~DESCENDANT OF THE DEATHMASTER~ by:DYNA

bagaimana menurut kalian novel pertama Dyna (daina) ini?


  • Total voters
    35
Tia kerja di toko boneka kan?
Senangnya kau pasti akrab dengan kucing2an gitu -////-


Nyakakakkaka iya kak Ari cinta pandangan pertama :vvv
Sebenarnya Kak Ari itu seru orang na tapi dia tak pandai mengekspresikan diri =////=
Dan di bab ini dia belum kenal Ryo,
Kurasa dia jadi agak tak terlalu suram lagi sejak kenal Ryo deh(?)

Omong2 soal Tasuku, yah, kepribadiannya memang membuatnya mudah dicintai siapa saja, tapi jangan salah, sebenarnya jauh didalam hatinya dia merasa hampa loh....
Dia itu tipe brother complex sih, apa apa maunya kakak saja, Setidaknya sebelum ketemu Daina. -////-
tasuku terlalu baik hati dan lembuut Q-Q
 
Daina.


________________________________
________________________




“Haaahh! Nyamannya!” Tasuku melemparkan tubuhnya keatas kasur tanpa ragu, sementara aku menata seteko air dingin, gelas beserta baki berisi buah diatas meja samping tempat tidurnya.

“Maaf kalau penginapannya sudah agak tua,” Aku menyibak gorden, seberkas sinar menerangi seluruh ruangan, Tasuku memandangiku sambil rebahan, kakinya bergerak gerak mengais selimut yang berantakan karena ia aktif sekali berguling guling, headset masih terpasang ditelinganya dan ia berguling lagi beberapa kali, “Kalau ada yang kau perlukan, bilang saja,”

“Penginapan Tua? Ini hebat.” Ia menepis ketidak-pede-anku dengan sempurna, “Aku selalu suka yang tua tua,” Kali ini Tasuku mendekap bantalnya, seperti anak kecil, ia menyukai apapun yang baru dilihatnya, semua dimatanya seakan kelihatan bagus, aura maupun sudut pandangnya positif.

Ia mencintai dunia, bersamanya kau bisa merasakan betapa dirimu hidup.
Meskipun kami baru saja bertemu dan kenal beberapa jam, tapi dia kelihatannya mudah akrab dengan siapa saja maupun membuat orang sangat gampang mempercayainya…
Ia memikat dan itu aneh.
Aneh, sangat aneh, dan tetap saja memikat.
Lebih dari yang kau tahu, tanpa sadar kau telah terseret kehangatannya.


Ia tersenyum penuh rasa terima kasih padaku.


“Sebentar lagi pelayan akan datang membawakan makanan, atau kalau kau ingin, kau bisa turun kebawah,”

Tasuku mendadak bangkit dari rebahan, “Bukan kau yang mengantar?” Katanya memastikan, Aku menggeleng kendatipun wajahku memerah karena dari cahaya menembus melalui jendela kamar, aku bisa melihat mata berwarna safir itu memandang langsung kearahku.

“Aku harus mengantarkan makan siang… Umm, ada tamu penting…” Aku membayangkan kak Ari pasti ngamuk berat kalau aku telat mengantarkan makan siangnya,
Apalagi belakangan dia semakin cerewet, yah bukannya aku tidak senang sih,
Kakak menyenangkan, ia juga suka membagikan cerita cerita luar biasa untukku karena ia selalu berkeliling dunia.
Tapi pria didepanku ini, memiliki pesona unik yang sulit ditolak.

“Tapi nanti kau datang lagi, kan?” Tasuku memandangiku, menunggu jawaban, aku tahu ia sedang kebosanan disini, habis orang orang selalu bilang kalau aku enak dijadikan teman.

“Tentu saja,” jawabku, “Aku akan datang sehabis jam makan malam, karena aku… 3 kali sehari harus pergi ke pinggiran desa untuk mengunjungi tamu ini,”

Tasuku tidak membantah, ia hanya menggerakkan bola mata biru lautnya kelain tempat, terlihat malas berdebat, “Tidak usah suruh siapa siapa kemari, Aku rasa lebih baik aku sendiri yang akan turun kebawah untuk melihat lihat.” Ia membetulkan letak headsetnya, mengalah.


Bagus begitu, Tasuku anak baik…



“Dan bisakah kau tidak mengijinkan siapapun masuk kekamarku?” Ia menambahkan, “Kecuali kau,”

“Kenapa?” Aku sangat penasaran.

Tasuku meraih ranselnya, “Aku sedang mengadakan penelitian kecil disini, Aku hanya tidak suka ada yang menyentuh barang barangku sembarangan meskipun hanya untuk membersihkan kamar.”

“Siap!” responku segera.

“Terima kasih.” Tasuku memperlihatkan cengiran khasnya, ia meniruku menangkupkan kedua tangan didepan dada, menelengkan lehernya sedikit lalu bilang “khob kun tee karuna,” yang artinya ia sangat berterima kasih atas kebaikanku, Logatnya mahir seakan ia orang Thai asli, aku tahu ia mengucapkannya sambil mengejekku sedikit, meskipun demikian aku tidak merasa tersinggung, malah ikut tertawa.


“Pergi dulu, nanti aku boleh liat ya, penelitianmu!” Sambil melambaikan tangan, aku keluar dari kamarnya, Tasuku juga melambaikan tangannya, bahkan ia berkata ‘Thaa-Thaa’ lagi lagi hanya untuk menggoda nada bicaraku yang memang seperti anak anak,


… Ia bisa menyampaikan canda bernada ejekan tanpa membuat orang lain kesal atau tersinggung.

Aku suka caranya, entah mengapa…


-
-
-
-
-
-
-


“Kau terlambat, bulat.”

Kak Ari memasang tampang cemberut itu lagi!
Aku menunduk, ia telah menyelesaikan acara makan siangnya dan sekarang tengah bersantai diserambi rumah, menungguku yang tengah membereskan peralatan makan.

“Aku sudah menunggumu dari tadi, harusnya kau jangan sampai terlambat, kau tahu kan’ aku lapar, apalagi disini dekat dengan sungai, kau tidak tahu betapa membosankannya mendengarkan cekikikan ibu ibu yang sedang cuci baju itu menggosip, mau tidur berisik, menunggumu sambil kelaparan,”

“Aku juga jalan kaki,” sahutku setengah kesal dan ingin menangis, “Dua kilometer! Mau copot rasanya, lagipula kakak kan’ bisa memasak sesuatu dulu sambil menungguku,”

Mungkin melihatku yang mulai menggenangkan air mata, mungkin juga karena kasihan, entahlah,
Yang jelas detik berikutnya tubuhku terangkat,


kakak menggendongku,



“Kakak!” Aku menjerit keras sekali, “Ini apaan sih, Turunkan Daina!”

Ia benar benar menurunkanku detik berikutnya.

Atau lebih tepat lagi,
Menghempaskanku dengan kasar

…keatas ranjangnya.


Aku menatapnya tidak mengerti, kak Ari membalas tatapanku, lalu ia berbalik kearah dapur, “Kalau kau bergerak dari situ selangkah saja, lumba lumba, aku benar benar akan memotong kakimu,” ancamnya.

Kepalaku berdenyut karena sudah dilempar sedemikian kasar, disebut lumba lumba pula...
Bertanya tanya dalam hati apa kiranya yang ingin dilakukannya terhadapku, aku memegangi dahiku.
Hari ini aku sedikit pusing karena walaupun hari sudah sedikit sore, matahari cukup menyengat, mungkin Ibu benar, Daina terlalu banyak kegiatan,
Membawa kapal, mencari Turis dan lain lain... umm...

Tak berapa lama kemudian Kak Ari kembali membawa sebaskom air hangat, ia menarik kakiku hingga setengah tubuh bagian bawahku otomatis terjulur kelantai,
Kasarnya tidak berubah, seakan ia tidak mengerti aku ini wanita atau apa,
Aku bangkit membenarkan posisiku, dan- walaupun ia sepertinya tidak peduli soal itu- membetulkan terusanku menutupi bagian paha dalam, aku duduk ditepi ranjang, membiarkannya merendam kedua kakiku didalam air.

Benar saja, begitu mata kakiku menyentuh air hangat, perasaan lega melingkupiku,
Tidak pernah ada yang sebaik ini sebelumnya, kecuali Ibuku...
Rasanya semua lelah melayang keluar melewati ubun ubun, aku memandang langit langit pondokan, pikiranku terbang entah kemana sementara kakak mengelus kakiku pelan, terkadang sambil melakukan pijatan ringan.

“Enak?” Ia bertanya, tampangnya setengah hati, aku mengangguk angguk, wah hangat, wah, nyaman,
Kak Ari tersenyum mengejek melihat reaksiku, “Tutup matamu,” perintahnya,

Aku menutup mataku begitu saja seperti kucing peliharaan,
Kakak memang sangat tampan tapi perangainya buruk dan dingin, kadang juga suka marah marah tidak ramah,
Walau demikian, ia memiliki kelembutan yang sangat jarang diperlihatkannya, seperti sekarang,
Aku suka dibuat nyaman, dimanjakan, makanya aku menurut,
Kalau aku anak ayam pastilah amat sangat beruntung jika ia yang menjadi indukku, aku tertawa sendiri memikirkan hal itu.
Lagipula aku tak punya kakak… Kalau aku benar benar punya saudara laki laki mungkin akan seperti ini rasanya…

Hangat menjalari bagian kakiku, kak Ari melanjutkan memijatnya pelan.

“Nghhh…”

Penasaran, aku membuka sebelah mataku dan mengintip, “Kau punya adik?” Tanyaku, Kak Ari memandangi betisku, aku terkejut mendapati sorot matanya sangat lembut.

“Punya…” Ia menjawab, suaranya lirih sekali,

“Seperti apa dia?” Tanyaku ingin tahu,

“Seperti kau,” Sekilas terlihat wajah tampan itu tersenyum, “Dia idealis yang hidup didunianya, pikirannya putih tanpa cela, Ia selalu ingin membahagiakan banyak orang, memikirkan banyak orang, Kau takkan menemukan alasan mengapa kau tak mencintainya…”

Ah, aku mengerti.
Adik perempuan yang manis, kalau begitu? Kelihatannya kepribadiannya cantik sekali…
Aku membayangkan, mungkin seorang Gadis remaja yang terpelajar, tuan puteri sempurna, hidup dalam lingkungan terbaik disertai perlindungan kakaknya...
Aaa, mengapa dibilang mirip aku? Aku kan hanya anak kampung!
Apa mungkin aku dan adiknya seumuran sehingga ia melihat kami ini mirip? Ya, ya, pasti begitu…

“Apa kau juga melakukan ini pada adikmu?” Tanyaku lagi,

“Ya…” Kak Ari memberikan tekanan pada suara baritone-nya, ia kedengaran agak serak sekarang, seperti menahan diri untuk tidak menelanku, “Terkadang,”

“Kau kangen adikmu, ya?”

“Sangat,” ia menjawab, sorot matanya penuh rasa kesepian, aku bisa merasakan kerinduan pada nada bicaranya,
Terpisah dari keluarga pasti berat sekali, ya…
Kakak juga masih muda, pun demikian, bebannya tampak banyak sekali…

Tiba tiba muncul ide bodoh dibenakku,
Aku menggerak gerakkan kakiku tak teratur didalam baskom, kak Ari yang terkaget kaget karena gerakan tiba tibaku langsung berusaha menahan kakiku agar tetap didalam,

“Hei-hei, tenang!” Tegurnya,

Terlambat, percikan hangat itu sudah membasahi wajah maskulin didepanku, Kakak menutup matanya spontan, untuk beberapa saat tetap begitu, kelihatan kesal sekali.
Air menetes netes dibagian wajahnya, meluncur keatas dagu hingga rahang yang kokoh itu.

“Maaf, tidak sengaja,” Ucapku berpura pura amnesia, kemudian aku menggerakkan kakiku lagi, kali ini lebih kasar sehingga air yang terpercik lebih banyak, cukup banyak hingga membasahi rambut sehitam jelaga itu.
Kakak kaget tetapi tidak sempat menghindar.

“Kau…Bulat… Tengik…” Suaranya terputus putus saking kesalnya. “Sengaja…”

Secepat kilat dengan gerakan tak terduga, Ia mencelupkan kedua tangannya kedalam baskom, lalu ikutan menyipratkan air kearahku,
Aku yang tidak menyangka ia akan membalasku dengan cara seperti ini, langsung melotot padanya,

“Hentikan!” Pintaku, “Kakak, aku hanya bercanda...! Kakaaak!”

“Bercandamu tidak lucu,” ia tidak mempedulikan kata kataku, air yang ia percikkan sampai membasahi wajahku semakin banyak, masuk kehidungku dan membuatku terbatuk,
Aku juga kesal,

Sampai selanjutnya kami saling balas dalam perang air yang seru.

“Kelereng gila!” Ia mengumpat, pada akhirnya ia menelungkupkan baskom itu kekepalaku, aku tidak mau kalah, langsung meraih benda yang bertengger tidak sah diatas kepalaku lalu melemparkannya kearah kakak, bodoh aku, kakak terlalu gesit, ia menghindarinya.
Sambil tetap menyumpah nyumpah, anehnya ia tidak bisa menyembunyikan tawanya sendiri, “Sekali lagi kau melakukan itu, kutenggelamkan kau di bak mandi!”

“Lah, yang membuka celah siapa?” Aku tak mau disalahkan, “Lagipula kakak akhirnya bisa tertawa,
Oh yah, kalau kau kangen adikmu… kau boleh anggap aku adikmu jika mau,”

Kak Ari terdiam,

“Mungkin memang aku tidak sehebat adikmu, sih…” aku meralat, membiarkan rambutku dibelai, menunggu tanggapannya,
Merasa bersalah juga sih, mana mungkin anak dusun sepertiku bisa menggantikan... gadis yang hebat sekali sebagai adiknya.
Ya, pasti gadis itu hebat sekali... dilihat dari perubahan air muka kak Ari saat ia membicarakan adiknya...
Ayolah kak... aku ingin kakak mengatakan sesuatu, jangan buat aku malu sendiri begini karena kata kata lancangku...

Kupikir paling tidak akan diejek dan aku sudah menyiapkan hati, ternyata Kakak hanya melemparkan senyuman berahasia padaku, aku tak bisa menebak apa yang dipikirkannya,

“Tunggu disini bocah, kau basah,” ia berdiri, aku tidak tahu ia kemana selanjutnya, dengan badan setengah basah aku berguling diatas kasur empuk kakak,
Sprei nya juga basah… kurasa aku harus memintakan gantinya pada ibu malam ini…
Ketika aku sedang asyik memikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada ibuku, kak Ari datang, ia sudah mengganti T-shirt basahnya dengan yang baru.
Ia melemparkan piyama keatas pangkuanku,

“Ini kebesaran,” aku membolak balik piyama yang ia berikan, “Bajumu seperti sprei kalau aku yang pakai,”

“Lalu kau mau jalan jalan pulang dengan penampilan seperti itu? Gulung saja tangan dan kakinya,” Ia menunjuk bagian dadaku, refleks aku menutupi dengan tangan.
Ugh, benar juga, pakaian dalamku tembus pandang begini…

“Kyaaa! Mesum! Jangan lihat!” Bentakku, Kak Ari menyalakan rokoknya, membuang muka sambil duduk diatas jendela besar dikamarnya,

“Menyebut orang lain mesum, Edan sekali…” Ia menggerutu, “Kalau aku ingin memperkosamu juga pasti sudah kulakukan sejak dulu, ada banyak kesempatan,”

Aku mendelik antara kesal dan kebingungan, tapi sejurus kemudian bergumam gumam setuju, “Oh, iya yah… benar juga,”

“Pakai!” Kak Ari memerintah keras keras lagi, membuat tersentak,

“I-iya iyaaa aku ganti!”

++++
 
Ari. (Lanjutan)

_________________________
_________________


Bunyi kresek kresek itu sangat mengganggu,

Seorang gadis yang membuatku jatuh cinta sedang ganti baju di kamar mandiku.
Aku menatap kearah semak semak, berusaha tidak membayangkan.

“Kak…” Daina keluar menghampiriku, memang piyamaku cukup tebal sehingga tidak ada lekuk tubuhnya yang terlihat, tapi saking longgarnya, ia benar benar seperti terlihat menggulung dirinya yang mungil itu memakai taplak meja makan besar.

Oh fvck,
Imut.


Sial, sial, sial,
Serba salah begini.
Pakai apa saja dia bagus…


“Bagaimana? Bagus tidak?” Daina berputar putar, dimataku terlihat seperti perpaduan antara ikan lumba lumba dan mermaid. Lucu banget, mampuslah aku.

“Mirip Casper,” Komentarku.

Pipi Daina lagi lagi menggembung tidak senang,

“Kalau saja kau pangeranku, pasti tidak akan bilang begitu!”

“Siapa yang pangeranmu?” Aku mendelik, tidak mau ketahuan bahwa saat ini sedang senang.

Daina menggeleng, “Aku bertemu pangeran hari ini,” ia menerawang, kelihatannya sedang mengigau disiang bolong,

“Teman khayalanmu lagi?”

Daina mendorongku hingga aku nyaris terjatuh keluar, aku berpegangan pada bingkai jendela untuk menahan badanku agar tetap stabil.

“Bodoh kau, Casper, jatuh nih!”

Gadis itu berlagak tak mendengar, “Sudah sore,” Daina berpegangan pada tubuhku, setengah memeluk, setengah menyeruduk, “Aku pulang dulu,”

“Nanti malam kau tidak usah membawakanku makanan, gadis keluar malam hari bahaya,” Aku mengusap kepalanya perlahan, Daina menggesek gesekkan hidungnya diperutku, membuat nafasku seakan terlilit.

“Sprei mu harus diganti dengan yang baru,” ia seperti anak kucing dan aku ibunya, semakin senang menggesek gesekkan wajahnya, Aku kegelian tapi kutahan,
kalau kubilang geli ia pasti berhenti…

“Itu cuma basah sedikit,” aku mengingatkan, Daina mengangkat wajahnya, rambutnya yang panjang bergelombang jatuh ditanganku,

“Baiklah… Sampai nanti kalau begitu?” ia menatapku dengan mata itu lagi.
Bertanya secara tidak langsung, ‘apa kau yakin?’
Mata malaikatnya…

Bahaya, Ar, Kau disini untuk… kerja.

Tasuku akan benar benar menertawakanku.

“Ya, tidak usah, besok saja, Tidak baik.”

Daina menggigit bibir bawahnya, ragu.
Ia sudah akrab dan percaya padaku, sulit memang…
Ia memelukku lagi, “Aku menyayangimu,” Katanya polos.

Bagaimana ini,
Semakin lama aku semakin tertarik dalam pesonanya.
Tasuku, apa yang harus kulakukan?

+++
 
Tasuku.

Pukul 08:15 malam.

______________________________
_______________________




Kedai nampak ramai pada jam segini, aku mengunyah makananku, memperhatikan orang orang berlalu lalang, merekapun kebanyakan turis, benar kata Daina saat ia bercerita padaku dalam perjalanan kemari.

Daerah ini ramai dengan pedagang,

Aku tertidur begitu saja ketika Daina meninggalkanku tadi siang, saking capeknya rasa laparku sampai terlupakan,
tidak sadar begitu aku bangun, hari sudah gelap,
aku bergerak seperti ular kekenyangan, padahal aku lupa makan siang.

Betapa malasnya.

Menutup jendela kamar kemudian menyalakan lampu.
Bahkan aku malas mandi… apa yang dikatakan kakakku yah kalau dia tahu aku juga bisa secapek ini?
Rasanya tidur seabadpun tidak akan cukup pada saat kau sedang kelelahan.
Meskipun demikian suara perut keronconganku tidak dapat kuhentikan.
Lapar…

Aku hanya sarapan roti tadi pagi, dan cemilan yang banyak, mana cukup, aneh sekali padahal aku seorang dokter, ditilik dari sudut pandang medis cara hidupku belakangan ini sungguh tidak sehat.
Setelah mencuci muka dan merapikan rambutku seadanya, aku turun kebawah,

Begitulah bagaimana aku berakhir dimeja ini.
Memesan sepiring sosis dan kentang, makan seperti orang 3 tahun tak pernah makan, dan minum segelas besar susu.

Pada makan malam.

Kakak sering bilang bahwa aku tukang makan,

kalau sudah kerja lupa waktu, tapi ketika makan porsiku dua kali lebih banyak bahkan dari kak Ari sendiri.
Kakakku makannya sedikit, tapi skill memasaknya tingkat dewa.
Aku suka minum susu, sampai sampai kalau sarapan aku hampir selalu menambahkan susu banyak banyak, kakakku sebaliknya, lebih suka kopi,
bagaimanapun kopi tidak sehat, aku sering mengingatkannya tentang ini, tapi ia tak pernah menggubrisku, dia beralasan bahwa aku sendiri kalau makan nggak kira-kira, aku tertawa sendiri melihat sepiring sosis dihadapanku.
Ah, kak… kalau otakku tetap jalan seperti sekarang tentu saja makan apapun tidak masalah, tak akan jadi gemuk, Aku membakar kalori dengan berpikir dan berpikir.
Kolesterol dan lemak jahat benci padaku…

Kalau aku punya pacar, aku ingin pacarku makannya banyak juga supaya imbang,
Aku benci wanita menahan diri hanya karena takut gemuk, memesan sepiring salad pada saat aku sudah menabung berbulan bulan demi mengajaknya makan seporsi steak yang lezat.

Kupikir kalau kak Ari punya pacar nanti, kurasa ia lebih baik mencari wanita macam ini juga…
Ia akan sangat dihargai karena kemampuannya dalam bidang kuliner.
Jika tidak jadi prajurit bayaran, kakak akan sukses sebagai koki, oh tidak, dia akan ngambek berat kalau aku mengatakan hal ini padanya.

Mataku tertuju pada sosok yang barusan saja berlari melewati pintu,

Daina menyerahkan sekantung belanjaan kepada wanita yang mirip dengannya, jelas sekali itu adalah ibunya, nafasnya terengah.
Kemudian matanya bertemu lagi dengan mataku, ia tertawa.

Gadis berambut panjang bergelombang itu menatapku lama sekali sebelum ibunya menepuk bahunya untuk menyadarkan, ia tersenyum malu malu,
Aku membalas senyumannya, mengangkat gelasku ramah.

Sang ibu mengajaknya bicara, seperti menanyakan sesuatu, kelihatannya mereka membahas stok bahan makanan atau apalah, kemudian wanita tua itu bergegas masuk kedapur, meninggalkan anak gadisnya seorang diri didepan meja kasir.

Daina mengangkat bahu, ia meraih teko susu disebelahnya, lalu berjalan menghampiriku,

“Bagaimana rasanya?” ia melirik piringku, “Tidak buruk kan?”

“Diatas ekspektasiku,” aku mengibaskan tangan dengan gaya ‘no problemo’. “Ada masalah didapur?”

Daina menuangkan susu kegelasku, aku memperhatikannya sambil melipat tangan didada.

“Stok daging habis,” ia memberitahuku, “Padahal kami perlu, yah ibuku sedang menghubungi kenalannya, tamu sedang banyak malam ini,”

“Syukurlah, Artinya usaha keluargamu sukses.” Tukasku memuji,

Daina memandangiku, “Bisakah kau menunggu sebentar lagi?” pintanya manis, “Pekerjaanku harus tuntas terlebih dahulu baru bisa mengobrol,”

Aku menaikkan alis, Ia percaya diri, aku belum bilang bahwa aku sengaja menunggunya kan…?
Sambil memasukkan sepotong kentang panggang dalam mulutku, aku mengangguk,
Sama sekali tidak membantah,
Merasa lucu, Gadis ini pastilah tidak menyadari akan kekuatan yang dimilikinya,

Aku menunggunya, santai saja memain mainkan ponselku,
Kak Ari sedang apa yah sekarang?
Pertama kalinya aku tidak cerita pada kakak mengenai kedatanganku kesini,
Lagipula kakak sedang jatuh cinta, itulah satu satunya alasan bahwa kakak tidak akan pulang tiba tiba,
Ia pasti memberitahuku, aku punya banyak waktu disini, lagipula aku sengaja memilih ke Thailand, Negara yang sama dengan kakakku berada, supaya bisa lebih mudah menghitung waktu keberangkatan dan kedatangannya,

Kakakku jatuh cinta…
Aku menopang daguku dengan tangan,
Hmm… seperti apa wanitanya?
Aku penasaran…

Bicara soal wanita, disinipun ada yang menarik,

Aku memandangi Daina yang kesana kemari dengan celemek terpasang ditubuhnya,
Ia rajin dan cekatan, ia juga mungil dan mudah menyelipkan tubuhnya ditengah tengah kerumunan hanya untuk mengantarkan pesanan orang lain.
Dari tatapan mata para lelaki padanya, aku sangat tahu.
Mungkin ia bunga desa disini…
Ya, ia sendiri tidak menyadarinya, tapi memang seperti itu.
Ia sedang mekar-mekarnya, menebar harum kepada siapapun yang berada dekat dengannya.
Rambutnya panjang bergelombang diikat kebelakang, Kulitnya putih dan pipinya merona seperti mawar.
Saat ia berada ditepi sungai kemarin, samar samar aku ingat rambutnya agak basah.
Bukannya kejam, tapi aku tidak bisa menyalahkan juga kalau orang lain ingin melakukan apapun demi mendapatkannya
Walau aku tidak sampai berpikiran kesana.

Ia mencatat menu dengan cepat, menyerahkannya tanpa kesalahan seakan ini sudah pekerjaannya seumur hidup.
Aku mengerti, dari etikanya pada Ibunya saja kelihatan, Daina mencintai keluarganya.
Tak tahan, aku mengembangkan senyumanku untuk kesekian kalinya,
Daina juga sama, sadar mataku selalu mengekor gerakannya kemanapun ia melangkah.
Kami saling menyembunyikan tawa satu sama lain.
Bukan, bukan karena aku sedang genit tentu saja, aku tidak enak karena gadis itu terus terusan memandangi dan tersenyum padaku.
Aku hanya ikut ikutan, kok, tidak sopan kan kalau aku membuang muka?
Aku bertanya tanya kapan selesainya, tanpa kusadari aku malah keasyikan berbagi mata dengan Daina.
Aku terus memandangi sampai makanan dihadapanku yang masih tersisa setengahnya tak terasa menjadi dingin.

Sekitar 25 menitan kemudian,
Wanita berusia paruh 30-an datang, Daina menyerahkan celemek yang ia kenakan pada wanita itu, Ibunya bicara padanya, kelihatannya ia sudah dibebas-tugaskan.
Karena saat ini ia melangkah menuju mejaku.

“Tidak dimakan?” Ia menunjuk makananku, aku teringat,

“Oh, yah,” aku buru buru menyendok sosis lagi, Daina tertawa, ia meraih kentang dipiringku, ikut memakannya,

“Masih enak,” katanya mengangguk angguk, “Aku lapar,” ia menggeser kursi disebelahku kemudian duduk, “Aku makan, yah… Tenang, kau bayar setengah saja,” membuka mulutnya lebar lebar,

Aku ternganga, takjub.
Dia barbar, tapi manis, haha…

“Kenapa namamu Tasuku? Maksudku… Dipanggil Tasuku itu susah sekali,” Ia mulai berceloteh, “TsaraniaKova Gabriel, sangat keren,”

Berdehem, aku senang ia terkesan dengan namaku, “Karena TsaraniaKova sangat sulit diucapkan, Kakakku jadi memanggilku Tasuku sejak kecil,”

“Aku kira kau dipanggil Tasuku karena wajahmu imut,” ia memuji,

“Mungkin, kau merasa begitu?”

Daina mengangguk senang, “Tidak tahu,” ia menundukan wajah, “Tasuku, kelihatan seperti nama orang jepang…”

“Mungkin begitu, tapi siapa peduli? Dizaman sekarang ini, kebudayaan bercampur,” Aku mengaduh, Daina mendorong bahuku saat aku tergelak, tidak setuju.
Kemudian ia menatapku takut takut,

“Kau punya sesuatu yang jarang dimiliki orang disini,” Daina menunjuk matanya sendiri, aku paham.

“Ini?” Aku menutupi mataku, membuat gerakan ci-luk-ba, Daina tertawa, “Ini mata ayahku, dia orang Rusia… kakakku malah lebih mirip ibu, rambut hitam, mata hitam, aku kadang iri dengan warna mata dan rambutnya, kakakku luar biasa tampan, tapi masih manusiawi,” aku sedikit bercanda dengan gaya sok tahu, sayangnya gadis dihadapanku menanggapi kelewat serius,

"Ya... kau... kelihatan..."

"Tidak nyata?" Sambarku cepat, ia mengangguk setuju, "Terima kasih, itu cukup membuatku stress,"

“Indah sekali…” Daina tiba tiba mengiyakan seraya memajukan tubuhnya, ingin melihat lebih dekat, lalu tangannya menjulur kedepan, mengelus rambutku yang berwarna keemasan,

“Ini juga asli ya?”

“Tentu sajalah…” Aku mendelik, tertawa.

Aku tahu warna rambut dan mataku memang mencolok disini, tapi seumur hidupku, aku nyaris tak pernah membiarkan orang lain berbuat sejauh ini, kecuali mungkin kakakku.
Dorongan yang kurasakan berbeda, meminta untuk disentuh, ingin tahu mengapa ia begitu tertarik tapi tidak berani meminta apapun dariku.

Penasaran tentang rasa penasarannya.

Sebenarnya aku... tidak pernah suka warna rambut dan mataku, aku lebih suka warna rambut dan mata kakak...,
tapi gadis ini kelihatan sangat menyukainya... aku tak mengerti.

Dipojok ruangan aku dan Daina duduk, semua orang juga nampak sibuk dengan urusannya masing masing, biarlah, ada yang melihatpun, toh ia hanya menyentuh rambutku,
Apa istimewanya?

Daina berterima kasih padaku,

“Untuk apa?” Aku tergelak.

“Karena telah bersedia memperlihatkan,”

Aku tergelak lagi.


Kami berdua dikejutkan oleh suara suara berisik dari meja kasir,
“Berapa lama lagi kami harus menunggu?!” Lelaki tinggi besar berambut abu abu berkacamata hitam itu menggebrak meja, Aku mengenalinya sebagai orang berperangai kasar yang bersinggungan denganku dan Daina ketika aku baru saja tiba disini,
beberapa pelayan menjawab ketakutan.
“T-tunggu sebentar tuan, sambungan telepon memang agak gangguan pada jam segini, sedang diusahakan…”

Lelaki itu mengempaskan dirinya gusar diatas kursi, berkata dengan nada mengancam.
“Usahakan! Kalau tidak kau akan melihat tempat ini hancur berkeping keping!”

“Hendrik…” Lelaki lain, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, ia menggunakan topi tinggi dan jangkung, rambutnya panjang hitam, setelan jasnya nampak resmi, menepuk bahu temannya, ia kemudian berbisik kepada pelayan didepan mereka,

“Maafkan temanku ini,” Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyelipkannya dalam tangan si pelayan.
Kelihatannya keempat rekannya, kecuali pria yang dipanggil Hendrik menampakkan wajah setuju atas tindakannya,
Aku menarik nafas lega, setidaknya diantara mereka berlima masih ada satu yang kelihatan waras.

Aku kembali mengalihkan pandanganku kepada lawan bicaraku.
Daina nampak tegang, kelihatannya ia ketakutan.

“Mereka sampai sini juga?” Aku bertanya,

“Mungkin…” Daina bersedekap, ia terlihat benci melihat orang berteriak teriak didalam penginapan milik orang tuanya. “Aku juga tidak tahu…”

Kuperhatikan ia menatap lantai dengan wajah yang sedih, tergerak untuk menghiburnya,
Aku menarik kepalanya sehingga kini ia hanya menatapku,

“Jangan lihat lihat yang tidak bagus,” Candaku, “Aku masih enak untuk dipandang, kan?”
Daina kelihatan kaget, wajahnya kembali merona, bisa kurasakan panasnya melalui telapak tanganku.

Curang sekali, Tasuku, sifatmu jelek.
Menggunakan wajahmu untuk menghibur hati seorang gadis, sekaligus sebagai pengalih perhatian…
Taktikmu murahan, super sangat percaya diri sekali.

Tapi dengan gadis ini, entah mengapa aku merasa bisa.
Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini dengan siapapun sebelumnya, Aku melepaskan sentuhanku pada pipi Daina,
Tentu saja gadis yang semula ingin beramah tamah padaku ini jadi menunduk ketakutan,
Salah tingkah, aku mencoba mencairkan suasana,

“Jadi teringat sesuatu, Ah ya, bukannya kau ingin melihat penelitianku? Mau sekarang?”
Tentu saja aku bicara tanpa maksud apa apa.

Daina tercenung, seperti ragu ragu,
“Tidak,” tolaknya hati hati, “Besok saja, bagaimana? Sudah terlalu malam, tidak baik,” Ia melirik kearah jam dinding berkarat, nyaris pukul 10 malam,

“Ah iya,” aku menyadari kekeliruanku, kecewa, “Ah, tapi, kalau kau, tentu selalu boleh berkunjung kapan saja,”

Daina senang sekali, ia bangkit dari kursinya, merasa tidak enak hati.
yah, kami hanya mengobrol sebentar, ia berkata padaku, “Aku harus tidur sekarang, besok bangun pagi pagi, oh ya, Tasuku, selamat malam,” Masih senyum malu malu yang sama.

“Ya, kau juga,” sahutku,



Jadi begitulah pembicaraan kami malam ini berakhir.
Terlibat dengan wanita tidak jelek juga.


+++
 
Last edited:
Daina.


Beberapa hari setelahnya,
___________________________
_______________________





Hari berikutnya, kuli angkut barang membawakan kiriman barang barang Tasuku,
Aku membantu pemuda itu membongkar bongkar peralatan.
Kebingungan melihat benda benda aneh yang asing dimataku.
“Penelitian apa yang sedang kau buat sebenarnya?”

Tasuku berhenti menulisi jurnalnya, ia berpaling untuk menjawab pertanyaanku, jawabannya hampir membuatku tertawa, “Virus Undead,” katanya polos.

“Hah?” Tubuhku bergetar ingin terbahak segera, Tasuku memahami,

“Tertawalah, tapi aku sungguh sungguh,” Katanya tanpa tersinggung sedikitpun, “Aku benar benar akan membuat obatnya suatu saat,”

Aku menggulung gulung ujung rambutku menggunakan jari telunjuk, sulit sekali untuk mempercayai kata kata orang ini, tapi aku harus menghormati apapun yang ia percayai, terlalu tidak sopan jika aku mematahkan semangat orang lebih dari ini.

“Aku… maksudku…” Berusaha menjelaskan dan menghapus bekas air disudut mataku, aku mencari cara agar tidak kelihatan seperti sedang merendahkan, akupun tidak suka itu. “Mereka bilang, bahkan Tuhan saja tidak tahu apa obatnya…”

Tasuku mengerinyitkan alis, menatapku, lalu ia menghembuskan nafas seperti lega,

“Mempermainkan perasaan umatnya sampai seperti itu,” Ia tersenyum maklum, “Sifat Tuhan buruk juga ya…”

+++++
 
Tasuku.

_____________________________
___________________________


"Mempermainkan perasaan umatnya sampai seperti itu, sifat Tuhan buruk juga ya,"

Lagi lagi lenganku dicubit, aku mengaduh, “Tidak boleh bilang begitu!” Tegurnya sopan,
Yang kulakukan berikutnya hanya menatapnya, lama sekali, sampai gadis itu tersadar ia sedang jadi pusat perhatianku sekarang, ia menunduk lagi.

“Ka-kalau itu mimpimu… itu hebat sekali,” Daina bicara asal menutupi kegugupannya.

“Tapi kau tidak percaya,” Candaku,

“Aku tidak ngomong apa apa!”

“Tuh kan, tidak percaya,”

“Memangnya pendapatku penting?” Tukas Daina berani, aku sadar bahwa aku nyaris masuk kedalam perangkapnya.
Jika aku salah jawab sedikit saja, celah diantara kami akan terbuka.

“Atas dasar apa kau percaya?”

Daina meremas ujung roknya, mau jawab apa sekarang?
Aku menanti dengan amat penasaran.

“Karena… Kau memintaku.”

Kau kalah lagi, Tash.
Aku ingin tertawa tapi tidak bisa.
Kepolosannya mengunciku.
Apa ia sedang merayuku? Tidak, percakapan ini tidak direncanakan.

Dan mengapa aku terbawa?

“Aku… mungkin makhluk Tuhan yang tidak sempurna, tapi aku akan membuatnya bangga pernah menciptakanku,” Tanganku bergerak kedepan, agak jahil menarik ujung rambut panjang Daina yang menjuntai.

“Sifat Tuhan memang jelek, tapi itu karena DIA yang maha kuasa,
sisi positifnya, mungkin Tuhan ingin menciptakan situasi yang menarik, karena ia memang seperti itu, jadi sebagai hamba yang baik, aku akan memberikannya tontonan yang memuaskan," selorohku tertawa, candaanku memang aneh tapi beginilah aku, "Kau lihat saja, aku akan menciptakan dunia penuh kebahagiaan untuk semua orang,”

Daina mendengarkan, ia sama sekali tidak membantahku.
Kami berdua sama sama diam disudut kamar, duduk dilantai seperti dua anak kucing kehilangan induk.


++++
 
Ari.

_____________________________________
______________________________



Sebenarnya setiap malam aku mengawasi pembangunan jembatan besar sungai kwai, hanya untuk melihat para pekerja menyelesaikan proyek itu, jembatannya tidak bisa dilewati sementara, jadi bagi siapapun yang ingin menyebrang mereka bisa menggunakan jasa boat atau kapal yang disewakan disekitar sini.
Walau demikian mereka memastikan daerah sekitar diawasi, Tetap saja tidak boleh ada satupun transportasi berlabuh sementara system pengamannya dimatikan.


Aku memperhatikan diantara ilalang dan rerumputan,berkeliling disekitar tepian sungai, jauh dari desa,
Sebuah kapal merapat ditepian, beberapa orang kelihatan berjaga terlebih dahulu,
Aku mendekat penasaran, dari wajahnya, nampak sekali mereka bukanlah penduduk asli sini,

Aneh... bukankah kapal dilarang merapat pada saat mereka melakukan tes pengamanan?
Aku merasa ada sesuatu aktifitas yang tidak seharusnya disini.
Memang bukan urusanku untuk mencari tahu, tapi...

“Selamat malam,” Aku menyapa santai, akhirnya.

Lelaki lelaki itu terkesiap kaget,

salah satu dari mereka menggunakan topi tinggi dan jas panjang berwarna hitam,
Tasuku akan mengatakan bahwa pria itu cocok dengan Dr.Jekyll jika melihatnya.
Ia berinisiatif untuk menyambutku duluan,
Atau mungkin aku dapat mengartikannya sebagai sifat defensif seseorang yang melarangku mendekati kapalnya.

“Selamat malam juga, Tuan, malam yang indah, eh?” Ia tersenyum lebar menyambutku,

Aku hanya menbalasnya dengan senyuman tipis, duduk diatas batu besar tak jauh dari tempat mereka berkumpul, “Malam yang indah pula untuk mengerjakan sesuatu yang khusus,” aku mengisyaratkan kearah kapal. “Sedang membawa apa?”

“Oh, itu hanya muatan gula dan beras, Mr...”

“Aryanov Gabriel,” Aku memperkenalkan diri, Berdiri dan mengulurkan tangan, senyumku pasti tampak konyol sekarang karena dibuat buat.
Aku tidak bisa memaksakan diriku tersenyum pada orang asing, aku bukan Tasuku.

Baru saja lelaki jangkung itu menyambut uluran tanganku, aku melangkah mendahuluinya dari samping, “Boleh kulihat apa isinya?”

Detik yang sama ia mengacungkan senjata padaku, sama seperti aku yang juga mengacungkan pistolku kearahnya.
Sudah kuduga ada sesuatu tidak beres…

“Tak apa kan, kalau kuperiksa?”

“Hentikan itu, Gentleman,”

Baik teman teman si topi mencoba bergerak, tapi melihat kesungguhanku mereka tidak berani melakukan apapun terhadap kami.
Coba saja, si topi menarik pelatuknya, maka aku juga.

“Berhenti, ada apa ini?” Dari balik rerimbunan pepohonan, sosok lelaki berpakaian seperti petugas polisi muncul, Lelaki bertopi dihadapanku menurunkan senjatanya, Ia membungkuk memberi hormat,
Aku tidak terpancing untuk mengikutinya, tetap waspada terhadap sekelilingku,
Tampaknya petugas dihadapanku membacanya, keraguan pastilah terlihat jelas.
Karena ia segera mengeluarkan tanda pengenalnya.

Dari lencana kepolisian yang berkilat ditangannya, aku tahu betul itu asli,

“Tidak ada apa apa, aku hanya penasaran dengan isi kargo ini,” aku menarik kembali pistolku, “Semua aktifitas pengangkutan biasa terjadi antara siang hingga matahari terbenam, mereka memberlakukan jam larangan kegiatan pada saat masa percobaan dimana system pengaman dilonggarkan,
Aneh sekali, ada yang datang ditengah malam bawa barang banyak.” Mataku melirik dingin kearah muatan kapal mereka, besar sekali peti kemasnya, hanya ada sebuah, tapi Kau bisa menaruh apapun tanpa dicurigai didalam sana,

Bahkan manusia.

“Tidak ada yang perlu dipermasalahkan,” Pak petugas yang baik hati langsung meng-counter ucapanku, “Mereka hanya membawa gula dan bahan pangan lainnya, ini biasa terjadi setiap beberapa bulan, ”

“Bahkan ditengah malam?” Aku memicingkan mata,

“Jaga mulutmu, anak muda” Tegurnya, ah, sekarang aku yang salah? “Kau terlalu dini untuk mengawasi semua kegiatan bongkar muat didesa ini, ini desa kecil, nak, kami tidak punya jadwal khusus dalam perdagangan seperti pelabuhan resmi.”

Ya, sepertinya aku yang salah.
Tapi tidak.

“Aku dibayar untuk memusnahkan apa saja yang mencurigakan,” ngototku, “Setidaknya aku ingin melihat dulu dengan mata kepalaku sendiri,”

Si topi tersenyum, ia memanggil salah seorang yang kelihatannya anak buahnya,

“Tunjukkan izinnya,” Ia berkata, lalu anak buahnya yang memakai kaos tanpa lengan segera tergopoh gopoh membawakan secarik kertas yang langsung dipampangkan boss mereka didepan wajahku.

“Lihat? Tidak ada yang aneh kan?”

Memang tulisan dikertas itu menyatakan bahwa muatan kargo mereka hanyalah bahan pangan, lagipula ada stempel pemerintah serta tanda tangan orang yang berwenang.
Well, tetap saja aneh mereka tidak bersedia menunjukkan muatannya.

“Kalau kau masih berkeras,” Petugas dibelakangku berkata dengan nada mengancam, “Kami bisa saja mencabut izin tinggalmu, dan kau terpaksa harus angkat kaki dari tempat ini begitu pagi menjelang…”

Aku tertawa.

Pergi dari tempat ini?
Sial sekali aku telanjur menemukan sesuatu yang ingin kulindungi disini,
Aku berpaling dan berjalan menjauh,
Bisa kutebak mereka semua menyunggingkan senyuman penuh kemenangan sekarang,
Meskipun tidak lama.

Karena berikutnya letusan bunga api keluar dari moncong senjataku, nyaris melubangi kepala opsir menyebalkan itu.

Tentu saja aku sengaja membuatnya meleset beberapa sentimeter untuk menggertak.
Bidikanku nyaris tak pernah meleset, terbukti dari lubang berasap pada sebatang pohon dibelakang sang petugas.
Yang wajahnya membiru karena jantungnya nyaris berhenti berdetak saking kagetnya.

Aku tersenyum, hanya aku sendiri sekarang.
Senyuman meremehkan yang dingin.

“Itu,” kataku perlahan, “Yang akan terjadi jika kalian berani macam macam diwilayah jagaanku.”
Tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkan suara bahkan mencicit sekalipun, Mereka sudah tahu aku gila sekarang.


Seusai berkata demikian, aku melenggang meninggalkan tempat yang membuat moodku jadi jelek malam ini.


++++
 
Tasuku.


Beberapa minggu kemudian.

_________________________
__________________




“Lagunya bagus sekali,” Daina mengembalikan Player yang kupinjamkan selama seminggu ini padanya, “Apa semua selera musikmu begitu?”

Aku sedang buntu dengan data data penelitianku, memandang jendela dan langit luas, ketika tiba tiba ia datang melompat kearahku.

“Kau suka?” Balasku tersenyum, “Dirumahku ada lebih banyak, aku tidak tahu kalau Daina juga suka musik, ”

“Suka sekali!”

“Kau tidak punya Player musik, yah, bagaimana kau mendengarkannya selama ini?”

Daina kelihatan berpikir, melihat kearah jam dinding,

"Tasuku sedang sibuk?" Ia bertanya padaku, "Jangan bilang kau tidak bisa kemana mana ya?"

Mataku memandangi Daina tak mengerti,

"Ada apa sebenarnya?"

"Aku ingin mengajakmu,"

"Mengajak?" tanyaku lagi, "Kemana? Yah, bukannya aku sedang sibuk sih, dibilang sibuk tidak juga sebenarnya..."

“Tunggu, sebentar lagi, pasti, Satu, dua, tiga,” Ia menghitung, aku hanya mengerinyitkan alis tidak paham, Daina sampai pada hitungan kesepuluh, ia menarik tanganku. “Ayo ikut! Cepat!” Desaknya.

Seperti kerbau dicocok hidung, aku mengangguk bodoh, mengikutinya, tergesa gesa keluar dari ruangan, ia membiarkan pintu kamarku terbuka begitu saja...

Kami berlarian di lorong, bahkan berpapasan dengan ibunya, wanita itu memperingatkan agar Daina hati hati menuruni tangga.

“Iya!” Daina menanggapi biasa saja, ia melepaskan tanganku, berinisiatif turun lebih dulu, aku melempar pandangan memohon maaf teramat sangat pada sang ibu yang tersenyum paham melihat tingkah anaknya.

“Tasuku, ayo!” Teriak Daina yang menungguku dibawah, aku mengangkat bahu, melangkah santai mengikutinya,
Melewati kedai yang masih terlihat sepi disore hari,
Daina membawaku keluar,
Aku silau saat mataku berpapasan dengan sinar dunia luar, Tapi gadis yang sedang bersemangat ini menarik tanganku lagi, tanpa memberikanku kesempatan untuk berpikir.

Dan tiba tiba saja,
Kami sudah berada ditengah tengah kerumunan, tepat didepan halaman penginapan milik orang tua Daina, tenda tenda berdiri saling berjajar,
Banyak sekali orang, kamarku hanya menghadap halaman belakang jadi aku tidak pernah tahu…

“Darimana mereka ini?”

Suara musik, hiruk pikuk kini terdengar, mereka juga melakukan segala aktifitas diluar,
Mereka membawa meja meja kayu dengan makanan bertumpuk tumpuk diatasnya, bahkan, beberapa diantara mereka asyik dengan kegiatan memasak,

“Pendatang, baru tiba hari ini, tamu dari Meksiko,Filipina, Malaysia dan banyaak lagi,” Daina menyeretku sambil menjelaskan, “Mereka datang untuk melakukan perdagangan bahan kerajinan,” Langkahnya semakin lama semakin pelan, Ia berjalan mundur sambil perlahan melepaskan tanganku.
“Apa kau bisa menari?” Bersamaan dengan suara musik tradisional spanyol mulai terdengar, semarak alunan biola yang ceria serta irama castanet agak asing ditelingaku.

“Menari?” Teriakku keras keras karena suara bising itu mulai mengganggu segalanya.
Daina mengangguk ceria.


Sebenarnya, aku bisa.


Namun kuputuskan untuk menggeleng sekuat yang aku bisa, menolak secara halus.

“Oh, kau tidak bisa? Ini mudah,” Gadis itu menaikkan kedua tangannya, oh tidak…
Kenapa pada saat aku secara tidak langsung mengatakan ’tidak perlu’ dia malah semakin bersemangat menunjukkannya padaku?
Tentu saja aku tahu caranya menari, tapi aktifitas itu membosankan.
Tidak seperti mendengarkan musik.

Terutama jika kau tidak punya seseorang yang spesial untuk melakukannya bersama…


Daina menurunkan kedua tangannya sejajar pinggang, Ia menggerakkan bahu dan pinggulnya seiring irama ketukan alat musik.

Dan sekejap saja, aku tidak tahu…
Mengapa pandangan mataku tidak bisa beralih dari gadis itu.
Ia indah.
Gerakan rambutnya amat halus tertangkap mataku.
Senyumannya dan mata polos itu.
Setiap gerakan membuat lekukan tubuhnya tampak nyata, meliuk indah walau pada kenyataannya ia tidak sedang melakukan gerakan aneh erotis.

Kenapa ia jadi kelihatan begitu indah sekarang?

“Kenapa musiknya bercampur?” Teriakku mencoba mengalihkan perhatian.

“Entahlah, kau yang bilang, kebudayaan bercampur…” Ia mengulurkan tangan padaku.
Kusadari sudah begitu banyak orang turun untuk melakukan folk dance dadakan ini.
Seperti dunia lain.
Menari dan berputar putar, kelihatannya sembarangan tapi tarian macam ini umum di republik Czech.
Penduduk pribumi menerima hiburan ini penuh sukacita seakan kebudayaan asing yang dibawa tamu asing ketempat mereka merupakan hal yang lumrah.
Tidak terbayangkan dunia yang sedang sekarat diluar sana saat kau tengah berada dalam keramaian kecil ini.
Aku yang selama ini selalu berkutat dengan buku catatan penelitianku, merasa tersesat.

Kau yang bilang, kebudayaan bercampur…

Aku tertawa, merasa tertampar oleh kata kataku sendiri yang dikembalikan oleh ‘teman’ baruku ini.
Keterlaluan sekali.

Merasa tertantang, aku meraih jemari jemari lentik itu, menariknya kedalam pelukanku,
Daina nampak terkejut sekali.

“Bukannya kau ingin mengajariku?” Senyumku ramah, walau tersimpan naluri tidak mau kalah yang aneh dari dalam diriku.

“Aku hanya melakukannya secara sembarangan, ” Muka bayi itu meringis, menurut saja ketika aku membawanya berputar bersamaku.
Ia kelihatannya tidak tahu, tapi ia melakukan gerakan cha cha dengan amat baik barusan.
Kalau kutanyapun ia pasti akan menganga tidak tahu.
Yah ketidaktahuan itulah yang menarik.

Musik semakin cepat dan semarak, Aku memeluknya dari belakang, ada getaran aneh tersampaikan saat tanganku melingkar diantara pinggangnya yang ramping.
Sengaja berlama lama mengusap bagian itu, Gadis dalam sangkarku menyadari apa yang kulakukan, demi apapun, ia tidak berusaha menghentikan, wajahnya bersemu merah.
Seakan disentuh olehku adalah hal yang paling diinginkannya melebihi apapun didunia ini, sebagai laki laki, aku mengerti…
Hanya, ketidak agresifannya itulah yang membuatku bingung.
Ia pasif dan menunggu, seakan ia yakin betul aku juga akan…


Sulit menjelaskannya.


“Kau bilang tadi tidak bisa menari,” Daina menggenggam tanganku lebih erat sementara kami berputar,

Aku hanya melakukannya secara sembarangan,” Dendam terbalas, sudah kukembalikan kata katamu, nona, aku tidak tahu mengapa aku bisa menjadi sangat kekanakan.
Kedua bola mata Daina membesar dengan lucu, ia tidak mengerti, tapi ia tetap tertawa.

Wanita selalu seperti itu,
Saat mereka sedang jatuh cinta, bahkan mereka akan menertawakan hal paling tidak lucu sekalipun,
Ternyata apa yang membuat mereka semakin cantik adalah ketika mereka terlihat begitu bahagia.

Aku sadar penuh, gadis ini telah jatuh ketanganku.
Bahasa matanya, gerakan tubuhnya, hangatnya, sekali lihatpun aku paham.
Bayangkanlah, Betapa rendahnya diriku yang masih saja berpura pura tidak tahu.

Padahal gerakan yang kami lakukan hanyalah sesuatu yang tidak ada juntrungannya sama sekali, tapi perlahan lahan aku menikmatinya.
Merasakan tubuh kami terbentur beberapa kali, tertawa dan merasa aneh.
Genggaman tangan kami satu sama lain semakin mengerat.
Tidak terasa, musik telah berakhir.

Aku dan Daina sama2 tertunduk kehabisan nafas,
Kami berpandangan, lalu saling terbahak satu sama lain.

Ini menyenangkan.

Daina basah oleh keringat, demikian pula aku, orang yang berdesak desakan membuat sekeliling kami menjadi pengap,
Bahkan Hoodie abu abu yang biasa kupakai bisa jadi begitu menyiksa disaat saat seperti ini.
Tangan mungil Daina lagi lagi menarikku, ia menghampiri meja terdekat, mengambilkanku minuman dingin.

“Apa kita tidak dimarahi?” Tanyaku ragu sebelum menerima, Daina menggeleng.

“Itu untuk semua orang,”

Penuh rasa terima kasih kutegus jus jeruk yang diberikan Daina padaku, dingin dan segar mengalir ditenggorokanku,

“Kapan tenda tenda ini berdiri? Semalam belum ada…” Ya, mungkin karena jendela kamarku menghadap kearah halaman belakang penginapan, jadi aku tidak pernah tahu apa saja terjadi.

“Tadi pagi kok, kalau banyak tamu penginapannya penuh, jadi mereka biasa membawa tenda sendiri, seperti ini hanya beberapa bulan sekali, mereka akan pulang dalam beberapa hari lalu desa jadi sepi lagi…”

“Seperti surga,” Jawabku tulus, Daina membelalakkan matanya tidak percaya, kemudian senyuman merekah dibibirnya.
Ia senang sudah melakukan hal yang dianggapnya benar.
Seakan membuatku senang adalah prioritas utamanya dan ia akan melakukan apapun untuk itu.
Kadang ia membuatku merasa amat tersanjung.
Namun tak jarang ia pula yang membuatku merasa begitu tidak berdaya.

Daina sepertinya mengatakan sesuatu lagi, tapi musik putaran kedua sudah dimulai, aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan,

“Hah? Bisa kau ulangi sekali lagi?” Teriakku, aku benar benar tidak bisa mendengar apapun kecuali bunyi bunyian instrumen meriah saling bersahutan sekarang.

“Kita pergi,” Daina mendekatkan wajahnya, berteriak juga, “Tidak bisa bicara disini! Terlalu bising!”

Ia juga sadar rupanya?
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia juga bisa capek!

Daina mengambil beberapa tusuk sosis besar sebelum mengajakku meninggalkan keramaian.
Ia memakannya sambil jalan seperti anak kecil, sangat tidak sopan untuk ukuran perempuan, tapi juga sangat lucu.
Aku mengekornya dibelakang, langkah langkahnya ringan bagai terbang, Senada tangannya yang ikut berayun seiring gerak.
Matahari sore terasa hangat, semerbak bau rerumputan menguasai indera penciumanku,
Ia membawaku menaiki bukit kecil, samar samar suara musik gembira masih terdengar dibelakang.

“Tasuku, Lihat…” Daina menunjuk kearah depan. “Tempat rahasiaku,”

Didepanku, terhampar padang rumput luas, ada banyak sekali bunga beraneka warna tumbuh liar begitu bebas, Daina berjalan cepat sekali, saat ia melambai padaku dari arah depan, angin berhembus, menerpanya.
Rambutnya yang panjang tertiup kebelakang.

“Huh?” Wajah bulat Daina menampakkan raut kebingungan.


Aku baru saja sadar, aku tergesa gesa hanya untuk menarik tangannya.
Menangkapnya, secepat yang aku bisa, tingkah laku bodoh yang selanjutnya kusesali.

“Aku… Ahh… Anginnya enak sekali, ya?” Kubalikkan badan, tidak ingin kegugupanku terlihat.
Aku sendiri tidak tahu mengapa, padahal aku yakin aku sedang tidak jatuh cinta kepadanya.
Aku tidak ingin jatuh cinta kepada siapapun dan aku harus membentengi diri dari perasaan perasaan semacam itu yang hanya akan menghalangi mimpiku.

Namun gadis ini mengacaukanku, entah bagaimana caranya.
Bahkan sekilas tadi,
Daina seperti akan menghilang.
Dan sekejap saja aku menjadi teramat takut hal itu akan benar benar terjadi.

+++
 
Daina.

__________________________
____________________



“Anginnya enak sekali, ya.”

Begitulah, ia berpaling dariku, aku ingin sekali menarik dan memintanya untuk memperlihatkan mata blue safir itu padaku.
Tapi betapa murahnya, kalau kulakukan…
Kami juga baru bertemu,
ia hanya kebetulan disini,
cepat atau lambat ia akan pulang… pergi…

Kupegangi bagian lenganku, masih terasa panas bekas cekalannya barusan.
Aku tidak mengerti.
Ada bagian lain, diantara celah hatiku, disini rasanya sama hangat, bahkan lebih panas lagi, aku tidak tahu mengapa…

“Apa kau tidak punya teman seumuranmu?”

Aku tersentak, mengangkat wajahku, Tasuku berdiri tak jauh, sinar matahari menimpanya, membuat surai keemasan itu nampak begitu elok hingga muncul suatu perasaan tak tertahankan, ingin menyentuh dan membelainya…

“A… ada…” Aku menunduk lagi, wajahku terasa amat panas, “Tapi… mereka sama sepertiku,” Kedua kakiku bergerak gerak gelisah, padahal ditempat ramai tadi biasa saja, tapi mengapa sekarang jadi… aneh?
“Mereka tidak tahu apapun… mengenai tempat lain… karenanya jika ingin tahu… aku harus bertanya pada orang lain yang lebih tahu,”

Aku mengingat ingat, saat pertama berkenalan dulu juga kami berduaan seperti sekarang, kan?
Mengapa sekarang aku merasa gugup bukan main?
Begitu salah tingkah sampai sampai untuk menatap wajahnya saja merasa tidak sanggup...

“Jika bicara dengan seseorang, tunjukkan wajahmu,” Kaget, jemari jemari Tasuku menyentuh daguku, mengangkatnya hingga mata kami sejajar.
Sejak kapan ia berada begitu dekat? Aku pastilah sibuk dengan pikiranku sendiri…

Sekarang aku tidak perlu memintanya menunjukkan mata sewarna blue safir itu lagi.

“...Jika tidak, lawan bicaramu tidak akan mengerti apa maksudmu…” Sambungnya.

“Ya,”

Tidak ada yang bicara baik aku ataupun Tasuku, lalu dia tiba tiba saja tertawa, berlari menghambur kearah bunga bunga liar.

“Kau tahu sekali aku suka semak semak,” Katanya ceria, aku mengikuti, ia tampak sibuk sekali mengerjakan sesuatu.

“Ibuku sering bilang aku bocah semak semak,” Ceritaku, Tasuku menanggapi serius sekali, ia tertawa lagi, berkata bahwa kakaknya juga mengatainya sama seperti itu.

“Tapi bedanya aku tidak pernah melihat padang rumput sebesar dan setenang ini,” Tasuku memperlihatkan sehingga mataku bisa menangkap dengan jelas benda ditangannya.

“Bagusnyaaa,” Seruku, ia tertawa lagi, mengangkat mahkota bunga itu, memasangkannya diatas kepalaku.

“Kau seperti peri.” Ia memuji, menata rambutku kedepan, Aku membiarkannya melakukan sesuai ia ingin.

“Ibuku tidak pernah mengatakan itu…” Bicaraku amat pelan, Tasuku nyengir,

“Kalau begitu sekarang aku yang bilang.” Tasuku mengikalkan rambutku, padahal sudah ikal, ia menggulung jarinya pada ujung ujung rambutku, “Kalau aku punya anak sepertimu, aku pasti bangga sekali,” Selorohnya,


“Heee?”


“Seperti boneka hidup,” Angguk Tasuku lagi, memijat kedua alisku menggunakan ibu jarinya, “Kau tidak pakai make up tapi pipimu merah muda begini, Lalu…” Ia berhenti saat menyentuh bibirku.

Aku ingin tahu… lalu apa…?

“Lalu…?”

Tasuku menengadah keatas, lalu melihat kesamping, seperti mencari kata kata yang pas.

“Tidak ada seorangpun yang pernah melakukan ini padamu sebelumnya?”

Aku menggeleng.

“Ibuku hanya pernah mengatakan kalau rambutku bagus… Tapi dia ibuku, aku sejelek apapun akan selalu baik dimatanya,”

Tasuku, mendengarkan dengan wajah takjub.
Ia tersenyum pahit.

“Ibumu benar,”

Aku mengerjap.

“Apanya?”



“Kau yang terbaik.”



Panas.
Tenggorokanku panas seperti sehabis menelan api.
Tasuku mengelusi pipiku, "Dasar wajah boneka," pujinya lagi, kali ini dengan senyuman sangat tulus, apa aku salah lihat?
Tatapan itu seperti memuja.
Jika ia hanya berbasa basi, maka bakat aktingnya benar benar patut dipuji.
Aku tidak merasa cantik, dan tidak pernah ada seorangpun yang memperlakukanku seperti ini sebelumnya...

“Apa kau selalu begini?” tanyaku begitu saja,

“Begini apanya?”

“Hanya bicara hal hal yang… menyenangkan orang lain.”


Ups,
Ekspresi Tasuku berubah.

Kali ini ia kelihatan seakan habis melihat hantu.

Ia kelihatan terguncang, aku tidak tahu dimana salahku, aku hanya merasa… merasa…
Bahwa ia tidak sepenuhnya jujur pada dirinya sendiri.
Ia hanya memperlihatkan apa yang ingin orang lain lihat, orang lain mudah jatuh hati kepadanya karena hal ini, tapi sumber ketertarikanku padanya justru berbeda,
Aku ingin tahu... tentangnya, dan bukan hanya yang 'terlihat' saja...
Aku menunduk lagi,
Tuhan…
Aku benar benar menyinggungnya? Apakah ia marah?

“Selesai,” Aku mendengar suara lembut itu, menyadari bahwa ia telah selesai menata helaian rambutku kearah depan, saat aku memberanikan diri untuk melihat kearahnya, ia sudah sudah seperti biasa lagi.

Tapi ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaanku,
Pura pura tidak mendengar.
Dari situlah aku tahu, bahwa ia tidak suka membicarakan dirinya.

Tasuku bertindak sebagai pengamat, tanpa pernah bersedia melibatkan diri.
Ia suka mendengarkan, tapi ia tidak pernah merasa benar benar perlu didengarkan...
Atau membutuhkan orang lain.


Khas orang yang merasa bangga yakin dirinya dapat melewati apapun.


“Apa kau sudah siap terbang sekarang?” Godanya begitu jago, semula suasana canggung,
kini sekejap saja sudah cair kembali.

Sedikit sedih, memang,
Namun Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum.



++++
 
Daina (Lanjutan)

________________________________
____________________________




“Kenapa senyum senyum sendiri?”

Aku tersentak, cepat cepat menyuap makananku, Ibuku tertawa melihat sikapku.
Ia menghampiri, membelai rambutku, wajahnya amat tenang.

“Ibu…” Kegairahan dalam hatiku mengepul, “Apa aku seperti peri?”

Saat aku menanyakan hal itu, rona merah diwajahku tertangkap jelas pada pantulan mata Ibu...
Ibuku kelihatan kaget dengan pertanyaanku,
Aku jarang membicarakan pujian.

"Ada yang mengatakannya kepadamu?" Ibu balik bertanya, tersenyum manis kepadaku, aku hanya menjawab dengan anggukan kepala malu-malu.
Iya, ini tidak biasa, dan hanya pada ibuku aku bisa mengatakan apa saja.
Orang Tua merupakan orang pertama yang harus kau ajak bicara apapun yang terjadi, betapa beruntungnya kau memiliki mereka, kau takkan pernah tahu,
Karena kau takkan bisa menemukan cinta lain tanpa syarat sekuat yang mereka berikan padamu…

“Apa anak itu yang berkata?” Senyuman dibibir ibu semakin merekah, aku bisa menebaknya, ia meletakkan dagunya diatas ubun ubunku, menciumi dengan sayang.

“Heee?!”

“Pemuda berambut pirang itu.” Lanjut ibuku,

“Darimana ibu tahu?” Jeritku, saking terkejutnya sendok makanku sampai jatuh berkelentang diatas piring. ibu terkekeh mengambil kursi duduk sampingku,
Wanita yang melahirkanku kedunia ini meraih sendok dan piringku, mulai menyendokkan nasi dan menyodorkannya kemulutku, refleks aku membuka mulut menerima suapan lezat itu.

“Kau memperhatikannya belakangan ini,”

Aku jadi tidak tahu harus berkata apa…

“Aku memperhatikan ayah lebih dari aku memperhatikan dia,” Bantahku, “Mana ada…”

“Benar, tidak ada yang berbeda?” Suara ibuku terdengar menyelidik. “Pasti ada, hanya kau yang tahu…”

Beda? Aku mengunyah makananku, menerima suapan kedua.
Berpikir…

"Dia tampan ya," Komentar ibuku lagi, membuat wajahku merah padam untuk kesekian kalinya. "Matanya biru, tubuhnya tinggi,"

Belum cukup rasanya ledekan yang kuterima, ibu menambahkan lagi, "Dia juga sangat sopan, kelihatan sekali bahwa dia berpendidikan tinggi, selera anak ibu hebat...,"

"Ibuuu!" Aku menyerah, menyembunyikan wajahku pada bahu Ibuku, yang juga tertawa melihat reaksi kekanak kanakanku.

"Makanlah, nanti makanannya dingin," Setelah aku selesai meneguk air putih, Ibu mulai menyuapiku lagi,

“Kalau ada yang berbeda, apa artinya?” Tanyaku sambil mengunyah, ibu menghela nafas, ia mengelap sudut bibirku dengan jari jempolnya.


“Artinya, anak Ibu sudah jatuh cinta.”


+++
 
Daina (Lanjutan)

___________________________________
____________________________




Kata kata ibu, tidak bisa lepas dari ingatan.
Bahkan beberapa hari sesudahnya,
Sudah kucoba mengalihkan perhatianku ke hal lain, tapi pada akhirnya, aku hanya mengulang siklus yang sama,
Berusaha agar selalu dekat dengan... Tasuku.

Seperti hari ini, aku menyapu halaman belakang rumahku, merawat kebun milik orang tuaku.
kulakukan sambil melirik lirik kaca jendela Tasuku dilantai dua, jendelanya hanya setengah terbuka, dia pasti sedang sibuk lagi, mencatat keperluan penelitiannya,
Repot juga, pikirku,

Aku ingin membantu, tapi tidak tahu bagaimana cara.

Apa kubawakan cemilan saja, ya?
Ragu, kulanjutkan acara menyiram bunga bunga.
Sesekali mencuri pandang lagi kearah jendela kamar Tasuku.
Aku selalu memikirkan dengan cara apa supaya aku bisa berguna untuknya.

Perasaan sayang yang sepihak, tumbuh dihatiku…
Bodohnya, padahal ia belum tentu merasakan hal yang sama.
Aku tidak ingin berpisah sedetikpun…
Tidak ada satu pagipun berlalu yang kulewati tanpa memikirkan tentangnya, saat aku terjaga dari tidurku,

Ia sedang apa, ingin tahu apa yang dipikirkannya,
Ingin selalu bersama, selalu bersama...
Terlalu berlebihan, untuk seorang teman.

Bahkan melihat jendela kamarnya begini saja sudah bukan main bahagianya.
Jika aku menutup mata, bisa kubayangkan ia sedang duduk bersandar diatas pembaringan,
Dengan notes kecil ditangannya, memikirkan jauh kemasa depan…

Selalu membuatku tertarik ingin masuk, namun rasanya begitu mustahil, karena ia menutup rapat pintu hatinya, amat rapat.

Ia memperlakukan dirinya sebagaimana kegelapan, tidak bisa melihat apa apa didalam sana.
Hanya bisa menebak dan meraba,
Tapi entah bagaimana ia memberikanku cahaya.
Seluruh duniaku ikut terbawa olehnya.
Tidak, seluruh dunia ada didalam dirinya, sejak awal...

“Bulat!” aku terkaget kaget, nyaris jatuh karena kedua tangan besar meraihku dari belakang.

Kak Ari, nyengir lebar, mendekapku semakin erat sampai sampai aku kehabisan nafas,

“Mati kau, Bulat! Mati! Mati!” Serunya kesenangan, Aku terbatuk.

“Kakak! Bodoh ah!” Tegurku, menarik tangan Kak Ari dan secepat kilat meloloskan diri. “Apa kau mengigau?”

Kak Ari santai saja, malahan tertawa keras sekali.
“Kau tidak nangis? Ayolah, nangis sana, dikiiiit aja,” mohonnya menyebalkan,
Kakak menyentuh bunga bunga yang kurawat, ia tidak mengatakan satupun kata pujian, sikapnyalah yang membuatku merasa bangga akan apa saja pekerjaan yang sudah kulakukan.

“Tidak lucu,” Gerutuku menggembungkan pipi, “Kakak ada apa kesini? Tidak biasanya mau jalan jauh jauh ke desa…”

Kakak garuk garuk kepala, “Memangnya aku tidak boleh kesini? Aku kan’ ingin melihatmu,”
Mulai lagi, bicara tidak jelas apa maksudnya.
Kesini untuk mengerjaiku lagi? Karena bosan?
Kakak tidak bisa menghentikan sikap jailnya...

“Bukannya setiap hari sudah bertemu saat jam makan?”

“Sekali sekali tidak apa apa dong, ketemu di jam yang tidak biasa,” jawabnya membela diri,

Kak Ari menolehkan kepala kearah jendela kamar Tasuku, aku tidak tahu mengapa, tapi ada semacam perasaan ganjil dihatiku.

“Sedang lihat apa?” Tanyaku, kakak sepertinya tersadar, ia menggeleng, malah ia mengalihkan pembicaraan kearah lain,

“Kepala Desa ada dirumahnya?”

Aku mengangkat bahu, “Coba kakak cari ke Rumah beliau saja, aku mana tahu,” ujarku menambahkan, “Biasanya pegawai beliau ada, jam segini mungkin sedang istirahat,”
Kak Ari mengambil Gembor plastik ditanganku, ia berjalan kearah pancuran dan mulai mengisi airnya, aku membiarkan saja ia membantuku,
Kakak menyerahkan alat penyiram bunga yang sudah terisi penuh itu ketanganku, kuterima penuh rasa terima kasih.

“Aku pergi dulu, Bulat,” Seperti biasa, ia mengusap puncak kepalaku, “Sampaikan salamku pada Ibumu, dan hati hati, masuklah kerumah, sepertinya mulai mendung,”
Kembali, kakak menengadah kearah jendela kamar Tasuku.
Aku tidak tahu mengapa...
Ia kelihatan penasaran tetapi memilih untuk mengabaikan.

“Kak,” Tegurku tak yakin, kak Ari berbalik untuk mendengarkan. “Tidak ada… sesuatu yang berbahaya kan?”

Sang pembasmi Undead itu tertegun, lalu tersenyum manis.


“Tidak ada apa apa, tenang saja.”

Lalu ia melihat kearah lantai dua lagi, aneh sekali...
++++
 
Tasuku.

______________________________
__________________________



Aku segera membuka tirai jendelaku.




Tapi tidak ada siapapun dihalaman belakang penginapan,


kecuali Daina, yang sedang berkebun sambil bersenandung,
Nampaknya sibuk, begitu asyik hingga tidak menyadari keberadaanku.

Aku tertunduk lesu.
Sesaat saja, aku seperti merasa bagian diriku yang lainnya berada amat dekat.

Kakak…

Kusandarkan tubuh pada dinding, menarik diri,
Kenapa barusan aku merasa kakak begitu dekat?
Memang kakak tidak pernah mengatakan secara jelas keberadaannya, ia takut aku mencarinya, dan ia juga takut aku menemukannya, terutama pada saat ia bertugas.
Itu adalah kode etik.

Jika ia gugur suatu saat, aku takkan tahu kemana harus mencari, begitulah ia bilang.
Aku memilih tempat ini, Negara ini, karena ia disini, semakin dekat kami, kemungkinanku bertemu dengannya pastilah akan semakin besar,

“Selama aku masih memberi kabar padamu, selama itu pula aku masih hidup.”

Mendekap erat bantal, aku tersiksa membayangkan kemungkinan terburuk.
Kakak selalu selamat dari bahaya seperti apapun secara ajaib, tapi aku tidak tahu sampai kapan keberuntungan itu bertahan.
Inilah pekerjaannya, pekerjaan yang ia pilih.
Dari pekerjaan ini, aku adiknya bisa hidup dan menempuh pendidikan yang lebih dari layak.

Pendidikan kakakku hanya setingkat sekolah menengah pertama, baca tulis alakadarnya,

"Kau yang hebat, kau yang jenius, jadi kau yang akan sekolah setinggi mungkin, tugasku mendukungmu dibalik layar."

Karena aku, kakak memilih untuk tidak melanjutkan pendidikannya sendiri, ia bahkan bisa dibilang tidak bisa menikmati masa remaja yang layak karena sejak usia sangat muda ia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai Zombie Hunter, Prajurit bayaran yang melanglang buana keberbagai tempat, berburu Zombie.



Aku meringkuk sedih diantara sudut tergelap kamarku,
kadangkala aku takut akan membebaninya,
Telah berulang kali perasaan ini kuutarakan, dan Kak Ari tak pernah benar benar mau menanggapinya.

“Mau bagaimana lagi, membunuh Undead itu satu satunya hal yang bisa kulakukan dengan baik, tak apa, jangan cemaskan aku, kau belajarlah dengan baik, kita sudah berjanji kan? Akan berjuang dijalan kita masing masing? Akan membuat surga, suatu saat.”

Begitulah kakak berkata selalu.

Tidak mudah bagi dua anak yatim piatu bertahan hidup setelah kehilangan kedua orang tua sekaligus dalam satu serangan Invasi mendadak.
Bayangkan saja, dalam singkatnya kehidupan, kami berdua yang terbiasa serba ada, terlindungi, penuh kenyamanan dalam dekapan hangat ibu bapak kami.
tiba tiba harus mengalami pahitnya kehilangan.

Hidup dipanti asuhan tidak mudah.
Terutama untukku, yang terbiasa hidup enak, kesulitan itu pasti,
Rasa kesepian, dingin, kiri atau kanan hanya ruang asing tak kukenal...
Lari kemanapun, sama saja, tidak menemukan tempat dimanapun...
Aku ingat jelas, dibulan desember, kala salju turun, kakakku memberikan selimutnya untukku, aku yang sering sakit sakitan ketika masih kecil selalu menggigil dengan hanya satu selimut tipis.
Kak Ari rela menahan dingin semalaman demi aku.

Begitu pula dengan makanan, tak jarang kakak memberikan jatahnya untukku.
Ia lebih suka lapar daripada melihatku kurus karena makan yang tidak mencukupi.

'Maaf ya Tasuku, aku tidak begitu berguna, kalau aku sepintar kau mungkin aku bisa mengajarimu pengetahuan yang berguna, tapi kau bahkan lebih pintar dari aku.'

Kak Ari berkata begitu, kakakku tidak banyak bicara tapi ia membawa energi positif serta kharisma dalam diri.
Ia pahlawanku, bagaimanapun ia merendahkan dirinya.

Hal hal seperti itu terus berlanjut,
Hingga pada suatu hari, mungkin setelah satu dua tahun, kakakku mulai berpikir,

"Hidup seperti ini terus, takkan ada kemajuan..."

Aku yang masih kecil mendengarkan itu, tidak memahami apa maksudnya.
Beberapa minggu setelah itu, Kakakku mengajakku kabur dari panti asuhan.

Aku mengikutinya, kami tidak peduli, kami berdua berpikir,
Kemana saja, asalkan kami tetap berdua, kami akan baik baik saja, kami akan selalu baik baik saja...

Namun ternyata, kehidupan diluar sana, tidak segampang yang kami bayangkan.
Bahkan jauh lebih sulit daripada kehidupan anak panti yang notabene serba teratur.
Kakakku terpaksa bekerja apa saja, kendati usianya masih belia,
Tidak peduli pekerjaannya baik, ataukah buruk, semua demi menafkahi aku.
Selama beberapa bulan hidup kami terlunta lunta, kehidupan liar seperti biasa.
Anak jalanan, kakakku yang nakal dan suka berkelahi sejak kecil tidak kesulitan sama sekali dengan pekerjaan kasar yang ia dapatkan.
Disaat terdesak ia mungkin saja akan melakukan tindakan macam pencurian.
Dia tak pernah benar benar bilang padaku, karena tahu aku takkan suka, aku hanya tahu…

Kakak takkan pernah bisa menyembunyikan sesuatu dariku.

Aku tidak bohong jika kubilang 'Aku bahagia', kendati apa yang kami sebut 'rumah' hanyalah sepetak kamar sempit, hanya muat untuk ranjang, kendati makan hanya satu kali sehari dengan lauk pauk seadanya, kami berdua tidak bisa membeli apapun kecuali apa yang kami makan setiap hari, yang mungkin bagi sebagian orang tidak bisa disebut sebagai makanan.
Aku menunggunya pulang pada sore hari, seharian yang kukerjakan hanya membaca buku.
Karena saat keadaan susah sekalipun, kakak masih sempat membelikanku buku buku bekas yang menjadi harta karunku yang paling berharga.

Dari kamus kamus usang yang banyak halamannya telah tanggal tersebut aku mempelajari banyak bahasa asing.
Ya, bagiku, tidak masalah hidup sesukar apapun, selama kami bersama, aku bahagia, aku akan selalu bahagia...

Tidak terlalu naïf jika kukatakan aku puas dengan kehidupanku.

Hingga pada suatu pagi kakakku terbangun, menemukanku dalam keadaan demam parah, kami tidak punya uang.
Kakakku kalut bukan main, ditengah ketidak berdayaan, Ia membawaku ke rumah sakit, tidak memiliki bayangan akan membayar dengan apa.

Pneumonia, mereka bilang, aku terserang radang paru paru karena bakteri dan virus.
tapi karena kami tak memiliki biaya, tidak ada yang mau merawatku.
Nyaris mati, disaat saat terakhir kakakku menghilang.
Meninggalkanku sendirian dirumah sakit, mereka memberikanku kamar karena kasihan, tetap tanpa perawatan yang berarti,
Aku bertahan selama sehari semalam, mendengarkan bisik bisik bahwa aku 'telah ditinggalkan untuk mati'.

Antara sadar dan tidak, pandanganku menerawang dilangit langit rumah sakit, dalam menit menit membosankan itu terus menunggu,
aku nyaris yakin bahwa kakak telah meninggalkanku.
Pasrah menunggu kematian.

Kemudian, entah berapa lama, kusadari hari sudah pagi, dan para dokter serta suster masuk keruanganku, Mereka melakukan sesuatu pada tubuhku yang aku tidak tahu apa.
Badanku yang semula demam tinggi mendingin karena penyakit yang membuat suhu tubuhku naik turun, mulai mati rasa.

Tapi, ditengah kerumunan orang orang itu, aku melihat, pada celah kecil dipintu,
mengintip kearahku,

Kakak.

Wajahnya nampak kelelahan, amat sangat cemas,
bisa kulihat betapa ia memikirkanku.
Sekejap kemudian aku merasa umurku masih sangat panjang, akan sampai ratusan tahun.
Penantian melelahkan semalam serasa tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan perasaan ini.

Bangganya,
Kakakku tidak akan meninggalkanku.
saudarku satu satunya, aku masih punya keluarga didunia ini...

Segera, begitu dokter dan suster selesai melakukan pemeriksaan, ia menghampiriku.
Ia menggenggam tanganku erat, Membisikkan kata kata penuh permohonan,

"Hiduplah, Tasuku... kakak ada disini, kakak tidak akan membiarkanmu mati, hiduplah Tasuku, demi mimpi kita... ingat janji kita."

Kata demi kata terus ia ulangi, semakin sering, semakin cepat.
Membuatku menyesali diri.

Mengapa aku sempat tidak mempercayainya?
Mengapa aku berpikir ia akan meninggalkanku?
Kakakku mencintaiku,
ia tidak akan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi...

Kakak tidak berkata apapun, aku tidak paham darimana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatanku.
Yang pasti tak ada yang berubah diantara kami berdua.
Aku sadar kembali keesokan paginya, aku ingin hidup, selama mungkin, supaya aku bisa terus berada disisinya, kakakku…

Kukira akan sama seperti sediakala, kukira kami bisa hidup bersama lagi seperti dulu.
Ketika kami kembali ke’rumah’, kakak malah memintaku kembali ke panti asuhan.
Aku marah, tidak terima,
Aku bertanya apakah ia sudah tidak menginginkanku lagi?

“Aku bisa mendengarkanmu selamanya.”

Hanya satu kata tersebut dan lengkaplah sudah keyakinanku.
Begitu kuat tak terpatahkan.

Kakak meninggalkanku bersama sebuah koper berisi barang barangku didepan panti asuhan.
Ia berkata bahwa kami harus hidup, bahwa kebanggaannya, nafasnya, adalah milikku.

Aku.

Dan aku tidak boleh ragu.
Ia akan kembali padaku, ia berjanji.

Seminggu setelah aku berpisah dengan kakakku.
Aku mendengar kepala panti bicara kepada para pengasuh.
Tentang kakakku.
Tentang kemana dia pergi.

Mereka mengatakan kakakku menyetujui kontrak dengan para prajurit bayaran, mengambil resiko berbahaya dan menukarnya dengan uang yang cukup.
Mereka mengatakan ia takkan kembali.
Bahwa para prajurit bayaran sangat sering bepergian dengan partner, tapi jika memutuskan membawa pelayan, maka kemungkinan besar hanya akan menjadi umpan.

Semula aku bersedih mendengarnya.
Lagi lagi kakak… mengorbankan dirinya, menempuh bahaya besar demiku.
Tapi keyakinanku lebih kuat bahkan dari kenyataan yang kulihat.
Aku memilih memalsukan ingatanku dan terus fokus pada tujuan.
Anak anak itu lebih keras kepada dan susah goyah, jika sudah berniat.
Karena mereka tidak punya hal lain untuk dipikirkan,
Serta begitu naif kala meyakini sesuatu.

Ia telah berjanji.
Kakak berjanji padaku, dan seumur hidupku, ia belum pernah mengingkari janji.
Kakak akan kembali.
Walau harus mati, ia akan kembali.

Hari demi hari kulalui penuh kesendirian, dibalik tembok panti asuhan yang terbatasi oleh aturan.
Melihat kearah Anak anak lain yang berada di panti yang sama dan juga kehilangan keluarga mereka karena perang dan Invasi.
Pelan pelan aku mulai menyadari, bahwa aku bukan satu satunya yang menderita didunia ini,
Tidak sedikit diantara mereka yang cacat, terganggu mentalnya karena trauma psikis dan berjuta problema lain yang tidak pantas dialami anak dibawah umur.

Ya, Lihatlah kebawah, itu amat sangat membantu pada saat kau merasa berada dalam kondisi terburukmu.
Aku selalu melakukan itu,sejak kecil, niscaya selalu melihat jalan didalam kondisi yang bahkan sekilas seperti nyaris tanpa harapan sekalipun.
‘Lihatlah kebawah’, masih banyak yang lebih susah…
Karena itu aku merasa aku tidak boleh terpuruk.

Kakak disana juga tengah berjuang untukku,
Keberadaannya tidak kutahu, tapi bisa kurasakan…
Entah apa yang tengah ia lewati sekarang, aku takkan kalah oleh nasib, aku harus jadi pribadi yang lebih kuat dan hebat agar saat ia pulang nanti, aku bisa menyambutnya dengan pelukan hangat dan tangan terbuka.

Aku mulai belajar berolahraga, melatih tubuhku agar aku tidak sering sakit sakitan lagi.
Cukup membantu bagiku, sebab fisikku menguat seiring usahaku.
Bersamaan dengan berjalannya waktu, kehidupan karena perang melawan Undead menyebabkan semakin banyak korban berjatuhan.
Jika kau membuka siaran berita ditelevisi, keadaan chaos, pertumpahan darah terjadi disana sini,
Aku tumbuh dengan merasakan empati pada keadaan disekitarku, dimana semua yang ada hanyalah anak anak yatim piatu yang sama denganku.
Naluri keprihatinanku akan kerasnya keadaan terbentuk dari sana.

Dilain pihak, Pelan pelan perkembanganku semakin baik, semakin hari semakin cemerlang.
Bahkan tidak sedikit orang tua asuh yang berniat mengadopsiku sebagai penerus.
Tentu aku tidak pernah berniat, aku disuruh menunggu.
Kakakku yang memintaku menunggu.
Jadi aku takkan kemana mana, cukup disini saja.
Aku mempercayainya, dan takkan berubah apapun yang terjadi.

Terjadi juga, tiga tahun setelah kepergian kakakku,
Mereka mengatakan bahwa kakakku sudah mati.
Seseorang membawa kabar bahwa ledakan di Nepal menewaskan kakakku juga.
Hari itu adalah dilema terbesar dalam hidupku.

Apakah aku harus percaya?
Yang mana yang harus kupercaya?
Aku tidak menangis, tidak didepan orang lain, aku lebih memilih lari kesuatu tempat, dimana hanya ada aku sendiri disana, dan menangis sekerasnya.
Dia tidak mati, dia tidak boleh mati.
Kami akan membuat surga, Itu janji kami.
Orang dewasa mencibir bagaimana mungkin dua bocah ingusan bisa mewujudkan mimpi itu?
Tapi aku merasa bisa, selama bersama kakakku, aku bisa.

Kau tidak akan mati, kan kak?
Kau akan mendengarkanku kan?
Dimanapun kau berada, kau selalu bisa mendengarkanku kan?
Aku memanggilmu…!


Tak terasa setahun berlalu sudah sejak berita kematian kakakku, aku sudah menginjak usia pubertas,
Tak seharipun terlewat tanpa memanggil namanya,
Kuingkari kenyataan bahwa ia telah tiada –setidaknya itulah yang mereka katakan- dan melanjutkan hidup, masih menunggunya.

Ketika itu aku telah meraih beberapa prestasi dibidang akademik dan segalanya berjalan dengan baik.
Pengelola panti asuhan menyarankanku untuk mempertimbangkan, tentang beberapa keluarga ternama yang menginginkanku sebagai penerus.
Ibu tua yang baik hati itu menjelaskan betapa kehidupanku akan jauh lebih baik dan terjamin jika aku menerima tawaran mereka dan bersedia diadopsi.
Dalam hati aku menolak, tapi aku berjanji akan memikirkannya.

Aku terus berkonsentrasi pada pelajaranku sementara berkas berkas orang tua asuh semakin menumpuk.
Pada suatu hari, juga dibulan Desember, salju sedang turun, lagi lagi.
Aku termenung didekat jendela dan perapian.
Nyaris menandatangani salah satu berkas secara acak karena putus asa.
Genap 4 tahun sudah aku menunggu.
Tidak ada kabar, satupun.
Surat, telepon, email, atau apapun,



Dan tiba tiba saja dia pulang…




Menyebalkan sekali.
Kakakku tampak semakin tinggi dan gagah.
Ia mengenakan mantel tebal dan sweater, salju menempel dirambutnya yang sehitam arang.
Tidak bawa apa apa, oleh oleh juga tidak ada, yang pulang hanya ia sendiri.
Kelihatan sangat bersusah payah.


Syukurlah.



Tidak terkira ucapan syukurku saat melihatnya kembali.
Hey, kakakku hebat kan?
Ia benar benar menepati janjinya.
Ia takkan meninggalkanku.
Takkan pernah.


Hari itu ia menjemputku, ia mengatakan kami akan selalu bersama,
Tidak akan terpisahkan lagi.
Aku tidak sendirian lagi, aku punya keluarga, dan dialah keluargaku satu satunya…

Mulai dari waktu itu, aku hidup bersama kakakku.
Ia bekerja, aku belajar.
Ia pekerja yang luar biasa.
Profesinya memang bisa mendatangkan uang banyak dalam waktu cepat, namanya tersohor sebagai Prajurit bayaran berkemampuan tinggi.
Namun resiko pekerjaan itu tidak sedikitpun berkurang hanya karena ia terkenal.
Sedangkan aku, yang kulakukan hanya harus belajar dan belajar,
urusan yang lain serahkan pada dia saja...

Sebanyak apapun penghasilan kakakku,
Uang selalu habis untuk biaya kuliahku yang tidak sedikit.
Apalagi aku sering loncat kelas dan sudah memasuki bangku kuliah diusia 15 tahun!
Belum lagi Kami tinggal berpindah pindah Negara menghindari Invasi, dan hidup seperti itu sama sekali tidak murah.
Kakak selalu mengurus segalanya dengan amat baik.
Ia melindungiku...


Aku, dimanapun aku berada, orang selalu memujiku 'pintar', 'jenius', 'mengagumkan', entahlah apa lagi, aku tidak bisa mengingatnya karena pujian seperti itu sangat sangat banyak, sampai rasanya jika aku tidak berhati hati, kepalaku mungkin bisa meledak saking congkaknya.

Yang aku tidak habis pikir, yaitu aku, buku buku dan sebutan ‘jenius’ salah alamat itu…

Mereka keliru, aku bukan Jenius seperti apa yang mereka yakini.
Kakakku lah jenius yang sesungguhnya.
Dengan keringat dan darahnya aku bernafas.

Apa yang kucapai hari ini, semua itu adalah hasil dari jerih payah dan pengorbanan dari dia yang paling kuhormati didunia ini.

Seumur hiduppun aku takkan bisa membalas jasanya,
Aku tidak boleh berbangga hati, apapun pencapaianku,
Segala pujian itu kupersembahkan untuknya,
Ia bertarung untukku, jadi aku akan terus berusaha hingga hari saat ia bisa berdiri penuh kebanggaan melihatku berhasil meraih impian kami.

Saat rasa rindu ini menyengatku, aku berdoa semoga keselamatan dan perlindungan selalu diberikan kepada kakak yang selalu mencintai dan melindungiku sampai hari ini.
Dan aku tidak boleh gagal, karena itu aku harus berusaha keras, jika aku bisa menemukan obatnya, tidak hanya orang lain, aku bisa melindungi kakakku juga…

Kakakku, orang yang paling berharga bagiku.



‘Lihat Tasuku, mimpi kita, kita sudah selangkah lebih dekat,’


-
-
-
-
-


Kuusap butiran bening yang menguap disudut mataku.
Tersenyum mengingat kenangan menyesakkan sekaligus membahagiakan yang memenuhi dadaku.
Suara hujan yang jatuh dari langit mengejutkanku, begitu tiba tiba.
Entah mengapa, perasaanku tergelitik untuk kembali mengintip dari sudut sudut jendela.
Perlahan menarik gorden berwarna krem itu dan melirik kebawah.



Daina masih disana, sendirian saja.




Ia sudah tidak bekerja lagi.
Sapu dan alat alat berkebun yang lain tergeletak begitu saja didekat kakinya.
Kali ini ia berdiri terpaku.
Ditengah hujan deras yang mengguyurnya.


Ia melihat kearahku tajam,


Seakan mengerti saat ini aku sedang merasakan gundah.
Orang lain akan berkata bahwa ini menakutkan.
Sorot mata gadis itu begitu memohon dan tergila gila.
Terjadi kontak mata antara kami, seperti tersengat listrik, getaran itu nyata adanya.
Tapi aku bahkan tidak tersenyum untuk membalas tatapannya, memilih untuk bersikap kejam, seolah tidak peduli apapun yang mungkin terjadi pada gadis itu.
Kutarik kembali gorden menutup secepat yang aku bisa,

Aku tidak tahu apakah Daina sudah pergi,
Kembali aku bersandar pada dinding,





Impianku saja sudah cukup.
Aku tidak perlu cinta segala untuk membuka jalan.


+++
 
Back
Top