~DESCENDANT OF THE DEATHMASTER~ by:DYNA

bagaimana menurut kalian novel pertama Dyna (daina) ini?


  • Total voters
    35
Tasuku.


_______________________________
_________________________




“Disini?!”

Bukan aku yang bicara, melainkan Daina.
Gadis itu kelihatan shock sekali, Tebakanku tidak salah, ini pertama kalinya ia melihat mayat.
Dalam hati aku merasa tidak enak, kasihan melihat wajahnya yang sudah ungu sekali, Bagaimanapun bagi mental orang awam, ketakutan adalah hal yang normal.

“Apa harus kuulangi? Lakukan.” Kakakku tidak peduli, ia menatap tajam kearahku, nadanya mendesak,

“Kenapa tidak lapor polisi saja? Mereka yang akan…”

“Diam, bulat!” Sergah kakak segera, Daina mengkerut ketakutan dibelakang punggungku. “Aku ingin sekarang juga, jangan melakukan apa apa terlebih dahulu sebelum mendapat aba-aba dariku.”

Itulah kakakku, aku hapal gayanya, Daina belum tahu, kakak mempercayai segala sesuatunya sendiri saja, ia sudah teramat profesional dalam bertindak,
Jika ia menghendaki tidak ada laporan sebelum apa yang diinginkannya selesai, maka begitulah.
Pasti ada yang tidak beres, yang ingin ia tahu sebelumnya.

“Baiklah,” Ujarku tanpa membantah lagi, kakakku kelihatan puas sekali.

“Tasuku!” Daina menarik punggung kaosku keras keras, aku tersenyum padanya.

“Jika Daina takut melihat darah, kau keluar saja dulu, ” saranku, Daina hanya bisa menatapku tak percaya, matanya berkilat takut.
“Cepatlah,” kak Ari mengingatkan, “Aku akan berjaga diluar, ayo bulat.”
Ia menarik tangan si manis yang kelihatannya harus ditarik segala agar bisa menjauh dariku.

Menghela nafas, kupandangi kedua tubuh mati yang tergeletak begitu saja didekat kakiku,
Bekas darah masih basah dilantai bekas seretan kak Ari, menggenang begitu saja, darah Undead yang berbau amis kehitaman.

Tanpa rasa jijik, aku menarik karung yang masih menutup setengah bagian tubuh mayat hingga tersibak seluruhnya.
Aku sudah terbiasa berhadapan dengan mayat.
Karena aku seorang dokter.
Membedah mayat apalagi Undead, untuk kepentingan penelitian, adalah pekerjaanku.
Bau amis darah dan mayat ditambah udara yang menyesakkan, juga wujud menjijikkan bangkai manusia yang mulai membusuk tidak pernah bermasalah lagi untukku.
Aku bisa melakukannya sambil makan ataupun tidur disamping potongan tubuh yang sedang kukerjakan pada saat kelelahan mengerjakan penelitianku, tanpa terganggu sama sekali.

Kupandangi keadaan sekelilingku, mencari cari tempat mana sekiranya aku dapat meletakkan dead body ini.




“Tasuku,” bagian belakang kaosku ditarik lagi, aku berpaling demi melihat Daina yang sedang gemetar ketakutan,

“Daina!” Seruku tertahan, “Mengapa disini? Mana kakak?”


“Aku ingin membantumu,” lirihnya, “Izinkan aku membantu!”



++++
 
Daina.


___________________________________
___________________________




“Aku ingin membantumu, izinkan aku membantu!” Pintaku serius.

Tasuku tertegun ragu ragu, kentara sekali bahwa ia tidak tega.
Memasang tatapan ngotot, aku berusaha keras menyatakan maksudku, kendati bau mayat itu benar benar menyesakkan hidung.
Aku ingin berguna, entah darimana perasaan ini muncul.

Dia berarti seluruh dunia bagiku, maka aku ingin menyelami dunianya,
Walau aku tahu aku takkan mungkin bisa menjadi bagian didalam sana...
Aku ingin melihat, ingin tahu.
Dan ingin berguna untuknya.

Akhirnya, Tasuku mengangguk juga, ia memang paling sulit menolak permintaan orang lain, aku tahu.
Apalagi ia melihat tekadku, dan itu cukup untuk menghentikan kata kata penolakan maca apapun yang ingin ia katakan.

Aku anak anak, aku memanfaatkan keadaan.


“Yah, apa boleh buat kalau itu maumu,” Desahnya pasrah, aku menangkupkan kedua tanganku penuh rasa syukur.

Tasuku menjatuhkan mayat itu pelan sekali, seakan tidak ingin mengusik yang sudah mati.
Ia menunjuk kearah dapur padaku,

“Ada tempat dirumah ini dimana kita bisa mengerjakannya?” tanyanya kalem, aku terkesiap,

“A-aku akan membereskan meja dapur!” sahutku cepat, Tasuku menghela nafas , wajahnya kelihatan lega, a-apa aku sudah melakukan sesuatu yang berguna?

Hatiku berdebar kencang penuh pemujaan.
Aku harus jadi lebih berguna lagi, untuknya...
Ia tidak melihatku, tapi begini saja aku sudah sangat senang!

Tanpa menunggu lagi, aku langsung menghambur kearah dapur, mengangkat taplak meja makan serta membereskan botol botol saus dan tempat sendok, sementara Tasuku kelihatan sedang melemaskan otot otot bahunya, “Tunggu disini, aku mau mengambil peralatanku dulu,”

Aku hanya mengangguk paham,
Tasuku berlalu dari hadapanku, segera saja perasaan merinding itu melandaku lagi,
Sendirian saja dengan mayat mayat…
Tuhanku, aku pasti sudah gila, aku benar benar gila.
Kalau kupikir pikir lagi.
Namun untuk mundur, sama sekali tak terpikirkan.
Aku gila.

Pandanganku beralih pada mayat tertua dengan tengkorak kepala nyaris hancur itu, wajahnya mengerikan, dan mayat bocah laki laki itu juga, keduanya berlumuran darah, parah sekali.
Dimana sebenarnya kakak mendapatkan Undead? Ada Undead disini? Dan terlebih lagi… permintaan yang mendesak ini…

Aku mulai mencemaskan orang tuaku, tapi aku percaya pada Kak Ari.

Ia sedang berjaga diluar, ia pasti tahu jika ada sesuatu yang gila sedang terjadi.

Kualihkan pandanganku kelain tempat, tidak ingin menatap tubuh tubuh mati tergeletak itu, hanya memikirkannya saja aku sudah ingin berteriak.
Mentalku tidak siap sama sekali.
Benar benar lemah...

Hey, aku kembali kesini untuk apa sih, sebenarnya?
Hanya untuk menjadi beban Tasuku?
Hati kecilku bertanya.

Aku kemari untuk membantunya, bukan? Supaya aku dapat berguna untuknya…
Berkali kali kutekankan kalimat tersebut didalam pemikiranku.

Aku menelan ludah, menatap mayat mayat itu tanpa berkedip,
Aku-harus-melakukan-sesuatu-yang-membuatku-berguna.
Tasuku akan memujiku… ia akan.
Aku harus membantunya.

Aku mendekat kearah mayat mayat itu, kakiku menginjak genangan darah yang mengalir lancar dilantai,
Oh, harusnya pendarahan berhenti sejak saat mereka meninggal, tapi… kelihatannya Undead berbeda.
Walau yang ini nampak benar benar sudah kehilangan kemampuan gerak mereka.
Aku menutupi hidungku dengan tangan, menahan bau amis mayat yang menyengat,
Benar benar busuk, aku serasa mau muntah.

Perlahan lahan, dengan tangan gemetar, aku menyentuh bahu mayat itu.
Sengaja memilih mayat Yang berusia dewasa, aku tidak kuat, aku bisa menangis karena anak kecil.

Aku selalu tidak tega…

“Urphh…” Kutahan, tahan, tahan Daina, tahan!
Tidak apa apa, anggap saja sama seperti ayam yang biasa kau potong bersama ayahmu...

Tapi Ayam bukan bangkai berbau busuk begini!
Akal sehatku tak mau berkompromi, ini benar benar menyiksa!


Keras kepala, Pelan pelan aku memeluk mayat itu, terlalu berat untukku jadi aku terpaksa menggunakan cara begini, menguncinya dari belakang dan mulai bergerak mundur sambil menariknya kearah meja makan.
Baunya busuk luar biasa, aku nyaris memuntahkan isi perutku dilantai, apalagi dengan posisi seperti ini, bisa kulihat dengan jelas bagian belakang kepalanya yang hancur.
Amis darah bercambur daging busuk menusuk nusuk kepalaku, pening,
Bahkan bagian lukanya mengeluarkan nanah serta terlihat jelas belatung belatung kecil yang mulai bermunculan.
Virus Undead tidak akan menghentikan pembusukan, pembusukan hanya berhenti jika inang dari virusnya cocok… begitulah yang kudengar,
Bau, bau sekali, susah payah aku meletakkan badan pria itu diatas meja,
Membetulkan posisinya menjadi telentang.

Tidak, aku tidak kuat,
Aku membentur kursi kursi dan menghambur kearah wastafel, memuntahkan seluruh isi perutku,

Membasuh wajahku menggunakan air keran yang mengalir, kutepuk baju bagian dadaku secara berlebihan karena bercak bercak darah mayat itu menempel dimana mana.
Jijik, jijik, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya.

Satu hentakan, dan isi perutku keluar lagi, lebih banyak.
Rasanya aku sudah memuntahkan hampir seluruh nyawaku,

Bluk!

Aku membalikkan badan saat sehelai handuk baru jatuh diatas kepalaku,
Tasuku menatap cemas, ia menyeka pipiku yang bernoda darah dan hati hati sekali membersihkan tanganku, penuh rasa Terima kasih. “Sebenarnya, kau tidak perlu harus sampai memindahkannya segala… tapi, terima kasih banyak,” ucapnya bernada tulus, “Kau yakin tidak apa disini?” Ia bertanya sekali lagi, wajahnya prihatin, “Lebih baik kau menunggu diluar bersama kak Ari…”

Aku terdiam, dilain pihak, aku mulai menikmati saat Tasuku meremas tanganku lembut,
Aku terdiam, menatap tangan kami yang berpegangan dengan tatapan sayu, perasaanku terharu, gila sekali.
Hal seperti ini, rasanya memuntahkan seluruh isi perutku bersama paru paru dan jantung sekalianpun takkan seberapa rasanya,
Jika dibandingkan dengan ini.
Harga yang sebanding.
Wajahku memanas, mengambil kesempatan baik untuk memegangi tangan lelaki yang kucintai.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan, menyedihkan.

“Tidak apa!” Jawabku serta merta, mempertahankan kekeras kepalaanku, “Aku akan! Kau tenang saja!” Kuusap mataku yang berair, “Jika butuh sesuatu, panggillah aku kapan saja…!”

Tasuku tercenung mendengar pernyataanku, ia menggeleng tidak percaya, nyatanya betapapun sorot matanya melawan, ia diam saja,
Kebaikan hatinya selalu membuatnya tidak tega untuk menolak.
Orang bodoh sepertiku saja paham, ya, aku jahat, aku memanfaatkan kelemahan orang lain, atau lebih tepatnya menggunakan kelemahanku sendiri agar tidak dapat ditolak…
Aku juga manusia dan aku Kotor.
Maaf, Ibu, sekali ini saja ya, Demi cinta

Seraya menyeka bagian wajahku dengan handuk, kuperhatian punggung Tasuku, ia sudah menggunakan pakaian dokter yaitu jas panjang berwarna putih yang menutupi penampilan casualnya, ia sedang memasang sarung tangan karetnya ketika aku iseng melihat kearah ‘peralatan’ yang barusan tadi ia bilang ‘sedang dipersiapkan’.

Mataku mendelik ngeri melihat deretan pisau bedah, gunting, benang untuk menjahit, terpampang begitu saja didekat kaki mayat.
Begitu banyak peralatan mengerikan… kita akan melakukan apa sebenarnya? Memotong motong tubuh mayat?
Apa sebenarnya yang ingin diketahui kak Ari?!

Tasuku meraih gunting, menggerakkan tangannya luwes dan menelanjangi mayat itu, segera saja pemandangan absurd lain mengisi indera penglihatanku.
Mayat laki-laki Bvgil.

Keringat dingin mulai jatuh lagi membasahi keningku.

Masih belum, aku belum ingin mengalihkan pandanganku, mengawasi sebisaku apa apa saja yang dikerjakan oleh Tasuku. “Undead ini belum lama, pastinya kurang dari seminggu,” katanya fasih, “Masih keras, tanda tanda pembusukan belum begitu terlihat,”
Benar benar dungu, aku bertahan meski aku tidak paham,
Tasuku memeriksa bagian kepala mayat, meneliti lukanya, “Fungsi otaknya sudah berhenti sama sekali,” aku mendengarnya bergumam sendiri, “Dia takkan bisa bergerak, walau ingin,”

Kata kata sederhana yang cukup untuk membuatku bergidik.

Masih belum selesai, Tasuku menyentuh bagian luka itu, secara langsung, ia tidak menunjukkan ekspresi jijik, kaku, ataupun ketakutan, sama sekali, benar benar dingin, gerakannya santai,
Menggunakan dua jari -telunjuk dan jari tengah- menekan lubang besar yang menganga berlumuran darah itu.

Padahal hanya tekanan lembut, tapi cairan otak beserta serpihan tengkorak yang pecah merembes keluar.

Urghh…

Perasaan mual kembali melandaku.

Tasuku menoleh kepadaku dengan raut wajah tak terbaca, sekadar memastikan,
Tanganku tak lepas dari tenggorokan sedari tadi, menahanku agar tak memuntahkan isi perutku kembali,
Aku menunduk gugup.
Entah mengapa aku merasa seperti sedang diuji.
Ia sengaja melakukan itu? Memperlihatkan sesuatu yang menakutkan hanya untuk mencari tahu nyaliku?

Kuangkat kembali kepalaku.
Tegak setegak mungkin.
Tidak berpaling sedikitpun, melihat sejelas jelasnya hal hal menakutkan didepanku.
Jelas terlihat tanpa sensor sedikitpun.
Aku memang takut, tapi aku takkan lari.

Tasuku yang sedang menunggu reaksiku agak kaget melihatku bertahan.
Aku mengira ia akan menyuruhku keluar ruangan lagi untuk kesekian kalinya, tapi ternyata…

“Teknik autopsy atau pembedahan mayat ada empat,” Aku mendengarnya bicara dengan lembut, “Virchow, Rokitansky, Letulle, dan Ghon,”
Benda ditangannya terdiri dari dua bagian, sesuatu yang kelihatannya mata pisau berujung tajam, alat pemotong, sementara yang lainnya adalah ujung tumpul yang berfungsi sebagai pegangan.

“Jika kau tanya aku dimana perbedaannya,” Tasuku tertawa, “Maka cara paling sederhana yang akan kukatakan padamu untuk kau mengerti adalah…, saat pengangkatan keluar organ, baik urutan maupun jumlah, kelompok organ yang ingin diperiksa atau dikeluarkan, serta bidang pengirisannya.”

Apa hanya perasaanku-atau ia memang sengaja bicara untuk mengalihkan perhatianku?
Ia kasihan melihat kekeras kepalaanku dan memutuskan untuk menolongku?
Membantuku mengatasi perasaan tertekan ini...


Dia memegang area tumpul pisau bedah menggunakan benda mirip gunting tapi bukan gunting –Aku bodoh sekali- dan Menghubungkan area tersebut pada lidah pegangan bagian pisau yang tajam hingga terdengar suara klik-mengunci.

“Namanya needle holder,” Cerita Tasuku, melihat ketertarikanku, “Dan ini namanya Scalpel,” ia menunjukkan pisau bedah yang telah selesai terpasang pada gagangnya kepadaku, “Mereka teman setiaku saat aku membongkar rahasia susunan tubuh Undead.” Matanya berkobar angkuh, hanya pada saat ini, aku melihat Tasuku amat beda… beda dari biasanya.
Ia bangga dengan pekerjaannya, impiannya, ia terikat dengan hal yang… begitu mengerikan, namun juga begitu hebat untuk dinalar akal.

“Jangan takut, Daina…” Sekarang aku mendengarnya menyemangati, “Berdasarkan tujuannya, pembagian autopsi terbagi atas autopsi forensik-medikolegal untuk kepentingan hukum, autopsi klinik untuk kepentingan medis seperti yang biasa kulakukan, dan…”

“Dan…?” Sambungku, tanganku basah oleh keringat.

Tasuku melempar tawa hangat kepadaku, “Kita tidak akan membuka seluruh bagiannya, hanya akan melakukan autopsi anatomi sekarang, ada bagian dari tubuh mayat ini yang harus kuperiksa, seperti ini.”

Isi perutku membuncah lagi.
Tasuku menyayat licin bagian perut mayat itu, pisau bedah yang tajam meluncur menggores kulit yang masih bagus, darah mengucur begitu saja.
Membasahi tangan pangeranku yang terlapisi sarung tangan karet dan ia terlihat begitu terobsesi.
“Kakakku mengatakan aku harus melakukan ini,” ia tersenyum datar, “Berarti kakak sudah bisa merasakan bahwa didalam tubuh Undead ini ada sesuatu yang tak semestinya,”

“Apa itu?” Tekanku,

“Tugasku untuk mencari tahu,” Pangeranku mengangguk maklum, membiarkanku seorang diri mematung diantara teka teki.

Ia mengajakku bicara... betapa senangnya aku.
Apa aku sudah menjadi temannya?
Teman yang sebenar-benarnya?

Tasuku melakukan sayatan sayatan berikutnya, mengiris otot otot, bunyi bergerecak darah memenuhi kesunyian pondokan.
Ngeri, ngeri, ngeri,
Ia berkeringat, tapi nyaris tak mengedip, ia tenggelam dalam pekerjaannya.
Tangannya berlumuran darah dan serpihan daging yang menempel, tapi ia tidak terpengaruh sama sekali, terus berkonsentrasi pada tujuannya.

Tasuku tersentak kaget saat aku mengelap keringat didahinya dengan sapu tangan.
Kegiatannya terhenti sejenak,
Aku, bingung harus melihat kemana, antara pemandangan mengerikan mayat dengan perut terkoyak didekatku, ataukah mata safir birunya yang meruntuhkan iman itu.

Tasuku tidak bereaksi, kami saling pandang.
Dalam, beberapa lama terus seperti itu, waktu seakan berhenti.

“Gunting,” Lirihnya namun jelas, aku terkesiap,

“Eh, y-ya?” tanyaku gugup,

“Gunting, ” ulangnya sekali lagi, masih tidak mengalihkan pandangan memesona itu dariku, “Ada jaringan yang agak alot disini,” Sadar akan apa yang dimintanya, aku segera berpaling melangkahkan kakiku melihat peralatan bedah Tasuku,
Aku tidak yakin, Tasuku mengeluh, tapi pandangannya seperti terhipnotis kearahku,
Dan ia meminta bantuanku!, aku melirik deretan alat bedah disampingku, mencari cari gunting untuk kemudian kuserahkan kepadanya.
Ketika aku kembali, Tasuku sudah sibuk pada pekerjaannya lagi, seakan tidak pernah terjadi apa apa,

Mulai dari situ segalanya mengalir begitu saja,
Tasuku tanpa segan segan meminta bantuanku,
Ia membuatku merasa nyaman bahkan didetik paling mengerikan sekalipun, ia terus bicara mengenai istilah istilah kedokteran yang aku tak mengerti tapi menarik untuk dipelajari.
Menjelaskan kepadaku mengenai berbagai hal, jenis jenis sayatan yang dibuatnya, teknik yang ia gunakan, nama nama organ didalam tubuh manusia yang tidak kutahu.
Betapa dalam pengetahuannya dan tingginya pengalamannya tidak sebanding dengan usianya yang belum genap dua puluh tahun.
Apa yang ia kerjakan setiap hari begini?
Selain mencatat penelitian dan berusaha menemukan formula baru untuk mengobati virus Undead, ia juga turun tangan langsung meneliti organ organ tubuh Undead, mempelajari cara kerjanya.

Ia bisa semua, ia seorang Dokter…
Tasuku hebat sekali.
Dan aku semakin mencintainya.

Ia mengajakku ‘Bekerja’ dan menciptakan suasana ‘Belajar’ yang menyenangkan, setidaknya menurutku.
Pelan pelan aku mulai beradaptasi dengan dunianya,
Bau busuk tidak semudah itu hilang, masih mengaduk aduk perutku tapi Tasuku membuatku lupa.
Karena buktinya aku masih bertahan disini.
Bahkan ketika ia mengiris usus mayat itu serta mengeluarkan isi perutnya.
Cairan kekuningan meluber keluar dari sayatan yang dibuat Tasuku pada Organ, bau kotoran manusia dan darah bercampur aduk,

Tasuku mengangkat keluar benda putih bulat yang terbungkus plastik dari dalam organ perut si mayat.



“Kita menemukannya,”



++++
 
Ari.


_____________________________
_______________________



Memang tidak ada efek baiknya sama sekali untuk kesehatan, tapi merokok membantu memperbaiki mood seseorang, atau setidaknya begitulah sugesti yang kurasakan sebagai pecandunya.
Aku benar benar tidak menyangka, Aku melompat kebelakang kargo menghindari tembakan demi tembakan, tepat pada saat pergulatanku dengan lelaki bernama Hendric itu, tiba tiba saja kedua Undead itu -anak anak dan orang dewasa- muncul begitu saja dari dalam hutan, menyerang Hendric tanpa bisa kuhentikan, lelaki itu -yang panik tanpa alasan- tidak mampu melawan, kejadiannya begitu cepat, sampai sampai aku yang semula berniat menangkapnya dalam keadaan hidup ikut terperangah.

Memang pada akhirnya aku bisa dengan mudah melumpuhkan kedua makhluk ganas itu, hanya dengan -masing masing- satu tembakan dikepala.
Tak lupa kupisahkan kepala mayat lelaki itu dengan pedangku agar ia tak kembali bangkit dari kematian.

Aku sempat berkeliling hutan sekitar mencari cari tanda tanda keberadaan Undead lainnya, hingga kemudian munculah kecurigaanku,

Jika 'sesuatu' yang berbahaya tanpa sengaja keluar saat lelaki itu menganti kuncinya...
Aku kembali ke titik awal dimana mayat mayat itu tergeletak, memperhatikan baik baik, bukankah tadi, orang ini kelihatannya sedang kepayahan?
Apa tandanya ia sedang mengejar sesuatu?

Darimana datangnya makhluk itu?
Pastilah berhubungan dengan orang orang yang kulihat kemarin.

Ya, sesuatu yang mengerikan, Logikaku jalan.
Jika benar dugaanku, didalam kargo ini sekarang pastilah dipenuhi dengan Undead.
Dan beberapa diantaranya... pastilah lepas saat bajingan ini bermaksud menyembunyikan kecerobohannya dari kawanannya sendiri, dengan cara mengganti kunci sebelum ketahuan.
Tapi untuk apa?

Undead sebanyak ini... Ada apa didalam mereka?
Organ... Undead tidak memiliki organ yang bisa dipakai untuk pengobatan.
Bahan penelitian?
Tidak perlu sampai diselundupkan segala kan?
Mereka yang terinfeksi diperlakukan lebih rendah daripada binatang.
Asal kau punya izin yang cukup, aku teringat pada adikku yang seorang dokter, maka kau bisa bepergian dengan sampel virusnya...

Ada tiga opsi yang membawaku kemari sekarang,
Pertama adalah, langsung meledakkan peti kemas itu ditempat, apapun yang menjadi isi didalamnya dijamin hancur berkeping keping, atau mungkin membukanya dengan paksa.

Membuka paksa terlalu beresiko, ledakkan ditempat berarti hangus tanpa mengetahui apapun motif sebenarnya dibalik kejadian ini.
Aku perlu tahu seperti apa detal metode mereka agar kelak kejadian seperti ini tidak terulang kembali, minimal bisa ditanggulangi, karena modusnya sudah ketahuan.

Kedua, Zombie itu, membedahnya ditempat, ah, bukan membedah, potong potong langsung sajalah,
Tapi terlalu makan waktu.
Ya, kalau kulakukan sendiri, hanya akan menghancurkan barang bukti atau apapun itu yang ingin kutahu, dan lagi, hutan ini terlalu gelap, hanya cahaya bulan yang membantuku...

Dan opsi ketiga, bawa mayat Undead ini pulang, meminta Tasuku melakukan pemeriksaan, sekaligus memberitahukan pada Tasuku dan Daina bahwa kemungkinan besar bahaya akan segera datang…
Ya, memperingatkan mereka untuk berhati hati.
Saat ini mereka berdua adalah prioritas utamaku.
Pasang peledak otomatis, yang bisa kukendalikan dari jarak jauh, untuk jaga jaga...
Jadi jika kawan kawan pemilik kargo datang, mereka tidak akan bisa mendekati benda ini, merasakan ancaman bahwa benda ini bisa saja meledak sewaktu waktu.

Dari semua pilihan, hanya opsi ketigalah yang paling masuk akal bagiku.

Jadi begitulah, aku akhirnya membawa mayat mayat Undead itu kerumah,
Gelisah, kumatikan rokokku dengan cara menekannya keatas tangga kayu tempatku duduk,

Tak kuduga Daina kembali kedalam, padahal sebelumnya ia yang paling tampak shock melihat mayat mayat Undead didepan matanya sendiri.
Kukira dia tipe gadis penakut yang akan lari jika berhadapan dengan sesuatu yang menyeramkan.

Ternyata ia malah memilih untuk membantu Tasuku.

Karena itulah kau menyukainya, kan, Ar?

Ia berusaha keras membuat dirinya kelihatan berguna,
Ia tidak bisa ditebak dan penuh kejutan, jika ia sudah serius, sifat nekatnya parah sekali…
Betapa ajaibnya, gadis ajaib, memikirkannya saja sudah membuatku tersenyum, pun disaat saat genting begini.
Aku harus tetap berkepala dingin seperti biasa, Daina sangat membantu.

Bunga yang tumbuh diladang kering merupakan sesuatu yang langka bukan?
Dan amat istimewa, lebih indah, daripada bunga bunga lainnya...

Lama sekali, jika kuhitung hitung sudah dua setengah jam berlalu, Aku menguap resah di serambi pondokan, Mondar mandir sambil menyalakan rokok, menghisap beberapa kali, lalu berakhir dengan mematikannya begitu saja, lanjut menyalakan yang baru lagi, idiot.
Iseng iseng, aku melongok kedalam pondokan, mengintip apa kiranya yang sedang berlangsung didalam sana.
Dan kenapa lama sekali.

Perasaan gembira menyergapku, terbelalak begitu saja ketika pandanganku tertumbuk pada sosok muda-mudi didepan meja makan yang berubah jadi ruang operasi dadakan.
Mereka kelihatan akrab, Tasuku sedang mengajarkan Daina menutup irisan yang dibuatnya pada tubuh mayat dengan jahitan.
Daina gugup tapi ia bersemangat, mereka berdua berlumuran darah tapi kelihatan senang,
Bocah bocah psikotik sialan, senyumku.

Aneh,padahal sebelum ini perasaanku pada Daina hanyalah hasrat ingin memiliki-dan ingin memiliki, aku sendiri sudah sadar bahwa ada satu kepingan yang hilang, apapun itu, membuatku sulit untuk melangkah.
Tapi begitu melihat Daina bersama Tasuku, berdiri bersama Tasuku seperti itu,
Semua kepingan yang hilang itu menyatu kembali.
Aku mendapatkannya, lengkap ditanganku secara utuh, tak terbagi.

Aku tidak lagi melihatnya sebagai ‘wanita idaman’ yang kudambakan sejak lama, tapi lebih seperti karya seni yang sempurna dan mulia, bersama dengan Tasuku.

Sesuatu yang kupuja.

Ingatanku melayang pada malam jahanam itu.
Malam ketika kami berdua, aku dan Tasuku, kehilangan segalanya…
Ah yah, Ibu kami meninggal saat usia kandungannya 8 bulan, sesaat setelah kelahiran prematurnya, benar juga,

Ia memohon padaku dan Tasuku untuk menyelamatkan bayi didalam perutnya disaat saat terakhir,
Itu bukan kecelakaan, kami sudah berhasil mengurung ayahku yang terlebih dahulu bermutasi didalam lemari, hanya berdua Tasuku, begitu susah payah.
Aku berteriak, menyuruh Tasuku mengambil gembok didalam laci, kami mengikatnya kuat kuat dengan rantai, tapi itu hanya lemari Tua, kami tidak tahu seberapa lama benda itu dapat bertahan.

Selanjutnya Tasuku yang masih sangat kecil berlari ketakutan keruangan tengah,
Ia berteriak “Ibu! Ibu!”

Aku mengikutinya, melihat keadaan didapur sangat parah.
Ibuku, ketubannya sudah pecah, darah berceceran memenuhi bagian paha dalamnya.
Panik, kami berdua beradu dengan jerit kesakitan ibu,

“Selamatkan dia!” Teriak ibuku melengking, “Bayinya saja, kalian tidak usah memikirkan aku!”

Lalu ia terbatuk, mengeluarkan darah.
Aku dan adikku mendelik ngeri pada luka luka menganga ditubuh ibuku, leher, bahu, dada, yang –ironisnya- dibuat oleh ayah kami sendiri,
Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri, bergulat dengan kontraksi yang berkepanjangan.
Toh’ ia merasa dirinya takkan mungkin selamat,
Tapi bayinya, adik kami, harus hidup.
Itulah prioritas sekarang.

Lima belas menit penuh penentuan sebelum detik detik menegangkan itu berakhir.
Bersama satu tarikan nafas terakhir, Ibuku menyelesaikan persalinannya, bayi mungil itu kini berguling berbantalkan lengan kecil Tasuku.
Adikku memandanginya penuh kekaguman, aku juga.
Betapa ajaibnya.
Tasuku selalu ingin punya adik, sejak Ibu kami memberitahu bahwa ia hamil, Tasuku selalu menjadi yang paling antusias menanti nanti.
Aku tahu perasaannya, sama dengan apa yang kurasakan ketika ia akan lahir kedunia…

“Perempuan,” Tasuku berbisik, “Lihat, kakak… Dia perempuan,” Tasuku berbalik kebelakang, “Ibu, Ibu, adikku perempuan, Ibu…! Lihat!” bekas airmata mengering dipipinya kembali basah.


Ibu kami tidak bergerak.


Begitu pula badannya, perlahan lahan menjadi dingin, ia kehilangan banyak darah dari luka ditubuhnya dan luka persalinan sekaligus.
Tasuku kecil mengguncang guncangkan tubuh wanita yang surga kami terletak ditelapak kakinya itu,
Mencoba menemukan denyut harapan.

“Ibu… Ibu… Jawab aku, Ibu… Ibu,” Mohonnya menyayat hati, “Kakak, kenapa Ibu dingin sekali, kakak, bangunkan Ibu! Kakak!”

Saat itulah aku tidak mampu bicara apapun, benar benar lumpuh, meminta maaf entah untuk apa.
Semua kesalahan terjadi begitu saja. Entah ganjaran untuk apa...






Tasuku menangis tanpa suara, ia tidak berani meraung sekerasnya walaupun ia ingin,
Sadar bahwa diluar rumah bahaya besar mengancam kami jika kami berdua bersuara sedikit saja.
Kami hanya bisa menangis dalam kebisuan.

Ibu sudah meninggal, Ayah juga…
Teknisnya, kami berdua tak punya siapa siapa sekarang.

“Tasuku,” Ujarku lemah, “Kau ambillah air hangat, kita harus memandikan adik bayinya,”
Tasuku mengangguk menurut, menyerahkan bayi dalam pelukannya ketanganku, keadaan memaksa kami untuk tetap kuat walau kenyataannya kami hancur.

Aku masih ingat jelas wajah adik perempuan kami.
Tangisan lirihnya, kudekap erat didadaku, mengusir dingin yang mungkin saja ia rasakan.
Dan adik laki lakiku tak lama kemudian kembali membawa air hangat yang ia tumpahkan dari termos ke baskom, mencampur dengan air dingin hingga kami mendapat suhu yang pas.
Aku membasuh kaki adik baru kami kedalam baskom air hangat, melanjutkan dengan bagian bagian tubuhnya yang lain, kami berdua berusaha melakukannya sebaik mungkin.

“Ia akan selamat kan?” Tanya Tasuku hati hati, aku mengangguk menyemangatinya,
Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang, menghapus kecemasan adikku.
Kami akan baik baik saja…

“Ya… kurasa belum, virusnya belum lama menyerang ibu dan sepertinya…” baru saja aku bicara, bayi ditanganku meronta kuat. Kuat sekali.



Bukan tenaga manusia.



Lalu wajah bayi yang tadinya lucu menggemaskan berubah.

Menjadi wajah makhluk itu.

Berusaha menyerangku dan Tasuku,
Bahkan gigi gigipun sudah tumbuh dengan kecepatan tidak lazim seorang bayi baru lahir.

Aku dilanda kepanikan luar biasa, sekuat tenaga kutekan bayi itu masuk seluruhnya kedalam baskom.
Tulang tulang kecilnya patah, tapi rasa sakit seakan tiada arti baginya.
Ia berusaha dan berusaha, Ia ingin memakanku dan Tasuku!
Aku harus melindungi Tasuku!


Tekanan ditanganku semakin kuat, Undead kecil malang itu meronta semakin berani membela diri.
Rasanya aku nyaris kalah karena licinnya air membuat tanganku mudah tergelincir.

Sruukk, Tasuku ikut mencelupkan tangannya kedalam baskom yang kini penuh dengan genangan darah itu.
Membantuku melenyapkannya.
Terdengar derak tulang patah, kami berusaha memutar leher satu satunya keluarga kami sekarang, mematahkannya, hingga tidak lagi terasa ada pergerakan.
Bagus, kami pembunuh, benar benar pembunuh berdarah dingin.

Sunyi,


Aku dan Tasuku saling pandang.
Hanya ada kesunyian, dan adik bayi kami yang sekarang terasa seringan kapas.
Virus itu merenggut segalanya dari kami.
Sampai harapan terakhir juga.

Tatapan tak berdosa dari Tasuku menyadarkanku,
Tangisannya tak terbendung lagi, ia memelukku, memohon perlindungan, aku mengangguk mengerti,
Sebenarnya dalam hati akupun ingin menangis sekarang,
Tapi jika kulakukan, tentulah adik semata wayangku hanya akan bertambah kalut.
Deminya aku takkan menangis,


Takkan menangis.



Gratakk,
Bunyi menyeramkan terdengar dibelakang kami begitu saja,
Tenggorokanku dan Tasuku berdeguk cemas, perlahan menoleh kebelakang.


Ibu kami, baru saja bangkit dari kematian.

Rasa takut tak terperikan menghampiri kami.

Tasuku gemetar dalam dekapanku,

Belum lagi, dari arah depan juga terdengar bunyi bunyi mengerikan.

Ayah.


Kami tak pernah mengalami horror yang lebih seram dan absolut selain malam ini.
Ayah dan Ibu, didepan dan dibelakang.
Saat itu ada hasrat aneh merasuki diriku dan Tasuku,
Ingin menyerahkan diri saja, karena hidup seorang diri seperti inipun rasanya sudah tak ada gunanya lagi.

Tangan kecil adikku menggenggam erat, mengenyahkan semua pikiran gila,
Tidak, aku masih punya Tasuku.
Dia akan menjadi alasanku bertahan hidup mulai sekarang.


Ia akan menjadi seluruh hidupku mulai sekarang.


‘Ayah’ menyerang kearahku, matanya seluruhnya berwarna hitam pekat, tidak menyisakan bagian putih setitikpun, mulutnya penuh darah menggeram kearahku,
Aku mendorong Tasuku, jauh dan cepat.

Meraih baskom disampingku dengan cepat, gigi gigi ‘Ayah’ menancap pada benda plastik itu,
Aku tahu aku kejam, sebelah tanganku meraba raba, mencari ‘adik’ bayi tersayangku yang hanya sempat hidup dua menit merasakan dunia tanpa pernah diberikan nama.

Menariknya dikepala, mencabut dengan begitu mudah karena ia baru saja dilahirkan dan teramat rapuh.
Melemparkan daging segar itu sejauh mungkin kesudut ruangan, mengalihkan perhatian ‘Ibu’ yang berniat menyerangku juga karena aku tahu anak kecil sepertiku takkan bisa menghadapi dua Zombie dewasa sekaligus,
Sambil terus bertahan karena ‘Ayah’ sepertinya akan segera jatuh menimpaku,

Tapi adik lelakiku yang pintar tidak diam saja dan meninggalkanku,
Ia mengambil setrika yang tergeletak diatas meja dapur, memukulkannya tepat pada kepala ‘Ayah’ hingga jatuh tersungkur, Karena tenaga Tasuku kurang kuat tentu saja ‘Ayah’ masih mencoba bangun lagi.

“Kakak…!” Tasuku mengulurkan tangannya,
Aku menyambut cepat cepat, kami berdua berlarian didalam rumah, mencari tempat lain untuk bersembunyi.
Dan gudang adalah tempat terdekat yang bisa kami temukan.

‘Ayah’ dan ‘Ibu’ menyusul dibelakang, hendak memberikan pelukan selamat bergabung.

Aku mengunci pintu gudang cepat cepat,
Baik Aku maupun Tasuku sama sama bermandikan keringat, ketakutan dan menderita.
‘Ayah’ dan ‘Ibu’ masih menggedor gedor pintu diluar.

Tasuku merosot kedinding, nafasnya tidak teratur, badannya lemah dan aku tahu ia tidak terbiasa ‘kerja keras’ seperti ini.
“Tasuku…” Aku memegang dahinya, menghangat,
Ya Tuhan, jangan sampai adikku sakit.
Kemana kami didalam gudang begini?
Dengan apa?
Apa bisa bertahan?
Semua pintu dan jendela memang sudah di blokade agar Undead diluar takkan bisa masuk kedalam, tapi… didalam gudang ini tak ada jendela sama sekali.
Jika Paladin Datang apa mereka akan mengevakuasi kami?
Apa mereka bisa menemukan kami disini?

Aku berpikir, memutar otakku.

Suara gedoran orangtua kami semakin keras terdengar.
Aku tidak tahan.

“Tash, Tash…” Panggilku pada Tasuku, kuusap poninya keatas, membujuk, “Bantu kakak, mau kan?”

Adikku sepert kehilangan suaranya, hanya matanya yang mengedip ngedip yang menandakan bahwa ia masih hidup ditanganku.
Tubuhnya gemetar dalam ketakutan, tapi ia menunggu.

Horror, yang absolut.

Aku tidak menjawab, hanya melangkah kearah tempat penyimpanan peralatan, Lampu remang remang gudang menjadi saksi bisu apa yang kulakukan, kutarik keluar sebuah gergaji mesin dibawah meja,

“Kakak akan membunuh Mama dan Papa?” Tanya adikku cemas, aku sontak kaget mendengar pertanyaannya, tidak tahu mesti menjawab apa.

“Tasuku,” ujarku penuh tipu, “Ingat apa yang Kakak ceritakan? Tentang Hansel dan Gretel?”

“Aku menghafalkannya diluar kepala,” Seru adikku kekanakan, “Hansel melindungi Gretel dari penyihir jahat yang akan memakan mereka…”

Aku tersenyum bangga, “Itulah yang akan terjadi sekarang, mereka bukan Mama, mereka bukan Papa, mereka penyihir jahat, mereka akan memakanmu,” Aku berusaha menarik tali starter gergaji mesin itu, butuh beberapa kali karena tenagaku memang tidak sekuat orang dewasa, hingga akhirnya benda itu menyala, “Kakak akan melindungimu, tenang saja,”

Aku berkata sambil menatap Tasuku, rambut pirang adikku lengket jadi satu karena keringat, keadaannya menyedihkan dan pasti begitu pula keadaanku, jika aku melihat cermin sekarang, ia kacau tapi ia mempercayaiku,

“Pada hitungan ketiga, buka pintu itu, dan tolong bacakan dongeng Hansel dan Gretel untukku, bisa kan?”

Adikku mendengarku dan segera mengambil posisi dibelakang pintu,
Ia patuh padaku,
Sehingga ketika aku menghitung sampai tiga, ia tetap bisa berada dibelakangnya,
Satu, dua, tiga,

“Jangan keluar dari sana, sampai kau selesai membaca dongengmu,” pesanku, wajah mengerikan kedua orangtuaku muncul dari balik pintu, “Kakak bersumpah, penyihir jahat tidak akan bisa menyentuhmu.”

Jujur, saat itu, aku tidak tahu apakah aku akan hidup atau mati,
Aku tidak pernah berhadapan dengan Undead sebelumnya, kasarnya, aku hanya bocah.
Aku menerjang secara sembarangan.
Memutuskan satu demi satu anggota tubuh ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

“Lalu Gretel sekuat tenaga mendorong penyihir itu,”

Gergaji mesin yang kupegang menyayat tubuh orangtuaku, darah menyembur disana sini, sangat sulit memisah misahkan bagian bagiannya, karena ‘Ayah’ dan ‘Ibu’ baru saja meninggal, tubuh mereka masih keras,
Tenaga alat berat ditanganku satu satunya pegangan, dan tubuh manusia sama sekali tak dapat bertahan jika dibandingkan dengan gergaji mesin ini.
Aku berhasil melakukan pembantaian untuk pertama kalinya.
Pada saat itu, sebenarnya aku menangis, tanpa suara, menangis.
Air mataku bercampur dengan darah segar yang membasahi wajahku.

“Mendorongnya kedalam tungku,”

Suara gumaman sakit hati Tasuku dibalik pintu gudang menentramkan hatiku, memberiku kekuatan pada saat aku merasa tidak sanggup.

“Angsa yang bersinar menjemput mereka,”

Bunyi berdesing gergaji mesin beradu dengan derak derak tulang yang dipatahkan secara paksa.
Aku menggila dalam kesunyian.
Mereka orang orang yang kucintai, tapi mengapa seperti ini?
Mengapa dunia begitu tidak adil padaku?

“Lalu mereka hidup bahagia selamanya,”

Sakit, rasanya begitu sakit.
Masa kanak kanakku yang bahagia terhenti sampai disitu,
Setelah malam ini, aku takkan bisa tidur nyenyak lagi.
Takkan pernah bisa.
Kenangan jahanam ini akan selalu menghantuiku, senantiasa.

Aku terjatuh layu dengan tangan berlumuran darah, sementara anggota badan orangtua kami berceceran dimana mana.
Kupegangi kepalaku yang terasa sakit luar biasa,
Menyiksa, ini sangat menyiksa,

“Kakak…” Aku mendengar suara adikku memanggil, aku tidak berbalik, justru ia memelukku, tanpa sedikitpun rasa kebencian,
Ia membantuku memasukkan potongan potongan tubuh orangtua kami kedalam ember, kemudian mengepel ceceran darah dilantai,
Kami berdua duduk menunggu, hanya berbagi sebuah selimut.
Aku menguatkan hatiku sepanjang malam.
Sampai akhirnya Paladin menemukan kami dengan kondisi amat sangat menyedihkan.

Saat kami keluar rumah untuk pertama kali sejak malam petaka itu, hari sudah terang, prajurit Paladin sudah ramai mengevakuasi para korban, aku berlari sekali lagi masuk kedalam rumah, untuk menyebar bensin dan menyulut api.
Tak ada yang menghiraukan apapun yang kami lakukan sekarang,
Apakah itu membakar rumah kami sendiri, hidup tanpa tujuan, atau mati sekalian.


"Takkan kubiarkan lagi, orang lain merasakan penderitaan yang kita rasakan saat ini," Itulah tekadku, menjadi kuat, lalu melindungi setiap jiwa yang mampu kulindungi.
Tasuku berpegangan pada lenganku, erat.
Aku menariknya dalam pelukan.

"Kakak... apa Ayah dan Ibu bisa pergi ke surga?" Tasuku kecil mengeluarkan pertanyaan yang amat sulit untuk kujawab, aku tertegun, membiarkannya melanjutkan sambil terisak, "Mereka bilang begitu, didalam kitab suci... Jiwa yang telah tiada akan berkumpul disuatu tempat indah, mereka menyebutnya surga." Tasuku bertanya, tapi ia sendiri mengharapkan jawaban tertentu.

Yang tak kuberikan.

"Tidak Tasuku," Aku menolak mengiyakan, walau aku tahu itulah yang ingin Tasuku dengar, "Tidak akan ada surga, sampai semua kengerian ini berakhir."


Kusembunyikan air mata maupun rasa sakit.
Aku akan jadi kuat, aku takkan lari.
Mulai sekarang aku hanya hidup untukmu, untukmu.
Ini adalah ikatan diantara kita.

-
-
-
-

“Kak!” Tasuku menyentakkan tubuhku, aku melongo kaget, ia dan Daina sudah mencuci tangan dengan cairan antiseptik yang mematikan kuman kuman maupun Virusnya.

“Oh...yah?”

“Melamunkan apa sih?” Rajuk Tasuku kesal, “Aku sudah selesai melakukan permintaan kakak,” Ia menggenggam sesuatu ditangannya, menyerahkan padaku dengan cara melempar.
Kutangkap benda itu gesit,
Terasa berat dalam genggaman, Tasuku mengangguk menyuruhku memeriksa,
Sebuah kantung yang dikemas steril kedap udara, pastinya supaya virusnya tidak bisa ikut masuk kesana juga,
Kutarik belati dipinggangku untuk memastikan, merobeknya.

“Narkotik,” Tasuku menyentuh cuping telinganya sendiri, “Dari jenis paling bagus dan paling mahal,”

“Ya…” jawabku, memperhatikan serbuk putih halus ditanganku.
Menyelundupkan ini kedalam tubuh Zombie? Untuk apa?

“Undead tidak diperiksa,” Tasuku menjelaskan, “Tidak ada standar pemeriksaan untuk Undead ataupun orang yang terinfeksi, tapi mayat ini belum lama, waktu perkiraan kematian sekitar 2 hari, masih bagus, mungkin mereka mengecoh petugas airport dengan orang orang yang terinfeksi, karena orang orang ini dipindahkan melalui Unit khusus yang tidak melalui standar pengecekan seperti normalnya.”

Ah, begitu… “Mereka memilih provinsi terpencil ini sebagai lokasi transaksi, kalau begitu, pintar sekali.”

"Tapi kak, Undead ini dibawa sedari sejak mereka belum bermutasi," Tasuku mengingatkan, "Mereka masih memiliki kesadaran penuh, saat mereka disuruh menelan benda itu," Ia menunjuk narkotik ditanganku.
"Tapi menempatkan orang orang terinfeksi hingga beberapa sekaligus ditempat yang sama, sungguh ceroboh,
Kita tidak tahu, batas waktu hingga penyebaran virus selesai dalam tubuh manusia berbeda pada tiap orang, bisa ditebak, yang sakitnya sudah sangat parah dan akhirnya bermutasi menjadi Zombie menyerang mereka yang belum sepenuhnya siap bermutasi, Mempercepat apapun itu, proses penyebaran yang seharusnya makan waktu lebih lama."

Aku tidak paham dengan penjelasan Tasuku,
Garis besar yang kutangkap adalah, Undead ini digunakan sebagai alat dari sejak mereka belum sepenuhnya berubah.
Kejam sekali...

“Mereka akan membongkarnya malam ini? Tengah malam?” Tasuku bertanya lagi, Daina bersembunyi dibelakangnya, imut sekali, aku berpikir jika kami punya adik perempuan pasti…


“Ya, tapi kurasa dengan kejadian ini, mereka tidak akan menunda selama itu,” ujarku seraya mengenyahkan pikiran bodohku tentang Daina. “Ok, Airport lewat, Yang menjadi pertanyaanku adalah…, Bagaimana bisa menyelundupkan Undead sebanyak itu ketempat ini tanpa diperiksa petugas…”


“Selamat malam,”


Kami dikejutkan oleh kedatangan delapan orang berseragam polisi.
Daina bersembunyi semakin ketakutan dibelakang punggung Tasuku, yang sebaliknya, terlihat tenang sekali.

“Ada perlu apa datang kemari?” Tanyaku cuek, Petugas itu tampaknya tidak menghiraukan kami, ia dan teman temannya masuk begitu saja kedalam rumah, mendapati sisa sisa tubuh Zombie yang terpencar diatas meja makan.

“Apa itu?” Tanyanya menunjuk kearah ceceran darah, “Kalian tidak melaporkan kejadian sepenting ini?” Aku mengenalinya sebagai petugas yang sama dengan yang bentrok denganku dulu.

“Tidak ada yang perlu dilaporkan,” Tukasku, “Karena ini soal Undead, Urusanku.” Kuberikan penekanan, menyatakan secara tegas bahwa aku tidak senang diikut campuri.

Para petugas itu tertawa menyebalkan,
Dari sorot wajah Daina, menyiratkan bahwa gadis itu tidak mengenal mereka sebelumnya,
Aku tidak bertanya lebih lanjut, Tasuku juga diam saja,
Petugas itu mengangkat teleponnya, kedengaran seperti melaporkan sesuatu kepada seseorang, dalam bahasa setempat,
Aku tidak mengerti bahasanya, tapi aku bertindak melihat Tasuku –yang paham dialog Thai- menarik Daina.

“Merunduk!” Tasuku berteriak.
Daina berguncang dibawah tubuhnya ketika ia menarik gadis itu kuat kuat.

Pada detik ia melakukan hal itu, Tanganku sudah menarik pelatuk pada pistol,
Peluru yang kutembakkan tepat membentur kearah peluru sang petugas polisi,
Bertabrakan dan meluncur mulus kearah tangannya.
Meledak.

Petugas itu memegangi satu tangannya yang penuh darah.
Berteriak kesakitan.

“Jika ingin menembak,” Senyumku sinis, “Jangan pernah ragu ragu!”

Jadi mereka benar benar ingin menyerang kami disini?

“Maju,” Kepala polisi yang sedari tadi sedang bicara ditelepon memerintahkan,




“Perintah dari Boss, Lenyapkan semua saksi.”



+++
 
Daina.

____________________________
_________________________




Aku mendengarnya saat ia tadi bicara ditelepon, Mereka bermaksud membunuh kami! Mereka bermaksud membunuh kami!
Tasuku menarik tanganku cepat, berteriak menyuruhku merunduk, menutupi dengan tubuhnya sendiri,
Sempat terlihat olehku kakak menembak, suara tembakannya keras memekakkan telinga, berimbang dengan bunyi peluru berdesing.

Orang jahat itu berteriak karena jari jarinya meledak dalam sepersatu detik saja.

Kakak memang kuat…. Tapi musuh sebanyak ini?!

Aku menengadah ketakutan, terlihat olehku kak Ari sedang bergulat dengan empat orang sekaligus, Mereka menyerangnya dari segala penjuru,
Kakak mengelak dari tendangan yang ditujukan padanya, ia berputar dengan gesit, memutar pistol ditangannya, bahkan ia seperti tidak merasa harus menembak, karena sekarang ia memukulkan gagang pistol itu tepat pada tengkuk lawan,
Salah seorang menyerang dari belakang, cara pengecut, kakak menghantamkan sikutnya dibagian dada orang itu, tidak kena, karena sipenjahat mundur kebelakang,
Sebelum akhirnya kembali menyerang, tidak ada gunanya, saat ia mengangkat tangannya untuk memukul, celah itu tercipta, kak Ari menangis cepat sekali, mengarahkan kepalan tinju kearah perut.

Rasanya pasti sakit sekali karena bunyi ‘krak’ sempat terdengar waktu kakak menyarangkan tinjunya keperut orang itu, aku jadi ngilu sendiri.

Dua orang sekaligus!

Mereka menerjang seakan tidak memberikan kesempatan sama sekali, bahkan kak Ari masih sibuk dengan pria yang ia hadiahi kepalan tinju tadi,
Keroyokan, sial,
Diluar dugaan kakak mengangkat… ya, mengangkat tubuh orang didepannya yang sudah semaput dengan mulut berbusa karena pukulan barusan,
Ia memutarnya seperti angin topan.
Melemparkan kearah dua orang tadi.

Astaga, kakak..., kakak kuat sekali…!
Kakak seperti monster!

Tanpa sadar mulutku ternganga, kakak benar benar pandai berkelahi, seperti bukan manusia,
Astaga, astaga!

“Keparat kau!” Seorang lagi tampak mengeluarkan pistol, sementara kakak tenang tenang saja menepuk nepuk tangannya.

Ia tidak mempedulikan moncong pistol yang sedang diarahkan padanya,
Seperti menunggu untuk ditembak.
Kedua matanya berkilat percaya diri, menyatakan pengalaman.
Bahkan bisa dibilang saat ini tangan musuhnyalah yang gemetar,padahal orang itu memegang senjata.

Orang itu berteriak mengutuk, menembakkan senjatanya, aku berteriak histeris,

Asap keluar dari muncong senjata, tetapi,

Kakak tidak terluka.

Ia baik baik saja, hanya sedikit meminggirkan kepalanya kearah kiri.
Wajahnya tenang, sangat tenang dan dingin.
Aku nyaris tidak mengenali kak Ari yang ini…

“Kalau kau perhatikan moncong senjatanya,” Ia berlari kearah musuh, amat cepat, “Kau akan tahu kemana arah pelurunya.”

Seperti kesetanan, kak Ari mencengkeram musuhnya tepat diwajah, lelaki itu gemetar ketakutan tanpa daya,
Kakak benar benar pemangsa.
Menggunakan tenaga luar biasa kuat ia membenturkan kepala orang itu kearah tunggul kayu penyangga rumah.
Keras sekali, masih belum puas, kakak menyentakkannya, membanting kearah bawah,

Saking kuatnya bantingan itu, lantai teras yang terbuat dari kayu jebol, menjatuhkan musuhnya langsung kebawah, menyebabkan pingsan seketika.

Aku menutup mulutku, berusaha agar tidak berteriak gembira.
Antara percaya dan tidak. Kakak menang.
Melawan orang sebanyak itu.
Pada saat mereka bilang ingin menyewa prajurit bayaran, aku tidak mengerti apa apa,
Tapi tak pernah kusangka ‘Prajurit bayaran’ itu sekuat ini!

Satu persatu musuh berjatuhan dikakinya, begitu tidak berdaya, sedangkan ia tak peduli apapun.

“Keren…”

Menoleh kesamping, kulihat Tasuku, ikut menyaksikan pemandangan yang sama,
Sama sepertiku,
Bedanya adalah, aku sendiri kaget, sedangkan Tasuku, Ia nampaknya sudah terbiasa, malahan, menatap sang kakak penuh pemujaan.
Sempat kulihat semburat merah jambu dipipinya, seperti gadis muda jatuh cinta.

“Keren sekali…, kakak keren sekali,” berkali kali ia bergumam kekanakan, “Kapanpun ia melakukannya, kenapa selalu keren sekali sih?” Menghancurkan imej ‘Dewasa’ dan ‘Lembut’ yang selama ini kualamatkan padanya tanpa sadar.
Apa aku bermimpi?


Speechless, aku melongo tidak yakin bagaimana harus menimpali.


“Tasuku!” Aku berteriak memperingatkan, Kak Ari sama kagetnya denganku,
Tasuku tersungkur, bahunya terluka karena luka tusukan,

“Bagaimana dengan ini?” Ternyata kepala polisi masih ada, ia menikam Tasuku saat kami lengah!
Aku berteriak hendak menolong, tapi ia menendang pemuda yang kucintai, memberi kami jarak.
Aku merayap ingin meraihnya.
Tanganku ditangkap oleh bapak yang menakutkan itu, ia mengarahkan pisau kearah tenggorokanku,
Seperti mengancam, membuatku tak bisa bergerak.
Kak Ari terlihat kaget sekali,
“Buang senjatamu!” Perintah orang itu pada kakak, “Jika tidak, gadis dan pemuda ini akan menanggung akibatnya!”

Gawat, pikirku, aku tertangkap,
Dan yang lebih bahaya lagi, Tasuku!

Kukira segalanya akan berakhir,
Tapi kakak malah tenang tenang saja, Ekspresi kakunya tidak menunjukkan perubahan sama sekali,
Musuhnya berteriak, “Apa kau tuli?! Jatuhkan senjatamu sekarang!”

Kakak menggaruk telinganya, “Mungkin ya, aku tuli, berisik sekali,” Ia mengeluh, “Tapi Tidak, aku tidak akan menyerahkan apapun padamu,”

Huh?

“Apa maksudmu? Kau tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada mereka?!”

Sebelum sempat kusadari, kakak menyeringai, jahil sekali.


++++
 
Ari.

______________________
____________________


Sebelah tangannya menahan Daina, sementara tangan yang lain menyuruhkkan pisau pada tenggorokan.
Pecundang,
Ia merasa sudah melumpuhkan Tasuku dan mudah menyakiti Daina hanya karena mereka berdua anak anak,
Tapi ia tidak tahu, bahwa ia membangunkan macan tidur.
Dibelakangnya saat ini, sang macan sudah bangun.
Ia bahkan tidak sadar hewan itu ada disana sebelumnya.

+++
 
Daina.

____________________________
_________________________


Sebuah tenaga luar biasa kuat menarik penyanderaku,

Tasuku,

Aura kemarahan yang terpancar darinya luar biasa, rasa murka, emosi, semua tampak nyata,
Wajah yang biasanya tersenyum itu.
Wajah yang biasanya ramah itu.
Tasuku yang… Tasuku?
Aku tidak mengenalnya.

Aku melihat pada kakak, Kak Ari menjulurkan lidah kearahku,
“Anak macan,” Tawanya bangga, tidak sedikitpun berniat menghentikan, seakan sudah tahu apa yang akan terjadi.

Tasuku menghadiahkan bogem mentah kewajah si petugas polisi,
Berkali kali, meskipun sudah jatuh kelantai masih tetap dihajar juga,
Padahal kakak saja hanya menyerang titik vital langsung dalam sekali dua serangan,
Tasuku melakukannya berkali kali,
Dan gilanya, ia menghindari titik vital, seakan benar benar berniat menyiksa lawannya dengan rasa sakit penuh penderitaan.
Ekspresinya kejam tanpa ampun, mendapatkan kesenangan dari menyakiti,
Bahkan ia tidak sadar pisau belati masih menancap pada bahunya, kanan-kiri-kanan-kiri, tinjunya menghujam silih berganti.
Hingga kepalan kuat itu berlumuran darah seketika.
Lawannya cidera amat parah.

“Hentikan itu, Bocah Yandere,” Kakak mendekat, meraup Tasuku kedalam rangkulannya, “Sudah berhenti, dia sudah pingsan,” Tegurnya sekali lagi.
Entah mengapa, aku merasa keberadaan kakak seperti menekan energi negatif yang keluar melalui Tasuku.
Begitu hangat, seperti kasih seorang Ibu kepada anaknya.
Tasuku meronta ronta masih ingin melanjutkan, kakaknya memeganginya sangat kuat sampai ia tersadar.

“Kakak…?”

Wajah orang yang kucintai kembali lagi,
Polos, damai, penuh kedamaian, serta kelelahan yang teramat sangat,
Ia pastilah sangat jarang mengeluarkan emosinya sampai seperti itu…

“Tanganmu,” Kak Ari mengingatkan, tidak menyinggung sedikitpun tentang peristiwa barusan, malahan ia biasa saja menanggapinya seperti tidak terjadi apa apa.

“Ouch,” Tasuku menggeleng ketika kakak berniat mencabut belati yang tertancap dilengannya.
Ia menatapku cemas, seperti takut aku akan jijik, atau apa.

“A-akan kulakukan sendiri,” katanya, berjalan kekamar,
Aku berinisiatif mengikuti, Tasuku berteriak keras sekali sambil memegangi bahunya, “Stop!”

Aku terhenti ditempat, apapun yang ingin kulakukan, ia berhasil menghentikan niatku.

Tasuku berbalik, senyumnya secerah matahari mengirisku, lembut dan berusaha kelihatan baik baik saja, bertolak belakang dengan kenyataan yang baru saja kulihat.

“Tidak apa apa, kurang baik jika dilihat wanita, melihatku menjerit kesakitan saat terluka berbeda dengan membedah mayat yang tidak bisa merasakan apa apa,” jelasnya melarangku, “Aku bisa melakukannya sendiri, tenang saja.”

Ia masuk kekamar dan menutup tirainya, meninggalkanku berdua saja dengan kak Ari.
Kakak berdiri dan mengambil tali tambang didalam lemari,
Apa yang telah kualami bersama mereka berdua merupakan pengalaman baru bagiku, tidak tahu harus bereaksi seperti apa,
Sambil tak bisa berhenti memikirkan Tasuku, Aku melirik lirik melihat apa apa yang dikerjakan kak Ari.


“Kurasa tidak ada pilihan lain kan?” Usulnya cuek “Kita harus mengamankan mereka ini dulu”



+++++
 
Ari.

___________________
________________



“Aku sudah menghubungi polisi,” Daina menutup sambungan telepon ditangannya, harap harap cemas, aku bertanya dalam hati mengapa ekspresi wajahnya terlihat khawatir sekali, Waktu sudah menunjukkan bahwa malam telah larut, Daina menggeleng, “Tidak ada yang mengangkat…”

“Padahal tadi kupikir paling bagus jika Daina yang penduduk asli daerah ini menghubungi mereka,” Saranku mengurut dagu, “Baiklah, aku akan kembali ke tempat mereka meletakkan kargonya,”

Kali ini aku akan benar benar, memusnahkannya.
Tapi aku harus berada disana dulu, untuk memastikan bahwa tidak ada serpihan Undead yang lolos.

Daina menarik lengan jaket kulitku, “Kakak tidak apa apa sendirian?”

Aku menggelengkan kepala. “Tak apa apa kan?” Kataku renyah, “Lagipula… Aku yang harus melakukan ini, aku lebih baik melakukannya sendiri.”

Daina tidak membantahku lagi, Ia masih menampakkan wajah cemas.
Ah, seperti istri yang mencemaskan suaminya yang akan pergi berperang?
Wah wah, Aku jadi merasa ge-er sendiri atas reaksinya.

“Bulat, kau beritahu penduduk desa,” Perintahku, “Amankan mereka… kita tidak akan tahu ada apa sebenarnya, bersikap waspada tidak ada salahnya.”
Dan aku hanya sendirian, hampir 80% dipastikan prajurit bayaran yang bergerak sendiri rawan akan kegagalan,
Apalagi pada situasi tak dapat ditebak seperti sekarang.

Daina mengangguk mendengarkan, “Kau dengar aku, bulat? Tapi jika seandainya ada sesuatu yang membuat desa terkepung, kau tetap diam disana saja, aku sudah memasang sistem pengaman skala kecil dan harusnya tidak apa apa, dinding itu cukup kuat untuk tempat berlindung sementara,”
Walau dari jenis paling rentan untuk dihancurkan, aku ragu dapat bertahan lama seandainya terjadi sesuatu, tapi aku akan memusnahkan kargo itu segera,sampai saat itu kurasa tidak akan ada sesuatu yang buruk…

Tasuku benar, ini seharusnya bukan tugasku, tugasku hanyalah mengendalikan keadaan kalau memang sesuatu sudah telanjur terjadi.
Biasanya kami bergerak dalam tim dan membentuk kerjasama dengan berbagai pihak, bukan malah terpuruk sendirian begini...

Hal hal timpang begini dari awal tidak seharusnya kuterima,

Tapi sekarang lain.
Tidak boleh ada sesuatu apapun yang terjadi, tidak kepada Daina…
Aku jadi merasa sok penting sendiri.
Gadis itu masih termenung, memikirkan sesuatu, matanya tak lepas dari kamar tidurku yang tertutup gorden, disana Tasuku pasti sedang menjahit lukanya sendiri, menahan sakit.
Ia memikirkan adikku, mereka berteman.
Dalam hati aku senang, teringat lagi pada adik perempuan kami yang seharusnya terlahir.
Jika kami sungguh memiliki seorang adik perempuan, akankah begini rasanya?
Perasaan apa ini? Memiliki Daina dan Tasuku disisiku, aku merasa lengkap.

“Dan tentang Tasuku tadi, jangan diambil hati ya?” Kutepuk bahu gadis impianku, yang sontak menatapku keheranan, sorot bertanya tanya mengapa aku bisa mengerti pikirannya.

“Ya, Dia memang seperti itu, suka menahan perasaannya, makanya kalau dia sudah pada batasnya, ia suka lupa diri, sebagian dirinya tenang tetapi sebagian lainnya cenderung destruktif dan ambisius, dia tidak suka kalah. Tapi percayalah, dia bukan anak yang kasar.”

Ya, karena didalam diri setiap orang, pasti memiliki sisi rahasia.
Begitu pula Tasuku yang sedang dalam masa pencarian jati diri...

Mata Daina bergerak sayu, lalu ia mengangguk lemah.
Kuelus pundak dan naik kepipinya, mendekatkan wajahku dengan wajahnya,
Gadis yang tak mengerti apa apa itu tidak menolaknya sama sekali.

“Kau pergi sekarang?” Tasuku tiba-tiba keluar kamar, bahu dan lengannya terbalut perban rapih, ia sedang memakai bajunya kembali, ekspresinya acuh tak acuh, membatalkan niatku mencium Daina.
Aku hanya tertawa kecil, seperti sudah diskenariokan saja, kelihatannya aku memang harus bersabar.
Daina kembali menunduk seperti tak terjadi apa apa, karena ia memang tidak memiliki kemampuan berpikir sampai kesana.

“Aku akan mengantar Daina pulang dulu, memberitahu situasinya, kemudian, ya, aku akan kembali mengurus kargonya, apapun yang ada didalam sana harus dimusnahkan.”

Kulirik Daina, tidak ada respon, Tasuku juga sama, “Kau tidak ingin ikut?” Tawarku pada Tasuku, “Ke desa Daina saja dulu, aku akan memasang sistem pengaman level satu, mungkin tidak sekuat yang dimiliki pemerintah tapi lumayan untuk saat terdesak sementara.”

“Tidak.” Bantah adikku tegas, “Aku akan disini saja, menunggumu, aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Kuhela nafas berat, tidak bisa berdebat dengannya…

“Blokade semua pintu dan jendela, jika terjadi sesuatu apapun yang kau butuhkan untuk melindungi diri ada dibawah kolong tempat tidur,”

Kami sudah terbiasa kan? Hidup seperti ini,
Daina menunjukkan gelagat seperti ingin bicara sesuatu pada Tasuku, tapi adikku malah menghindarinya begitu saja, masuk lagi kedalam kamar.
Tasuku selalu begitu, pastilah dalam hati ia juga merasa malu serta tidak enak.

Ia terbiasa memperlihatkan ‘sisi baik’ miliknya saja didepan semua orang, dan ia selalu merasa bahwa orang mau berteman dengannya hanya karena hal itu.

Ia pasti sangat benci pada dirinya sendiri kenapa sampai harus kehilangan kendali didepan Daina.

Teman yang benar benar teman bagi Tasuku adalah hal yang amat jarang.
Ia hanya melihatku, selama ini.
Adikku yang berputar dengan aku sebagai porosnya.

Hah, sungguh, kadang aku begitu ingin tertawa jika mengingat bahwa Tasuku benar benar tidak punya teman.

Bukankah kau juga tak punya teman, Ar?

Aku juga sama saja.




++++
 
Last edited:
Daina.

__________________________
______________________



Beberapa jam kemudian.


________________________________
____________________________



Kulihat Ibuku sudah bersiap siap untuk pergi, ibuku mengepak beberapa barang penting.
“Sudah selesai, Daina? Barang apa yang ingin kau bawa?”

Aku menggeleng, tidak ada apapun lagi rasanya, aku tidak ingin membawa apapun,
Resah sambil menanti, semua warga sudah berkumpul di balai desa, kakak benar, tidak ada satupun dari turis mencurigakan itu menampakkan batang hidungnya, bahkan meskipun seluruh penghuni desa sudah dikumpulkan disini, Entah dimana mereka bersembunyi.

Kakak melarang siapapun mendekati kargo walau berita tentang ini sudah menyebar luas, benar, itu tugasnya, karena inilah ia disebut prajurit bayaran, karena hanya ia yang mampu mengatasi.

Kugenggam erat tangan ibuku, yang tak kalah khawatirnya,
Bagaimana kalau kata kata kakak benar? Bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada desa kami? Mengapa ada orang yang begitu tega menghancurkan kedamaian disini?

Terpaku, aku tidak mampu berkata kata,

“Ayah bagaimana?” Bisikku pada ibu, ibuku tersenyum lemah, menjawab bahwa ayah masih ada dirumah, kondisinya tidak memungkinkan untuk dibawa kemari, menghela nafas, kusadari bahwa kondisi sebenarnya memanglah lebih buruk dari yang terlihat…

Tetua desa dengan beberapa orang laki laki membicarakan hal hal yang tak kumengerti.
“Anak anak dan wanita mundur kebelakang,” Tetua memberitahu, “Kita sudah diberitahu jika ada sesuatu yang akan terjadi,” Kemudian ia dan para lelaki lain menyeret beberapa buah peti besar, mataku terbelalak saat mereka membukanya, senjata api dengan berbagai ukuran.
“Sudah dibawa semua?” Pak kepala desa bertanya kepada para pria lain yang masing masing berbadan tegap serta kelihatan cukup kuat untuk bertarung mempertahankan diri,
Para lelaki itu mengangguk mengiyakan, mereka membagi bagikan senjata satu sama lain.

'Persiapan' yang dimaksud kakak... Ternyata ini.

“Daina…” Kurasakan tanganku diremas sangat kuat,
Aku mencoba menenangkan, “Tak apa bu,” berusaha biasa saja walau hatiku diliputi sejuta kecemasan.

“Bagaimana dengan Aryanov Gabriel?” Terdengar pertanyaan dari beberapa orang,

“Sesuai kewajibannya, digaris depan,”

Aku terdiam, di garis depan seorang diri?
Oh tapi kakak… sudah terbiasa dengan ini yah,
Kugenggam baju bagian dadaku erat erat, ini pekerjaannya kan…

Dadaku berdebar sangat cepat entah karena apa.

“Waaaa!” Rasanya jantungku jatuh kebawah kaki begitu mendengar teriakan demi teriakan membahana.
Refleks aku melihat kesekitar, orang orang didesaku berkumpul disatu titik, semua dalam keadaan ketakutan.

Bayangan bayangan sosok sosok berjalan tertatih kearah desa kami terlihat.

“Siapa itu?” Teriak kepala desa lantang,

Tidak ada jawaban, maka kami mengarahkan penerangan kearah sosok sosok itu.

Lalu detik berikutnya para wanita serta anak anak berteriak ketakutan.

Itu adalah wajah paling mengerikan yang pernah kulihat sebelumnya.
Bola Matanya nyaris keluar dan tergantung dari rongga penglihatan.
Seluruh wajah dipenuhi darah, sementara bau busuk mayat menyengat sampai kehidungku.

Ibuku gemetar dipelukanku, saat para tetua desa menembaki makhluk itu dari jauh.

Itu Undead, dan baru pertama kali aku melihatnya secara langsung.
Mereka jatuh, atau sebut saja, mati.
Tapi tak menutup kemungkinan jika masih ada yang lainnya.

Disaat bersamaan, nyala membara diudara membuat langit menjadi merah.
Itu kakak… Itu tanda darinya,

Seperti yang ia katakan, jika ia memberikan tanda, berarti sesuatu yang buruk terjadi.

Dadaku berdetak kencang.
Bunyi bunyian tidak terdengar lagi,

Ada!
Zombie lain tiba tiba saja muncul,

Lalu tembakan dilancarkan, satu dua, ketiga makhluk itu roboh dengan peluru bersarang dikepala mereka.
Aku memikirkan… entah apa.

Apakah banyak? Terus terang Daina baru sekali ini melihat serangan langsung…
Pikiranku berputar antara kegelisahan dan takut.

Aku memikirkannya.

Ia saat ini sendirian… Tasuku.

Ia masih dipondok itu.
Ia mungkin sama berpengalamannya dengan kakaknya dalam menghadapi invasi, tapi…
Aku bersembunyi dibalik punggung ibuku, suara tembakan masih terdengar, seram, seram sekali, aku tidak ingin melihat atau mendengar apapun.

Tasuku tadi juga menakutkan, Berbeda dengan apa yang kubayangkan selama ini tentangnya,
Inikah yang dinamakan kehidupan luar?
Aku tidak tahu, aku tidak kuat,
Semua tidak seperti yang selama ini terlihat…
Hanya pada saat saat terdesak, manusia memperlihatkan sifat sifat asli mereka.
Tangisanku mengalir tanpa suara.

Takut!

Padahal beberapa jam lalu aku baru saja membedah mayat bersama Tasuku, tapi Undead aslinya, yang bergerak liar dan benar benar didepan matamu, amat lain.
Rasanya seperti jarak neraka hanya dua sentimeter diatas kepalamu.

Padahal ada orang sebanyak ini disekitarku, dan aku masih tetap takut?
Bagaimana dengan Tasuku? Ia sendirian…

Aku tersentak.

Ia sendirian disana.
Tasuku sendirian!

Apa yang dikatakan kakak tadi? Apa aku mendengarkan?
Tasuku selalu menahan perasaannya, bertindak seolah olah ia punya kesabaran tanpa batas dan tanpa emosi.

Apa selama ini ia memberitahuku?

Apa Tasuku... sudah mencoba memberitahuku?
Apa aku bahkan sudah menyadari?


++++
 
Tasuku.

__________________
_____________


Sudah terjadi.
Aku memeluk lutut diatas tempat tidur.
Bunyi letusan diudara, tanda yang diberikan kakak.

Invasi.

Selalu seperti ini, pada akhirnya aku selalu menjadi pihak yang menunggu.
Aku lebih nyaman begini, melatih kesabaran menjalani sesuatu yang kata orang merupakan pekerjaan paling menyebalkan.
Kakakku akan baik baik saja, ia akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali kemari,

Daina membenciku, pastinya.
Ia takkan mau lagi menjadi temanku.
Ah, mulai lagi, aku senang mengali-ngalikan berbagai kemungkinan, padahal jelas jelas diluar kekuasaanku, aku sok menebak nebak.
Hey, aku hanya bicara berdasarkan pengalaman, Biasanya selalu begitu, orang tertarik kepadaku hanya karena sisi baikku, pada akhirnya saat mereka menyadari warnaku sesungguhnya, mereka kecewa, dan mereka pergi.

Aneh, padahal aku yang pada awalnya menolak berhubungan lebih dalam dengan orang lain.
Tapi disisi lain, justru aku menjadi yang paling takut ditinggalkan.
Ini perasaan manusiawi, seandainya bisa, aku memang ingin membina hubungan sebaik mungkin dengan orang banyak.
Walau tidak dekat, yang penting hubungannya baik.
Mudah sekali, bukan?

Aku tidak perlu dipahami, biar aku yang memahami mereka.

Atau sederhananya,
Memang tidak ada yang memahamiku, aku hanya punya kakak dan menuntut agar kakak selalu berada disisiku adalah tindakan paling kekanakan yang pernah kupikirkan.

Kakak sudah melakukan segalanya untukku… Kurang apalagi?

Celakanya, baru kusadari belakangan, aku membuka hatiku pada Daina.
Aku marah, ketika melihatnya disakiti, aku marah luar biasa.
Daina, temanku satu satunya…

Tidak keren sama sekali, padahal awalnya akulah yang berkata pada Daina agar tidak usah terbawa perasaan,
Nyatanya pada saat seperti sekarang ini, yang paling emosional adalah aku sendiri.

Kakakku tidak berkata apa apa tapi pastilah ia juga pusing dengan sikapku.
Egois ya? Aku bocah.


Ingin tahu perasaanku sebenarnya?
Aku kesepian, Puas?
Amat sangat kesepian....


+++
 
Daina.

________________________
_____________________



Tasuku kesepian.

Selama ini, ia amat kesepian.
Matanya, mata itu.

Ia menanggung segalanya seorang diri, menolak merepotkan siapa siapa,
Merasa segan pada kakaknya sendiri karena sudah terlalu banyak bergantung sekaligus mencintai dan menuntut agar diberikan waktu lebih banyak.
Ia berbeda denganku, aku hanya anak bahagia yang hidup didunia damai, jauh dari peperangan.
Penderitaannya dan kak Ari tidak bisa dibandingkan denganku.
Apa keluhanku setiap hari?
Capek bantu Ibu? Malas bangun pagi?

Tingkatan 'Penderitaan' kami amat sangat jauh.

Ia tidak punya orang tua yang bisa memperhatikannya.
Ia hanya punya kakak yang kendatipun meletakkan ia diatas segala galanya, tetap tidak bisa bersamanya setiap saat, ia menanggung beban tidak bisa mendekat kepada orang lain ataupun didekati, hanya berbicara penuh sopan santun dan lemah lembut karena takut mengecewakan sebab dirinya tidak sesempurna yang dikira.

Ia terbiasa diperlakukan baik setelah memberikan sesuatu.
Demi sebutan 'Anak baik', banyak yang ia korbankan.
Sepintar apapun, tidak ada satu sudutpun didunia yang bersedia menerima anak sombong berkelakuan buruk.
Karenanya ia menahan diri, menjadi sesuatu yang bukan dia.
Ia perlu seseorang yang mau berada disisinya, melihatnya sebagaimana adanya dia, mengulurkan tangan padanya karena ia juga menginginkan bantuan, sama seperti orang lain, walau sekilas ia selalu terlihat tegar.


Tasuku kesepian.


Aku bangkit dari dudukku, Teguh dan menghapus air mata.
Ibuku bertanya kebingungan.

“Daina? Kau mau kemana?”

Kuambil sebuah sepucuk pistol dari tempat penyimpanan senjata,
Aku sempat tahu cara menggunakannya dari kak Ari...
Aku mungkin tidak ahli menembak, tapi setidaknya ada sesuatu untukku melindungi diri.



“Ibu,” Seruku, “Aku akan segera kembali, ada sesuatu yang harus kulakukan.”


Ada sesuatu yang harus kulakukan...

++++
 
Ari.


____________________
________________



Selesai sudah, keadaan darurat sudah kulaporkan,
Mereka pasti menangkap sinyalnya dan berhati hati, aku harus segera kembali ke desa.
Mempertahankan sampai –setidaknya- Paladin datang.
Tadinya aku berniat meledakkan saja kargo itu sekaligus, apapun yang ada didalam sana, harus dimusnahkan.
Tapi ternyata jalannya tidak semulus dugaanku.

Karena begitu aku sampai disini, kargo mereka sudah kosong,
Ya, dalam keadaan terbuka dan kosong.

Bagaimana mungkin....
Bukankah aku sudah memasang peledak? Seharusnya mereka berpikir seratus kali sebelum...

Ah?
Kupandangi bekas kehitaman tempat dimana aku semula meletakkan bomnya.

Dilepas... Seharusnya hanya aku yang bisa melakukan itu...
Siapa yang...?

Panik, aku berusaha mencari jejak petunjuk.
Siapapun dia yang telah menggagalkan rencanaku, pasti orang yang jenius sekali.
Mungkin sekelas Tasuku?

Ingatanku melayang pada lelaki berambut pirang gondrong dengan topi tinggi dan setelan jas resmi itu.
Masa' sih dia yang...

Aku menemukan bercak darah disekitar peti kemas, kelihatannya mereka mencoba memindahkan barangnya malam ini juga, tapi terjadi kecelakaan dan…

Haha, menggunakan Undead untuk tujuan tertentu hanya bisa mengundang malapetaka, orang orang itu juga pasti sudah mati sekarang.
Terlalu banyak bekas darah berceceran.
Bahkan diatas dedaunan kering yang kuinjak,
Rasa penasaranku terjawab begitu aku melangkah kebagian belakang peti kemas, potongan potongan tubuh tak berbentuk berserakan dimana mana, setengahnya lagi, seperti diseret seret.
Kau takkan tahu kesulitan macam apa yang akan ditimpakan makhluk terkutuk itu padamu.

“Graaakhh!”

Aku tersenyum, sudah datang, ya?
Sekarang saja aku sudah dikelilingi makhluk itu.
Banyak sekali, beberapa diantara mereka kukenali sebagai anak buah kapal si topi,
Benar saja dugaanku, pasti terjadi kecelakaan saat mereka berupaya memindahkan barang.

“Kita main main sebentar, ya?” Tanyaku mengepalkan tinju,
Kelihatannya aku tidak bisa segera tiba tepat waktu.
Musuh sebanyak ini, dan lagi mereka Undead, aku tidak bisa sembarangan sampai terluka.


Maaf Tasuku, Daina,
Bersabarlah sebentar lagi, bersabarlah sampai aku datang.

+++
 
Last edited:
Tasuku.

_______________________
_____________________



Lama sekali, harusnya sudah selesai.
Lagi lagi aku termenung, suara suara makhluk itu berlalu lalang jelas terdengar, tapi mereka tidak bisa masuk karena aku sudah memaku jendela dengan palang palang kayu, mengunci pintu dan membuat barikade penghalang,
Sementara opsir opsir korup yang baru saja dikalahkan kakakku terikat kuat menggunakan tali tambang, pada tunggul rumah diruang tengah.
Aku tidak peduli, aku hanya perlu duduk dan bersabar saja.
Menunggu sampai kakakku kembali.

Lama, lama sekali, aku bosan disini.

Apakah kira kira ada seseorang yang datang untukku?
Tidak mungkin, aku selalu dilupakan.
Ya, tidak akan ada yang mencintaiku sebesar itu kan?
Sebesar cinta kakak padaku…

Daina juga sudah melihat sisi kasarku, Dia pasti ketakutan,
Tidak mungkin ia datang lagi kesini,
Tidak mungkin, tapi…

Apa aku mengharapkannya?

Yang benar saja, aku? Mengharapkan seseorang?

Aku tidak pernah mengharapkan seseorang untuk datang, tidak, kecuali kakakku,
Tidak akan ada yang menungguku didunia ini, tidak akan ada yang mencintaiku seperti kakak, tak akan pernah ada…

Apapun itu, termasuk cinta gadis itu padaku, semuanya pasti hanya semu belaka,
Ia akan bosan, ia akan pergi, Ia hanya terbawa perasaan sesaat karena fisik dan kelebihan luarku yang menyamai keindahan konsep dambaannya sebagai pangeran yang akan ia jadikan pasangan.

Pada saat seperti ini, tentu saja ia akan lebih mementingkan hal lain yang menjadi prioritasnya, bukan malah memikirkan aku.
Pasti, pasti begitu.
Sama seperti gadis gadis lainnya yang menaruh hati padaku.
Semuanya sama, sama saja…

Hanya kakak yang benar benar mencintaiku didunia ini, hanya kakak.


Hanya kakak saja...




Tasuku…!



Aku tersentak,
Suara seseorang terdengar memanggil manggil namaku dari balik pintu.
“Tasuku, buka pintunya! Tasuku!”

Daina menjerit, suara tembakan dibunyikan dua kali, lalu gadis itu menggedor pintu rumah lagi,
Tak percaya, aku menajamkan pendengaranku,
Masa iya?! Mustahil!

“Tasuku! Cepat! Mereka akan menangkapku!” Teriak Daina panik, dari balik pintu,

Seperti terhipnotis, Aku langsung melompat dari tempatku duduk semula, secepat kilat menyambar balok balok kayu yang memblokir akses masuk dari dalam.
Terburu buru membuka pintu.

Aku tidak peduli kalaupun ini adalah Ilusi, aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri.

Daina melompat kedalam pelukanku, memagut erat sekali begitu pintu terbuka,
Saat tahu bahwa ini nyata, waktu seakan berhenti, atau berjalan amat lambat.
Aroma tubuhnya, sentuhannya yang memenuhi urat syarafku, kelembutannya.
Semuanya nyata.

“Tidak mungkin…” Gumamku samar.

Daina menyembunyikan tangisnya didadaku, aku tersadar melihat dua tiga ekor Zombie sedang berusaha menaiki tangga pondokan, sementara dua lainnya terkapar tepat didepan pintu dengan lubang bekas tembakan pada kepala.

Daina punya pistol mungil ditangannya, cepat cepat kuraih pistol itu, dalam keadaan Daina masih berada dalam dekapanku, aku menembaki kepala mayat mayat berjalan itu hingga dua diantaranya jatuh kebawah dan salah satunya merosot begitu saja pada anak tangga.

“Maaf sebentar,” Kulepaskan diriku dari pagutan Daina, membetulkan palang palang barikade pintu dan menutupnya kembali,

Daina menarik lengan bajuku, baru saja aku berbalik, ia kembali menyelusup kedalam dadaku saat aku berbalik kearahnya, ia gemetar ketakutan, dan masih saja, ia nekat kesini?
Gila sekali.
Hanya demi aku?

“Maaf, tolong Daina jangan menangis seperti itu, aku jadi tidak tahu harus berbuat apa...” kucoba menghiburnya dengan amat sopan, hati wanita memang susah sekali ditebak, gadis itu memegangiku erat erat seperti tidak mau melepaskan, setengah terisak, ia berkata :

“Mau sepintar apapun, Jenius IQ 200, Tetap saja anak yang rindu orangtuanya, Kau itu hanya pemuda biasa, anak biasa sama sepertiku,” tangisnya, “Jangan sok kuat!”

Aku ditarik kuat sekali, tak kuasa, begitu lemah dan tanpa harapan.
Selemah ini, tapi masih bersedia menempuh bahaya mempertaruhkan nyawanya demi mencariku?

“Keluargamu bagaimana?” Seperti mengetes, aku menanyainya hal hal yang menurutku lebih penting untuk ia pikirkan.

“Sudah didalam perlindungan dinding nano...” Jawabnya pelan,

“Kau tidak ingin bersama mereka? Maksudku, ini saat saat gentingmu…”
Daina mendongakkan kepalanya melihat langsung kedalam mataku.
Ia berkata memohon,

“Tapi Tasuku nanti sendirian…” dicengkeramnya baju bagian dadaku, Ia terisak melanjutkan, “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi…”

Aku melongo tak percaya, mendengar alasannya yang begitu kekanak kanakan,
Tapi, ya, ia membaca pikiranku dengan sempurna.
Kami ini sama... ia yang mengatakan begitu,
Anak biasa, sama sepertinya.
Aku sama sekali tidak pernah merasa diriku istimewa, aku haus diperlakukan apa adanya, dan ia memberikannya padaku.
Pertama kalinya dalam hidupku,
Aku memang merasa begitu sendirian, begitu tanpa harapan…

"Aku tidak memalsukan," Bantahku, tak peduli apakah Daina paham ataukah tidak,
Lagi lagi diluar dugaanku, gadis manis dipelukanku berkata lirih,

"Kau tidak memalsukan, tapi kau menyembunyikan, begitu banyak hal yang kau sembunyikan..."

Aku hanya bisa terdiam mendengar kata kata Daina, sejak kapan...?

Sambil tersenyum tipis, kuperiksa wajah, leher, dan tubuh Daina sehati hati mungkin, menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan, gadis itu membiarkanku,
Aku memilih tidak menanggapi celutukannya, seperti biasa.

“Kau tidak terluka kan? Mereka tidak menggigitmu?” Tanyaku cemas.

Daina menggeleng lemah, aku menarik nafas lega.
Kupeluk gadis kecil pemberani itu.
Seerat yang aku mampu.
Amat berterima kasih, ia telah memilihku, dan aku telah dipilih olehnya.
Aku merasa sangat bangga, sangat bangga sekaligus tersanjung, diperlakukan seperti ini oleh seorang wanita.

Tubuh Daina terasa panas, selayaknya anak anak, begitu hangat.
Memang hanya suhu tersebut yang ia punya.
Ia hanya punya kehangatan didalam dirinya.
Dan kehangatan itulah yang sedang menyentuhku sekarang.

Suara keras terdengar, baik aku maupun Daina sama sama terlonjak,
Sepotong tangan dengan kuku kuku besar menembus palang palang barikade yang kupasang dipintu.
Cakar itu meretakkan kayu kayu tebal hingga terkoyak bagaikan bubur kertas.

Kulindungi Daina dengan tubuhku sendiri,berdebar menanti.
Wajah dan rambut berwarna pucat yang kukenali sebagai lelaki bertopi tinggi mirip Dr.Jekyll itu muncul begitu saja, matanya merah sekali.

Ia meraih kunci terakhir yang terpasang dibagian tengah pintu bagian dalam, memutarnya dengan mudah.
Pintu menjeblak terbuka, monster itu masuk begitu saja.

Menggunakan pistol ditanganku, aku menembaknya, tapi ia menghalangi peluru itu menggunakan sebelah tangannya yang bermutasi, begitu cepat dan akurat.

“Bawa… kemari… obatnya…” Ia berkata serak, aku menyipitkan mata tak mengerti.
Kulihat ada luka cukup besar pada bagian lengannya,
Ia belum bermutasi semua, mungkin sebentar lagi, karena baru separuh tubuhnya saja yang berubah, tetap saja dilihat dari keadaannya, sepertinya ia cukup pintar untuk menjadi Undead sejenis Vampir, masuk akal juga, ia selalu terlihat paling tenang dan berjiwa pemimpin diantara teman temannya, ia pastilah orang yang sangat pintar.
Tapi, kalau mau jujur, Undead jenis apapun, bahkan dari golongan yang terbaik, tetap saja tidak ada manusia yang sudi menjadi Undead, bukan?

“Kau membuat obat penawar virus ini bukan?” Ia menggelegar marah. “Berikan padaku sekarang!”

Aku tertegun, obatnya… maksudnya…?

“Itu belum selesai,” Ujarku sengit, “Aku tidak tahu akan berakibat apa jika diujicoba pada pada manusia…”

“Berikan padaku!”
Ia berteriak dan mendekat padaku, memikirkan Daina yang sedang bersamaku, serta mengkalkulasi adanya kemungkinan kami tidak akan bisa bertahan jika aku terus keras kepala.

Aku menyerah,

“Baik, baik!” Teriakku akhirnya, langkah monster itu terhenti beberapa jarak didepan kami.

Daina memegangi punggungku, Wajah seram lelaki itu membuat kegilaan semakin menjadi-jadi. “A-ada didalam, Diatas meja,” aku memberitahunya sambil melirik kearah kamar tidur, “Kau ambillah sendiri,”

Dalam hati aku sendiri penasaran apa jadinya jika obat buatanku yang belum sepenuhnya selesai itu diujicoba pada manusia.
Aku menunggu didepan kamar, lelaki itu berjalan tertatih tatih, hanya ada dua tiga ampul serum dengan warna sama tergeletak diatas meja kerja kak Ari, itulah dia.
Lelaki itu memberantakkan meja seenaknya, mencari cari jarum suntik yang akhirnya ia temukan dilaci.
Tergesa gesa ia mengisi suntikan itu dengan cairan serum buatanku, menginjeksikan pada dirinya sendiri.

“Aku datang kemari untuk menjadi kaya,” ia terduduk diatas kursi kayu itu, tersandar kelelahan. “Aku berpikir tadinya rencana ini sudah sangat matang, tapi ternyata si bodoh itu menghilangkan kuncinya,” aku tidak tahu ia menyebut siapa dengan panggilan ‘si bodoh’ tapi itu pastilah anak buahnya. “Kami membukanya secara paksa malam ini juga karena mendengar berita darurat dari…” ia melirik opsir dan anak buahnya yang lain yang terikat diruang tengahku.
“Tapi tak disangka, benar benar tak disangka, mereka keluar dari sana dalam keadaan kelaparan yang sangat, kami kekurangan jumlah untuk mengatasinya…”

Senjata saja tidak akan cukup, kakakku selalu berkata perlu mental baja untuk menghadapi mayat mayat berjalan itu, orang ini jenius, dengan rencananya yang gila saja sudah menunjukkan bahwa ia bukanlah orang sembarangan, tapi…

Teorinya tidak semudah kenyataan.

"Padahal aku sudah menjinakkan bom itu..."

Aku tidak paham apa saja yang ia keluhkan,
Betapa mudahnya aku mencela, kenyataannya ketidakmampuanku membuat vaksin itu segera juga merupakan pembuktian, bahwa Teori dan kenyataan itu dua hal yang berbeda.

Ia melirik tangan kirinya.
Mataku membelalak melihat hasilnya, bengkak dan mutasi yang terjadi perlahan lahan mengecil begitu saja,

Apakah aku berhasil?

“Kelihatannya penelitian hebatmu membuahkan hasil,” Pujinya gembira, melihat perubahan pada mutasinya yang sekilas kelihatannya membaik.
Aku menatap tegang.
Sementara Daina menarik lengan kemejaku semakin kuat.

“Siapa namamu, nak?” Tanyanya, aneh, ia seperti habis dibius, seakan akan ia berusaha bicara terus supaya tetap sadar.

“TsaraniaKova Gabriel,” Jawabku tegas, merasakan bagian lenganku dipeluk kencang oleh Daina,

“Gabriel,” Lelaki itu tertawa, “Nama keluarga yang unik, seperti nama pembawa pesan dari Tuhan.”

Aku tidak menyahut, berikutnya pria itu berkata menyebutkan namanya, “Aku Balthazar Miguel, senang berkenalan denganmu, maaf keadaannya jadi seperti ini…”

Detik itu juga ia terjatuh dari kursi, Daina menjerit tertahan.

Tubuh lelaki itu sangat mengerikan, muncul tonjolan tonjolan mengerikan disekujur kulitnya,
Seakan ada kehidupan lain yang ingin melepaskan diri dari dalam sana.
Pria itu menggeliat seperti cacing kepanasan, menahan sakit yang amat sangat.
Lalu tulang tulang mengerikan keluar dari balik punggungnya.
Darah membanjir kemana mana membasahi lantai kamar.

Alih-alih tampan dan rupawan seperti gambaran tentang manusia yang tubuhnya cocok sebagai Inang virus Undead, ia malah perlahan lahan berubah menjadi monster.

“Lari,” Ujarku menarik Daina, “Kita lari, keluar dari tempat ini,”

Daina mengangguk mengiyakan, kusambar sekotak peluru didekat tempat tidur kakakku sementara lelaki itu masih menggelepar.


Daina akan mengikutiku kemanapun.
Tugasku membuatnya tetap aman.
Bahkan di Neraka sekalipun.


-
-
-
-


Kami berdua berlari menembus kedalaman hutan, tanganku terpaut pada tangan Daina, nafas kami saling bersahutan satu sama lain,
Lari, lari sejauh jauhnya.

Mengapa aku masih tidak bisa menemukan formula yang tepat? Kutukku dalam hati.
Melihat reaksi yang terjadi pada lelaki barusan.
Obat yang kubuat, yang seharusnya bisa menanggulangi minimal gejala infeksi awal…
Apanya yang salah?!
Apa?!
Kami sudah berada cukup dekat dengan desa.
Seharusnya kalau melewati jalan setapak ini, bisa segera sampai.

Graaa….” Jeritan serak menggema disekeliling kami, aku mengalihkan pandanganku kesekitar.

Sudah terkepung!

Aku tidak menyangka secepat ini, apalagi mereka lamban begitu, seharusnya tak terkejar.
Hanya ada satu kemungkinan jika sampai terlacak begini, berarti jumlah mereka sangat banyak!

Aku cepat cepat menarik Daina kebelakang tubuhku, menutupi,
Jalan masuk kedesa masih clear.
Tapi dibelakang kami mereka mulai berdatangan!

Daina sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menjemputku… mengulurkan tangannya padaku.
Hanya ia yang pertama kali melakukan itu, selama ini aku hanya punya kakak, hanya melihat kakak…
Sekarang, untuk pertama kali aku melihat Daina sebagai suatu bentuk eksistensi yang berbeda, sama kuat tapi tidak mirip kakak,
Beda dengan kakak, tidak sama.
Tapi...
Membuatku merasa bisa.

Dan aku harus melindunginya.

“Kau pergilah duluan,” ujarku pada Daina, Gadis itu bersiap membantahku, tapi aku sudah mengantisipasi langkahnya terlebih dahulu, “Aku akan menyusulmu dibelakang, jika aku tidak kelihatan juga dalam 15 menit, terserah kau saja apakah ingin kembali kemari,” Aku berucap bukan tanpa alasan, aku yakin tidak apa apa, aku sudah terbiasa dengan Undead.
Kuncinya adalah jangan takut ataupun ragu, karena mereka lamban, itulah yang kakakku ajarkan,
Sungguh tak terbayangkan jika makhluk seperti ini memiliki kecepatan,
Pasti akan sangat mengerikan.
Untung saja sang Deathmaster Stast the origin belum menemukan formula untuk mempercepat pergerakan Zombie, jika tidak pasti…

Aku menembak Zombie yang bergerak paling depan, kena tepat dikepala dan langsung memutuskan sambungan urat syarafnya,
Daina setengah berlari kearah desanya, ia berhenti sesaat, melihat kearahku.

“Jangan berpaling!” Seruku mengingatkan. “Terus saja jalan! Aku dibelakangmu!”

Cih, gara gara bicara pada Daina, tembakanku meleset.

Aku mencobanya sekali lagi dan syukurlah kali ini aku tepat mengenai sasaran, kakakku benar, aku harus latihan lagi…

Daina sudah tak terlihat.

Aku bisa menembak dengan leluasa, mundur untuk mengisi peluru, kemudian menembak lagi.
Aku hanya mengincar Zombie yang berada dekat denganku, syukurlah tidak ada yang datang dari arah belakang, jika tidak aku pasti kewalahan, aku sudah menghentikan sekiranya 10 ekor,
Bagus, sekarang Daina pasti sudah sampai dengan selamat di desanya,
Mereka sudah mengaktifkan dinding nano itu kan?
Sekarang waktunya aku untuk menyusul Daina, Undead undead tidak akan bisa masuk sekarang.
Peluruku juga hampir habis.



Suara ledakan memekakkan telinga terjadi.



Aku menutup mata karena silau, bola api besar berkobar, bahkan Undead Undead disekelilingku terhenti pergerakannya, tertarik pada sinar menyilaukan itu secara naluri.
Pelan pelan aku membuka mata, memastikan bahwa tidak ada satupun Undead yang dekat denganku saat ini.
Menatap ngeri, kearah Desa.

Terbakar, yang tersisa hanya lautan api.
Apa… sistem pelindungnya rusak? Astaga…!

“Sialan!” Umpatku panik, tidak mengindahkan lagi Zombie Zombie disekitarku,
Aku meletuskan pistol kepada satu dua Undead yang mendekat.
Berlari kearah Desa yang porak poranda.
Sialan, sialan, sialan!








...Daina…!


++++
 
Last edited:
Ari.

___________________________
________________________



“Tasuku!” Aku menyerbu masuk ke pondokan,
Pintunya sudah terbuka dan palang palang barikade yang seharusnya menghalangi berantakan begitu saja.
Mengelilingi pondok, tidak ada siapa siapa, hanya ada potongan tubuh para petugas kepolisian yang tadinya kuikat diruangan tengah.

Sesuatu yang kuat memangsa mereka...

Ceceran darah disertai potongan tubuh berserakan diatas karpet begitu saja.
Bau amis menusuk menguasai penciuman.
Jika saja aku tidak terbiasa melihat pemandangan semacam ini, bisa jadi perutku bereaksi keras.
Aku amat mengkhawatirkan nasib adikku,
Dimana dia?
Aku beranjak dari satu ruangan keruangan yang lain.
Masih mencari tanda tanda keberadaan adikku.
Tidak ada dimanapun, bahkan meja tulis dikamarku tempat ia melakukan penelitiannya sekarang berantakan.
Berjongkok, kuamati genangan darah keperakan yang aneh di lantai dekat tempat tidurku,
Tidak mengental, jumlahnya cukup banyak.
Menggunakan dua jari, menyentuh cairan kehidupan terkutuk itu, memastikan saja.

Darah Undead.

Dalam hati aku bertanya tanya, Undead apa?
Dari pengalamanku, kalau melihat tekstur nya, Yang pasti bukan darah Zombie…
Dan sekarang dia sudah jauh dari sini, karena tidak ada secuilpun naluriku berkata bahwa ia dekat.

Detik berikutnya, suara Ledakan menghentak membuatku bergetar hingga ketulang.

Aku cepat cepat berlari kearah luar.
Asap tebal membumbung tinggi keudara,
Ledakan dari Arah desa tempat Daina berlindung!
Aku menggertakkan gigi kesal, sistem keamanannya diledakkan,
Apa Tasuku menyusul Daina? Ya, jejaknya tak bisa kutemukan dimanapun, mereka berdua kemungkinan disana…

Aku berlari menembus kedalaman hutan.


Daina, Tasuku, tidak akan kubiarkan mereka menyentuh kalian...


++++
 
Tasuku.

____________________
__________________



Jika kau berteriak, mereka akan membunuhmu.



Karenanya sebisa mungkin menjerit adalah hal paling bodoh untuk dilakukan saat kau sedang berada ditengah sekumpulan mayat bergerak.

Belum habis kekagetanku karena ledakan barusan, aku masih harus dikejutkan lagi karena saat aku sudah menapakkan kaki didepan tempat yang seharusnya adalah Desa kecil tempat kelahiran Daina.
Sebagian rumah terbakar, sebagian lagi luluh lantak hingga kedasar tanah.
Jika dari timing yang kuperhitungkan, Daina harusnya belum tiba didalam desa ketika ledakan terjadi, harusnya…
Jadi ia pasti masih berada disuatu tempat disini.
Tapi dimana?

Daina… kau kemana?
Aku jadi ragu dengan perhitunganku sendiri,
Apakah ia mati? Rasa sakit kembali menusuk hingga ulu hatiku.
Harusnya aku tidak peduli, harusnya segera saja kutinggalkan saja tempat ini, bersamaku,
Pasti itu adalah keputusan paling tepat.

Tapi bukan sifatku meninggalkan teman.
Apalagi teman yang berkata bahwa ia mencintaiku…

Keringat dingin mengalir dikeningku.
Ya, gadis itu pastilah… pergi ke rumahnya, ia mencari orang tuanya.
Dalam hati aku berdoa semoga aku tidak tiba terlambat.

Mereka disana, tidak menyadari keberadaanku, aku bersembunyi dibawah tumpukan jerami dan gerobak yang saling berhalangan, gang sempit yang diapit dua buah rumah kosong,
Penerangan sudah mati, gelap total tapi aku bisa melihat dengan jelas dari kobaran api besar yang membakar beberapa buah rumah.
Baiklah… penginapan berjarak sekitar 500 meter dari tempatku berada,
Bagaimana aku maju melewatinya?
Desa ini sudah berubah menjadi desa hantu!

Beberapa orang warga pribumi berkeliaran sebagai makhluk kegelapan, tertatih tatih,
Sudah berubah? Cepat sekali!

Aku melihat seseorang berlari tergesa, nampaknya seorang lelaki, ia sedang dikejar oleh sekawanan mayat hidup.
Aku menelan ludah, orang itu melihat kearahku, ia mengangkat tangannya meminta tolong, aku ingin menolong, tetapi ia terjatuh sekitar 10 meter didepanku, ia mengulurkan tangannya menggerapai meminta ditolong.
Mayat yang paling dekat dengannya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia menyergap mangsanya, orang itu berteriak kesakitan saat gigi-gigi tumpul manusia yang seharusnya bukan didesain untuk melakukan hal semacam itu merobek dagingnya, suara tercabik disertai darah yang disedot dengan rakus dari tubuhnya menggema begitu saja...

Seperti apa rasanya dimakan oleh seseorang?
Terlebih lagi, saat kau masih dalam keadaan hidup dan segar bugar...
Darah hangat mengalir dari sesuatu yang kau tahu itu adalah tubuhmu sendiri.
Rasanya ketika dagingmu dirobek bukan dengan menggunakan pisau, melainkan tangan kosong...

Sakit sekali, bukan?
Ya, Sakitnya tak terbayang, bukan sesuatu yang bisa dipikirkan orang waras dengan mudahnya.

Ia bergerak dan bergerak memberontak, tidak terperikan jerit itu merasakan sakit datang silih berganti tanpa berkesudahan, memekakkan telinga, berharap segera dibunuh saja.
Seandainya ajal langsung datang menjemput sepertinya akan lebih baik daripada harus menderita begini.
Empat ekor Zombie mengeroyok makhluk tak berdaya, berebutan seperti binatang kelaparan.
Menggerogoti setiap jengkal tubuh, tanpa menyisakan apapun.
Mangsanya mengalami kekejangan dahsyat, separuh karena rasa sakit, separuh lagi karena kehabisan darah,
Begitu kejangnya sampai sampai rasanya aku bisa mendengar suara urat dan otot otot yang saling bertarikan hebat karena rasa sakit itu putus satu persatu.

“Haus… Haus…” Desisnya pelan, kehilangan banyak sekali darah dan menderita luka amat parah saat tubuhnya dirobek robek tanpa ampun dan ia menyaksikan dagingnya dimakan, isi perutnya dikeluarkan, tepat didepan matanya sendiri.

Tuhanku, ambil dia segera, kasihani hambamu…
Jangan kau berikan siksaan pada mereka melebihi ini.


Rontaan itu semakin melemah intensitasnya, melemah dan melemah sampai akhirnya hilang sama sekali.
Aku memalingkan wajah, nyaris menangis karena tidak berdaya untuk menolong.
Brengsek, aku harusnya menyelamatkan orang itu, aku mengutuk diri sendiri penuh penyesalan.
Tapi musuh terlalu banyak…
Jika tidak sesuai perhitungan, aku sendiri yang akan mati konyol.
Aku bukan kakak yang tahan banting dikeroyok undead dalam jumlah tak terbatas…
Bertarung bukanlah bidangku.
Betapa lemah mentalku, padahal sudah sering menghadapi Jenazah yang kubongkar pasang sesuka hati,
Tapi melihat manusia biasa yang tak bersalah dibantai dan dimakan tepat didepan mataku, aku sungguh…




Seorang Undead tampaknya menyadari bahwa aku memperhatikan mereka, Zombie itu mengangkat wajahnya dari perut sang korban yang menganga, dimulutnya terdapat sesuatu yang menjuntai, darah masih menetes netes, bagian usus dan limpa sepertinya, ia menjatuhkannya, organ segar itu mendarat diatas tanah dengan bunyi unik berkecipak lunak.

Ia mendekat kedepan gerobak tempatku bersembunyi, meninggalkan kawanannya yang masih asyik berpesta darah, memeriksa tumpukan jerami.
Jantungku hampir copot.









Tapi syukurlah aku sudah tidak lagi berada disana, aku bersembunyi pada rumah kecil tempat menyimpan peralatan bertani.
Kupegangi sekop didekatku, Just in case, Jika seandainya mereka menemukanku disini, senjata ini membuatku mudah mendorong musuh dalam jumlah banyak, dibandingkan dengan hanya pistol, aku tidak bisa membidik satu persatu dalam waktu bersamaan kan?

Berdebar, aku mengintip dari celah pintu, Zombie itu masih disana, dua meter, ia mencium bau manusia tapi terlalu bodoh untuk berpikir, kakak bilang mereka makhluk tanpa kecerdasan dan hanya punya naluri…
Karenanya kita harus bisa memanfaatkan kelemahan mereka dengan baik.

Bicara memang mudah, kak.

Aku menanti dengan sabar hingga makhluk itu menjauh.
Aman sekarang, aku menunggu sekitar 5 menit sebelum benar benar yakin mereka takkan kembali lagi kemari,
Pelan pelan, kubuka pintu…



Sepi.
Hanya ada mayat pria malang tadi sekarang, tercabik cabik tanpa bentuk, isi perutnya terburai habis meninggalkan cangkang kosong, sebelah kakinya hanya tersisa tulang belulang hingga ke paha, sementara batok kepalanya hanya tersisa setengah, mereka menyedot otaknya, sisa sisa cairan otak mengalir dari luka menganga itu, mungkin aku terdengar kejam tapi akan lebih baik begitu,
Setidaknya jika otaknya diambil dia tidak akan bangkit kembali sebagai salah satu dari mereka.

Aku bersembunyi diantara gang sempit, melihat lihat keadaan diluar,
Aku harus memutar untuk bisa sampai kepenginapan sekaligus rumah Daina,
Masih ada beberapa Zombie, kalau kutembak sekarang mungkin bunyi letusan pistol ataupun hantaman sekopku akan terlalu berisik, cukup untuk memanggil Undead lain berkerumun mengepungku.
Apakah ada jalan?

Saat sedang berpikir, tiba tiba aku melihat tangga lipat tersuruk begitu saja disebelah gerobak,
Kalau kuperhitungkan, mungkin panjangnya cukup untuk mengantarku memanjat keatap rumah-rumah penduduk.
Bergegas aku menariknya, sialnya tangga ini terbuat dari kayu yang akan berderit jika kau menggunakannya.

Aku tidak boleh membuat suara, tidak…

Perlahan, kunaiki anak tangga pertama, berderit hebat, kurang ajar...
Aku menyumpah mengutuk-ngutuk.
Jika aku mampu melewati malam ini dan selamat, dengan segala kerendahan hati aku bersumpah akan menyumbang pada anak anak yatim.
Semoga saja besok aku masih hidup untuk melakukannya.

Anak tangga keempat terlewati sudah, deritnya bukan main, bangkai bangkai bergerak itu pasti sudah mendengarnya sekarang, langkah kaki memburu sedang menuju kearahku…

Benar kan!
Mereka datang bergerombol memeriksa gang.
Saling berkomunikasi dengan suara hah-huh seram.
Mereka menemukan tanggaku, merubuhkannya.







Aku menarik nafas lega, memandangi mereka dari atas atap rumah.
Tubuhku telentang diatas atap saking lelahnya, sport jantung, berbahaya sekali tadi…

Bagaimanapun aku berbeda dengan kakak, kalau kakak, mungkin sudah main babat habis saja, aku yang tidak ahli pertarungan melawan mayat hidup hanya mengandalkan kepintaranku, err, yah, atau setidaknya begitulah,
Main kucing kucingan dengan para mayat berjalan.
Mengingatkanku pada game stealth based survival horror jaman dulu,

Bulan purnama bersinar terang dilangit, menertawakan sebuah tragedi.
Kupaksakan diriku berdiri, belum selesai, Tash…
Daina masih amat sangat jauh…

Rumah yang kunaiki memiliki bangunan cukup besar, kurasa aku bisa mengambil jalan memutar tanpa harus melewati mayat mayat itu,
Yakin sekali, kuberanikan diri menengok, tempat tinggi membuat jarak pandangku jadi jauh lebih luas.
Sehingga aku bisa melihat seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan para makhluk terkutuk kepada desa kecil yang indah ini.

Dan semuanya rusak.

Tidak ada orang yang hidup lagi, hanya mayat.
Seluruh sudut desa dipenuhi mayat dan mayat.
Jumlahnya sangat banyak, sepertinya hampir seluruh penduduk desa telah berubah bentuk menjadi mayat berjalan.

Normalnya Infeksi membutuhkan waktu beberapa jam untuk menguasai seluruh tubuh, tapi kenapa secepat ini penyebarannya? Apakah virusnya bermutasi?
Berbagai pertanyaan menyertai dalam benakku, menuntut diberikan jawaban.

Banyak sekali, sampai rasanya jika sekali jatuh ke dalam kerumunan itu kau pasti mati.

Virusnya telah menyebar.
Desa kecil kanchanaburi telah jatuh sekarang.


+++
 
Daina.

________________________________
___________________________




Damsel in Distress,

Julukan itu kelihatannya benar benar cocok jika dialamatkan padaku sekarang...
Karena aku berada ditengah tengah kekacauan dan kehancuran seperti ini tanpa bisa berguna apa apa…
Aaaaa, Bodohnya aku... Maaf, Ayah, Ibu, Tasuku... Kak Ari...
Rasanya aku sungguh menyusahkan.


Kembali ke 20 menit sebelumnya,


Baru saja aku berada dekat sekali tepat didepan desaku, dan ledakan keras terjadi, menyebabkan aku terpental beberapa meter,
Lecet-lecet memang tidak terelakkan, aku mencoba bangun, setelah beberapa lama,
Saat aku masuk kedalam desa, api sudah menyebar pada beberapa rumah, kelihatannya ledakan hanya terjadi pada beberapa sisi saja, dan aku berada pada titik aman dimana api tidak berpusat, karena itulah aku selamat.

Seperti legenda lama tentang sebuah jembatan terlarang dimana kau tidak boleh menyeberang.
Aku tetap berjalan, menuju kerumah orangtuaku.
Aku harus menemukan mereka.
Didekat kakiku, berserakan potongan tubuh yang terkena ledakan, aku mengenal sebagian dari mereka.
Kaget karena mereka masih bersusah payah menyeret nyeret tubuh mereka yang tinggal setengah.
Aku ingin menutup mataku sambil berjalan, tapi aku takut tersandung sesuatu, maka kuputuskan untuk tetap membuka mata,
Aku mendengar desah berat tepat dibelakangku, penasaran, aku menoleh,

Mayat mayat dibelakangku bangun!

Belum sepenuhnya, tampaknya masih dalam tahap penyesuaian diri, tulang tulang mereka berkeretak cepat sementara kepala mereka sebentar sebentar menoleh ke kiri dan kanan,
Aku menyaksikan hal yang sama terjadi pada mayat yang lain, terutama yang masih utuh.

Sebelah kakiku dicengkeram, tenaganya tidak kuat, jadi aku menyentakkannya dengan mudah, menjaga pikiranku sendiri agar tidak panik dan kehilangan kendali berteriak teriak sampai jadi gila.
Kuusahakan tetap tenang, kupercepat langkahku, aku harus segera pergi dari sini, sebelum mereka menyelesaikan transformasinya dan menyadari keberadaanku…

Jembatan orang mati.
Seperti melewati Neraka jahanam.

Setelah perjalanan mendebarkan, akhirnya aku sampai kerumah, mengendap endap, halaman rumahku suram dan berantakan, lampunya mati, tetapi cahaya rumah-rumah yang terbakar masuk melalui jendela,
Langkahku getir saat aku memasuki pintu depan seperti biasa,
Kedai yang biasanya ramai dengan pengunjung sekarang kosong melompong, cahaya yang berasal dari kobaran api membuat aku bisa melihat amat jelas bercak bercak darah didinding,
Seakan baru saja, disini terjadi pembantaian massal.

Meraba raba dibawah meja kasir, korek api ternyata masih ada didalam laci, aku bersyukur, tanganku gemetar saat aku menyalakan lilin.
Dengan penerangan seadanya, sekarang pandangan menjadi jauh lebih jelas.

Kulewati meja dan kursi yang berantakan menghalangi jalanku, saat aku melewati meja yang berdekatan dengan tangga menuju lantai atas, samar samar kulihat sepotong jari buntung tergeletak begitu saja diantara gelas dan piring,

Entah siapa pemiliknya, rasa jijik bergeliat menuju perutku.
Masih belum terbiasa.

Melalui cahaya lilin, disepanjang anak tangga, noda darah terlihat, apapun yang melarikan diri keatas pastilah dalam keadaan terluka, entah diseret paksa atau menyeret dirinya sendiri.
Hatiku berdebar memikirkan Ibu dan Ayah, apa mereka bersembunyi?
Lorong penginapan lantai dua, benar benar menjadi istana horror bagiku, cat putih tembok rumahku seperti diwarnai ulang dengan warna merah,
Percikan darah menutupi pandangan, begitu pula penciuman, amis darah mengerikan bercampur bersama udara yang kuhirup, aromanya seperti besi.
Cabikan daging dan tulang dimana mana, tepat diujung lorong yang akan membawaku menaiki tangga menuju lantai tiga, tergeletak mayat seorang wanita, bersandar pada dinding dengan kaki mengangkang kearah yang janggal,

Tidak, aku takut…
Namun baktiku pada orangtuaku mengalahkan segalanya, aku sudah bertekad menemukan mereka, jadi akan kulakukan…
Tak ada gunanya menangis sekarang, masih ada yang harus kuperbuat.

Kepalaku berdenyut mencium aroma darah menguar, dasar otak bodoh, aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak melirik kearah mayat perempuan itu ketika aku menginjak anak tangga pertama.
Mayat itu berambut panjang, menutupi sebagian wajahnya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, dan tidak ingin tahu juga,
Ia mengenakan daster putih panjang, kepalanya menggelantung patah kearah kiri, dengan luka menganga dibagian leher, apapun yang membunuhnya pastilah mematahkan lehernya lebih dulu untuk memudahkan.
Namun dari balik helaian yang membentu celah, bisa kulihat,
Pipinya cekung pucat dengan mata membelalak mengerikan, tapi hanya rongga, tidak ada bola matanya, darah mengalir dari rongga kosong itu seperti airmata darah.
Yang lebih menakutkan lagi, mulutnya dalam keadaan terbuka dengan ekspresi menjerit.
Tidak ada tanda tanda kehidupan darinya, aku sempat takut mayat itu akan menyergapku ketika aku lewat, tapi syukurlah tidak ada yang terjadi.
Aku memalingkan muka menyesali diri mengapa begitu inginnya melihat,

Kakiku terus melangkah perlahan, berjinjit, lantai rumahku yang terbuat dari kayu mengeluarkan bunyi aneh yang halus, karena tubuhku ringan suaranya tidak terlalu mengangguku,
Kamar orang tuaku terletak paling ujung.

Lilin yang kubawa memantulkan sinar temaram, aku mengarahkan cahayanya sedikit kebawah dimana aku bisa memastikan bahwa aku tidak menginjak sesuatu yang aneh.

Langkahku terhenti didepan pintu kamar ayahku, lega melihat mereka berdua ada disana,
Ibuku berdiri membelakangi aku, ayahku didepannya duduk diatas kursi roda, tampaknya mereka sedang berpelukan.
Aku ingin menyapa dan menanyakan apakah mereka baik baik saja, sekejap niatku kuurungkan.


Aneh… ada sesuatu yang aneh…


Bunyi mengunyah cepat cepat itu, suara lembab sesuatu yang basah berkelepak,
Lalu… lalu…
Kedua bola mataku membesar.
Ibuku terdengar seperti menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, seperti suara orang menggigil kedinginan.
Bunyi mengunyah itu semakin cepat, ayahku didepannya tidak bereaksi ataupun bergerak.
Kursi rodanya bergerak mundur beberapa senti, ibuku mendorongnya menjauh.

Berbalik pelan pelan kearahku.

Aku menutupi mulutku dengan kedua tangan.
Saat menyaksikan baju bagian depan ibuku basah oleh darah.
Pandanganku pertama kali tertumbuk pada seongok mayat dibelakang ibuku, kini tidak ada apapun yang menghalangiku untuk melihat,
Ayahku diatas kursi roda, rongga dadanya terbuka memperlihatkan tulang rusuknya.
Isi dari organ organnya juga telah diambil, sebagian berjatuhan dilantai,
Darah mengalir tidak henti henti dari luka itu, sudah tidak ada daging lagi disana, habis disantap oleh…

Pandanganku mengarah keatas, gumaman gumaman tidak jelas layaknya menggigil itu masih terdengar…

Ibuku, dengan mata yang seluruhnya berwarna hitam, giginya terkatup rapat menyeringai dipenuhi darah segar, ia membuka mulutnya, aku masih bisa melihat serpihan daging ayahku,
Ketika ia sudah menganga selebar ia bisa, ada banyak sekali laba laba kecil keluar dari dalam mulutnya.

Lilin ditanganku terjatuh dan mati.
Aku langsung merosot kedinding disebelahku, berharap ia tidak menemukanku.
Hatiku dipenuhi rasa bersalah, mengapa aku tidak mendatangi mereka? Bukankah mereka orangtuaku?

Ayah… Ibu…
Airmataku mengalir deras sekali.
Ooh, Aku sebatang kara sekarang… aku… aku…
Tangisku semakin intens tanpa suara.

Brakk!

Sepotong tangan menggapai dari kamar orang tuaku, aku salah, Ibuku melihatku!
Ia keluar dari sana, melihat aku yang sedang duduk dilantai, bersiap menyerang,
Aku merayap mundur, berdiri menggunakan segenap kekuatanku.

Ibuku berjalan sempoyongan bermaksud meraihku, lamban, tapi… seram.

Sebelum ia berhasil melaksanakan niatnya,
Seolah mendapatkan bisikan, Aku berlari secepat yang aku bisa, menuruni anak tangga… Lampu tiba tiba menyala dan meredup sendiri, mungkin saja karena jaringan listrik mengalami kerusakan parah… menambah seram suasana.

Betapa kagetnya aku, mayat wanita yang tadinya tergeletak dilantai, sekarang sudah berdiri, rambutnya yang panjang meriap menutupi wajahnya pelan pelan tersibak, kakinya bengkok kearah tak semestinya,
Wajahnya sangat menyeramkan, pipi cekung, kulit berwarna putih pucat keunguan khas orang mati, lehernya yang patah masih tersangkut kearah kiri seperti hanya ditahan dengan kulitnya.
Dan daster putih panjangnya juga dipenuhi noda darah yang berasal dari lukanya sendiri.

Rongga matanya kosong, Zombie itu buta.
Aku tak tahu apakah penglihatan juga berfungsi sama seperti pada manusia, tetapi kelihatannya mayat itu cukup kesulitan, terbukti dari dia yang tidak langsung menyerang kearahku, ia mungkin menyadari keberadaanku hanya saja ia tidak tahu dimana posisi tepatku.
Aku harus melewatinya, ya Tuhan, apalagi ini...
Kukira aku aman, maka secara pelan pelan, sepelan mungkin, aku maju kedepan...




Tapi mulutnya yang menganga segera mengeluarkan jeritan melengking!



Aku menutup telingaku, sakit!
Zombie wanita itu… memanggil teman temannya!
Suara langkah kaki ibuku yang menuruni tangga semakin mendekat dibelakangku, aku ragu ragu,

Namun untuk selamat, aku harus bisa melewati ini!

Sekuat tenaga aku berlari kedepan, tidak ada gunanya lagi memelankan lariku, pintu pintu kamar menjeblak terbuka, tangan tangan pucat menggapai keluar dari dalamnya.
Seluruh penginapan sudah tidak ada makhluk hidup lagi!
Ngeri, aku menerobos, Zombie buta didepanku, ia merentangkan tangannya seperti binatang, mencoba menghalangiku untuk kabur,
Aku merunduk, berlari melewati bawah ketiaknya, dan secara ajaib aku lolos.
Aku jijik pada bau mayatnya, dan tanpa sengaja tersentuh, ingin kuguyur tubuhku dengan satu drum air, membersihkan bekas bekas mayat yang melekat.

Tidak ada waktu... Daina, aku harus turun kebawah secepatnya, aku masih sempat menoleh untuk melihat bahwa ada banyak sekali Zombie dibelakangku, mereka bergerak lambat, tangan tangan mereka dijulurkan padaku,

Aku seperti kesetanan menuruni tangga.
Kembali tiba pada titik awal pencarianku, ruangan yang semula adalah kedai.
Tadinya aku bermaksud keluar dari rumah ini, tetapi begitu mencapai pintu depan, didepan rumahku sudah ada banyak sekali Zombie, tidak, bahkan diluar, sepanjang jalan didesa, makhluk2 itu sudah bangkit.
Mayat mayat yang sebelum ini kulihat masih roboh tak berdaya diatas tanah sekarang berkeliaran kemana mana mencari mangsa!

Aku nyaris menangis putus asa, tapi kutahan, secepat yang aku bisa, aku berlari kearah pintu dapur dibelakang meja kasir.
Meraih gagang pintunya yang tertutup,
Geraman geraman terdengar dari arah tangga, mencariku, mereka sudah sangat dekat!

Aku meringsek kedalam dapur, tidak ada siapa siapa, mataku nanar mencari cari tempat bersembunyi.
Nampak lemari besar tempat para pegawai biasa menggantungkan baju baju dan mantel mereka adalah satu satunya harapanku saat ini.
Tergopoh aku berjalan menuju lemari itu, membuka pintunya tak sabaran.


Mayat wanita jatuh tepat diatasku,


Aku nyaris menjerit, memindahkan tubuh gendut nyonya itu kesamping, kukenali ia sebagai juru masak yang bekerja pada keluargaku,
Kalau dilihat dari tempatnya bersembunyi, sepertinya ia mati karena kehabisan darah, luka cabikan parah sekali disekujur tubuhnya…

Kudengar meja meja dikedai ditabrak tabrak saat makhluk makhluk itu mencariku,
Tanpa membuang waktu lagi aku langsung menyelusup kedalam lemari dan menutup pintunya, bersembunyi.

Dari celah yang tercipta dan sedikit cahaya lampu yang mati-hidup semakin cepat.
Aku masih sempat mengintip apa apa yang terjadi diluar, beberapa Zombie –Termasuk Ibuku- masuk kedalam dapur, mencari cari.
Kepala mereka menengok kebawah meja, belakang pintu, dan tempat tempat lain yang memungkinkan untuk bersembunyi.
Kubekap mulutku sendiri untuk menghindari teriakan.
Aku menyadari posisiku saat ini sudah sangat tidak bagus.
Mereka bisa menemukanku kapan saja.



Belum, mereka belum menyadari aku ada disini.
Mereka tidak begitu pintar, memang,
Akhirnya masing masing zombie itu membalikkan badannya melewati pintu, memutuskan untuk mencari kelain tempat.
Aku tadinya sudah merasa lega ketika wanita buta bermulut menganga –yang kulihat dilorong pertama kali- tiba tiba saja menoleh kearahku, ia tidak serta merta mengikuti teman temannya keluar.
Malahan, rongga kosong itu seakan bertabrakan dengan mataku yang mengintip dari celah lemari,
Bernafaspun aku tidak berani…!

Ia mendekat… dan mendekat… Menjulurkan tangannya kearah Lemari.
Aku menutup mata, menyusupkan kepala diantara lututku, Rasa Takut luar biasa melandaku.

Takut...
Takut...

Aku tidak tahan... Tuhan, tolong aku... Aku sungguh takut...!

-
-
-

Terasa waktu berlalu sangat lambat...
Mungkin sudah sekitar 30 detik, tak ada yang terjadi…
Ungg? Apa yang…

Pelan pelan aku membuka mata.
Aku masih berada didalam lemari, amankah?
Segalanya masih tetap sama, tidak berubah…
Tidak ada tanda tanda Zombie itu menemukanku..


Lalu tiba tiba saja, pada saat aku sudah akan mengira bahwa nyawaku selamat,
pintu lemari membuka bersamaan dengan dicengkeramnya pergelangan tanganku...!

++++
 
Tasuku.

______________________
____________________




Aku mengguncangkan bahu gadis itu, menyebut nyebut namanya, keadaannya kacau, ia ketakutan dan gemetaran luar biasa.
Ketika aku membuka pintu lemari, ia langsung meronta ronta, menyangka aku salah satu dari makhluk itu, “Daina, bukalah matamu! Ini aku!”

Daina melihat kearahku, berhenti meronta, ekpresi kengerian terpancar jelas, ia bertahan hidup sampai seperti ini…

“Tasuku… Ayah… Ibu…” Ia bercerita, airmata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Kugigit bibir bawahku, aku tahu apa yang dirasakan oleh Daina… aku tahu…

“Kita harus menyelamatkan diri dari sini dulu, itu yang terpenting,” kataku, aku memandangi lubang besar dibagian atap sebagai jalan masukku, kami tidak mungkin menggunakan jalan masuk yang sama untuk kedua kalinya, tidak ada sesuatu untuk dipanjat,
Aku masuk dengan melompat.

Well, Tetap saja harus keluar dari sini.

Aku melihat kearah Daina, gadis itu menunduk, masih menangis, ia memegangi tanganku erat,
Secara spontan aku langsung memeluknya, “Tidak apa… kita akan baik baik saja…” Meskipun terpaksa, tak ada yang bisa kami lakukan, kecuali menerima saja takdir berdarah ini, itulah kenyataannya, inilah dunia dimana kami hidup sekarang.
Tidak ada kemudahan, bahkan untuk anak anak sekalipun. “kau lihat aku? Aku akan jadi peganganmu, aku memegangmu.” Kugenggam tangan Daina erat erat, lalu beralih menangkupkan kedua tanganku dipipi gadis itu,
Menghapus air matanya.

Baru saja aku mulai memikirkan langkah selanjutnya, Suara berisik tembok yang diruntuhkan mengejutkanku.
Ya, ampun! Apa lagi ini!

Muncul!

Undead dihadapan kami… yang baru saja merobohkan sebagian dinding dapur, membuat lubang besar,
Ia tahu kami ada disini, Daina berteriak dalam dekapanku sementara aku sendiri hanya bisa terpaku.

Monster itu seperti laba laba dengan masing masing tiga tangan dibagian kiri dan kanan.
Lemak bertonjolan seperti ingin keluar mengisi bagian yang seharusnya bahu hingga tidak menyisakan leher sama sekali.
Tertutup sampai ke wajah, menyisakan celah kecil sepetak wajah manusia, hanya setengah, dan setengah lagi adalah bola mata yang menonjol keluar,
Tetapi bagian atas tubuhnya memanjang dengan sendi sendi seperti ulat.
Membuatnya bergoyang goyang seram saat bergerak, mengingatkanku akan mainan Jack in the box…

Ia meraung mengerikan, senyaring mungkin.

Lalu pintu dapur berikutnya penuh dijejali Zombie lain yang tertarik mendengar suara teriakan itu.

Tertangkap… tertangkap!

“Tasuku…” Daina memegangku, tak sekalipun ia lepaskan. “Kita akan mati…”

“Tidak, kita tidak akan mati!” Bantahku, mengambil linggis yang kutemukan begitu saja didekat perapian dapur.
Aku tidak akan membiarkan kami terbunuh!
Aku sudah hidup… sampai detik ini, aku memiliki kebanggaan itu dan aku takkan mati, tidak dengan mudah.

Undead berbentuk laba laba setengah ulat itu menyerang kami, berniat memberikan shock besar, ia menghentakkan sebelah tangannya yang memanjang sedemikian rupa –Tiga sekaligus- menghancurkan lemari kayu dibelakang kami hingga hancur berkeping keping.
Aku sendiri tidak melihat bagaimana kami bisa menang darinya.

Zombie yang lain tidak ketinggalan, maju untuk berpesta,
Aku tidak melihat kemungkinan kami bisa bertahan jika seperti ini.

Tapi mendadak saja, saat Zombie pertama menapakkan langkahnya mendekati kami, Jack –Begitulah mulai sekarang aku menyebutnya- melecutkan tangan tangannya kearah mereka.
Ia mematah matahkan tubuh Undead yang lebih lemah darinya, meng-absorb atau menyerap kekuatan mereka.

Perebutan mangsa, Persaingan dalam hal makanan.
Seperti hukum rimba dimana yang kuat memangsa yang lemah.

“Lari!” Kutarik tangan Daina, melompati reruntuhan tembok yang terbuka sebagai jalan keluar kami,
Jack masih memangsa sesamanya, itulah yang akan ia lakukan sampai ia merasa tak ada pengganggu lagi dan ia bisa menyantap kami jika saja kami masih menunggu.

Melewati halaman belakang,kami sudah dihadang puluhan makhluk kematian, mayat mayat berjalan menjerit jerit melihat kami,

Aku menarik lengan Daina, mengajaknya bersembunyi diantara pot pot bunga besar dihalaman belakang penginapan,

"Apa yang akan kita lakukan, Tasuku? Mereka ada dimana mana!" Tanya Daina putus asa,

"Tenang," Jawabku sabar, tanganku bergetar mencari cari kerikil agak besar, kulemparkan bebatuan mungil itu kearah berlawanan, para Undead tertarik pada suaranya dan sebelum mereka sempat menyadari tipuan kecilku,
Aku sudah kembali menarik Daina menjauh secepat mungkin.

Kubawa Daina melewati jalan memutar menghindari Zombie-Zombie kelaparan dibelakang kami, berlari, dan terus berlari.
Tanpa kami sadari, kami sudah tiba didalam perkampungan lagi.
Aku dan Daina bersembunyi di gang sempit sudut sudut kumuh rumah penduduk.
Menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
Sulit, karena sebagian besar rumah bentuknya adalah rumah adat yang tinggi menjulang, hanya satu dua rumah yang kelihatan normal, terlalu beresiko sebagai tempat bersembunyi.
Sementara makhluk makhluk itu jumlahnya banyak sekali.

“Daina! Kemari!” Samar samar aku mendengar suara memanggil.
Daina menarik lenganku, mengisyaratkan untuk tenang sebentar.

“Itu kak Somchair,” Daina menunjuk, “Dia sekretaris kepala desa…”
Aku menajamkan penglihatanku, benar saja, tak jauh dari tempat kami berdiri, kami melihat seorang laki laki melambaikan tangannya padaku dan Daina.
Bukan Undead, dari gerakannya, sepertinya masih manusia.

Kuberanikan diri mendekat, Daina kusimpan dengan rapih dibalik punggungku, tangan kami berpegangan tanpa sekalipun terlepas.

“Kemari,” Orang itu berbisik hati hati, Kami mengikutinya menuju bangunan yang terpisah dari rumah, nampaknya sebuah lumbung.

Begitu kami sudah sampai didalam, nampak olehku orang tua ringkih duduk diatas tumpukan jerami, sama ketakutannya dengan Daina.

“Kunci pintunya, Somchair,” ia memerintahkan pada sang pegawai agar kembali memasang palang untuk menghalangi jalan masuk.

Daina langsung merosot, tidak mempedulikan ia berada dimana, yang jelas rasa kelelahan menumpuk begitu saja, keringat membanjiri tubuhnya, kuberikan bahuku sebagai sandaran,
Ia perempuan lemah dan kejadian ini sungguh membuatnya terguncang...


“Ada apa sebenarnya?” Tanyaku kepada pak tua itu, sambil membelai bahu Daina, menguatkan, “Kenapa sampai ada invasi separah ini? Bukankah ada system pengaman?”

Pak tua itu menunduk resah, pemuda yang menjadi sekretaris desa itu yang memberikan jawaban padaku,

“Setelah Daina pergi, kehebohan terjadi,” Ceritanya, “Undead menyerang, tapi mereka tidak bisa masuk karena system keamanan yang dipasang oleh kakakmu,” pembicaraan itu terhenti, ia menarik nafas, “Kejadiannya baru beberapa saat yang lalu,”

“Undead yang sangat kuat menyerang,” Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya, “Tidak tahu darimana dia datang, kejadiannya sangat cepat, tapi ia membuat segalanya berantakan.”

“Tunggu,” Potongku, “Apakah… Undead yang kau maksud… Undead tinggi besar dengan wajah seperti ulat, tanpa leher, tubuh bagian atas panjang langsung menyambung kekepala, dan tiga pasang tangan?”

“Dua kaki manusia normal menopang tubuh tidak lazim tersebut.” Somchair melanjutkan kata kataku.

Aku terdiam.
Berarti sama seperti Undead yang menyerang kami barusan…

“Yang membuatnya sulit untuk dikalahkan adalah…”

Belum habis Somchair bicara, sebuah tusukan tulang keras menghantam batok kepalanya.
Sekretaris desa itu tewas seketika.

Daina menjerit.

Mereka menemukan kami!

-
-
-

Kuraih linggis ditanganku, melindungi Daina sekuat tenaga.

Jack!

Undead itu berdiri, lubang mengerikan diwajahnya yang seharusnya bagian mulut, menyunggingkan senyuman.

Undead itu tertawa.

Tidak terlihat keberadaan Undead lain, kelihatannya ia sudah menyingkirkan semua yang ia rasa mengganggu, tapi ia sendiri tidak stabil.
Ia mendekat sambil menghantamkan kepalanya sendiri kearah dinding kayu disekitarnya.
Berkali kali.
Lalu berhenti, ditengah keterpakuan,
Jack mengarahkan tangan tangannya kepada kami, tangan itu memanjang lagi!
Ia mencengkeram leher lelaki tua disampingku, secara sembarangan aku memukulkan linggis ditanganku, mencoba memutuskan jaringan yang –tak kusangka- sangat lunak, bisa terputus dengan mudahnya.
Pak kepala desa terduduk, batuk batuk kehabisan nafas.

Tangan Jack terputus, Anehnya, ia tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia memandangi tangannya yang terputus seperti orang dungu, lalu ia tersenyum lagi padaku.


Dalam sekejap, materi yang tadinya terputus menyambung kembali,
Tunggu…! Ini… regenerasi?!

Berarti dia bukan sejenis Zombie biasa?!

Belum habis pikiranku memutari benak, lengan yang sudah sekarat itu kembali menghantam dada pak kepala desa, ia konsisten dengan pekerjaannya,
Aku tidak begitu melihat jelas karena ia dalam keadaan membelakangi aku,
Tapi terlihat ia menelan kepala desa mulai dari bagian kepala, entah dengan cara apa, mengingat mulutnya yang ada dibagian kepala kecil sekali...
Bunyi mengunyah nikmat menyiksa ruang dengarku.
Selagi ia menyelesaikan apa yang tengah ia mulai, aku mengambil kesempatan menarik tangan Daina.
Gadis itu menurut pasrah.
Ketakutannya tidak terperikan.

Baru saja kami ingin keluar dari sana, Somchair… dengan kepala yang hancur dan wajah berlumuran darah telah bangkit kembali dari kematian.

-
-
-

Cepat sekali!

Aku bergidik.

Tidak sampai dua belas menit dari waktu ia diserang, ya Tuhan, apalagi ini?
Aku menatap ngeri, Cepat… perubahan yang sangat cepat, proses mutasi yang tidak makan waktu, apa karena korbannya sudah meninggal ketika diambil alih?
Inikah jawaban atas pertanyaanku tentang cepatnya penyebaran virus didesa mon?

Umumnya, penyebaran virus dalam tubuh orang yang terinfeksi tergantung dari individu masing masing, ada yang makan waktu hitungan jam, hitungan hari, ada juga yang hitungan bulan.

Tapi aku tidak pernah mendengar ada subyek yang berubah dalam waktu hitungan menit.

Zombie itu menyerang ganas, langsung mengincar bagian leherku,
Sial, ini memperlambat gerakan kami.
“Jangan lihat!” Perintahku pada Daina,
Kupukulkan linggis berkali kali ke kepala makhluk itu.

Darah makhluk itu membasahi muka dan kemejaku.

Daina terisak sambil menutup mata, bagaimanapun orang ini adalah anggota sukunya, penduduk desa yang sama dan mereka berbagi satu sama lain seperti keluarga...

Saat aku selesai dengan Zombie Somchair, Jack dibelakangku ternyata juga sudah menyelesaikan makanan pembukanya, kebetulan sekali.
Ia menjulurkan tangannya sembarangan, kudorong Daina kesudut.
Jack mendekat kearahku, suara riak seperti ribuan jangkerik mengisi musik pengiring menuju saat saat terakhir kami.

Aku tidak akan kalah,
Kuhindari tangan tangan haram jadah bertekstur lembut itu,
Maju langsung kearahnya dengan ceroboh, aku menusukkan linggis ditanganku, tepat dibagian dadanya,
Darah segar merah keperakan mengucur, darah undead.

“Tasuku!” Daina berteriak dari belakang, memperingatkanku, aku terkejut, Jack meraih dan memagut tubuhku ketat sekali, lalu bagian depan tubuhnya membuka memperlihatkan mulut menganga dipenuhi gigi gigi besar tajam dibagian yang seharusnya perut.
Siap melahapku.

Jadi memakai lubang Neraka berlendir itulah dia menelan kepala desa...

Daina tidak diam saja, ia meraih batu bata –apa saja yang berada disekitarnya- ia memukul kearah Jack, undead itu meraung kesal karena diganggu, ia menjatuhkanku diatas jerami –tindakan yang kusesali- karena sekarang ia malah berpaling kearah Daina.

Gadis kecilku mundur ketakutan, Jack mengikutinya,
Aku berteriak memanggil nama Daina,
Tapi Jack malah tidak langsung membunuh Daina, menggunakan ketiga tangannya sekaligus, ia menghempaskan tubuh Daina,
Daina membentur dinding kayu, kepalanya kena, ia pingsan.

Dari sifat sifat dan karakteristik yang kupelajari, nampak Undead ini amat konsisten dengan mangsanya.
Apakah sudah sifat alamiahnya?
Tiap Undead memiliki keunikan cara berburu masing masing.

Sedikit kecerdasan yang ia tinggalkan itu...

Ia kembali berpaling kearahku, suara melengking lengking itu terdengar lagi, seperti rekaman rusak yang menganggu, Gendang telingaku sampai sakit.
Aku susah payah berdiri menahan terjangannya, Jack terjatuh bersamaku, bergulat diatas jerami tebal.
Dia memang kuat sekali, dan berat.
Tenaganya nyaris meruntuhkan semua pertahananku,
Hanya linggis yang masih kupegang membantuku menghalanginya agar tidak melumat batok kepalaku langsung.
Mulut berbentuk lubang keriput mirip anus didekat kepalanya nampak tidak berguna untuk makan,
Mulut dibagian perutlah organ sejatinya.



Batangan logam yang kugunakan tersangkut pada bagian luar mulut supernya itu.
Hanya itulah yang menyelamatkan nyawaku sekarang.
Tapi sepertinya mulai bengkok karena kuatnya tekanan.

Wajah kami dekat sekali, bisa kurasakan bau busuknya bukan main.

Undead itu mendekatkan wajah buruknya padaku,

Aku tertegun.
Sepertinya aku mengenali sepotong wajah yang kini hanya tinggal mata saja, habis tertutupi lemak tak beraturan.
Pria penyelundup itu… orang yang menginjeksikan sendiri vaksin buatanku yang sama sekali belum selesai ketubuhnya.

Cepat cepat kutarik tanganku, linggis yang kugunakan untuk menahan gerakannya sudah bengkok sama sekali, lalu patah, ia menelannya begitu saja menggunakan mulut besarnya.
Layaknya blackhole yang bisa menghilangkan apapun.
Aku mengeluh menanti detik detik kematianku,

Tapi ia tidak melakukannya.

Ia justru menyeringai kesenangan melihatku, mulut kecil keriput dibagian kepala itu menggumamkan sesuatu dengan amat bersusah payah.



“A-ayah…” panggilnya padaku.



+++
 
Ari.

_________________________________
________________________



Kutarik makhluk mengerikan itu dari atas tubuh adikku.
Sesaat setelah bagian tajam pedangku mengiris sebagian dari kepalanya.
Kubantu Tasuku berdiri, Ia kelihatan seperti orang melongo dan terpana.

Mataku mengekor ketempat dimana pandangan penuh tanya adikku beradu.
Makhluk itu.

Undead menyeramkan yang meraung terluka, aku terperangah melihat apa yang terjadi pada luka yang baru saja kubuat.

Regenerasi mulai terlihat.

Apa-apaan?
Dia tidak kelihatan seperti jenis Vampir atau semacamnya…
Lemah sama sekali dan minim kecerdasan, Tapi…

“A…yah…”
Ketiga tangan kiri makhluk itu menggerapai, bukan kepadaku, tapi kepada Tasuku.

“Ayah…” Panggilnya, memohon, sebelah wajahnya yang rusak menampakkan ekspresi seakan meminta pengakuan.
Aku menoleh pada Tasuku, adikku terus menggelengkan kepala, tanpa melihat kearahku, mundur, meyakinkan dirinya sendiri seraya melakukan penolakan.

“Aya…h?” Suara serak itu sekali lagi memanggil, mengulang ulang ucapannya, nampaknya hanya satu kata itulah yang mampu ia ingat dan ucapkan, “Ayah… ayah… ayah… ayah… ayah…”

Tasuku menggeleng semakin kuat, membuatku kebingungan, ia menutupi kedua telinganya dengan tangan, tidak mau mendengar apapun saat panggilan itu semakin dan semakin sering berulang.

Makhluk itu meraung selayaknya ciptaan yang terluka, mahakarya gagal, marah saat tidak mendapatkan apa yang ia inginkan,
Ia melecutkan lidah, panjang sekali,

Aku menangkis, membiarkan benda lunak berlendir itu mengerat dipergelangan tanganku, Sang Undead mencoba menarikku, murka.
Satu tanganku yang masih bebas menggerakkan pedangku, aku tidak akan memotong benda merepotkan yang digunakan secara sembrono ini,
Aku akan melakukan caraku sendiri yang lebih efisien.
Tidak ada apa apanya dibandingkan tenaga seorang Vampir, hampir tidak ada apa apanya...
Makhluk itu kaget karena aku tak bergeming sama sekali bagai batu, menguasai titik tekan secara sempurna dan justru balas menariknya kearahku.

“…Kak…” Jaketku ditarik, Tasuku.

Aku melirik enggan, lalu berkata “Aku tidak tahu ada apa antara kau dan dia,”
Kupandangi wajah resah adikku mendengarkan setiap kata yang kuucap. “Tapi membiarkannya hidup akan membahayakan banyak orang…, jika kau bijak, pahamilah, karena aku takkan bisa melakukannya tanpa kau.”

Tasuku terdiam dan terguncang, tapi ia membenarkan kata kataku, sambil ia memejamkan matanya, tarikan tangannya menguat, lalu pelan pelan mengendur.

“Bunuh dia, Kakak…” Ia berkata menguatkan diri.
Betapa kagetnya aku melihatnya menangis.
Aku merasakan dirinya dan makhluk itu seolah memiliki ikatan, entah apa.

Aku memberikan senyum terbaikku, pertanda keyakinan serta kebanggaanku bahwa ia benar benar telah dewasa sepenuhnya.

Undead setengah jadi itu terus berusaha membawaku kesisinya, kutarik lidah yang membelit tanganku kasar, menghempas hempaskan tubuh besar itu kedinding,
Sang Undead menjerit nyaring, belitannya terlepas seketika.

“Ayo bermain, Undead,” Kuhunuskan pedang, membuat makhluk itu makin marah, ia merayap keatas dinding, aku mundur selangkah, menengadah melihat-lihat keadaan.
Kelihatan sekali ia ingin menyergapku dari atas!

Ia menjatuhkan dirinya tepat diatasku, serangan penuh titik lemah, jadi kugerakkan pedangku secara vertikal, mematahkan strategi barbar makhluk itu dengan segera,
Ketiga tangan kirinya bergerak cepat bermaksud mematahkan pinggangku,
Aku melompat kekiri, mendorongnya menjauh.

Ia memutar lehernya, merenggangkan otot otot.

Tasuku menyaksikan tegang dibelakangku,

Makhluk itu kembali menyerang membabi buta, seperti banteng mengamuk, Menyerudukku begitu saja, kuhalangkan sisi tajam pedangku didepan dada, kuda kuda pertahanan,
Sekaligus membelah tubuhnya, ia beregenerasi cukup cepat dan lagi lagi aku memotong bagian yang tumbuh itu,
Ampasnya semakin banyak dan makin lama proses penyembuhan dirinya makin lambat, ini dia yang kutunggu!

Jeritan mengenaskan tak terelakkan, dengan luka seperti itu seharusnya ia sudah tidak bisa lagi beregenerasi,
Aku mengira segalanya sudah selesai, namun sepertinya makhluk itu masih belum menyerah!

Ia bangkit dan menyeret tubuh malangnya, mendendam dan mengutuk kearahku.
Lalu ia bergerak cepat sekali!
Keenam tangannya kiri dan kanan bergerak bagai kaki, Maju membuka mulutnya lebar lebar bermaksud menelanku bulat bulat.

Tapi pedangku sudah terlebih dahulu, menusuknya, menembus dari bagian kepala hingga keujung tubuh.
Kemampuannya memobilisasi gerakan sirna sudah.

Mulut menganga mengerikan itu hanya berjarak sepuluh sentimeter dariku, dengan santai, sebelah tanganku yang bebas menyalakan rokok dan menghisapnya,
Kumasukkan geretan kedalam lubang neraka yang terbuka didepanku, cukup dalam hingga rasanya aku masih bisa meraih pencernaannya.

Ketika aku menarik tangan sekaligus pedangku dari tubuh makhluk itu, api berkobar menyelimutinya.
Tak seperti Vampir, terlalu lemah, tapi juga beberapa tingkat lebih berbahaya daripada Zombie biasa, hampir seperti… Chimera.

Tapi bukankah Chimera biasanya digerakkan langsung oleh Deathmaster-Stast the origin- sendiri?

Invasi malam ini –Dilihat dari manapun- sama sekali tidak ada hubungannya dengan sang raja Terror.
Aku berdecak menyaksikan api mulai menjilat jilat jerami,

Tasuku menggendong Daina dibelakangku, kuanggukkan kepala kearah adikku, pertanda sudah selesai.
Memberikan tanda padanya agar mengikutiku karena kami harus mencari jalan keluar ,

“A…yaaah! Ayaaah!” Aku masih mendengar teriakan itu saat menyingkirkan jerami jerami yang terbakar menggunakan pedangku.
Tasuku seketika kembali menoleh kearah Undead yang memanggil-manggilnya pilu.

Seakan enggan untuk berpaling.


“Tasuku,” Seruku mengingatkan, berinisiatif untuk menghentikan,
Terkenang ceritera kuno tentang orang suci yang dilarang menoleh kebelakang pada saat Tuhan memberikan azab pada para pengikutnya yang membangkang,
Dalam cerita itu, istri dari si orang suci menengok kebelakang,
Dan seketika kemudian ia menjadi batu bersama dengan para pendosa.

Tidak boleh, adikku, kau tidak boleh memalingkan wajahmu, bahkan keluarga seorang sucipun tak terselamatkan,
Aku takkan mengizinkanmu melihatnya...

Pemuda kecintaanku itu mengangguk resah, mengikutiku, seluruh lumbung terbakar dan ketika kami keluar, samar samar nampak helikopter bantuan dari Paladin sudah datang,

Segalanya terlambat, desa jatuh, dan… -Aku melihat Daina yang tertidur dalam pangkuan Tasuku-

Gadis ini satu satunya survivor.


-
-
-
-




Desa Wang Krachae, Provinsi Kanchanaburi,
Distrik Sai yok, Thailand.

Tiga hari kemudian.

_____________________________________
______________________________



Syukurlah Paladin dan pemerintah setempat menanggulangi Invasi tepat pada waktunya sehingga hanya desa Mon yang terserang wabah Undead, sementara Desa tetangganya, desa Wang, tidak sampai terkena dampak mengerikan epidemi yang memakan korban nyaris seluruh penduduk Desa Mon.
Jika sampai ikut terkena, maka takkan terbayangkan, karena secara kasat mata Desa Wang jauh lebih besar dan berkembang, setidaknya tempat ini memiliki klinik dokter sendiri, jika dibandingkan keprimitif-an Desa Mon.

Saat ini aku, dan Adikku Tasuku, sedang menunggui Daina, meskipun sudah melewati malam yang benar benar berat, gadis itu tidak terinfeksi dan hanya luka ringan, Tasuku berjasa besar untuk ini, ia yang berusaha mati matian melindungi gadis itu, mengagumkan.
Aku merasakan perubahan pada diri Tasuku kecil, ia yang biasanya hanya mengurusi urusannya sendiri sekarang bisa simpati kepada orang lain, alangkah baiknya.
Walau aku sendiri tak bisa berhenti khawatir dan ngeri atas apa yang mereka berdua alami...
Dan sekarang Daina di rawat di klinik kecil Desa Wang.

Walau demikian ia sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari ini.
Tasuku mengatakan kondisi mental Daina tidak stabil dan gadis itu sendirilah yang sebenarnya menolak bangun, karena ia terlalu takut menghadapi kenyataan,
Aku menundukkan kepala, memang sulit menghadapi kenyataan bahwa kau telah kehilangan.
Aku paham itu, aku dan Tasuku juga melewatkan malam yang sama seperti ini, tiga belas tahun yang lalu.
Melihat lumbung itu terbakar, sungguh sangat memorial sekali,
Karena aku dan Tasuku juga melihat pemandangan yang sama dulu sekali, saat rumah kami musnah menjadi abu.

Siang siang bolong, Tasuku datang dan menghampiriku yang sedang duduk dibalai desa,
Menatap anak anak pribumi Thai bermain.

“Aku masih belum bisa tidur sejak kejadian itu,” Cetus adikku tanpa sungkan, ia duduk disampingku dan menyerahkan sebotol air mineral.

Aku sudah mengerti, aku sudah dengar ceritanya dari Tasuku sendiri.
Undead itu, penjelmaan lelaki gondrong bertopi yang kulihat dikapal pengangkut barang,
Ia secara sembrono menyuntikkan serum ciptaan adikku yang sama sekali belum selesai dan tak boleh diujicoba pada manusia,
Bisa ditebak, tidak ada kecocokan secara genetik dan malah mengacaukan mutasi yang sudah terjadi.


“Ia seharusnya Vampir… Prosese mutasi itu... Aku melihatnya, ia meninggalkan kecerdasan, kemampuan regenerasi itu… dan Zombie biasa takkan bisa melakukannya… ” Tasuku menangkupkan kedua tangan kewajah, “Ia seharusnya… tidak seburuk itu, itu gagal… aku yang membuatnya jadi seperti itu…”

Aku menggeleng maklum, Tasuku saat ini benar benar merasa bersalah sudah turut andil dalam membuat pria itu berubah menjadi makhluk setengah jadi dengan bentuk menyedihkan, padahal seharusnya ia pantas untuk ‘bentuk’ yang lebih baik,

Hey, jika aku menyepelekan hal ini, aku jahat tidak sih?
Tidak, Adikkulah yang terlalu baik hati.

“Sudahlah,” Kutepuk bahunya lembut, “Dengan tidak memberikannya kesempatan untuk berkembang kebentuk yang lebih menyulitkan untuk kukalahkan, kau sebenarnya sudah membuat banyak sekali kebajikan untuk orang lain dan dirimu sendiri, mereka yang menyebabkan Desa Mon terinvasi, ingat?
Dengan atau tanpa campur tanganmu, makhluk akan tetap menjadi pemangsa,
Keluarga Daina, teman teman Daina, semuanya lenyap, semua karena mereka, jika ada makhluk yang lebih rendah daripada binatang, maka itu adalah mereka, karena mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa peduli akan melukai orang lain.” Aku mengingatkan.

Tasuku meneguk air mineralnya, frustasi, “Tapi ia ciptaanku…” Keluhnya, “Ia memanggil namaku, aku menyalahpahami padahal sejak awal ia berniat menolongku… Saat itu,
Saat ia melahap kawanannya sendiri, Dan saat ia menyingkirkan Undead lain, semua dilakukannya demiku, Ia memanggilku ‘Ayah’, Aku penciptanya…”

“Ya, anggap saja kau benar dengan… Hipotesamu,” Tukasku dalam, “Dia menolongmu, tapi apa faedahnya? Ia membunuh semua orang! Bahkan menyakiti Daina… kau lihat sendiri kan? Makhluk itu tidak stabil, kasihan padanya takkan membuat segala hal menjadi lebih baik,”

Tasuku meremas botol plastik ditangannya, ia mendengarkan nasehatku bersunggung sungguh, diam saja, seakan menghimpun semua keberanian untuk mengatakan semua beban yang menghimpit dalam satu tarikan nafas.

“Tapi… kak…” Ia mulai bicara lagi,

“Ya?”

“Kakak tahu kan… artinya?” Ia menatap kearahku, ketakutan dimata adikku amat nyata, “Aku membuat Chimera…”

Ah…

“Aku takut,” Tasuku memandangi kedua tangannya sendiri, gelisah, “Kakak pernah bilang padaku, hanya Vampir yang bisa melakukannya… Dan itu perbuatan tak termaafkan dan jahat sekali...
Mencampurkan manusia jadi makhluk aneh dan memperbudak mereka, membuat mereka kesakitan bahkan setelah mati...
Tapi aku Bisa, melakukan kejahatan itu, dan aku manusia, Dan aku takut, aku takut pada diriku sendiri, aku tidak mau kemampuan begini!” Ia mencengkeram botol plastik itu hingga remuk ditangan, lalu melemparkan kedalam bak sampah. “Aku berniat menolong, sebaliknya aku malah membuatnya jadi semakin parah, aku yang terburuk, aku gagal…” Tasuku mengacak rambut, berupaya meredam rasa gundah.

“Pendidikan yang kutempuh, buku buku dan kepintaranku, ilmu yang selama ini kucari,” Tasuku berkata dengan suara bergetar, “Adalah demi mengembalikan kemanusiaan dalam diri mereka, bukan malah membantu mencabutnya.”

Untuk kali ini, aku tidak bisa bicara lagi.

Hanya membenarkan dalam hati, Jadi itulah sumber masalah sebenarnya, Tasuku memikirkan begitu banyak hal, dan ia sungguh rapuh.
Pelan pelan, kutarik kepalanya, ia menyandarkan diri dibahuku, meminta pegangan.

“Takkan ada yang tahu, kecuali aku dan Tuhan.” Aku berjanji, mengelus rambut pirang adikku dengan sayang, “Sekarang dengarkan aku, maukah kau?”

Adik kecilku yang kusayangi mengangkat wajahnya, menatapku,

“Itu hanya mimpi buruk, tidak pernah terjadi.” Pendidikan yang salah, aku mengajari adikku berdusta.
Sekali ini saja, seperti cerita tentang dusta orang suci di gua laba laba, semua demi kebaikan.

Ah, betapa buruknya aku sebagai manusia, menggunakan hal hal baik sebagai dalil membenarkan perbuatan yang tidak benar, bodohnya aku..., menghalalkan segala cara untuk membuat adik yang kusayangi tertawa.

“Tidak pernah terjadi…” Adikku mengulang ucapanku, seperti biasa, Tasuku menelan mentah mentah ucapanku seperti doktrin. “Hanya mimpi buruk.”


Bagus begitu, Tasuku sungguh anak yang baik.
Kami takkan saling berjanji didalam hati takkan pernah mengungkit ungkit hal ini lagi, bahkan untuk bertahun tahun kedepan, seterusnya hingga ajal menjemput kami.
Tak pernah terjadi, artinya tak pernah terjadi, kan?
Lupakanlah…

Kemudian seseorang menyusul kami kebalai desa, dari seragamnya, nampaknya ia salah seorang perawat di klinik, ia memberitahuku dan Tasuku, kalau Daina sudah sadar,
Aku dan Tasuku bergegas menuju klinik, menemui gadis malang itu dan melihat keadaannya.

++++
 
Daina.

______________________
____________________



Dimana ini…?
Langit langitnya beda… mengapa semuanya berwarna putih…?
Terdengar suara orang berbisik bisik, “Ia sudah sadar, ia sudah sadar!”

Nyatanya aku hanya dapat mendengar, tidak bisa merasakan apa apa,
Aku berjuang mengumpulkan seluruh kesadaranku, ingatanku, ada apa? Mengapa aku disini…?
Ayah…? Ibu…? Kemana kalian?
Sebagai seorang anak perempuan yang tak pernah jauh dari orangtuanya, tentu saja setiap kali aku bangun tidur, yang pertama kali kulihat dan kucari adalah mereka berdua.
Indukku…
Sekelebat bayangan mengerikan menghiasi ruang ruang kenanganku, membakar panas laksana nyala api.
Darah, Nyala api, penderitaan, kehilangan, semua berbaur menjadi satu.
Aku berteriak, bangun dari tempat tidurku.

Tasuku mendekapku erat, tepat pada saat aku mulai menangis histeris tanpa henti.
Airmata bercucuran layaknya hujan, dadaku sakit sekali seperti tertusuk duri, perih, sakit, hampa.
Aku takkan pernah bertemu mereka lagi untuk seumur hidupku.
Tak akan mendengar mereka tertawa lagi,
Takkan menangis bersama lagi.
Aku sendirian, sekarang, benar-benar sendirian…

Tangan lain ikut mendekapku, seakan membantu Tasuku menenangkanku, bergerak seperti perisai pelindung disekitarku, melingkupiku dengan rasa aman.

Kak Ari.

Ia juga memelukku saat ini, sama seperti yang Tasuku lakukan, tangannya yang besar merengkuhku dan Tasuku sekaligus kedalam dadanya.
Begitu menentramkan.
Itu menolongku, tapi tidak cukup untuk menghilangkan kedukaan hebat yang melanda,
Tubuhku melemah lagi, pingsan untuk kedua kalinya.


++++
 
Back
Top