual mulai dari souvenir sampai dengan merica.
Memutuskan untuk mampir sebentar.

Setelah membayar untuk beberapa barang termasuk rokok, kopi kaleng hangat dan sebuah boneka beruang untuk Daina, aku melangkah bermaksud meninggalkan stasiun.

Langkahku terhenti ketika aku mengenali sosok lain yang juga duduk dibangku panjang depan stasiun.
Ryo, ternyata dia ikut turun juga.
Aku menghembuskan nafas tidak senang.
Sampai kapan dia mau mengikutiku sih? Mengganggu sekali!

Aku menengadah kelangit, cuacanya buruk sekali, tiba tiba aku teringat kata katanya tentang ‘Tidur dijalan’ atau apalah.
Aku menggeleng geleng tidak habis pikir.




Kusodorkan sekaleng kopi hangat kepadanya, Ryo tertegun memandangi tanganku, ia sendiri sedang duduk sambil mencondongkan tubuhnya karena kedinginan, sadar bahwa aku sedang berbuat baik, ia tersenyum lebar.

“Kau memang orang yang baik sekali,” pujinya sebagai kata ganti terima kasih.

Aku tidak menjawab, langsung duduk begitu saja disampingnya, ikut minum kopi.

“Kau benar tidak punya… tempat tinggal disini?”

Pemuda itu tertawa geli, “Memangnya kenapa?”
Dari bayangan mata hazelnya yang terang, aku bisa melihat bahwa wajahku sendiri tertekuk amat masam.

“Daripada kau mati kedinginan, lebih baik mampirlah ketempatku.” Aku nyaris tersedak menyadari apa yang kuucapkan, tidak bisa dipercaya.
Aku benci diriku sendiri.

“Wah… sudah kuduga kau memang orang yang baik sekali,” Ryo pura pura berdecak kagum, membuatku makin kesal. “Tapi apa istri dan anakmu tidak keberatan?” Ia menunjuk boneka teddy bear yang terselip diantara koperku, aku menggeleng cepat cepat.

“Aku bujangan,” Desisku kesal, “Itu milik… Adikku.”


Ah sudahlah Ar,
Daina dan Tasuku juga pasti senang, karena selain membawa teddy bear,
Aku juga membawa pulang badut pesta besertaku.

+++
 
Daina.

____________________
________________




“Kakak pulang…!” Sambutku membukakan pintu, kak Ari menepuk nepuk tangan dirambut juga bahunya,menyingkirkan salju yang menempel.

“Dia di kamarnya, pesan tidak ingin diganggu,” Aku cepat cepat menyampaikan, kak Ari mengusap puncak kepalaku sambil terus masuk kerumah tanpa menoleh lagi.
Aku terbiasa dengan sifatnya yang seperti itu, sudah akan menutup pintu, tapi ketika aku mengarahkan pandanganku kedepan,
Mataku menangkap sosok lain berdiri.

Seorang pemuda, Warna matanya seperti cokelat hazelnut yang terlihat enak.
Aku tertegun didepan pintu.

“Aaaa…, Teman kakak?” Tanyaku sungkan, tumben...

Pria itu mengangguk sambil tersenyum, memandangiku tak putus putus,

“Kau tidak mirip dia,” Sahutnya pendek, lalu tanpa basa basi dia langsung masuk kedalam, merebahkan dirinya di sofa tanpa peduli sopan santun,
Aku kebingungan sambil mengangkat bahu,
Oh, mungkin dia salah mengira aku dengan Tasuku?

Kak Ari masuk kamar seperti biasa, mandi dan tidur,
Tidak ada yang spesial, kakak juga lelah setelah perjalanan jauh, sementara Tasuku mengurung diri di Lab pribadinya.
‘Teman’ kakak mendengkur di sofa, jadi tinggallah aku sendiri,
Rumah yang biasa seperti keluarga lain pada umumnya.

Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan acara merajutku, ditemani TV yang menyiarkan acara musik, aku duduk diatas kursi goyang seperti nenek nenek,
Begitu hari beranjak sore, aku mandi, mengerjakan pekerjaan rumahku, berharap nilai akademisku beranjak naik sedikit, supaya aku bisa lulus dengan cepat dan membantu Tasuku.

Menjelang makan malam, kak Ari keluar kamar, handuk tersampir dilehernya, dia hanya pakai kaos dalam dan celana piyama, menghalau aku yang sedang memotong bawang bombay.

“Sini, biar aku yang kerjakan,” Ia menadahkan tangan meminta pisau yang tengah kupegang, aku menyerahkan enggan,

“Kakak baru pulang, tidur yang lama kenapa sih…?”

“Aku tidak ingin makan masakan payah buatanmu,” sambar Kak Ari ketus, aku mendengus mengempaskan celemek keatas meja dapur,
Berlalu dengan langkah dihentak sekerasnya.


Baru semenit berlalu aku sudah kembali lagi kedapur.


“Lalu aku?! Apa yang mesti kukerjakan dong?!”

Kak Ari nyengir meremehkan, dengan satu tangan yang memegang pisau, ia menunjuk kearah piring piring,
“Lap saja piringnya, siapkan meja makan, atur sendok.”

Bersemangat, aku menuruti kakak, menyambar lap basah kemudian merapikan meja makan.
Sebetulnya ritual seperti ini sudah biasa,
Apalagi jika kakak ada dirumah, dia selalu menyempatkan diri untuk memasakkan aku dan Tasuku sesuatu yang enak.
Aku senang, Terutama Tasuku yang selama ini hanya makan seadanya tanpa pernah mengeluh karena kemampuan memasakku pas-pasan.

Aku tersenyum melihat meja makan yang sudah terlihat rapih, piring dan sendok tertata sedemikian rupa, sementara harum masakan memenuhi seluruh isi rumah.
“Kak…, Baunya enak,” Pujiku mengintip dari balik tubuh tinggi kak Ari.

Koki kebanggaan keluarga kami berpaling hanya untuk mengusap ubun ubunku penuh sayang.
Rasanya perlakuan galak tadi hanya dimulut saja, aku mengambilkan mangkok besar dimana kakak bisa menyalin sop ayam yang masih mengepul itu.

“Pergi, beritahu dia makan malam sudah siap,” Tepuknya lagi didahiku.
Aku mengangguk bersemangat.

Berlari kecil menuju ruang Lab tempat Tasuku bekerja.


++++
 
Last edited:
Ryo.

________________________
______________________



Wangi masakan menyadarkanku dari tidur,
Ketika aku bangun tak ada satupun orang diruang tamu, mengucek mata, aku memperhatikan keadaan disekitarku,
Rumah biasa, apartemen dengan dinding berlapis wallpaper hijau lumut, banyak didominasi warna hijau,
Mulai dari sofanya, sampai taplak meja dan gorden.
Aku pikir orang sepertinya akan tinggal di kost-an modern seorang diri…
Tapi ia lebih daripada yang kubayangkan.

Penasaran, kuputuskan untuk mengikuti bau enak itu.
Yang ternyata berasal dari dapur.

Apa aku tidak salah lihat?
Ari mengenakan celemek, sedang mengeluarkan tempat nasi dari Rice Cooker, aku mengerinyitkan alis,
Dia memasak?!
Nampaknya Ari sadar kedatanganku, ia memasang tampang cemberut itu lagi.

“Kayaknya enak,” Seruku, mengambil posisi dimeja makan tanpa buang waktu.

“Aku tidak mengajakmu kesini untuk makan gratis segala.” Ia menggerutu.

“Ayolah, jangan pelit pelit, nanti kau cepat tua,” Kuperhatikan bahwa ada empat buah piring diatas meja.

“Disini bukan penampungan dinas sosial,”
Kenyataannya walau Ari bicara begitu, ia berkeliling mengisi piring piring dengan nasi hangat, tak terkecuali piringku, aku tersenyum geli.
Memang sudah mengundangku makan sejak awal…

“Masak apa, kak?”

Aku melirik kearah pintu dapur, muncul seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan, masih mengenakan jas putih panjang, profesinya langsung terlihat dari penampilannya, seorang Dokter.
Disampingnya, gadis mungil yang tadi membukakan pintu untukku menggamit lengannya rapat, bersembunyi dibalik tubuh si pemuda.
Menatapku dengan tatapan aneh, aku merasa gadis itu seperti sungkan padaku.
Astaga… Ari punya boneka boneka seimut ini dirumahnya?
Aku tidak menyangka…!

“Sop ayam dan perkedel jagung,” Ari menjawab cuek, menggantung celemeknya, “Tunggu, kau sudah mandi?” Tukasnya mengingatkan.

Pemuda pirang itu meringis menggaruk kepalanya, “Nanti saja, aku lapar.”
Aku bisa melihat kemiripan yang nyata antara dia dan Ari, walau warna rambut dan matanya berbeda.
Yah, Dialah ‘adik’ yang sebenarnya.

Lalu ia berbalik melihatku, “Tamu kakak?” Sambutnya gembira, senyumnya menenangkan hati, bahkan aku yang lebih tua pun merasa sangat respek terhadapnya, ia segera duduk didepanku, Gadis mungil berambut wavy itu mengekor takut takut dibelakangnya.

“Teman akrab,” Aku membusungkan dada, membuat Ari mencibir tak kentara.

“Wah… aku tidak tahu kakak punya sahabat karib,” ia mempersilahkan padaku untuk mengambil lauk terlebih dahulu, sungguh sopan santun yang luar biasa, “Kenal dimana kak?”

“Tidak dimana mana.” Ari merengut galak.

“Apa kakak punya tempat menginap malam ini?” tanyanya lagi, aku menggeleng,

“Mungkin tidak,”

“Kalau begitu tidurlah dirumah kami, aku akan sangat senang.”

“Tasuku.” Tegur Ari ketus.

‘Tasuku’.
Aku baru saja ingat, nama itu adalah nama pengirim yang paling sering kutemui di list E-mail pribadi Ari yang sempat kubaca.
Tasuku, adiknya Ari… Tasuku, lulusan fakultas kedokteran terkemuka yang saat ini bekerja sebagai seorang peneliti.
Tak bisa kulupakan rangkaian E-mail-Email berisi pesan suara bernada manja namun juga tajam yang memohon dengan penuh kerinduan teramat sangat agar kakaknya sesegera mungkin kembali dengan selamat.
Pemuda menyenangkan, kau takkan menemukan satupun alasan untuk membencinya…

“Aww, ayolah kak, Tidak setiap hari kita kedatangan tamu, bukan? Daina juga kesepian…” Ia melirik gadis manis yang memain mainkan sendoknya dan menatapku ragu.
Ia kelihatan kesulitan dalam berbicara, kelihatan tidak terbiasa dengan orang asing, tapi begitu melihat Tasuku begitu santai, bisa kutebak ia juga ikut merasa nyaman.
Terbukti dari tingkahnya yang sambil malu malu mengulurkan botol kecap padaku.

“Kakak mau?” Tawarnya.

“Terima kasih, aku suka manis, kau anak baik.” Sahutku.

Tasuku mengangguk bangga kepada Daina, sambil mengunyah makanannya, ia mengusap ubun ubun gadis itu.
Sebagai penghargaan atas sikap manisnya.
Sama seperti yang dilakukan Ari ketika masuk rumah tadi.
Bedanya, kali ini kulihat wajah si gadis merona merah jambu.

“Sehari saja.” Ari menatapku tidak suka, dia bilang tidak mau, tapi dia tidak menunjukkan perdebatan yang berarti, aku terkekeh, kelihatannya dia memang seperti itu…
Rasanya aku melihat begitu banyak hal baru,
Dan, benar dugaanku sejak pertama kali bertemu,

Ari memang orang yang sangat menarik.

-
-
-


Apa kau tahu arti ‘keluarga’ yang sebenarnya?
Aku pribadi tidak pernah mengalaminya sendiri, ayahku tidak tahu kemana… aku tidak punya ibu juga,
Dalam hati aku iri pada Ari, melihat dia dan keluarga kecilnya yang bahagia.

Seminggu sudah, tak terasa, aku berada dirumah ini, dan sama sekali tidak ada yang mengusirku.
Beda sekali dengan ancaman ancaman yang dilontarkannya padaku diawal,
Ari sama sekali bukan orang yang dingin.
Walau kelihatannya begitu.
Ia mengerjakan tugas tugas seorang ibu dirumah ini dengan penuh tanggung jawab.
Kelembutan dan kasih sayangnya terlihat jelas apalagi saat ia mengobrol dengan Tasuku.
Jika malam tiba, aku dan dia merokok dipinggir jalan.
Mengobrolkan tentang pengalaman pengalaman kami selama bertugas.
Tanpa diduga kami punya banyak metode yang cocok.

Ari sama sekali bukan orang yang senang bertentangan dengan orang lain, dia lebih banyak diam, tenang seperti air.
Atau istilah kerennya ‘Cool’.
Tambahan lagi, selama aku disini, aku tidak pernah melihat satu halpun yang dia tidak bisa, dia jago menawar barang dipasar, dia memperbaiki pipa yang rusak dirumahnya sendirian, sampai listrik juga, bahkan sering dimintai bantuan oleh para tetangganya.
Tipe-tipe menantu idaman.

Lain lagi adiknya, Tasuku,
Dia adalah seorang yang tanpa melakukan apa apa bisa langsung dicintai.
Dengan tutur kata halus dan bahasanya yang sopan santun, dia mampu merebut hati siapa saja.
Dia amat baik dalam berkomunikasi.
Dan ia sangat baik hati.

Ia peduli pada orang lain, aku sering mengikutinya dan Daina pergi ke panti asuhan untuk menyumbang pakaian bekas atau mainan yang ia kumpulkan melalui penggalangan dana.
Maksudku… padahal… mereka sendiri juga sedang kesusahan, tapi ia tak pernah lupa berbagi.
Sifatnya terpuji dan sangat patut diteladani, pantas saja kakaknya bangga padanya.

Lalu, Daina.
Gadis ini sama sekali tidak ada hubungan keluarga dengan Ari maupun Tasuku, kasarnya, ia ‘Dipungut’ begitu saja oleh kakak beradik itu, sejak desanya terinvasi.
Ia disayangi, dimanja, dengan seluruh kasih sayang tak terhingga yang dicurahkan untuknya.
Tapi tidak lantas membuatnya bersikap tidak tahu diri dan tak memikirkantentang perasaan orang lain.
Gadis itu sungguh tahu tempatnya, membuktikan bahwa ia memang pantas mendapatkan tempat istimewa dihati kakak beradik Gabriel.

Hubungan mereka bertiga unik, tidak dapat dijelaskan dengan kata kata.
Ikatan yang mereka bangun beda dari yang lainnya.
Sangat jarang ditemukan pada zaman sekarang ini, seorang adik yang sangat mencintai, mengagumi dan menghormati kakaknya, sampai tidak ragu ragu dalam menunjukkan perasaan itu.
Disaat anak muda lain berlomba lomba bersikap seolah mereka tidak butuh siapapun dan memperlakukan orang dewasa seperti sampah.

Banyak hal yang bisa kuambil sebagai pengalaman semenjak aku menginap dirumah hijau ini.
Misalnya saja cara mereka mengajari Daina tentang kebaikan.
Tidak pernah ada pembicaraan bernada mencela sesuatu dibawah atap keluarga Gabriel.

Contoh paling sederhana adalah saat mereka makan bersama.
Daina selalu jadi yang paling pertama bercerita tentang kejadian yang dialaminya disekolah pada hari itu.
Ari dan Tasuku berperan sebagai ayah dan ibu yang mendengarkan penuh kesabaran.

“Mereka bilang akan memberikanku uang kalau aku mau mengerjakan tugas mereka,” Daina menambahkan saus kedalam hamburger steaknya, “Tapi aku tidak mau, kata Tasuku itu tidak boleh.”

Ari langsung mengangguk, “Itu benar, kita boleh miskin, tapi kita tidak curang.” memberi penekanan pada kata ‘Curang’.

Tasuku biasanya lebih cair sedikit daripada kakaknya, tertawa kecil sembari mengajak guyon. “Daina hebat, menolak uang sebanyak itu, kalau aku, mungkin kupikir pikir dahulu… Hanya bercanda, kak.” Diayunkannya sendok mengibas pada Ari yang melotot tajam.

Mereka pendidik yang baik, membesarkan dengan baik.
Aku yang hanya pernah melihat adegan adegan semacam ini difilm film keluarga yang menghangatkan hati, sungguh tak menyangka akan berpapasan langsung.

Dua minggu berlalu tanpa terasa.
Ari mengatakan ia akan segera pergi lagi.
Adik adiknya mendengarkan patuh setiap pesan yang ia berikan.
Hanya Tasuku yang terlihat enggan melepas kepergian kakaknya.

Hari perpisahan telah tiba, Ari memeluk Tasuku erat, mengatakan bahwa ia akan segera kembali, meminta padanya agar ia menjaga Daina dengan baik.

Tapi entah kenapa aku merasakan getaran yang berbeda saat ia berpaling kepada Daina, melalui tatapan matanya, berbeda.
Bukan tatapan seperti yang diberikannya pada Tasuku, sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Aku pernah melihat hal yang sama, ketika Daina sedang bersama Tasuku.

Apa hanya perasaanku?
Aku menahan diri agar tidak bertanya.

Ikatan unik dan kuat itu menghentikanku, menyuruhku diam.
Membiarkannya mengalir seperti air.
Tenang, Tanpa tahu mau dibawa kemana.


++++
 
Daina.

Tiga tahun kemudian.

_____________________________
__________________________



Kuperhatikan Tasuku yang sedang memasukkan surat surat itu kedalam amplop besar-besar.
“Itu untuk apa Tasuku?”

“Kita harus mengirimkan beberapa surat lamaran sekaligus,” Ia mengangguk padaku, “Kau akan mendapatkan pekerjaan yang layak untukmu, pertama tama mungkin gajinya akan kecil dan pekerjaannya berat, tapi sabar saja, begitu kau bertahan sedikit, kau akan segera mendapatkan kesempatan untuk melamar pekerjaan yang lebih baik.” Tasuku terlihat bersemangat mempersiapkan berkasku.
“Kau tahu? Supaya bisa diterima setidaknya setiap bulan kita harus membuat setidaknya sepuluh buah berkas lamaran, dan kita sebar ke rumah sakit rumah sakit terkemuka, well… kita bisa mulai dari yang paling dekat dulu,”

Aku menatap bosan, “Tapi aku tidak ingin bekerja dirumah sakit.
Aku ingin membantu Tasuku, karena itu aku belajar mati matian sampai akhirnya lulus...”

Riak air dihadapanku melembut, warna biru langit yang menyejukkan.
Ia mengubah posisi duduknya menghadapku.

“…Aku tahu…” Ia menyentuh pipiku, membelainya sayang, “Tapi kau butuh pekerjaan… Umm… dengan kemampuanku sekarang aku masih belum mampu menggajimu dengan layak…” ia menunduk, amat malu.
Tapi aku memahami, Tasuku sebenarnya tidaklah sepayah itu, jika saja ia memutuskan untuk bekerja pada rumah sakit besar, atau buka praktek… atau memberikan kuliah di universitas-universitas saja, mungkin ia bisa menjadi gudang uang sekarang.
Tapi ia memilih mencurahkan waktu dan tenaganya, kemampuan pikirnya, untuk penelitian ini.
Justru hal tersebut membuatku semakin kagum, melihat betapa keras usahanya setiap hari.
Kadang lupa tidur, lupa makan… Mengabaikan kesehatannya sendiri.

‘Kesehatan adalah hak asasi semua umat manusia didunia’.
Begitulah Tasuku berkata selalu.
Tapi ia tidak peduli pada dirinya, dan melihatnya yang seperti itu… aku malah semakin bersemangat ingin membantunya.

Hal tersebut jugalah yang memotivasiku selama tiga tahun belakangan ini, hingga aku akhirnya bisa lulus dari akademi keperawatan.

“Aku tidak masalah tidak digaji,” ngototku, “Kau bilang kita keluarga, wajar kan’ jika diantara keluarga saling bantu?”

Untuk beberapa detik lamanya, Tasuku terdiam mendengar kata kataku.

“Baiklah, kita coba sekali saja yah?” Tawarnya padaku, “Jika tidak ada panggilan setelah ini, Daina bebas melakukan apa saja yang Daina mau…”

Mataku berbinar kesenangan, “Benar?! Baiklah kalau begitu!” Yakin bahwa dengan kemampuan payahku selama ini takkan ada yang bersedia atau bahkan menginginkanku sebagai pekerja, aku menyanggupi permintaan Tasuku.

Tak lama kemudian terdengar suara E-mail masuk melalui ponselku.
Serta merta aku membukanya dengan bersemangat.

Tasuku menunggu sambil terheran heran melihat senyuman diwajahku memudar sedikit demi sedikit.

“Ada apa…?” Tanyanya dengan suara lembut yang dalam.
Aku menggeleng pelan.

“Mereka memintaku mengirim uang untuk pembangunan desaku…,” Aku bercerita resah, “Padahal aku sudah bilang aku sedang kesulitan… mereka menelepon dan ini sudah ketiga kalinya… bulan ini, Bukannya aku tidak ingin menjaganya, tanah peninggalan kedua orang tuaku, hanya saja, dengan keadaan kita sekarang…” Ucapanku terputus,
Aku hanya bisa berpura pura tidak mendengarkan bisikan itu, bisikan bisikan yang mengatakan bahwa aku adalah pengkhianat yang pergi meninggalkan desa dan melupakan tanah kelahiranku.
“Ah sudahlah, mungkin mereka tidak tahu…, mungkin mereka mengira aku hidup makmur disini,” Tawaku menutupi sedih.

“Aku akan melihat sisa tabunganku,” Tasuku memberitahu, “Setelah itu kita bisa lihat, berapa yang akan kita kirim untuk mereka,”
“Jangan!” Putusku cepat cepat, “Itu uang hasil jerih payah kak Ari… Untuk biaya penelitian Tasuku…!”
Aku tidak bisa membiarkan penggunaan yang tidak pada tempatnya, hanya untuk orang sepertiku…

Tasuku tersenyum, “Tidak apa apa kok, kalau kakak ada disini juga pasti dia akan mengatakan hal yang sama.”

Aku berpikir sejenak, bukannya aku tidak ingin membantu ataupun dibantu…
Aku tahu benar kak Ari maupun Tasuku sama sama akan mengusahakan apapun hanya agar aku tidak bersedih, mereka, meski keadaan sesulit apapun, akan selalu bersedia membantuku, dalam hati aku merasa amat beruntung.
Tapi sekali lagi, hanya karena aku dimanja dan semua keinginanku dituruti, bukan berarti aku bisa seenaknya.
Itu sama saja dengan tidak tahu diri.

“Tidak usah, ini sudah keputusanku,” Tolakku halus,Keperluan Tasuku lebih penting, Akupun sudah memikirkannya baik baik, aku tidak akan merepotkan siapa siapa. “Dan tolong jangan katakan apa apa pada kakak… Aku tidak ingin menambah beban pikirannya…” Kutatap ‘saudaraku’ dengan pandangan mata memelas.
Tasuku tidak memaksaku lagi, dia mengangguk dalam diam.

“Maaf ya, Daina…” Disentuhnya tanganku, menggenggam erat penuh perasaan, sesaat nadiku berdenyut sangat lemas, aku seolah akan pingsan saja.

“Ke-kenapa minta maaf?” Wajahku memerah seketika,

“Karena sudah membawamu kedalam hidup yang serba-kekurangan seperti ini.”

Aku nyaris tertawa melihat wajah polos Tasuku yang merasa sangat bersalah.
Tanpa ragu ragu, aku balas menggenggam tangannya meski debaran dalam dadaku semakin lantang bergemuruh.
“Tidak, Tasuku, Justru kalau kau tidak ada disampingku saat ini, aku mungkin akan mati.”

Aku tahu kata kataku saat itu diartikan oleh Tasuku tidak lebih dari kasih sayang seorang adik kepada kakaknya.
Aku tahu dan aku tidak peduli.

Jika dipikirkan lagi, tentu saja Tasuku merasa paling bersalah, Tasuku sendiri sama sepertiku, makanya ia adalah yang paling tahu dalam hal ini, seperti yang pernah ia katakan padaku, sifatnya yang mudah dicintai tidak lantas membuatnya bebas dari cercaan, terutama dari orang orang yang iri padanya, ia banyak menerima gunjingan tidak enak, tapi beda denganku yang bisa langsung down, hal tersebut ditanggapinya secara positif,

Seperti apa?

Contohnya, saat mereka mengatakan Tasuku sungguh orang yang tidak tahu diuntung, memiliki kepandaian dan latar belakang pendidikan hebat, namun malah lebih memilih diam dirumah saja mengurusi penelitian yang bagi sebagian orang mustahil dijalankan sendirian.
Tudingan melakukan sesuatu yang sia sia, juga tidak adanya penghasilan tetap,
Disisi lain meskipun mereka tahu dia berbakat secara tidak langsung dia juga dianggap ‘buang buang waktu dan uang’, karena seharusnya dia bisa bekerja di laboratorium milik pemerintah tapi dia tidak pernah mau terikat dengan yang seperti itu.

Memang, antara aku dan Tasuku, kami berdua sama sekali tidak pernah menghasilkan uang hingga saat ini, bahkan beberapa tahun setelah ia menyelesaikan pendidikannya.
Biaya hidup dan segalanya ditanggung oleh kak Ari, kak Ari dan kak Ari.

Jadi wajarlah kalau orang berpikiran seperti itu.

Kecuali aku dan kak Ari sendiri.
Kak Ari itu, dia sudah sampai pada level kebebasan yang sempurna, dia tidak peduli apapun yang dikatakan orang tentangnya, tetapi yang paling ia pikirkan adalah, jika hal tersebut sampai melukaiku dan Tasuku…
Karenanya, baik aku ataupun Tasuku, kami berdua memilih sama sama diam,
Walau kadang, entah bagaimana caranya, naluri kuat kakak selalu dapat mendeteksi kegundahan hati kami.

Dia yang paling tahu, bahwa apapun yang dikerjakan Tasuku saat ini, tidak akan pernah sia sia.
Kami percaya padanya, pada kemampuannya,
Rasa saling percaya yang kami bangun itulah yang mendasari hubungan kekeluargaan kami bertiga.
Akupun demikian, karenanya aku berniat setelah lulus akademi keperawatan, aku ingin membantu Tasuku, tanpa gaji juga tidak apa… Aku akan berusaha keras supaya bisa berguna untuknya.

Tidak ada hasil… tidak ada hasil… apakah semua hal didunia ini harus diukur dengan materi semata?
Betapa ceteknya orang yang berpikiran demikian, segala hal ditentukan dengan uang.
Mereka tidak mengerti artinya Passion, dengan keinginan yang kuat, bahkan hal paling mustahilpun bisa menjadi nyata, orang cacat saja bisa berlari, apalagi orang yang sehat?
Bukankah kesuksesan ternikmat sesungguhnya adalah sesuatu yang dibangun diatas jerih payah maupun usaha yang memakan waktu tidak sedikit?



Semua manusia tahu arti bersabar, kan?



++++
 
Tasuku.


Satu setengah bulan kemudian.

____________________________
___________________



Berjalan bersisian dengan Daina, kulangkahkan kakiku melewati lorong rumah sakit.
Gadis dibelakangku mengikuti dengan wajah murung yang membuatku ingin tertawa, aku tahu ia terpaksa,
Dan ia tidak pernah suka sama sekali aku harus menyertainya memberikan berkas lamaran.

“Aku ragu apakah akan benar benar kau serahkan,”

“Tasuku tidak percaya padaku?”

“Bukannya tidak percaya sih…”

Tapi aku tahu kau bandel, senyumku berahasia.

Kami baru saja keluar dari kantor Administrasi saat Daina menarik lenganku kuat, aku ikut terhenti bersamanya.

“Apa itu?”

Beberapa meter didepan kami, terlihat rombongan dua-tigapuluh orang dalam keadaan tangan terikat rantai yang saling menyambung satu sama lain.
Mereka bermuka kuyu dan anehnya mereka tidak mengenakan baju khusus tahanan, tubuh mereka malah terbalut baju pasien rumah sakit yang seragam berwarna hijau tua.

“Mereka terinfeksi, kan?” Daina memperhatikan mata orang orang itu sambil lalu,

“Tahap awal,” aku menanggapi sebagai kata ganti ‘Ya’.

“Tapi di Rumah sakit…? Dan lagi mereka tidak kelihatan seperti akan segera dikirim menuju karantina…”

Aku diam saja, ada sistim-sistim yang Daina memang tidak tahu,
Sistim yang menuntut manusia berusaha bertahan hidup meski harus melupakan perasaannya sejenak,
Sambil memikirkan jawaban apa yang bisa kuberikan kepada Daina, aku terus saja terdiam mengikuti kemana arah orang orang bermuka pucat kebiruan itu dibawa pergi.

Laboratorium rumah sakit.

“Tasuku…?”

Kurasakan tanganku ditarik amat pelan, Daina menatapku dengan wajah khawatir.
Aku tersentak kaget.

“Ah? Aaah! Maafkan aku,” Ucapku perlahan, kembali menatap orang terakhir dan tiga orang petugas bersenjata yang mengawal mereka menghilang dari balik pintu laboratorium berpintu lapis baja.

“Mereka adalah…” aku menarik nafas dalam dalam, ”Bahan penelitian.”

“Bahan penelitian?” Mata besar Daina mengerjap.

“Y-ya, atau seperti itulah, keadaan genting dan nasib umat manusia yang sedang diujung tanduk saat ini memaksa mereka memberlakukan sistim terkejam yang pernah ada.” Aku memasukkan tangan kesaku celana, menunduk. “Menggunakan manusia sehat sebagai ujicoba vaksin untuk Virus Undead.”

Sudah kuduga akan seperti ini, Wajah Daina sudah pucat sekali.

“Prosesnya tidak semudah yang kau kira,” Cepat cepat aku membuang muka, “Kudengar, agar tidak bertentangan dengan hak asasi, perlu persetujuan pihak keluarga, dan terutama orangnya sendiri, yang harus benar benar secara sukarela tanpa paksaan menggunakan dirinya sebagai bahan penelitian, demi kemajuan ilmu pengetahuan.”

Daina mengelus dada, “Itu kejam sekali…Mereka orang yang tadinya sehat, lalu menerima berbagai macam injeksi dengan sengaja, sukarela…? Itu, Diluar akal sehat,”

“Memang, dan kudengar mereka juga mendapatkan imbalan atas ‘kontribusi’ yang mereka berikan kepada pemerintah maupun Umat Manusia, mereka mendapat jaminan tanpa batas atas kehidupan sanak saudara yang mereka tinggalkan, juga kehormatan pahlawan yang sejajar dengan Paladin sekalipun… sebagai gantinya, mulai dari ujung rambut hingga ke tulang, tubuh mereka adalah milik ilmu pengetahuan.”

“Dan apakah selama sistim ini diberlakukan, mereka mampu membuat kemajuan sedikit saja?” Daina menggeleng, “Seperti menjual jiwamu pada Iblis… Apa-apaan itu?”

Aku merasa tertohok, “Mereka bilang, Ilmuwan adalah sekutu setan, tidakkah kau setuju?” tawaku hambar.

“Apa kau akan melakukannya juga?” Daina balik bertanya, tajam.
Aku tidak pernah melihat gadis mungil didepanku memasang ekspresi sebegitu kerasnya.
Mencoba melunakkan suasana, aku membelai rambutnya sayang.

“Yang benar saja, uang darimana aku untuk menjamin keluarga orang lain sampai tujuh turunan?” Sindirku setengah bercanda, “Hanya pemerintah, atau perusahaan besar saja yang mampu memfasilitasi penelitian semacam ini, single fighter macam aku takkan pernah mampu.” Aku cepat cepat mengajak Daina berlalu dari lorong sunyi Rumah sakit itu, “Ayo pulang, kita mampir ke toko roti sekalian, kau suka donat kan?”

Tanganku yang sedang menarik tangan Daina terhenti,
Daina tidak bergeming dari tempatnya berdiri semula.

“Kalau kau mampu, bagaimana? Apa kau akan melakukannya juga?” Tuntutnya, tangguh.

Membuatku membalikkan badan, sangat terpaksa, sehingga mataku bertemu dengan sorot penuh rasa ingin tahu dan kepastian itu.

Aku benci mengatakannya karena ini berhubungan dengan profesiku sendiri.
Walau kuakui, ada beberapa hal yang bertentangan dengan nuraniku.
Tapi gadis ini memaksaku mengakuinya, untuk pertama kali, hal hal yang tidak kusetujui.
Membuatku berani menentang bahwa apapun yang kulakukan, Bukan karena aku ‘Harus’, melainkan karena aku ‘Ingin’.

“…Tidak.” Jawabku, Daina tampak puas.

“Tidak mungkin aku melakukan hal yang bertentangan dengan nuraniku sendiri.”

Dan itulah jawaban finalnya.
Bahwa tidak ada luka yang bisa disembuhkan dengan harga sebuah pengorbanan.


++++
 
Daina.

__________________
_______________________



Kuletakkan tas kresek berisi roti roti yang baru saja kami beli, membagi bagikannya pada para Tunawisma yang mengantri mendapatkan bagian mereka,
Tasuku membantuku, sementara kak Ari dan kak Ryo yang duduk bersisian, ikut makan bersama sama para gelandangan.
Kami tahu kakak pasti ada disini, lingkungan dibawah jembatan layang nan kumuh tempat orang pinggiran dan pengemis biasa berkumpul.
Dia meneleponku dan Tasuku dalam perjalan pulang kami, tahu kami akan mampir ke toko roti, dia berpesan pada kami untuk membeli beberapa makanan tambahan dan meminta kami menemuinya disini, kali ini dia mengajak kak Ryo juga,
Yang sepertinya masih belum bisa memahami arti tindakan kakak yang kadang tidak bisa ditebak.

“Aku tidak paham,” Kak Ryo menerima sepotong roti yang masih dibungkus plastik yang diserahkan padanya oleh kakak, “Kau sendiri kan’ juga hidup miskin, kenapa pakai acara berderma segala sih? Kurang kerjaan?” Ia mengerinyitkan kening.

“Kenapa memangnya? Dulu aku juga pernah jadi Tunawisma,” Cuek, kak Ari menggigit rotinya sendiri, melempar beberapa botol air mineral kepada orang orang homeless yang sangat bersukacita menerimanya. "Kelaparan itu menyebalkan,"

Melihat ekspresi kebingungan kak Ryo,
Baik aku maupun Tasuku saling melempar senyum penuh arti.

Selesai membagi bagikan makanan, aku duduk disudut, bersama beberapa nenek nenek Tunawisma,
Melihat kak Ari dan Tasuku tanpa canggung duduk bahkan makan bersama orang orang pinggiran.
Tasuku, seorang dokter berpendidikan tinggi, dan kak Ari, Prajurit bayaran yang sudah memiliki jam terbang tinggi dan kelihatannya tidak punya waktu untuk tetek bengek macam ini.
Aku tersenyum,
Aku mendapat donatku seperti yang dijanjikan.

Sambil merasakan manisnya rasa saus coklat, aku mulai berpikir yang berat berat lagi, meniru Tasuku.
Teringat pembicaraan kami saat dirumah sakit tadi…

Betapa buruknya dunia kami, huh?
Orang orang ini, tidak terlindungi, para gelandangan, kaum minoritas yang dianggap tidak berharga, hingga matipun tak apa.
Aku mengira ngira, sebenarnya pemerintah berjuang demi apa?
Sementara sisa orang lainnya, asyik berdebat tentang politik, memperebutkan kursi parlemen, bertengkar masalah agama hanya karena merasa pahamnya lebih tinggi kemudian saat kehabisan musuh dari agama lain, sibuk mengkritik satu sama lain sesama saudara seagama tentang siapa yang paling taat.

Apa mereka tidak membuka mata? Orang orang ini butuh aksi nyata, Masih ada orang orang malang yang tak tersentuh bantuan...

Dengan adanya orang orang yang hidupnya dibawah garis kemiskinan seperti ini, tidak heran, ada satu dua orang yang merelakan dirinya, demi masa depan keluarga yang mereka cintai, menjadi bahan percobaan tak beradab, celakanya, atas persetujuan mereka sendiri.

Dan orang orang ini, entah keputusan apapun yang mereka ambil, mereka sama sekali tidak bisa disalahkan.

“Kau sudah terbiasa melakukan ini yah, sepertinya,” Kudengar celutukan kak Ryo, dia masih nampak canggung, tapi ia sepertinya berusaha keras agar nampak terbiasa.
Tentu saja, ‘Pesta rakyat’ seperti ini merupakan hobi kakak dan Tasuku,
Butuh waktu untuk mengerti, yah, maksudku, jika saja orang seperti Tasuku yang melakukan ini,
Orang lain mungkin akan memandangnya sebagai hal yang biasa saja,
Karena Tasuku membawa aura malaikat kemanapun ia pergi,
Tapi kakak?!
Cuma bilang saja, kakak itu penampilannya sangat suram, aku geleng geleng kepala geli, sekilas nampak tak pedulian pada nasib orang lain, tapi kak Ari, adalah orang paling hangat yang kutahu.
Tidak semua orang bisa memahami hal ini.
Karena dia tipe yang lebih ahli bergerak daripada menjelaskan.

“Hmh,” Hanya itu respon yang diberikan oleh kakak, dingin, seperti biasa.
Dan dia tidak memakan semua roti ditangannya, melainkan memberi separuhnya ketangan seorang anak kecil lusuh yang tampak masih lapar.
Kak Ryo melihat tindakannya itu, menghela nafas, lalu berkata nyaris tak terdengar,

“Kalau kau ingin melakukan kegiatan berderma seperti ini lagi, lain kali beritahu aku, jika ada yang bisa kubantu sekarang, katakan saja.”

Untuk pertama kalinya, kakak menolehkan wajahnya kearah kak Ryo.

“Kalau begitu belilah lebih banyak roti,” Kata kak Ari dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. “Pakai uangmu, tapi.”

Aku nyaris tersedak karena tertawa, melihat wajah kak Ryo yang kelihatannya senang sekali dilibatkan meskipun dengan cara diperintah perintah begitu.

“Itu saja?! Baiklah, masalah kecil!” Ia menjentikkan jari, bersemangat.

Kembali, aku saling pandang bersama Tasuku, tersenyum senyum kecil.
Kekhawatiranku lenyap seketika,
Betapa hebatnya kekuatan persahabatan, bisa mempengaruhi seseorang sampai sebegitu jauhnya.
Dan selama orang orang seperti ini ada, seseorang temanmu yang senantiasa mengajakmu melakukan kebaikan, dengan cara yang menyenangkan,
Selama itulah dunia ini masih memiliki harapan.



‘Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraniku sendiri.’



Pelan pelan, aku mengeja lagi setiap kata yang diucapkan Tasuku sebagai jawaban atas pertanyaanku,
Pertanyaan penuh kekhawatiran, kecemasan,
Tapi aku sudah tidak ragu lagi.
Dengan satu kata saja cukup.



Aku bangga memiliki kak Ari dan Tasuku sebagai keluarga.


++++
 
Back
Top