Perang Rusia VS Ukraina & NATO

tujuan Rusia, hancurin pemerintahan Ukraina & tangkap/bunuh presidennya ya?

menurut beberapa pengamat militer internasional. Tujuan utama rusia itu menginvasi ukraina untuk menggulingkan presidennya disebabkan karena pro Barat. Ingin bergabung dengan NATO. Jika ukraina dapat meyakinkan Rusia bahwa tidak akan gabung NATO bisa saja invasi ini tidak terjadi

sekarang yg terjadi adalah perang opini antara NATO/amerika dan pihak rusia


rusia menuduh NATO dan amerika ingin melemahkan rusia agar mereka bisa menguasai jalur perdagangan di kawasan tersebut.
 
volodymyr-zelensky.jpg

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky - Times of Israel​


Negosiasi Rusia dan Ukraina Dimulai, Ini Harapan Presiden Zelensky

Bisnis.com, JAKARTA – Negosiasi gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia akhirnya dimulai, di mana kedua Negara sepakat pertemuan digelar di perbatasan Belarusia, Senin (28/2). Dikutip melalui laman Al Jazeera, Kantor presiden Ukraina menyatakan, tujuan utama dari negosiasi adalah mencapai gencatan senjata segera serta penarikan pasukan Rusia.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, pasukannya merebut dua kota kecil yakni Berdyansk dan Enerhodar di tenggara Zaporizhzhya, Ukraina. Bahkan, kementerian mengklaim telah merebut pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhya. Namun, Ukraina membantah PLTN jatuh ke tangan Rusia seraya menegaskan fasilitas tetap beroperasi nomal.

Selain itu pada Senin (28/2) pagi ledakan terdengar di Kiev dan Kota Kharkiv. Ukraina lagi-lagi membantah klaim bahwa kota-kota utama telah jatuh ke tangan Rusia. Dikutip melalui laman The New York Times, Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan sedikit harapan bahwa pembicaraan akan mengakhiri pertempuran.

“Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan bahkan ketika ekonominya terhuyung-huyung di bawah sanksi,” kata Zelensky dikutip melalui New York Times, Senin (28/2/2022) Untuk diketahui, dengan konvoi kendaraan militer Rusia sepanjang tiga mil yang menekan Kiev, delegasi Ukraina bertemu dengan rekan-rekan dari Rusia pada hari Senin (28/2) di Belarus, bahkan ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan sedikit harapan bahwa pembicaraan akan mengakhiri pertempuran yang telah menewaskan lebih dari 350 warga sipil sejak invasi Rusia dimulai.

Zelensky mengatakan bahwa Ukraina akan mendorong untuk gencatan senjata segera dan penarikan pasukan,

Sementara itu, Presiden Vladimir Putin mengatakan kepada para pemimpin militer untuk menempatkan pasukan nuklir Rusia dalam keadaan waspada sebagai tanggapan atas sanksi tidak sah yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang mengumumkan penutupan total Uni Eropa. wilayah udara ke pesawat Rusia.

Pasukan Rusia melakukan serangan rudal di seluruh Ukraina semalam, menurut Oleksiy Arestovych, penasihat kepala kantor presiden. Kantornya melaporkan pemogokan di Kiev, Zhytomyr, Zaporizhzhia dan Chernihiv. Tidak ada perincian lebih lanjut segera tersedia dalam hal korban

.
 
joe-biden-xi-jinping.jpg

Joe Biden (kiri) saat masih menjabat Wapres AS bertemu Presiden China Xi Jinping dalam satu kesempatan di Balai Agung Rakyat China di Beijing pada 2011./Antara - HO/China Daily​


China Tegaskan Tetap Buka Perdagangan dengan Rusia, Sembari Tegur AS

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah yang tergolong berbeda dibandingkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, diambil oleh China. Negeri Panda tersebut menyatakan tetap akan membuka perdagangan dengan Rusia dan mengecam Negeri Paman Sam.

Seperti dilansir dari Antara, Senin (28/2/2022), China memgaku akan tetap menjalin kerja sama perdagangan dengan Rusia yang terkena sanksi sistem pembayaran antarbank internasional (SWIFT) oleh Amerika Serikat dan beberapa negara sekutunya terkait krisis Ukraina.

"China dan Rusia akan tetap melanjutkan kerja sama perdagangan secara normal dengan semangat saling menghormati dan saling menguntungkan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MFA) Wang Wenbin di Beijing, Senin (28/2/2022).

China pun menilai langkah yang dilakukan oleh AS dan negara-negara Eropa lain dalam menghapus Rusia dari pemanfaat Society Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) adalah langkah ilegal. Untuk itu China menilai langkah negara-negara Barat itu layak ditentang. Seperti diketahui, AS bersama dengan Kanada dan beberapa negara Eropa menghapus Rusia dari SWIFT pada Sabtu (26/2).

SWIFT sendiri adalah jaringan yang dimiliki oleh perbankan dan lembaga keuangan di sebagian besar negara-negara di dunia untuk menerima dan mengirim informasi terkait transaksi keuangan dan lain sebagainya.

"China menentang sanksi untuk mengatasi masalah, apalagi sanksi unilateral tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional," ujar Wang. Menurut dia, sanksi kepada Rusia itu tidak akan menyelesaikan masalah dan justru akan menciptakan masalah baru. Da mengingatkan AS agar tidak merusak kepentingan China dan pihak lain dalam mengatasi krisis Ukraina.

"Kami juga meminta agar pihak AS tidak mengganggu kepentingan China dan pihak lain ketika menangani masalah Ukraina dalam kaitannya dengan Rusia," ujarnya.

.
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=NaA5v9yglVI"]Update Rusia-Ukraina: Pasukan Putin Kembali Minta Warga Sipil Tinggalkan Ibu Kota Kiev, Apa Artinya? - YouTube[/ame]
 
w1200

(FILES) Foto kombinasi ini menunjukkan Presiden AS Joe Biden (kiri) saat memberikan sambutan tentang implementasi Rencana Penyelamatan Amerika di Ruang Makan Negara Gedung Putih di Washington, DC pada 15 Maret 2021; dan Presiden Rusia Vladimir Putin saat ia dan mitranya dari Turki mengadakan pernyataan pers bersama setelah pembicaraan mereka di Kremlin di Moskow pada 5 Maret 2020. Presiden Joe Biden dan Vladimir Putin memulai panggilan telepon pada 30 Desember 2021 tentang solusi diplomatik atas meningkatnya ketegangan Rusia-Barat atas Ukraina.​

Balas Kritik Biden, Menlu Rusia Samakan Amerika dengan Hitler

TRIBUNNEWS.COM, RUSIA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov menyamakan Amerika Serikat (AS) dengan Hitler dan Napoleon.

Lavrov mengatakan AS mendikte Jerman apa yang baik untuk ketahanan energi Eropa.

"Dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan pipa itu (Nordstream 2) dan keamanan itu akan dijamin dengan pasokan dari AS, yang beberapa kali lebih mahal," tutur Lavrov sebagaimana dilansirSky News, Kamis (3/3/2022).

Lavrov menambahkan AS mencoba memaksakan pandangan mereka sendiri tentang masa depan Eropa.

"Napoleon dan Hitler, mereka memiliki tujuan untuk menguasai seluruh Eropa. Sekarang AS telah menguasai Eropa," imbuh Lavrov.

"Dan kami melihat bahwa situasi ini benar-benar menunjukkan peran apa yang dimainkan Uni Eropa dalam situasi global,"sambung Lavrov.

xxx

Lavrov melanjutkan dengan berbicara tentang bagaimana dalam film ada kejahatan mutlak dan kebaikan mutlak dan mengatakan gambaran global berada dalam keadaan yang sama.

Dia menambahkan bahwa dia yakin jika "histeria" akan berakhir.

Lavrov juga mengatakan bahwa Rusia akan duduk bersama Ukraina untuk berunding.

"Tetapi hanya dengan satu syarat bahwa itu harus menjadi pihak yang setara yang bernegosiasi," ujar Lavrov.

AS Sebut Putin Diktator


Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden mencap Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai diktator.

Dia menyebut Putin akan menghadapi isolasi ekonomi dan diplomatik yang melemahkan Rusia karena menyerang Ukraina, dan memperingatkan dunia berada dalam "pertempuran" antara demokrasi dan otokrasi.

Saat menyampaikan pidato kenegaraan pertamanya ke sesi gabungan Kongres dan rakyat Amerika, Biden memuji dinding kekuatan Ukraina yang telah berdiri tegak melawan penjajah Rusia.

Dalam kesempatan itu, Biden menjelaskan tidak akan ada sepatu bot AS di lapangan dalam perang yang sudah berlangsung seminggu di ambang pintu Eropa.

"Biar saya perjelas, pasukan kami tidak terlibat, dan tidak akan terlibat, dalam konflik dengan pasukan Rusia di Ukraina," kata pemimpin Demokrat itu, dikutip dari AFP.

Namun Biden tetap melontarkan kritik pedas kepada Putin.

"Seorang diktator Rusia, yang menginvasi negara asing, menimbulkan kerugian di seluruh dunia," kata Biden.

"Dalam pertempuran antara demokrasi dan otokrasi, demokrasi meningkat hingga saat ini, dan dunia jelas memilih sisi perdamaian dan keamanan," tambah dia.

Barat, yang dipimpin oleh langkah-langkah baru yang keras dari AS, telah meluncurkan pertempuran ekonomi yang sengit dengan Rusia, melepaskan gelombang sanksi yang mengancam akan membuat ekonomi Rusia bertekuk lutut.

Membidik oligarki Rusia dan "pemimpin korup" yang menurut Biden telah menipu miliaran dolar dari rezim Putin, presiden AS menyampaikan peringatan keras bahwa Barat akan merebut kapal pesiar mereka, apartemen mewah mereka, serta jet pribadi mereka.

"Kami datang untuk keuntungan buruk Anda," kata Biden disambut tepuk tangan.

Sumber: Sky News/AFP/Kompas.TV
 
w1200

Foto yang diabadikan pada 10 Februari 2022 ini menunjukkan Kremlin di Moskow, Rusia. (Xinhua/Bai Xueqi)​

Rusia hentikan pengiriman mesin roket ke AS

MOSKOW, 3 Maret (Xinhua) -- Rusia memutuskan untuk menghentikan pengiriman mesin roket ke Amerika Serikat (AS) sebagai respons atas gelombang baru sanksi dari negara-negara Barat terkait konflik Ukraina, sebut badan antariksa negara Roscosmos pada Kamis (3/3).

"Pengiriman tersebut cukup aktif sejak pertengahan tahun 1990-an, termasuk mesin RD-180 yang digunakan pada roket Atlas-V," kata Direktur Jenderal Roscosmos Dmitry Rogozin kepada sebuah program televisi Rusia.

Dia juga meminta AS untuk "terbang menggunakan sapu."
 
w1200

Jens Stoltenberg menegaskan NATO tak ingin berperang dengan Rusia (Foto: Reuters)​

Tolak Permintaan Ukraina, NATO Tegaskan Tak Ingin Perang dengan Rusia

BRUSSEL, iNews.id - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menolak permintaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk melindung wilayah udaranya dari gempuran pasukan Rusia. NATO tak ingin terseret dalam perang dengan Rusia.

Meski demikian negara-negara Eropa menjanjikan sanksi yang lebih banyak bagi Rusia untuk menghukum Presiden Vladimir Putin.

"Kami bukan bagian dari konflik ini. Kami punya tanggung jawab sebagai sekutu NATO untuk mencegah perang ini meluas di luar Ukraina karena akan lebih berbahaya, lebih menghancurkan, dan akan menyebabkan penderitaan manusia yang lebih banyak," kata Sekjen NATO Jens Stoltenberg, dikutip dari Reuters, Sabtu (5/3/2022).

Zelensky mengecam keras keputusan NATO itu, bahkan menyebut aliansi tersebut seperti memberi lampu hijau bagi Rusia untuk melanjutkan pengeboman terhadap negaranya.

"Hari ini ada KTT NATO, KTT lemah, KTT membingungkan, KTT di mana jelas bahwa tidak semua orang menganggap pertempuran menjadikan kebebasan Eropa sebagai tujuan nomor 1. Hari ini, pimpinan aliansi memberi lampu hijau untuk pengeboman lebih lanjut di kota-kota dan desa-desa Ukraina, setelah menolak untuk menetapkan zona larangan terbang," kata Zelensky, dalam pesannya di video yang disiarkan televisi.

Dia sebelumnya mendesak NATO untuk menerapkan zona larangan terbang di langit Ukraina sehingga tak memberi ruang bagi Rusia untuk menyerang dari udara, baik menggunakan rudal maupun pesawat.

Aliansi beranggotakan 30 negara itu terikat dengan janji untuk saling membela jika terjadi serangan serta mewaspadai untuk tidak tenggelam dalam perang dengan Rusia, negara pemilik senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan NATO akan mempertahankan setiap inci wilayah anggota dan Rusia tidak akan meragukan tekadnya itu.

"Aliansi kami adalah aliansi defensif, tidak mencari konflik. Tapi jika konflik datang kepada kami, kami siap," katanya.
 
w1200

Gencatan Senjata Sementara di Dua Kota Ukraina Untuk Evakuasi Warga Sipil

Gencatan senjata sementara di kota Mariupol dan Volnovakha dimulai Sabtu (5/3) pukul 10:00 waktu Moskow (14:00 WIB). "Rusia menghentikan semua serangannya, untuk memungkinkan pembentukan koridor kemanusiaan, supaya warga sipil bisa mengungsi keluar dari dua kota di kawasan timur Donetsk itu", demikian pernyataan kementerian pertahanan di Moskow.

Walikota Mariupol, Vadym Boychenko, mengatakan evakuasi warga sipil dimulai pukul 11:00 waktu Moskow (15:00 WIB). Koridor kemanusiaan akan dibuka selama 5 jam. Walikota Boychenko sebelumnya menyatakan, kota di tenggara Ukraina itu tidak lagi memiliki pasokan air bersih, listrik, dan juga persediaan makanan mulai menipis.

Jika Mariupol jatuh ke tangan pasukan Rusia, ini akan memungkinkan penggabungan militer Rusia dengan satuan dari Donbass dan Crimea.

Berharap kesepakatan serupa di kota lain

Sebelumnya para juru runding Rusia dan Ukraina menyetujui dibentuknya koridor kemanusiaan di kawasan Ukraina yang paling parah dilanda pertempuran. Kota pelabuhan Mariupol dengan populasi hampir setengah juta orang dan kota kecil Volnovakha sejak beberapa hari terakhir berada dalam gempuran tentara Rusia yang terus maju ke kota itu.

Penasehat menteri dalam negeri Ukraina, Anton Heraschenko Sabtu (5/3) mengatakan, akan ada kesepakatan berikutnya dengan Rusia, mendirikan koridor kemanusiaan untuk evakuasi warga sipil dari kawasan pertempuran. "Diyakini akan ada kesepakatan lain semacam ini, untuk kawasan lainnya di Ukraina", kata Heraschenko merujuk pada evakuasi yang sedang berlangsung di kota Mariupol yang dikepung pasukan Rusia.

60.000 warga Ukraina di luar negeri pulang dan siap tempur

Menteri pertahanan Ukraina, Oleksii Reznikov mengatakan, sedikitnya 60.000 warganya dari luar negeri, kini kembali ke tanah airnya untuk bertempur membela negaranya dari invasi Rusia. "Warga yang pulang ke Ukraina itu, bisa membentuk formasi 12 brigade tempur tambahan" ujar menhan Ukraina itu.

Pasukan penjaga perbatasan Polandia melaporkan pekan lalu, sedikitnya 22.000 orang melintasi perbatasan masuk ke Ukraina sejak Rusia mulai menyerbu negara itu Kamis (24/2).

Presiden Ukrainia, Volodymyr Zelenskyy hari Kamis lalu juga mengatakan; "sedikitnya 16.000 pejuang dari luar negeri sedang menuju ke Ukraina, untuk melindungi kemerdekaan dan kehidupan, bagi kita dan bagi semua."

Sejauh ini tidak ada verifikasi dari kelompok independen terkait jumlah orang dari luar negeri yang masuk ke Ukraina.

as/yp (AFP. AP. dpa, Reuters)
 
w1200

Jerman dan Hungaria masih bergantung pada impor migas dari Rusia sehingga tak ingin mengenakan sanksi energi terhadap Negara Beruang Merah. Ilustrasi. (iStock/nielubieklonu).​

Jerman dan Hungaria Ogah Sanksi Energi Rusia

Pemerintah Jerman dan Hungaria tak ingin menjatuhkan sanksi pada sektor energi Rusia atas agresi militer terhadap Ukraina yang dilakukan sejak 24 Februari 2022 lalu.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengungkapkan Eropa tidak dapat mengamankan pasokan energinya tanpa impor dari Rusia.

Menurit Scholz, energi sengaja dikeluarkan dari putaran sanksi sebelumnya. Ia menambahkan energi dari Rusia "penting" untuk kehidupan sehari-hari warganya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Hongaria Mihaly Varga mengatakan pemerintahnya tidak akan mendukung sanksi apapun terhadap energi Rusia.

Dalam sebuah video Facebook yang diunggah Senin (7/3), Mihaly berbicara tentang kerusakan substansial sanksi Rusia terhadap perekonomian negaranya.

"Mereka yang meminta perluasan sanksi, ingin rakyat Hongaria membayar harga perang," ujar Mihaly dikutip CNN.

Mihaly mengungkapkan Uni Eropa bergantung pada Rusia untuk 40 persen kebutuhan gas dan sekitar 27 persen untuk minyak.

Sementara itu, ketika ditanya tentang potensi sanksi terhadap energi Rusia, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan opsi yang tidak terpikirkan tiga minggu lalu itu, sekarang dipertimbangkan.

"Kita harus mempertimbangkan bagaimana kita semua bisa menjauh secepat mungkin dari ketergantungan, ketergantungan pada hidrokarbon Rusia, minyak dan gas Rusia," ujar Johnson dalam konferensi pers pada awal pekan ini.

Pada Minggu lalu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada CNN bahwa AS bekerja dengan sekutunya di Eropa untuk melihat kemungkinan pelarangan impor minyak Rusia sebagai bentuk pengetatan sanksi.

Namun, dampak larangan impor minyak Rusia akan berdampak minim terhadap AS mengingat Rusia hanya mewakili kurang dari 2 persen dari keseluruhan impor minyaknya.

cnnindonesia.com
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=RZD2wOUw93g"]Ukraina Dipermalukan, Rusia Unggah Dokumen Rahasia Penyerbuan Donbas Diteken Jenderal Mykola Balan - YouTube[/ame]
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=EV2eKvWdWF0"]Detik - detik Roket Rusia Serang Pangkalan Udara di Vasylkiv - YouTube[/ame]
 
1054716334.png

Beauty Blogger Marianna Krevvetochka yang tengah hamil menjadi model propaganda operasi militer Rusia yang menyerang rumah sakit bersalin di Ukraina untuk mendapatkan perhatian dunia. (Instagram/krevvetochka)​


Kebohongan Ukraina Terbongkar, Operasi Militer Rusia di RS Bersalin Diperankan Model


SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Ukraina yang kini tengah berperang dengan Rusia, menarik simpati dunia. Banyak warga dunia yang melayangkan protes usai Ukraina merilis banyak korban perang warga sipil yang berjatuhan.

Serangan dari Rusia masih terjadi hingga kini dan menjadi sorotan banyak negara, serta organisasi dunia yang mengecamnya. Namun kini justru beredar video dan foto yang menunjukkan propaganda Ukraina yang diagendakan untuk mengelabui dunia.

Kebohongan Ukraina mengenai korban perang atas serangan Rusia banyak dipublikasikan dalam situs waronfakes.com. Situs yang menampilkan banyak informasi mengenai kepalsuan perang tersebut memongkan bagaimana Ukraina membuat settingan terhadap korban perang atas operasi militer Rusia.

Salah satu informasi palsu yang disebarkan Ukraina adalah mengenai serangan militer kepada rumah sakit bersalin di Ukraina. Dalam foto yang dikonfirmasi 'benar' oleh pemerintah Ukraina, terdapat ibu hamil yang terluka dan ikut menjadi sasaran serangan.

Hal itu ternyata ditepis oleh War on Fakes mengupas siapa sosok asli pemeran wanita hamil tersebut. Dalam ulasannya, perempuan hamil yang terluka dan ditandu petusa itu adalah model dan selebgram Ukraina, Marianna Krevvetochka.

"Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebutnya sebagai hal yang keji dan mengatakan anak-anak dan dan perempuan masih tertimbun reruntuhan," tulis situs tersebut.

Dalam informasi di situs tersebut, Ukraina menyebarkan foto dan video saat operasi militer menyerang rumah sakit bersalin. Perempuan yang berada di rumah sakit tersebut berlarian menyelamatka diri dengan latar suara tembakan.

Hanya saja, ada warga sekita saat kejadian yang mengatakan bahwa tidak ada warga sipil di gedung tersebut. Ternyata, Rusia menyerang rumah sakit bersalin di Ukraina lantaran menjadi tempat persembuyian para militer Ukraina.

Kejanggalan lain yang dikupas yakni tidak ada jurnalis yang menemukan korban usai kejadian di rumah sakit tersebut. Justru yang pertama kali menyebarkan korban perempuan hamil adalah Evgeniy Maloletka, yang diketahui sebagai propagandis terkenal Ukraina.

"Marianna adalah seorang blogger kecantikan terkenal di wilayah tersebut. Kami ingin menyoroti bahwa wanita itu sebenarnya hamil, tetapi dia tidak bisa berada di rumah sakit bersalin: fasilitas medis telah digunakan oleh militan Azov selama beberapa hari," jelas situs War on Fake. ***

.
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=3ahSQ4XV9YY"]Video Detik-detik Rusia Kuasai Bandara di Ukraina Diawali Serangan Jarak Jauh Nan Presisi - YouTube[/ame]
 
092abdcd-c51b-48fb-afee-bb0d60f3f98a_169.jpeg

Presiden Putin Akan Hadiri KTT G20 di Bali

Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, mengatakan Presiden Vladimir Putin berencana hadir dalam KTT G20 yang akan berlangsung di Bali akhir 2022 ini.

Rencana kehadiran Putin itu diutarakan Vorobieva terlepas dari desakan sejumlah negara untuk mengeluarkan Rusia dari negara kelompok G20 sebagai respons atas invasinya ke Ukraina.

"Tergantung pada situasi, sejauh ini dia (Putin) mau datang ke KTT G20," kata Vorobieva saat ditanya apakah Putin akan hadir dalam pertemuan tersebut dalam jumpa pers di Jakarta pada Rabu (23/3).

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu, berbagai negara di dunia terutama Barat berupaya mengisolasi Moskow dari sistem keuangan hingga organisasi internasional.

Baru-baru ini, Amerika Serikat dan negara Barat yang masuk kelompok G7 sedsng mempertimbangkan mendepak Rusia dari keanggotaan G20.

Meski ada ancaman itu, Vorobieva mengatakan Rusia terus mendukung presidensi Indonesia di G20 tahun ini.

"Indonesia menjadi presiden G20 bukan untuk membahas masalah krisis Rusia-Ukraina, tapi lebih kepada meningkatkan ekonomi global dan masalah lainnya. Mengeluarkan Rusia (dari G20) tidak akan membantu perekonomian global," kata Vorobieva.

"Kami mendukung presidensi Indonesia di G20," ucapnya menambahkan.

Rusia menghadapi serangan sanksi internasional yang dipimpin oleh negara-negara barat usai menginvasi Ukraina. Sanksi diberikan untuk mengisolasi negara beruang merah tersebut dari ekonomi global.

Beberapa sanksi yang diberikan adalah menutup Rusia dari sistem transaksi internasional SWIFT dan membatasi transaksi dengan bank sentralnya.

Sebagai informasi, format G7 diperluas menjadi G8 termasuk Rusia selama periode hubungan yang lebih hangat pada awal 2000. Namun, Moskow diskors tanpa batas waktu dari kelompok tersebut setelah aneksasi Krimea pada 2014.

Dalam kesempatan sebelumnya, Polandia menyarankan pejabat perdagangan AS untuk menggantikan Rusia dalam kelompok G20.

Sementara, sumber G7 mengatakan tak mungkin Indonesia, negara yang saat ini memimpin Presidensi G20, atau anggota seperti India, Brazil, Afrika Selatan, dan China akan setuju untuk mengeluarkan Rusia dari G20.

.
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=YzR0QwM3dY8"]Keinginan Ukraina Berdamai Tidak Digubris Rusia - YouTube[/ame]
 
w1200

Foto yang diabadikan pada 23 Maret 2022 ini menunjukkan sejumlah bangkai mobil di Mariupol, Ukraina. ANTARA/Xinhua/Victor​

Rusia: Tahap pertama operasi militer di Ukraina selesai

Moskow (ANTARA) - Sejumlah tugas utama dari tahap pertama operasi militer khusus Rusia di Ukraina secara umum sudah selesai, kata militer Rusia pada Jumat (25/3).

"Potensi tempur Angkatan Bersenjata Ukraina telah berkurang signifikan," kata Sergei Rudskoy, deputi kepala pertama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia.

"Pasukan dan sarana kami akan berkonsentrasi pada hal utama, yaitu pembebasan Donbass sepenuhnya," katanya.

Sejumlah kota Ukraina, di antaranya Kiev, Kharkiv, Chernihiv, Sumy, dan Nikolaev, diblokir oleh pasukan Rusia, sementara Kherson dan sebagian besar wilayah Zaporozhye berada di bawah kendali penuh Rusia, kata Rudskoy.

Sejak operasi militer diluncurkan sebulan lalu, lebih dari 14.000 tentara Ukraina tewas dan sekitar 16.000 lainnya terluka, kata Rudskoy.

"Angkatan udara dan sistem pertahanan udara Ukraina hampir hancur total. Angkatan laut negara itu sudah tidak ada lagi," kata Rudskoy kepada para wartawan.

Sementara di pihak Rusia, 1.351 prajurit tewas dan 3.825 lainnya terluka, katanya.

"Saya ingin menekankan bahwa operasi militer khusus sedang dilakukan dengan ketat sesuai rencana yang telah disetujui," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.

.
 
[ame="https://www.youtube.com/watch?v=Ob4GVMiVyKM"]Rusia Desak Barat Segera Bayar Tagihan Gas dalam Mata Uang Rubel, Ingatkan Jatuh Tempo Sudah Dekat - YouTube[/ame]
 
w1200

Kepala BIN Ukraina: Rusia Mau Belah Negara Kami Seperti Korsel dan Korut

Rusia masih terus menyerang Ukraina. Sejak serangan dimulai pada (24/2), hingga saat ini belum ada tanda-tanda Rusia akan menghentikan serangan.

Kepala Badan Intelijen Ukraina, Kyrylo Budanov, mengatakan Rusia ingin membelah negaranya menjadi dua seperti di Korea yakni Korea Selatan dan Korea Utara.

"Rusia ingin membagi Ukraina menjadi dua, seperti yang terjadi dengan Korea Utara dan Korea Selatan," kata Budanov dikutip dari Reuters, Senin (28/3).

Budanov memastikan, Ukraina akan terus melakukan perlawanan agar hal itu tidak tercapai. Mereka akan terus melakukan gerilya secara total demi mencegah perpecahan negara.

"Musim gerilya Ukraina total akan segera dimulai. Kemudian akan ada satu skenario relevan yang tersisa untuk Rusia bagaimana bertahan hidup," ucap dia.

Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Oleg Nikolenko, enggan memberikan komentar terkait rencana Rusia ingin memecah Ukraina menjadi dua bagian yakni Ukraina Barat dan Timur.

"Semua referendum palsu di wilayah yang diduduki sementara adalah batal demi hukum dan tidak akan memiliki validitas hukum," kata Nikolenko.

w1200

Orang-orang menyaksikan asap membubung setelah serangan udara, saat serangan Rusia di Ukraina berlanjut, di Lviv, Ukraina, Sabtu (26/3/2022). Foto: Pavlo Pamarchuk/REUTERS​

Sudah sebulan lebih Rusia menyerang Ukraina. Namun mereka gagal merebut kota besar di Ukraina salah satunya Kiev.

Rusia dikabarkan mulai mengurangi ambisinya untuk menguasai Ukraina secara penuh. Mereka akan fokus mengamankan wilayah Donbass di Ukraina Timur karena mayoritas penduduknya memang mendukung Rusia.


 
Back
Top