Wanita Kedua

Status
Not open for further replies.
Dulu, dia gadis yang sangat lugu. Baju-baju dan perlengkapan kosmetiknya pun
harus aku yang membelikan. Aku juga yang mengantarnya ke salon agar tampak lebih
gaya. Tentu saja, aku tidak ingin punya istri yang terlihat kampungan, sekalipun
wajah Rini bisa dikatakan cantik.;

Lalu, sekarang bagaimana? Apakah masih harus diantar ke salon juga tanyaku,
bercanda.

Aku tak menyangka pertanyaanku itu justru membuat wajah Gunawan makin masam.

Mengantar ke salon? Ah, tidak perlu. Sekarang dia sudah bisa menyetir mobil sendiri.
Ke mana-mana dia pergi sendiri. Bahkan, sering kali tanpa kuketahui. Temantemannya
adalah istri-istri pejabat, yang selalu mengajaknya pergi ke tempat hiburan
malam.;

Aku terbelalak.

Aku yang lahir dan besar di kota besar saja tidak tergila-gila pada gaya hidup seperti
itu,; kataku, sambil cekikikan.

Tanpa kusadari, ucapanku itu membuat wajah Gunawan ber–tambah masam.
Sekarang malah ditambah sedikit muram.

Apa yang harus kulakukan, bila pernikahanku tidak sesuai harapanku? Bercerai?
Tidak mungkin. Terlalu banyak orang yang terlibat di dalamnya. Ada orang tuaku,
orang tuanya, anak-anak, ada teman dan kerabat. Aku tak punya solusi dari masalahku
ini.;

Apakah kalian memang sedang memiliki masalah tanyaku, meski aku mulai
menangkap arah pembicaraannya.

Istriku sekarang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang pertama kukenal.
Dia tidak lagi seperti ketika kami baru menikah. Dulu dia membuatkan kopi setiap
pagi, menyiapkan pakaianku, bahkan dia memasak sendiri untukku. Katanya, itu yang
diajarkan orang tuanya. Kini dia tidak lagi mau mengurusku. Kerjanya hanya
berdandan dan pergi berhura-hura dengan teman-temannya. Bahkan, anak-anak kami
pun tidak pernah ia perhatikan lagi,; kata Gunawan, sambil menarik napas dalam-dalam.
 
Mungkin, ini kesalahanku menikahi anak yang baru beranjak dewasa. Ketika
menikah denganku, ia baru tamat SMA. Mungkin, dia belum puas menikmati masa
mudanya. Kini, setelah perekonomian kami mapan, dia seolah ingin membalas
dendam atas masa mudanya yang hilang.;

Aku hanya diam. Sedikit banyak aku membenarkan pendapatnya. Tapi, aku
juga telah kehilangan masa mudaku untuk mengejar prestasi. Aku tidak pernah
berhura-hura, apalagi bergaul dari satu bar ke bar lain, seperti yang dilakukan istri
Gunawan. Padahal, aku besar di kota metropolitan ini dengan segala kemampuan
finansial yang keluarga kami miliki. Tapi, aku tak pernah ingin melakukan hal-hal
semacam itu. Aku juga tidak pernah merasa dendam atau ingin membalas semua
kehilangan itu. Jadi, rasanya sulit kumengerti mengapa istri Gunawan bisa melakukan
hal-hal bodoh seperti itu.

Ketika menikah dulu, dia gadis yang sangat lugu. Bahkan, ia belum pernah
berpacaran. Orang tuanya sangat ketat menjaga anak gadisnya. Jadi, aku bangga bisa
menikahi gadis seperti dia. Apalagi, saat itu usiaku sudah 35 tahun. Teman-teman
memujiku karena bisa mendapatkan gadis cantik yang masih polos. Tentu saja, aku
bangga. Tapi, kini, saat usiaku merangkak tua, istriku justru sedang mengalami masa
puber yang terlambat,; katanya, sambil tertawa getir.

Dia mengkhianatimu

Aku tidak tahu. Tapi, kurasa, itu hanya masalah waktu. Sebentar lagi aku akan makin
tua dan tidak menarik. Mungkin saja dia ingin mendapatkan pria yang lebih segar.;

Aku merasa, Gunawan sangat tertekan melihat kelakuan istrinya. Dia lebih tertekan
karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku pun memanggil waiter dan memintanya
membuatkan secangkir teh melati untuk mengendurkan sarafnya. Gunawan
menatapku dengan pandangan yang tak bisa kumengerti.
 
Terima kasih atas perhatianmu, San. Aku tak pernah diperhatikan oleh Rini seperti
ini. Dia tidak pernah peduli, apakah aku capek atau sedang tertekan. Dulu, sewaktu
dia belum bisa menyetir mobil, bila aku pulang dari kerja, dia langsung memintaku
mengantarnya belanja. Padahal, aku sedang capek. Aku rasa, Rini memang bukan tipe
wanita yang sensitif. Dia tipe wanita yang ingin dilayani dan ingin menguasai.;

Gunawan meremas rambutnya dengan kedua tangannya.

Aku telah salah menerima perjodohan itu. Aku pikir, wanita dari kampung adalah
wanita yang bersedia mengabdi pada suami. Tapi, ternyata itu hanya terjadi di awalawal
pernikahan kami saja. Setelah anak pertama kami berumur satu tahun,
sepenuhnya dia menyerahkan tugas melayani segala kebutuhanku pada pembantu!;

Gunawan terlihat begitu kesal. Kekecewaannya tampak begitu dalam.
Sepeninggal Gunawan malam itu, aku sangat resah. Aku bisa merasakan
kegundahannya. Aku kasihan padanya. Aku jadi ingin melayaninya, ingin
membahagiakannya. Dalam hatiku, diam-diam aku bertekad akan membuat Gunawan
nyaman berada di sampingku. Aku ingin Gunawan bisa menghilangkan rasa
tertekannya, karena wanita itu tidak pantas membuat pria sehebat Gunawan menjadi
gundah. Apa, sih, kehebatannya, hingga dia bisa memperlakukan suaminya seperti itu.

Ah, kenapa aku jadi begitu membenci Rini? Kurasa, aku cemburu melihat Gunawan
tersiksa akibat ulah wanita itu.

Tanpa kusadari, hubunganku dengan Gunawan makin dekat. Aku selalu menjadi
pendengar setianya, ketika dia sedang mengeluhkan kelakuan istrinya yang makin
menjadi-jadi. Gunawan juga kukenalkan pada Mama. Lucunya, Mama dan Gunawan
hampir sebaya. Tapi, kulihat, Mama tak keberatan dengan hubungan kami. Ia juga
tampaknya menyukai Gunawan. Apalagi, setelah kuceritakan masalah yang
dialaminya. Mama jadi bersimpati.
 
Tapi, kamu harus hati-hati, ya, San. Jangan pernah menjadi orang ketiga.;

Kenapa ngomong begitu, Ma

Mama tersenyum lembut.

Mama kan bisa melihat bahwa kalian saling tertarik. Itu wajar. Gunawan memang
orang yang simpatik dan kelihatannya bisa ngemong. Tapi, selama dia masih menjadi
suami orang lain, Mama tidak setuju kamu menjalin hubungan dengannya.;

Ucapan Mama pelan, tapi tegas. Aku memakluminya dan aku pun setuju dengan
pendapat Mama. Tapi, cintaku pada Gunawan tumbuh tanpa dapat kuhalangi. Sejak
kepergian Papa, baru kali ini aku bisa melupakan kesedihanku. Seolah, Gunawan bisa
menggantikan Papa untukku.

Tanpa terasa enam bulan berlalu sejak pertemanan kami. Suatu malam, Gunawan
datang ke kafe dengan wajah lesu.

San, aku ingin bercerai,;katanya.

Aku tersentak.

Kamu mabuk, ya

Mabuk? Aku tidak mabuk, San. Aku hanya pria tua yang sedang stres,; kata
Gunawan.

Kamu tidak tua... kamu belum tua, Gun. Kamu hanya sedang tertekan karena
perbuatan istrimu. Lebih baik kamu pulang dan beristirahat. Pikirkan baik-baik apa
yang harus kamu lakukan,; kataku, menghiburnya.

Tapi, Gunawan tampaknya tidak bisa mengendalikan diri. Jadi, aku biarkan saja dia
duduk termenung di ruang karaoke. Aku rasa, Gunawan memang sedang stres. Dia
menyanyi sembarangan dengan suara keras. Dia masih berada di ruang karaoke
sampai kafe kami akan tutup. Aku menyuruh para waiter untuk pulang, karena tak
mungkin mereka menunggui kafe hingga Gunawan pulang. Waktu sudah
menunjukkan pukul 11 malam. Sudah melampaui jam pulang pegawai yang bertugas
malam hari.
 
Ketika para pelanggan dan pegawai sudah pulang, aku menghampiri Gunawan.

Gun, tidak pulang? Kami sudah mau tutup,; kataku, pelan.

Gunawan kulihat sedang berbaring di sofa, sambil mencengkeram mikrofon, masih
bernyanyi dengan suara keras.

Sini...,; panggilnya. Temani aku di sini, San. Hanya kamu harapanku.;

Gunawan kelihatan sangat kacau.

Tolong buatkan aku espresso, San.Aku ingin bernyanyi sampai pagi. Boleh, kan
Tatapannya begitu memelas. Aku tak tega. Aku pun membuatkan kopi
untuknya. Saat aku kembali, kulihat Gunawan sudah tertidur. Kuletakkan kopi itu di
meja kecil dekat sofa.

Aku melirik jam di dinding. Sudah pukul 12.00 malam. Aku ragu-ragu, apakah akan
meninggalkan Gunawan sen–dirian di kafe atau membangunkannya.

Kuputuskan untuk membangunkan Gunawan.

Gunawan...,; bisikku, lembut. Gunawan tak bergerak.

Aku menatap wajahnya yang tertidur pulas. Wajah seorang pria yang lelah. Dia
begitu polos. Kubelai rambut Gunawan, seolah aku ingin membuatnya lebih nyaman.
Mungkin benar, aku telah jatuh cinta padanya. Melihat dia terluka, hatiku pun ikut
terluka.

Tiba-tiba Gunawan terbangun. Matanya dan mataku saling memandang.
 
San,; desahnya.

Aku terperanjat dan salah tingkah melihat caranya memandangku. Aku hendak
bangkit, tapi Gunawan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dia memeluk dan
menciumku penuh gairah, seolah musafir kehausan yang menemukan mata air di
padang pasir.

San, menikahlah denganku.;

Aku terperangah. Apa?!;

Gunawan memandangku dengan raut wajah penuh harap.

Bagaimana mungkin? Kamu pria beristri, Gun.;

Aku ingin menikahimu secara agama. Yang penting, di hadapan Tuhan kita sudah
sah sebagai suami-istri. Aku punya teman yang bisa mengurusnya. Kita menikah
minggu ini juga. Bagaimana? Kau bersedia

Aku bengong, tak tahu harus berkata apa.

Gunawan menatapku dengan wajah polos.

Kamu tidak mau tanyanya.

Bagaimana dengan istrimu
 
Kita tidak perlu memberi tahu dia. Aku hanya ingin hubungan kita ini suci, sesuci
cintaku padamu. Bila kondisinya sudah memungkinkan, aku akan menceraikan Rini,
dan kita menikah secara resmi.;

Kamu serius, Gun tanyaku, masih bingung.

Aku mencintaimu, San.Aku sungguh-sungguh.Aku akan membuktikan padamu, aku
akan menceraikan Rini dan kita akan menikah.;

Aku tak dapat menahan air mataku.

Aku takut, Gun.;

Aku memeluk Gunawan dan Gunawan balas merengkuhku dalam pelukannya yang
hangat.

Jangan takut. Aku akan melindungimu. Percayalah padaku.;

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, semua yang diucapkan Gunawan terdengar bagai
sanjungan. Aku bahagia karena Gunawan tak ingin menodai cinta kami, meskipun dia
bisa saja melakukannya. Aku merasakan ketulusan dan keseriusannya padaku.

Terbayang olehku hari-hari indah yang akan kami lalui bersama. Apalagi, bila kami
memiliki seorang anak. Ah, bahagianya....

Aku tak tahu, apakah tindakanku ini salah. Tapi, aku
telah memikirkannya berulang-ulang di dalam kamarku yang kian terasa sempit. Aku
adalah wanita yang sedang jatuh cinta. Tidak semua orang yang sedang jatuh cinta
mendapatkan orang yang dicintainya. Sedangkan aku memiliki kesempatan untuk itu.
Jadi, rasanya, walaupun seluruh dunia akan menyalahkan aku, aku tetap akan
melakukannya. Aku akan menikah dengan Gunawan. Dengan demikian, aku akan
bisa selalu bersamanya.
 
Aku tidak berani membicarakan rencanaku ini kepada Mama. Hanya kepada Jeanny
aku menceritakannya. Tapi, entah kenapa, aku melihat ada kesedihan di wajahnya.

Jika kamu sudah siap menjadi orang tanpa wajah, ya, lakukanlah...,; katanya, dengan
berat hati.

Apa maksudmu, Jean

Kamu tahu tentang risiko pernikahanmu ini, bukan? Itu berarti, sebelum mereka
bercerai, kamu hanya jadi istri simpanan Gunawan. Tidak ada yang tahu
keberadaanmu sebagai istrinya. Kamu harus terus bersembunyi, termasuk bila nanti
kamu memiliki anak darinya.;

Tapi, Gunawan berjanji akan segera menceraikan istrinya, lalu kami akan menikah
secara resmi.;

Tidak ada yang bisa memastikan ucapannya. Dulu, aku juga pernah mengalami hal
yang sama denganmu, tapi....;

Jeanny tertunduk sedih. Aku melihat matanya berkaca-kaca.

Aku berdoa semoga kamu tidak bernasib sama,; kata Jeanny, sambil memeluk
tubuhku.

Jean, terima kasih. Aku akui, aku juga merasa gamang. Tapi, aku tak punya pilihan.
Terima kasih kau mendoakanku. Kamu sungguh kakak yang baik.;

Jeanny mengangguk.

Ya, San. Kamu wanita yang baik. Kamu berhak mendapatkan kehidupan yang baik,
tidak seperti aku.;

Aku tak mengerti, apa maksud Jeanny dengan ucapannya itu.
 
Dulu, aku juga hanya menikah secara siri dengan papanya Dito. Sama seperti
Gunawan, papanya Dito juga berjanji akan menikahiku secara resmi, setelah bercerai
dari istrinya. Tapi, ternyata, bertahun-tahun lamanya aku harus menjadi istri
simpanan. Aku harus mengunci mulut rapat-rapat, termasuk pada anakku sendiri. Tak
ada yang tahu bahwa dia adalah suamiku dan tak pernah ada kesempatan bagiku
untuk menjadi istri sahnya. Tapi, aku sadar, aku memang bukan wanita yang pantas
dinikahi. Dulu, aku hanyalah gadis muda yang dijual orang tuaku sendiri, demi
membiayai hidup keluarga besar kami.;

Melihat Jeanny terisak, aku ikut menangis.

Mengapa kamu ceritakan hal ini, Jean? Bila itu akan menyakiti hatimu, jangan
ceritakan,; kataku.

Tapi, aku tak bisa menghentikan Jeanny bercerita tentang masa lalunya.

Aku mengenal pria itu pada sebuah acara. Saat itu, dia mengaku sedang memiliki
masalah dengan istrinya. Karena kasihan padaku, yang dijadikan sapi perah keluarga,
dia lalu mengajakku menikah secara siri dan meninggalkan bisnis prostitusi yang
kujalani. Aku begitu mencintainya, sehingga aku nekat melawan ibuku sendiri.
Karena tindakanku itu, aku dikucilkan. Kini, tak ada satu pun keluargaku yang peduli
padaku, kecuali seorang adik, yang sesekali mampir. Tapi, sudah beberapa bulan ini,
dia tak pernah datang.;

Lalu, bagaimana perlakuan suamimu

Dia sangat baik dan sayang padaku. Dia yang membelikan rumah ini dan
membuatkan deposito untukku. Setiap bulan, dia masih memberiku biaya hidup. Dia
juga sering mengunjungi kami, bahkan sesekali menginap. Tapi, ketika Dito berumur
dua tahun, dia berbaikan lagi dengan istrinya, sehingga akhirnya hubungan kami
terputus. Kalaupun bertemu, itu tidak disengaja. Karena itu, Dito tidak mengenal
papanya. Aku membohongi Dito. Kukatakan bahwa papanya telah meninggal.;

Lalu, apakah benar dia sudah meninggal
 
Ya, itu benar. Dia sekarang memang benar-benar sudah meninggal dunia. Bahkan,
aku tidak tahu kapan dia sakit. Karena, aku memang dilarang menghubunginya.
Bahkan, aku tidak diperkenankan memasang fotonya di rumah ini.;

Pantas, pikirku. Tak satu pun foto papa Dito kulihat di rumah ini.

Suamiku itu sangat menjaga kerahasiaan hubungan kami, karena dia tidak ingin
mengecewakan keluarganya, terutama putrinya yang sangat dia cintai. Aku cuma bisa
pasrah, karena aku sangat mencintainya.;

Aku tertegun mendengar cerita Jeanny.

Aku tahu apa yang kamu pikirkan sewaktu tahu aku menjadi simpanan Wilman.
Tapi, demi Tuhan, San, Dito bukan anak haram. Dia punya ayah.;

Aku tahu,; kataku, mencoba menenangkannya.

Pandangan Jeanny menerawang.

Aku tahu, pasti sulit baginya untuk meminta izin menikah pada istrinya. Padahal, aku
sudah siap lahir-batin menjadi istri kedua. Karena, aku merasa status itu jauh lebih
terhormat dibandingkan jadi wanita simpanan, seperti profesiku selama ini. Tapi,
diriku ini memang kotor. Bahkan, untuk menjadi istri kedua pun, aku tak pantas.;

Lalu, tangis Jeanny meledak. Aku memeluknya.

Aku betul-betul terkejut mendengar cerita Jeanny. Kenapa nasibnya begitu buruk?

Jeanny mengusap air matanya dan tersenyum padaku.
 
Maafkan aku, ya, San. Aku mungkin cemburu karena nasibmu lebih baik. Aku
berbahagia bila Gunawan memang serius ingin menikahimu. Aku pasti akan selalu
mendukungmu. Tapi, coba kau pikirkan lagi apa yang telah kuceritakan ini.;

Aku tepekur, tak tahu harus berkata apa. Kini, aku tahu siapa Jeanny. Saat usianya
masih 15 tahun, ibunya sengaja menawarkan dirinya kepada seorang pria tua yang
sudah beranak-istri. Ia menjadi wanita simpanan, tanpa dinikahi. Tapi, pria itu
memberikannya rumah, juga uang belanja yang lebih dari cukup. Orang tuanya
menikmati hasil kerja putrinya itu. Mereka tinggal di rumah yang diberikan pria yang
memelihara Jeanny, juga menikmati uang haram yang diperolehnya setiap bulan.

Bukan hanya itu, ibunya juga mengajari Jeanny untuk diam-diam berselingkuh
dengan pria lain, agar bisa mengeruk uang lebih banyak. Tadinya, Jeanny merasa
dipaksa melakukan hal itu. Tapi, seiring waktu, dia menikmatinya. Apalagi, rupiah
yang dihasilkannya tidak sedikit. Ketika bertemu papanya Dito, yang mengajaknya
menikah secara siri itu, Jeanny seolah mendapat harapan untuk bisa terbebas dari
pekerjaan nistanya itu. Tapi, yang terjadi, dia hanya melompat dari satu bahaya ke
bahaya yang lain, tanpa tahu bagaimana cara menyelamatkan diri.

Aku ingin Jeanny memaafkanku karena aku telah menceritakan masa lalunya kepada
Mama. Sama sepertiku, Mama juga terkejut, sekaligus kasihan, pada nasib Jeanny.
Mama juga pernah mendengar ada anak yang dijual oleh orang tuanya sendiri. Tidak
disangka, hal itu juga terjadi pada Jeanny. Kasihan, dia masih muda dan cantik.

Walau akhirnya dia menikah, pernikahannya itu kan tanpa status yang jelas. Berarti,
akta kelahiran Dito itu tanpa nama ayah, ya, San kata Mama.

Ya. Biasanya, anak yang lahir di luar pernikahan resmi, dalam akta kelahirannya
hanya akan tercantum nama ibunya,; kataku.

Kasihan Dito. Mudah-mudahan dia tidak minder bila sudah beranjak besar.;

Ya, Ma. Apalagi, sejak Dito berumur 2 tahun, ayahnya sudah tidak mengunjungi
mereka lagi. Jadi, Dito betul-betul tidak mengenal papanya. Jeanny bilang pada Dito
bahwa papanya sudah meninggal. Tapi, kata Jean, pria itu sekarang memang sudah
meninggal.;
 
“Kasihan..., kata Mama, sambil menerawang. “Mama nggak bisa membayangkan
kalau Mama jadi Jean.

Lalu, aku pun menceritakan hubungan Jeanny dengan Wilman, yang membuat Mama
gemas. Menurut Mama, Wilman adalah tipe pria yang memanfaatkan kelemahan
wanita. Dia tahu bahwa Jeanny butuh kasih sayang, lalu dengan seenaknya dia
menjadikan Jeanny wanita simpanan.

Kalau niatnya baik, paling tidak dia bisa menikahi Jean, meskipun hanya menikah
siri, seperti suami Jean dulu. Kalau ini kan jelas-jelas hanya dijadikan pemuas nafsu.;

Aku setuju dengan pendapat Mama. Tiba-tiba aku teringat Gunawan. Apakah
keinginannya menikahiku secara siri menunjukkan bahwa Gunawan berniat baik?

Ma, Gunawan sudah melamar Sandra. Dia ingin menikahi Sandra secara siri, sambil
mengurusi perceraian dengan istrinya. Setelah itu, kami akan menikah secara resmi.;

Mama terbelalak.

Sandra, kamu jangan gila. Kalau dia mau menikahi kamu, dia harus bercerai dulu
dari istrinya.;

Tapi, tadi Mama bilang, menikah siri itu menunjukkan iktikad baik,; kataku, sambil
berusaha meyakinkan Mama.

Dalam kasus Jeanny memang begitu. Karena, statusnya yang dulu kan parah, wanita
simpanan! Beda dari kamu. Kamu wanita terhormat, anak baik-baik, masih perawan.
Dengar, ya, pendapat Mama itu hanya berlaku untuk orang lain. Kalau untuk anakku?
Tidak mungkin!;
 
Mama menutup pembicaraan dengan sebuah ultimatum. Dan, jauh di dalam lubuk
hatiku, sebetulnya aku sudah tidak berhasrat meneruskan hubunganku dengan
Gunawan, setelah mendengar penuturan Jeanny. Bagaimanapun, aku tak ingin
menjadi wanita kedua, apakah itu secara sah atau secara sembunyi-sembunyi.

Malam itu, ketika sedang duduk di kafe, Jeanny datang menemuiku.

Hai, Jean. Bosan di rumah, ya

Ya, San.Kebetulan, ada yang ingin aku bicarakan. Aku stres di rumah
memikirkannya,; sahutnya, dengan wajah muram.

Aku memesan dua cangkir espresso, lalu kami duduk di sudut kafe.
Jeanny terlihat resah, meski dia berusaha menutupinya.

Wilman itu memang kurang ajar!;umpatnya.

Aku terkejut. Baru kali ini aku mendengar Jeanny mengumpat. Wanita itu biasanya
sangat halus.

Apa yang terjadi

San, aku hamil.;

Kalimat yang pendek itu mampu menyirap suasana. Hampir dua menit kami terdiam,
tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bagiku, kehamilan Jeanny adalah risiko
hubungan bebasnya dengan Wilman. Tapi, bagaimana mungkin Jeanny membiarkan
dirinya hamil? Dia kan bukan anak kemarin sore?
 
Aku tahu apa yang kamu pikirkan.;

Jeanny tiba-tiba memecahkan keheningan.
Aku juga sudah berhati-hati. Tapi, entahlah. Kejadian ini tak terduga sama sekali.
Meski begitu, aku tidak mau menggugurkan kandunganku ini.;

Sudah berapa bulan tanyaku, dengan suara nyaris seperti bisikan.

Masuk bulan keempat.;

Apa? Kok, baru tahu

Aku tidak menyangka sama sekali. Terlambat menstruasi 2-3 bulan bagiku sudah
biasa. Tapi, karena sudah lebih dari empat bulan, aku pun waswas. Akhirnya, aku
menggunakan tes uji kehamilan. Hasilnya, positif! Untuk lebih memastikan, aku
mendatangi dokter kandungan. Kata dokter, kandunganku sudah berjalan empat
bulan. Demi Tuhan, aku tidak mau punya anak dari dia. Tapi, janin ini ingin hidup,
San.;

Aku mendengar nada putus asa dalam suaranya.

Kemarin aku memberitahukan hal ini pada Wilman. Dengan seenaknya dia
menyuruhku menggugurkan kandungan. Lagi pula, dia tidak yakin ini anaknya,
karena dia selalu pakai pengaman. Kurang ajar! Padahal, sejak berhubungan
dengannya, aku tidak pernah punya pria lain. Ketika aku bilang begitu, dia malah
menghinaku. Katanya, siapa yang percaya jika seorang mantan wanita panggilan
hanya berhubungan dengan satu pria! Sakit hatiku, San. Semalaman aku tidak bisa
tidur memikirkan ucapannya itu.;
 
Aku juga geram mendengarnya. Bila pria itu ada di hadapanku, ingin rasanya aku
memukul wajahnya yang sinis itu.

Apa yang harus aku lakukan, San? Aku tidak ingin membunuh janin yang tak
berdosa ini. Tapi, aku juga tak sudi mempunyai anak dari Wilman.;

Aku menggenggam tangan Jeanny.

Kita ancam saja Wilman. Kita adukan pada istrinya atau pada atasannya di kantor,;
aku memberi usul.

Jeanny mulai terisak.

Ini salahku, San.Aku tahu, bagaimanapun, berhubungan dengan pria beristri tidak
akan membuatku bahagia. Tapi, aku nekat menjalaninya. Ini salahku... ini salahku!;

Jeanny mulai memukul-mukul kepalanya. Aku menarik tangannya.

Jangan siksa dirimu, Jean. Tidak ada gunanya menyalahkan diri. Kita pikirkan saja
apa yang harus kita lakukan sekarang.;

Tapi, aku tak berani memberi tahu istrinya. Aku tak mau menghancurkan hidup
wanita lain. Biar aku saja yang menanggungnya. Aku sudah biasa menderita. Satu
penderitaan lagi tidak akan membuatku mati.;

Jeanny lalu menangis.
 
Meskipun pernah berprofesi sebagai wanita panggilan, sahabatku ini rupanya masih
punya hati nurani. Dalam kesulitannya, Jeanny masih sempat memikirkan nasib orang
lain. Bagiku, Jeanny sama sekali tidak pantas disebut wanita panggilan. Nasib
buruklah yang membuatnya harus menerima predikat itu. Duh....

Aku menyodorkan kopi yang sudah mulai dingin.

Jeanny menghirupnya dengan mata yang masih basah. Ia menatapku dengan
pandangan pasrah.

Apa pun keputusanmu, kita hadapi bersama,; kataku, menguatkannya.

Jeanny mengangguk. Tak berapa lama, dia pamit pulang.

Sebenarnya, aku ingin menahan Jeanny lebih lama di kafe. Aku ingin lebih banyak
mengobrol dengannya. Setelah ia beranjak pergi, kini aku menyesal karena tidak
menahan kepergiannya.

Aku sedang melayani tamu di kafe, ketika ponselku berdering. Terdengar suara
rintihan. Suara Jeanny!

Ada apa, Jean?!; teriakku kalut.

Aku... rasanya akan mati, San.;

Setelah itu tak ada suara. Aku panik. Tanpa pikir panjang, aku segera meninggalkan
kafe. Kukebut mobilku menuju rumah Jeanny. Rumahnya sepi, seperti tak ada orang.
Kutekan bel berkali-kali. Terdengar tapak kaki Dito di tangga. Sekejap kemudian, dia
sudah membukakan pintu untukku.

Mama mana, Dit
 
Ada di kamar, Kak. Sejak Dito pulang tadi, Mama sudah ada di kamar.;

Aku segera menuju kamar Jeanny. Terkunci. Keketuk-ketuk pintu, tak ada reaksi.
Aku makin panik.

Dito, kita dobrak saja pintunya,; teriakku, sambil mendorong pintu dengan tubuhku.
Tapi, tak berhasil. Melihat kecemasanku, Dito yang tadinya kebingungan, langsung
berinisiatif mencari benda besar, yang bisa kami pakai untuk mendorong pintu. Yang
pertama ditemukannya adalah meja tamu. Berdua kami mendorong meja itu. Pintu
sedikit penyok, tapi tak terbuka.

Dito segera berlari ke ruang makan, dia mendorong sebuah rak besi beroda, berisi
tumpukan buku. Kami bersama-sama mendorong benda itu ke arah pintu. Buku-buku
yang ada di atas rak itu berhamburan ke segala arah. Setelah mendorong tiga kali,
baru pintu kamar Jeanny terbuka. Aku langsung masuk ke dalam. Kulihat Jeanny
terkulai lemas di atas tempat tidurnya yang penuh dengan darah.

Dito menjerit-jerit ketakutan.

Mama... Mama... Mama!;jeritnya.

Aku meraih tangan Jeanny dan memeriksa denyut nadinya. Terasa sangat lemah.

Jean, kamu kenapa teriakku.

Jean membuka matanya dengan lemah.

Bertahan, Jean, kita ke dokter, ya,; kataku, hampir menangis.
 
Ya, Tuhan, Jean, apa yang terjadi padamu, tanyaku dalam hati, sambil terisak.

Melihat darah yang begitu banyak, aku curiga Jeanny mengalami perdarahan atau
keguguran? Atau, jangan-jangan, Jeanny mencoba menggugurkan kandungannya?

Dengan sedikit panik aku segera berlari keluar dari rumah Jeanny, menemui satpam
kompleks dan meminta mereka membantuku membawa Jeanny ke rumah sakit
terdekat. Tapi, baru beberapa meter berjalan, aku mengubah keputusan. Rumah sakit,
seberapa pun dekatnya, terasa sangat jauh dalam kondisi seperti ini. Aku pun
melarikan mobil dan melesat ke klinik 24 jam yang ada di dekat perumahan itu.

Jeanny segera ditangani dokter jaga. Aku dan Dito menunggu di ruang tunggu
dengan tubuh yang gemetar.

Mama kenapa, Kak tanyanya, sambil menangis.

Mama sakit. Doakan Mama, ya, Sayang,; bujukku, sambil merangkulnya, mencoba
meredakan tangisnya.

Aku menghubungi Mama, memintanya untuk datang. Dan, tidak berapa lama, Mama
muncul di pintu klinik. Wajah-nya tampak sangat cemas. Aku menceritakan apa yang
terjadi. Mama menebak bahwa Jeanny sedang berusaha menggugurkan kan-ungannya.
Sama seperti yang kupikirkan.

Kemudian, seorang perawat menghampiri kami.

Apakah Anda keluarga Ibu Jeanny

Ya,; sahutku, cepat.

Pasien mengalami perdarahan hebat. Keguguran. Kami perlu persetujuan untuk
melakukan operasi.;
 
Status
Not open for further replies.
Back
Top