Welcome Bonus $100 dari ForexChief

Kelebihan Trading Emas Online

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki trading emas online yaitu, mekanisme transaksinya dua arah. Artinya, saat Anda tahu harga akan turun maka Anda bisa ambil posisi Jual terlebih dahulu. Sebaliknya, jika Anda tahu harga akan naik maka Anda bisa mengambil posisi Beli terlebih dahulu.

Ditambah lagi dalam trading emas online, Anda bisa mengambil peluang jangka pendek maupun peluang jangka panjang dengan memanfaatkan momen.

Selain itu, pasar yang buka 24 jam juga menjadi kelebihan tersendiri. Kemudian, trading emas online juga tidak mengenal sistem antrian seperti trading saham.

Secara umum konsepnya tidak begitu jauh dengan trading saham, bahkan untuk analisanya juga tidak berbeda jauh.

Sekedar informasi, harga emas saat ini berada di kisaran $1760/ troy ounce dan Bank Of America Corp memperkirakan harga emas bisa melonjak sampai $3000/troy ounce dalam 18 bulan.

Bagi Anda yang tahu peluang dan bagaimana cara memanfaatkannya, peluang trading di emas ini adalah salah satu momen langka yang sangat sayang untuk dilewatkan.

 
Kelebihan Trading Emas Online

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki trading emas online yaitu, mekanisme transaksinya dua arah. Artinya, saat Anda tahu harga akan turun maka Anda bisa ambil posisi Jual terlebih dahulu. Sebaliknya, jika Anda tahu harga akan naik maka Anda bisa mengambil posisi Beli terlebih dahulu.

Ditambah lagi dalam trading emas online, Anda bisa mengambil peluang jangka pendek maupun peluang jangka panjang dengan memanfaatkan momen.

Selain itu, pasar yang buka 24 jam juga menjadi kelebihan tersendiri. Kemudian, trading emas online juga tidak mengenal sistem antrian seperti trading saham.

Secara umum konsepnya tidak begitu jauh dengan trading saham, bahkan untuk analisanya juga tidak berbeda jauh.

Sekedar informasi, harga emas saat ini berada di kisaran $1760/ troy ounce dan Bank Of America Corp memperkirakan harga emas bisa melonjak sampai $3000/troy ounce dalam 18 bulan.

Bagi Anda yang tahu peluang dan bagaimana cara memanfaatkannya, peluang trading di emas ini adalah salah satu momen langka yang sangat sayang untuk dilewatkan.


Trading emas secara online di pasar forex memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya adalah:

1. Pasar Forex Sangat Likuid Sehingga Aman dan Tidak Takut Bangkrut
Pasar forex merupakan pasar yang memiliki likuiditas yang tertinggi di dunia. Dengan jumlah transaksi triliunan per hari, seorang trader dimungkinkan untuk bisa melakukan transaksi trading dengan volume yang besar untuk bisa meraih profit sebanyak-banyaknya dari trading tersebut.

2. Tidak Ada Pengiriman Fisik Sehingga Tidak Ada Risiko Kehilangan
Berbeda dengan investasi emas konvensional yang mengharuskan seorang investor untuk membeli emas secara fisik terlebih dahulu, kemudian menyimpannya di tempat yang aman, maka dengan trading emas di pasar forex tidak melibatkan perpindahan emas secara fisik. Sehingga tidak akan ada biaya penyimpanan, transportasi dan asuransi yang perlu dikeluarkan oleh investor. Sehingga berpotensi mendapatkan lebih banyak profit daripada investasi emas konvensional.

3. Fasilitas Leverage Memudahkan Investor Mengalokasikan Dananya
Di dalam trading emas forex ada yang namanya fasilitas leverage dimana fasilitas ini memungkinkan trader untuk bisa mendapatkan kontrak trading dengan jumlah tertentu dan tidak perlu membayar penuh. Contohnya ada seorang broker yang menawarkan leverage 1:100, maka untuk bisa trading emas senilai 100 Dolar, maka Anda hanya membutuhkan dana 1 Dolar saja. Dengan fasilitas ini, setiap orang bisa melakukan trading emas dengan modal yang terbatas

 

Pola Rounding Bottom, Peluang Beli Saat Harga Murah

Saat harga menurun, trader suka membeli di harga terendahnya, dengan harapan akan profit ketika naik lagi. Untuk mengetahui peluang tersebut, Anda bisa mencari pola harga ini. Bagi trader forex, pola-pola harga Reversal (Reversal Pattern) seperti pola Double Top, Double Bottom atau Head And Shoulder, sering digunakan sebagai panduan untuk mengetahui kapan harga akan berbalik arah. Namun sebenarnya, ada pola harga lain yang juga dapat dipakai dalam mendeteksi Reversal, misalnya pola harga Rounding Bottom. Dari kilasannya, pola ini mampu menangkap peluang trading menguntungkan selama pasar mengalami penurunan. Tidak tanggung-tanggung, pola harga Rounding Bottom menjanjikan potensi meraup keuntungan besar dalam waktu singkat.

Apa Itu Pola Harga Rounding Bottom?
Seperti umumnya pola harga Reversal, pola harga Rounding Bottom adalah formasi batang-batang Candlestick yang mengindikasikan potensi besar bahwa harga akan berbalik arah. Secara visual, pola harga Rounding Bottom tampak seperti mangkuk atau lengkungan pada lingkaran.
Lengkungan pada pola harga Rounding Bottom membutuhkan waktu relatif lama untuk terbentuk. Semakin tinggi Timeframe semakin lama pula trader harus menunggu supaya pola harga Reversal tersebut terbentuk.

contoh#1:

pola-harga-rounding-bottom-281341-23096.jpeg

Perhatikan Pair EUR/USD dengan Timeframe H4 di atas. Lengkungan terbentuk dari ratusan candlestick yang berlangsung selama 30 hari. Lengkungan mulai terbentuk saat harga mulai menurun, lalu bergerak mendatar (berkonsolidasi) di bagian bawah lengkungan.

contoh#2:

pola-harga-rounding-bottom-281341-31908.jpeg

Setelah harga menurun untuk membentuk setengah dari rentang lengkungan, maka berikutnya harga akan berbalik arah. Arah trend akan berbalik ketika ujung bawah (Low) Candlestick menyentuh dasar lengkungan (lingkaran hijau). Trader dapat mempersiapkan posisi long (beli) ketika trend terus mendaki dari dasar lengkungan lalu menembus Neckline. Ditandai dengan Breakout pada lingkaran merah.

Penentuan letak garis batas Neckline bersifat relatif subyektif. Umumnya, Neckline diletakkan di dekat harga tertinggi atau Swing High pada awal lengkungan. Semakin dekat Neckline dengan dasar Lengkungan, maka semakin cepat pula sinyal Buy pada Breakout akan muncul. Begitu pula dengan resikonya yang semakin kecil. Sayangnya, akurasi dan target profitnya malah semakin menurun.

Karena bentuknya yang melengkung, Pola harga Rounding Bottom hampir serupa dengan pola harga Cup & Handle. Bedanya hanya terletak pada bagian Handle-nya saja. Pada pola Cup & Handle, harga akan terkoreksi pada ujung lengkungan lalu membentuk Channel. Kemudian, harga dapat Breakout ke atas atau ke bawah. Sedangkan pada pola harga Rounding Bottom, tidak ada bagian Handle, karena harga tidak mengalami koreksi pada ujung lengkungan. Harga hanya akan bergerak mendaki lalu menembus Neckline.

Pola harga Rounding Bottom juga memiliki variasi lain yaitu pola Rounding Top. Bila pola Rounding Bottom mengindikasikan pembalikan arah trend ke atas, maka Rounding Top mengindikasikan sebaliknya. Anda dapat memanfaatkan variasi Bearish ini untuk membuka posisi Short (jual) saat harga breakout ke bawah menembus Neckline.

contoh#3:

pola-harga-rounding-bottom-281341-29879.jpeg

Prinsipnya hampir sama dengan pola harga Rounding Bottom. Bedanya hanya terletak di penempatan lengkungan yang membusur ke atas di sekitar harga tinggi Candlestick. Neckline berada di dekat Swing Low atau nilai Low pada awal lengkungan.

Strategi Trading Pola Harga Rounding Bottom
Pola harga Rounding Bottom relatif jarang ditemukan pada kondisi pasar normal. Selain membutuhkan waktu yang lama, pola harga Reversal ini juga seringkali berubah menjadi pola harga lain, misalnya Head and Shoulder atau Cup & Handle. Meskipun begitu, trader masih bisa mendapat manfaat praktis dari sinyal trading pola harga Rounding Bottom.

Contohnya seperti pada pair XAUUSD dengan timeframe Daily berikut:
contoh#4:

pola-harga-rounding-bottom-281341-31363.jpeg

Lengkungan terbentuk selama kurang lebih 4 bulan (122 Candlestick harian). Dua bulan pertama, harga mulai bergerak mendatar (Sideway) lalu menurun hingga menyentuh dasar lengkungan.

Perhatikan bahwa harga kembali bergerak mendatar pada dasar lengkungan. Hal ini mengindikasikan bahwa Buyer berusaha untuk mendorong kembali harga emas yang telah mencapai batas jenuh jual (oversold). Dinamika pasar tersebut diperlihatkan oleh terbentuknya pola Candlestick Three Outside Up di sekitar dasar lengkungan (lingkaran biru).

Dua bulan berikutnya, harga mulai mendaki dari dasar lengkungan. Trader dapat mempersiapkan posisi Long (beli) begitu Candlestick menembus batas Neckline.

Begitu harga menembus Neckline, persiapkan posisi Long (beli) dengan memperhitungkan Money Management dan rasio Risk/Reward. Anda dapat menggunakan tinggi lengkungan sebagai patokan dalam menentukan target profit. Misalnya, dengan rasio 2RR di mana Reward-nya dua kali lipat lebih besar dari resikonya, maka Stop Loss bernilai 50% dari jarak entry ke Take Profit. Pada contoh#4, tinggi lengkungan adalah 100 poin, maka TP berjarak 100 poin pula dari Entry. Sedangkan Stop Loss berjarak 50 poin dari Entry.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pola harga Rounding Bottom bisa menjadi alternatif price pattern potensial untuk dipantau di atas chart. Bukan cuma pola Double Top dan Double Bottom atau Head And Shoulder saja, yang bisa mendeteksi pembalikan arah pergerakan harga.

Sumber : seputarforex.com

 

Trading Menggunakan Take Profit

Take profit bisa diprioritaskan dalam membantu trading karena ketika market dalam pergerakan cepat, fitur ini akan mampu mengeluarkan transaksi dengan cepat. Take Profit memiliki banyak keunggulan. Kalau Market sedang dalam pergerakan kencang, Take Profit ini mampu dengan cekatan melikuidasi posisi, sehingga profit yang sudah didapat langsung bisa dinikmati. Dengan demikian Take Profit akan bisa diprioritaskan dalam membantu trading Anda. Lalu bagaimana penggunaan Take Profit secara tepat? Yuk kita bahas di bawah ini.

trading-menggunakan-take-profit-124069-1.gif


Take Profit adalah batasan harga tertinggi atau keuntungan yang akan di dapat. Dimana apabila order terkena batasan tersebut maka posisi akan tertutup otomatis dan profit. Kenapa profit harus dibatasi? Tujuannya adalah agar profit dapat tercapai dengan mudah. Target Profit rendah sama dengan profit kecil, tetapi mudah tercapai.

Pengertian Take Profit hampir sama dengan Stop Loss. Jika Stop Loss digunakan untuk menentukan batas kerugian, maka Take Profit adalah kebalikannya; yaitu untuk menentukan batas target profit capaian. Dalam menentukan Take Profit, kita tidak boleh terlalu serakah, tentukan target profit realistis sesuai dengan analisa.

Begini nih contohnya:

trading-menggunakan-take-profit-124069-2334.jpg


Dari contoh chart GBP/USD di atas, kita memasang Take Profit pada harga 1.2478. Alasannya simple, cuma karena harga tertinggi candlestick sebelumnya. Berikutnya, kita pasang open posisi buy pada harga 1.2409 karena saat itu ada rilis berita dan buyer tampak mulai menguasai. Perlu dicatat, jarak dari harga open ke garis Take Profit pada chart di atas adalah 69 pip.

Eh, ternyata belum sempat mencapai target Take Profit, trend bullish sudah kehabisan momentum. Akibatnya harga terhenti pada angka 1.2470. Sayang banget, padahal cuma beda 8 pip.

Jangankan dapat profit, eh, malahan posisi tadi terlibas oleh reversal. Awalnya kita berharap bisa untung 69 pip, kenyataannya harga terjun bebas sampai minus -30 pip lebih.

Itulah alasan kenapa kita perlu mengkaji lebih dalam sebelum memasang Take Profit. Contohnya dengan risk:reward ratio atau price action. Itu hanya beberapa cara saja loh, makanya ikuti terus artikel-artikel Seputar Forex supaya Anda makin jeli dalam meletakkan Take Profit.

Manfaat Menggunakan Take Profit
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, atau minggu depan. Mungkin hari ini kita untung, besok bisa pula kita rugi. Sehingga sangat penting bagi kita untuk menetapkan target trading tepat. Manfaat menggunakan Take Profit adalah:
  • Likuidasi posisi otomatis: Anda tidak harus selalu berada di depan komputer untuk close transaksi. Dengan begitu, Anda bisa menyalurkan perhatian dan tenaga pada hal lain yang lebih penting
  • Kontrol keuangan: Take Profit mampu mengatur keuntungan sebesar acuan pada sistem trading sesuai money management.
  • Bahan Evaluasi: Take Profit dapat juga digunakan sebagai materi evaluasi untuk memperbaiki performa trading. Tentu saja Anda akan membutuhkan jurnal trading untuk mencatat target-target profit tersebut.

Seiring waktu, Anda akan terbiasa menggunakan Take Profit setiap kali membuka posisi. Dengan begitu, setiap posisi akan memberikan informasi konstruktif dalam membangun sistem trading konsisten.

Kesimpulan
Mengetahui apa itu Take Profit adalah pengetahuan esensial bagi semua trader. Menggunakan Take Profit sebenarnya sama seperti belajar menginjak pedal gas, terkadang harus ditekan secara terkontrol. Tidak boleh asal tancap gas, kalau tidak mau mengalami kecelakaan. Intinya, jangan terlalu jauh dalam menentukan Take Profit.

Lebih baik Take Profit sedikit-sedikit tapi konsisten, dari pada tidak profit sama sekali. Kita harus berfikir realistis dan bijaksana dalam menentukan Take Profit, serta lakukan analisa agar diperoleh kejelasan mengenai pergerakan harga. Kapan kita bisa mendapatkan profit besar, dan kapan kita hanya bisa mendapat profit kecil, serta kapan kita harus ikhlas menerima loss.

Sumber : seputarforex.com

 

Trend Dan Momentum

Hal paling mendasar dalam forex trading adalah menentukan kapan buy dan kapan sell, salah satunya berdasarkan trend dan momentum. Ada teman trader yang setelah membaca artikel-artikel maupun blog tentang forex kemudian berkomentar: forex itu gampang, nggak usah dibikin njelimet. Ngapain juga banyak-banyak teori, yang penting kan ijo. Hehehe! Iya deh… saya sepakat bahwa yang sebenernya mudah nggak usah dibikin njelimet. Sungguh bukan maksud hati bikin anda jadi berpikiran bahwa forex itu njelimet dan bikin pusing.

Saya sepakat dengan teman yang berpendapat bahwa kalau bisa dipahami dengan simple, ngapain juga harus dibikin ruwet? Tapi bagaimanapun, saya tetap menyarankan bagi calon trader untuk setidaknya mamahami dasar-dasar analisis dalam forex trading ini, sehingga tidak melakukan trading berdasarkan untung-untungan. Nah, karena hal paling mendasar dalam forex trading ini adalah menentukan kapan buy dan kapan sell, untuk bahasan saya kali ini akan mencoba membahas tentang trend dan momentum.

Mengapa trend?
Begini, dalam forex trading, patokan paling sederhana dalam bertransaksi adalah buy saat harga naik dan sell saat harga turun. Tentu nantinya hal ini akan lebih baik jika dilengkapi dengan pemahaman tentang berbagai hal pendukung lainnya, misalnya pemahaman tentang support-resistant atau batasan-batasan psikologis, over bought-over sold, divergence dan lain-lain. Tapi OK lah, sesuai dengan semboyan: make it simple, sementara kita simpan dulu istilah-istilah yang bikin ruwet. Kita akan bahas dulu hal yang paling sederhana, yaitu: trend.

Apa itu trend?
Salah satu “kata bijak” dalam forex trading adalah: follow the trend, trend is your friend. Nah, kalau begitu kita perlu paham dulu, apa sih trend itu? Mari kita perhatikan gambar berikut:

trend-dan-momentum-62073-1.jpg

Nah, dari gambar di atas, nampaknya sudah jelas yang dimaksud dengan trend… Jadi secara umum, trend sebuah chart bisa dibedakan menjadi: uptrend (trend naik), downtrend (trend turun) dan sideways (trend bolak-balik pada satu range tertentu) Sebagai trader, kita harus tau apa kecenderungan trend yang berlaku saat ini untuk mengambil posisi yang tepat. Ada beberapa indikator untuk melihat trend, antara lain Moving Average dan Parabolic SAR, trend line dan lain-lain.

Momentum
Melengkapi bahasan tentang trend, marilah sedikit kita bahas tentang momentum. Gampangnya, momentum adalah “kekuatan” dari sebuah trend. Idealnya, kita tidak hanya tahu arah dari trend, akan tetapi juga seberapa besar kekuatan trend tersebut. Maksudnya supaya kita tidak “telat” masuk ke sebuah trend. Misalnya kita tahu bahwa trend sedang naik, maka kita memutuskan untuk buy. Eh, ternyata, tidak lama kemudian trend berbalik, sehingga loss-lah yang kita dapat.

Lebih apes lagi kalau ternyata kita “terjebak” sell di dasar lembah atau buy di pucuk gunung alias kita terlajur open position sell pada saat harga di titik terendah atau buy pada saat harga di titik tertinggi. Gawat deh. Nah, supaya kita tidak salah masuk di tengah trend, sebaiknya kenali dulu kekuatan trend yang sedang berlangsung, apakah cukup kuat untuk terus berlanjut, ataukah sudah lemah sehingga bakalan segera terjadi perubahan arah.

Ada banyak indikator untuk melihat kekuatan trend, antara lain ada RSI, MACD, ADX, W%R dan lain-lain. Sampai di sini saya harap anda sudah mulai memahami hal paling mendasar dalam forex trading, yaitu kapan sebaiknya buy dan kapan sebaiknya sell. Tentunya harus tetap diingat juga bahasan kita yang terdahulu tentang time frame, karena bagaimanapun keputusan untuk buy dan sell di saat yang sama bisa jadi berbeda apabila kita mengamati chart dalam time frame yang berbeda.

Sumber : seputarforex.com

 
Stop Loss, Fitur Penentu Keberhasilan Trading Anda


Trading forex merupakan trading berisiko tinggi namun sebanding dengan potensi keuntungan yang juga tinggi. Karena itu, salah satu yang tidak boleh dilupakan saat Anda ingin memulai trading adalah risk management atau pengelolaan risiko. Dalam sejarahnya, tidak ada seorang trader yang pernah mencetak skor sempurna, alias selalu menang dalam tiap kesempatan trading (win rate sebesar 100%). Setiap trader pasti pernah mengalami risiko trading sehingga modal trading menjadi berkurang.

Semua trader (termasuk Anda) membutuhkan risk management untuk mengantisipasi arah pasar yang tidak sesuai prediksi saat mulai masuk pasar. Bagaimana jika arah pasar yang Anda prediksi akan naik, tiba-tiba malah berbalik menukik ke arah bawah dan terus melorot menjauh dari target level yang diharapkan? Atau saat Anda prediksi akan turun, tiba-tiba malah rebound atau berbalik arah menjadi naik? Ya, Anda membutuhkan salah satu aplikasi dari risk management, yaitu Stop Loss.

Apa Itu Stop Loss

Sebelum mulai masuk pasar, Anda pasti terlebih dahulu berusaha mencari tahu tren pasar sebuah pasangan mata uang bergerak ke arah mana: naik atau turun. Tentu saat mengetahui trennya sedang naik, Anda akan memasang posisi Beli, dan pada saat trennya cenderung turun, Anda pasang posisi Jual untuk meraih profit dari pergerakan selanjutnya.

Namun tidak ada satu pun dari kita, yang bisa mengetahui dengan pasti pergerakan pasar di masa mendatang. Arah pergerakan bisa saja berubah drastis karena suatu peristiwa besar, misalnya hasil referendum Brexit yang hasilnya ternyata mayoritas masyarakat Inggris menginginkan keluar dari Uni Eropa. Hasil referendum membuat Poundsterling anjlok lebih dari 200 pip terhadap dollar AS. Padahal pasar sebelumnya tidak menduga hasilnya akan demikian.

Dengan menggunakan Stop Loss, Anda bisa melakukan order untuk melikuidasi posisi secara otomatis jika harga sudah mencapai level tertentu sehingga membatasi potensi kerugian dari suatu transaksi.

Ada dua jenis Stop Loss dalam trading, yakni Stop Loss Statis dan Trailing Stop Loss:

Stop Loss Statis

Dengan stop loss statis, trader memerintahkan agar posisi trading dilkuidasi jika harga menyentuh level stop loss. Order stop loss yang ditetapkan tidak akan berubah hingga harga menyentuh limit atau stop yang dipasang. Stop loss statis bersifat fix (tetap) pada harga yang ditetapkan dan tidak fleksibel.

Trailing Stop Loss

Dalam Trailing Stop Loss kita melakukan order level Stop loss yang bergerak fleksibel. Level Stop Loss akan mengikuti pergerakan harga dengan jarak sebesar pip yang ditentukan dalam trailing stop Anda.

Dalam trailing stop, level stop loss Anda akan mengikuti posisi entry Anda. Jika pada posisi buy, maka stop loss akan ikut bergerak naik. Sedangkan pada posisi sell, stop loss akan ikut bergerak turun.

Meskipun nanti pergerakan harga tidak menyentuh titik take profit Anda dan malah berbalik arah menyentuh stop loss yang baru, Anda akan tetap meraih profit karena stop loss Anda posisinya sudah lebih tinggi atau lebih rendah dari open posisi Anda di awal.

Keuntungan dari Traling Stop adalah besaran kerugian bisa lebih kecil daripada Stop Loss Statis karena jarak level Take Profit dengan Stop Loss bisa menyempit. Namun waktu trading bisa jadi malah lebih singkat saat pasar berbalik arah karena jarak dengan posisi entry yang lebih sempit dari Stop Loss Statis.

 
Stop Loss, Fitur Penentu Keberhasilan Trading Anda


Trading forex merupakan trading berisiko tinggi namun sebanding dengan potensi keuntungan yang juga tinggi. Karena itu, salah satu yang tidak boleh dilupakan saat Anda ingin memulai trading adalah risk management atau pengelolaan risiko. Dalam sejarahnya, tidak ada seorang trader yang pernah mencetak skor sempurna, alias selalu menang dalam tiap kesempatan trading (win rate sebesar 100%). Setiap trader pasti pernah mengalami risiko trading sehingga modal trading menjadi berkurang.

Semua trader (termasuk Anda) membutuhkan risk management untuk mengantisipasi arah pasar yang tidak sesuai prediksi saat mulai masuk pasar. Bagaimana jika arah pasar yang Anda prediksi akan naik, tiba-tiba malah berbalik menukik ke arah bawah dan terus melorot menjauh dari target level yang diharapkan? Atau saat Anda prediksi akan turun, tiba-tiba malah rebound atau berbalik arah menjadi naik? Ya, Anda membutuhkan salah satu aplikasi dari risk management, yaitu Stop Loss.

Apa Itu Stop Loss

Sebelum mulai masuk pasar, Anda pasti terlebih dahulu berusaha mencari tahu tren pasar sebuah pasangan mata uang bergerak ke arah mana: naik atau turun. Tentu saat mengetahui trennya sedang naik, Anda akan memasang posisi Beli, dan pada saat trennya cenderung turun, Anda pasang posisi Jual untuk meraih profit dari pergerakan selanjutnya.

Namun tidak ada satu pun dari kita, yang bisa mengetahui dengan pasti pergerakan pasar di masa mendatang. Arah pergerakan bisa saja berubah drastis karena suatu peristiwa besar, misalnya hasil referendum Brexit yang hasilnya ternyata mayoritas masyarakat Inggris menginginkan keluar dari Uni Eropa. Hasil referendum membuat Poundsterling anjlok lebih dari 200 pip terhadap dollar AS. Padahal pasar sebelumnya tidak menduga hasilnya akan demikian.

Dengan menggunakan Stop Loss, Anda bisa melakukan order untuk melikuidasi posisi secara otomatis jika harga sudah mencapai level tertentu sehingga membatasi potensi kerugian dari suatu transaksi.

Ada dua jenis Stop Loss dalam trading, yakni Stop Loss Statis dan Trailing Stop Loss:

Stop Loss Statis

Dengan stop loss statis, trader memerintahkan agar posisi trading dilkuidasi jika harga menyentuh level stop loss. Order stop loss yang ditetapkan tidak akan berubah hingga harga menyentuh limit atau stop yang dipasang. Stop loss statis bersifat fix (tetap) pada harga yang ditetapkan dan tidak fleksibel.

Trailing Stop Loss

Dalam Trailing Stop Loss kita melakukan order level Stop loss yang bergerak fleksibel. Level Stop Loss akan mengikuti pergerakan harga dengan jarak sebesar pip yang ditentukan dalam trailing stop Anda.

Dalam trailing stop, level stop loss Anda akan mengikuti posisi entry Anda. Jika pada posisi buy, maka stop loss akan ikut bergerak naik. Sedangkan pada posisi sell, stop loss akan ikut bergerak turun.

Meskipun nanti pergerakan harga tidak menyentuh titik take profit Anda dan malah berbalik arah menyentuh stop loss yang baru, Anda akan tetap meraih profit karena stop loss Anda posisinya sudah lebih tinggi atau lebih rendah dari open posisi Anda di awal.

Keuntungan dari Traling Stop adalah besaran kerugian bisa lebih kecil daripada Stop Loss Statis karena jarak level Take Profit dengan Stop Loss bisa menyempit. Namun waktu trading bisa jadi malah lebih singkat saat pasar berbalik arah karena jarak dengan posisi entry yang lebih sempit dari Stop Loss Statis.


Kunci sukses dalam trading adalah dengan meminimalkan kerugian. Caranya adalah dengan membatasi kerugian sehingga tidak terlalu besar. Sebagai contoh, Anda membeli saham ABCD seharga Rp 500. Kemudian Anda menetapkan stop loss sebesar 10% atau Rp 50 di bawah harga pembelian saham tersebut, yaitu di Rp 450. Dengan demikian saat harga turun, Anda hanya mengalami kerugian maksimal sampai 10% saja. Di dalam trading, teknik membatasi kerugian ini sering disebut Cut Loss (Cut = memotong, Loss = kerugian) atau Stop Loss (Stop = menghentikan, Loss = kerugian). Prinsip keduanya sama, cuma beda istilah saja.

 

16 Indikator Ekonomi Penting (1)

Penting bagi kita sebagai pelaku pasar untuk mengetahui indikator ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, agar bisa mengambil keputusan yang tepat dalam trading. Para pakar dan analis selalu membicarakan arah perekonomian berdasarkan pembacaan atas indikator - indikator ekonomi penting, dan itu memang pekerjaan mereka. Namun, seperti yang Anda ketahui, sering kali prediksi mereka salah.

Sebagai contoh, kepala The Fed Ben Bernanke pada tahun 2007 pernah memprediksikan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengalami resesi. Saat itu ia mengatakan bahwa pasar saham dan perumahan sangat menjanjikan. Tetapi, perkiraan Bernanke tersebut ternyata keliru.

Karena prediksi para pakar tidak selalu benar, maka penting bagi kita sebagai pelaku pasar untuk mengerti dan memperhatikan perkembangan ekonomi dan faktor-faktor yang bisa mempengaruhinya. Sehingga, kita bisa mengambil keputusan yang tepat dalam investasi jangka panjang maupun trading forex.

16-indikator-ekonomi-penting-1-131128-29275.jpeg

Secara umum, indikator ekonomi penting yang perlu kita ketahui, dapat dibagi dua:
  1. Indikator-indikator leading (leading indicators) yaitu indikator yang akan berubah mendahului keadaan sebenarnya, dan indikator leading ini digunakan untuk memprediksikan trend pada waktu yang akan datang.
  2. Indikator-indikator lagging (lagging indicators) yaitu indikator yang berubah setelah trend terbentuk. Meski tidak menunjukkan arah pergerakan ekonomi, indikator lagging mengkonfirmasi perubahan yang telah terjadi, dan mengindikasikan perubahan kondisi ekonomi dalam jangka panjang.
Indikator Ekonomi Penting Bersifat Leading
Karena indikator leading sangat potensial untuk memprediksikan arah perekonomian, maka penentu kebijakan fiskal (pemerintah) dan moneter (bank sentral) menggunakannya sebagai acuan dalam mengatur kebijakannya untuk menghindari resesi atau dampak negatif lain dalam perekonomian. Indikator ekonomi penting bersifat leading yang sering diperhatikan ada tujuh jenis.

16-indikator-ekonomi-penting-1-131128-29939.jpeg

1. Pasar Saham
Meski pasar saham bukan indikator yang paling penting, tetapi indeks harga saham adalah yang pertama kali dilihat pelaku pasar untuk mengetahui perkembangan ekonomi saat ini. Harga saham mencerminkan harapan perolehan badan-badan usaha milik negara maupun perusahaan swasta sebagai salah satu pelaku yang memegang kendali arah perekonomian.

Jika harga-harga saham (terutama saham blue-chips) naik, maka pendapatan pelaku ekonomi akan meningkat sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan naik. Sebaliknya, jika pendapatan perusahaan merosot terus menerus, maka dalam jangka waktu tertentu diperkirakan akan terjadi resesi.

Namun demikian, kita tidak bisa hanya mengandalkan pada indikator pasar saham. Mengapa? Karena ada dua hal:
  • Perkiraan pendapatan sebuah perusahaan bisa saja meleset.
  • Harga saham cenderung rawan untuk dimanipulasi. Istilah yang sering kita dengar adalah "digoreng". Hal ini tidak hanya terjadi di bursa saham negara-negara berkembang tetapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Di bursa Wall Street (AS) pernah terjadi "window dressing" (semacam manipulasi terhadap kinerja perusahaan) terhadap sejumlah saham blue-chip, hingga volume perdagangan saham tersebut meningkat dengan pesat. Dalam hal ini, jelas harga saham yang dimanipulasi tersebut tidak mencerminkan kekuatan harga yang sebenarnya (strength of value).

Selain itu, harga-harga saham cenderung untuk menggelembung (bubbles). Kondisi bubble biasanya mengindikasikan sedang terjadi penggorengan saham besar-besaran, atau mencerminkan kelatahan para pelaku pasar untuk cenderung membeli saham-saham yang harganya sedang meningkat, tanpa mempedulikan faktor pendukung dari indikator ekonomi lainnya. Keadaan ini akan sangat rentan dengan koreksi yang pada akhirnya bisa menyebabkan crash di pasar saham, seperti yang terjadi tahun 1929-1930 (The Great Depression). Terakhir kali kita tahu hal semacam ini terjadi pada tahun 2008, meski tidak separah tahun 1929-1930.

2. Aktivitas Manufaktur
Indikator ekonomi penting ini akan mempengaruhi pertumbuhan atau GDP (Gross Domestic Product). Aktivitas manufaktur yang meningkat akan menunjukkan naiknya permintaan, yang pada akhirnya menggerakkan roda perekonomian. Selain itu, aktivitas manufaktur yang meningkat dengan pesat menandakan ekspansi ekonomi, mengakibatkan bertambahnya tenaga kerja, dan meningkatnya pendapatan masyarakat.
Permintaan produk manufaktur tidak hanya dari dalam negeri, melainkan juga dari negara partner dagang. Oleh karena itu, aktivitas manufaktur yang meningkat juga bisa mempengaruhi volume ekspor negara tersebut, serta pada akhirnya berdampak pada neraca perdagangan. Seperti diketahui, neraca perdagangan yang surplus akan cenderung memperkuat nilai mata uang negara tersebut.

3. Level Persediaan Barang (Inventory Level)
Persediaan barang yang meningkat menunjukkan dua kemungkinan:
  • naiknya permintaan hingga wholesaler atau distributor harus menambah persediaan barang, atau
  • merosotnya permintaan hingga persediaan menumpuk akibat bertambahnya pasokan dari pabrik, sementara permintaan dari retailer berkurang.
Pada kemungkinan pertama, persediaan sengaja ditambah untuk mengantisipasi permintaan yang meningkat. Jika sesuai dengan perkiraan, maka level persediaan barang yang tinggi akan meningkatkan keuntungan distributor dan produsen, sehingga berdampak positif pada perekonomian.

Sebaliknya, bila kemungkinan kedua yang terjadi, maka pasokan melebihi permintaan. Selain menyebabkan turunnya harga barang, biaya penyimpanan dan operasional bisa merugikan distributor dan produsen.

Kedua kemungkinan tersebut juga bisa diketahui dari perubahan indikator penjualan ritel (Retail Sales) dan indeks kepercayaan konsumen. Sehingga, laporan level persediaan jarang diperhatikan. Para pelaku lebih cenderung mengamati penjualan retail. Namun, data level persediaan barang sangat berarti bagi produsen dan tak kalah pentingnya dari data penjualan ritel.

4. Penjualan Retail (Retail Sales)
Seperti telah disebutkan sebelumnya, indikator ekonomi penting ini sangat berhubungan dengan level persediaan barang dan aktivitas manufaktur. Barang-barang retail berhubungan langsung ke konsumen dan sangat berdampak pada tingkat inflasi. Untuk memilah kategori barang manufaktur yang mempengaruhi inflasi, indikator ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
  • penjualan retail inti (Core Retail Sales) yang tidak memperhitungkan penjualan otomotif, dan
  • penjualan retail total (Retail Sales).
Para analis sering menyimpulkan bahwa peningkatan data penjualan retail akan ikut menyumbang kenaikan GDP, yang pada akhirnya akan memperkuat nilai tukar mata uang. Namun, data ini tetap ada kekurangannya.

Kekurangan dari data Penjualan Retail antara lain adalah tidak menyebutkan bagaimana konsumen membeli barang-barang tersebut, misalnya apakah konsumen mendapatkan barang tersebut dengan berhutang atau dengan dana yang diperoleh dari pinjaman. Jika sebagian besar konsumen membayar dengan kredit, atau dengan uang hasil pinjaman, maka potensi kredit macet bisa saja terjadi dan menimbulkan masalah ekonomi lainnya. Namun demikian, pada umumnya meningkatnya data penjualan retail akan berdampak positif pada perekonomian.

5. Building Permits (Ijin Pendirian Bangunan)
Building Permits atau ijin pekerjaan konstruksi dan pembangunan perumahan baru menunjukkan prediksi ketersediaan bangunan atau real estate untuk waktu yang akan datang. Bertambahnya jumlah Building Permits mengindikasikan tumbuhnya industri konstruksi yang tentunya akan diikuti oleh pertambahan kebutuhan tenaga kerja dan meningkatnya pendapatan perusahaan konstruksi dan perumahan, yang juga akan menyumbang kenaikan angka GDP.

Namun demikian, seperti halnya level persediaan barang (inventory level); jika makin banyak rumah baru yang dibangun hingga melebihi kebutuhan konsumen, maka level pasokan rumah akan lebih besar dari permintaan pasar. Surplus dapat mengakibatkan merosotnya harga. Pada gilirannya, tidak hanya perumahan baru yang harganya merosot, melainkan juga perumahan atau bangunan yang sudah eksis.

Sumber : seputarforex.com

 

6. Pasar Perumahan (Housing Market)

Turunnya harga perumahan adalah koreksi dari inflasi pasar perumahan, akibat penggelembungan harga (bubble). Jika pasar perumahan sedang lesu, maka akan berdampak negatif pada perekonomian karena kekayaan pemilik rumah akan berkurang akibat merosotnya harga. Selain itu, tenaga kerja di bidang konstruksi dan pemasaran rumah atau bangunan akan berkurang, dan meyebabkan bertambahnya angka pengangguran. Pendapatan pemerintah dari pajak perumahan dan bangunan juga akan berkurang, dan hal ini akan berdampak pada kondisi fiskal pemerintah.

Sebaliknya, inflasi pasar perumahan yang sangat tinggi bisa membahayakan perekonomian, seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007 silam. Housing bubble sering disebut-sebut sebagai biang kerok resesi yang terjadi di AS saat itu. Oleh karena itu, pelaku pasar biasanya mengamati bermacam-macam data perumahan sekaligus di setiap periode.

Jika dituangkan secara efektif dalam infografi, berikut adalah dampak data perumahan terhadap ekonomi:

16-indikator-ekonomi-penting-1-131128-2122.jpg

7. Jumlah Bisnis Baru (New Businesses Startups)
Biasanya, yang dimaksud dengan New Business Startups adalah tumbuhnya bisnis-bisnis baru skala kecil dan menengah, termasuk home industries dan sektor informal. Jenis bisnis semacam ini selalu tumbuh silih berganti seiring dengan pendapatan masyarakat.

Dari survey yang pernah dilakukan, jumlah perekrutan tenaga kerja pada sektor ini dalam suatu periode tertentu lebih besar dari perusahaan yang lebih besar, sehingga ikut memberi kontribusi dalam mengurangi tingkat pengangguran.

Di negara-negara sedang berkembang, bisnis skala kecil dan menengah memberikan kontribusi yang signifikan pada Gross Domestic Product (GDP). Ide, inovasi dan produk yang dihasilkan bisa meningkatkan volume perdagangan. Bahkan di negara maju seperti Jepang, pemerintahnya sangat memperhatikan perkembangan bisnis baru skala kecil dan menengah yang sedang tumbuh.

Indikator-indikator lagging
Tidak seperti indikator leading, indikator lagging berubah setelah terjadi perubahan keadaan ekonomi. Indikator lagging mengkonfirmasi perubahan tersebut dan membantu identifikasi trend perekonomian dalam jangka waktu tertentu. Indikator-indikator lagging yang penting yaitu:
- GDP (Gross Domestic Product)- Pendapatan dan upah
- Tingkat pengangguran (Unemployment Rate)
- Tingkat inflasi
- Nilai mata uang
- Tingkat suku bunga
- Nilai keuntungan perusahaan-perusahaan besar (Corporate Profits)- Neraca perdagangan
- Harga komoditi dalam US dollar

8. Perubahan GDP
Secara tipikal GDP digunakan ekonom dan analis untuk mengetahui ukuran perekonomian suatu negara, sedang tumbuh atau sedang mengalami kontraksi. Jika GDP meningkat maka perekonomian cenderung kuat, dan sebaliknya. Pelaku ekonomi akan menyesuaikan pengeluaran, persediaan barang, rekruitment tenaga kerja dan investasi lainnya tergantung dari output GDP.

Namun indikator ini juga ada kekurangannya. Seperti halnya indikator pasar saham yang kadang tidak menunjukkan kekuatan harga saham yang sebenarnya, GDP juga bisa demikian. Seperti misalnya program quantitative easing (QE) dan pengeluaran pemerintah yang berlebihan. Kenaikan GDP akibat QE sebenarnya adalah kenaikan semu yang memang dilakukan pemerintah guna mengoreksi kemerosotan pertumbuhan ekonomi.
Sebagai indikator lagging, GDP menunjukkan yang telah terjadi, bukan yang sedang terjadi atau yang akan terjadi. Ekonom dan analis melihat keadaan booming atau resesi pada angka GDP dari kwartal ke kwartal. Patokan yang umum jika GDP akhir per kwartal telah turun 2 kali berturut-turut maka bisa dianggap perekonomian sedang menuju ke keadaan resesi.

9. Pendapatan dan upah
Jika ekonomi berjalan dengan efisien, tingkat pendapatan seharusnya meningkat dengan teratur tiap periode tertentu untuk menyesuaikan dengan tingkat inflasi yang terjadi. Untuk negara-negara maju yang mengukur tingkat upah dengan jumlah jam kerja, maka pendapatan yang menurun menunjukkan jumlah jam kerja yang berkurang atau tingkat upah yang memang diturunkan. Pendapatan yang berkurang juga bisa disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja atau kehilangan pekerjaan akibat perusahaan yang kolaps.

Baik pendapatan yang turun ataupun upah yang berkurang merefleksikan kondisi ekonomi yang sedang suram. Di negara industri, tingkat pendapatan dan upah disurvey dan dirinci sesuai dengan gender, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan guna mengetahui trend sesuai dengan kelompok yang disurvey. Indikator jenis ini yang paling populer adalah Non-FarmPayrolls Amerika Serikat.

10. Tingkat pengangguran (Unemployment Rate)
Indikator ini sangat penting dan dijadikan salah satu acuan pemerintah suatu negara dalam menilai kondisi ekonomi. Tingkat pengangguran mengukur persentasi jumlah tenaga kerja yang sedang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Dalam kondisi perekonomian yang normal, ekonom dan analis mematok angka 3% hingga 5%.

Jika tingkat pengangguran tinggi, maka pengeluaran konsumen juga akan berkurang yang akan menyebabkan berkurangnya penjualan retail, perumahan dan lainnya yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada GDP. Pengeluaran pemerintah juga akan membengkak akibat kompensasi klaim pengangguran dan program-program lain untuk kesejahteraan (ini hanya berlaku di negara-negara maju yang menyediakan layanan tersebut).

Kekurangan indikator ini hanya mengukur jumlah penganggur (atau pencari kerja) dalam periode waktu sebulan, dan sering kali mereka yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu (part-time) dianggap telah bekerja penuh. Namun demikian terlepas dari kekurangan tersebut, indikator ini masih dianggap penting.

Sumber : seputarforex.com

 
Belajar Dari Membuat Jurnal Trading Forex Harian


Belajar trading forex pemula dapat dimulai dari berbagai hal, salah satunya dengan membuat jurnal trading forex harian. Semua orang yang sedang belajar perlu membiasakan diri mencatat kegiatan trading dalam jurnal. Karena itu, artikel kali ini akan mengupas tuntas pembuatan jurnal trading forex harian sebagai bagian dari proses belajar trading forex pemula.

Apa Itu Jurnal Trading Forex Harian?

Semua trader tentunya tidak ingin mengalami rugi terus-terusan. Meskipun kesalahan adalah hal yang lumrah terjadi dalam proses belajar trading forex pemula, tetapi yang diharapkan setelahnya tentu mencapai sukses dalam bertrading. Pertanyaannya, bagaimana agar bisa begitu?

Salah satu tips yang perlu diperhatikan dan dibiasakan oleh para pelaku belajar trading forex adalah mencatat aktivitas trading. Tujuannya, agar kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan dan tidak mengulangi kekeliruan yang sama.

Pentingnya Jurnal Sebagai Bagian Dari Belajar Trading Forex Untuk Pemula

Jurnal trading forex harian adalah catatan yang merekam aktivitas kita selama trading. Isi di dalamnya tidak perlu terlalu rumit dan dapat disesuaikan dengan kenyamanan kita sendiri. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar manfaat jurnal trading forex bisa dirasakan.

Pastikan jurnal trading forex yang Anda punya memiliki elemen-elemen berikut:

1. Informasi Waktu

Kita semua telah memahami bahwa belajar trading forex adalah sebuah proses. Darimana kita bisa tahu perkembangan yang terjadi, kalau tidak membuat jurnal trading forex tanpa mencantumkan tanggal dan tahun trading? Karena itu, tuliskanlah informasi waktu yang jelas pada bagian atas jurnal trading Anda. Dari situ, Anda bisa memiliki bahan refleksi; apakah belajar trading forex Anda sudah ada peningkatan dari 3 bulan yang lalu? Sudah sejauh mana pengendalian emosi trading serta manajemen risiko Anda berkembang?

Selain tanggal dan tahun, detail seperti jam juga sangat penting dicatat. Pasar forex bisa sangat tenang, tetapi bisa juga sangat volatile terutama saat ada berita besar penggerak pasar. Jadi, sangat penting untuk mencatat kapan tepatnya Anda membuka posisi dan menutup posisi.

Ambil saja contoh sebagai berikut:

Informasi-waktu.png


Chart GBP/USD di atas diambil pada tanggal 11 November 2018, dengan time frame 1-hour. Dalam waktu beberapa jam, harga terlihat bisa berubah dengan sangat drastis. Harga menguat sampai 0.30 persen pada jam 3 sore, lalu turun hingga 0.32 persen pada jam 9 malam.

Dari sini, jelas bahwa perubahan besar bisa terjadi dalam waktu singkat. Jika Anda tidak mencatat detail jam di jurnal trading, maka Anda akan mudah melewatkan momen signifikan yang bisa mempengaruhi posisi trading. Tentu saja hal ini tidak serta-merta mengharuskan Anda untuk mencatat perubahan per jam setiap harinya. Anda cukup siaga ketika pasar sedang dalam volatilitas tinggi. Hal itu bisa diperkirakan dengan mudah jika Anda mengetahui karakteristik sesi trading forex.

2. Pasangan Mata Uang

Kini Anda telah menulis informasi waktu, jangan lupa juga menulis pasangan mata uang yang ditransaksikan. Jika hanya menulis "11 Desember 2018 jam 15.00, open posisi", tentu informasi yang kita butuhkan kurang. Data mengenai pasangan mata uang yang dipakai sangat penting, karena masing-masing pair memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Para trader pemula pada umumnya disarankan untuk trading pada mata uang mayorm karena spreadnya relatif rendah.

3. Detail Trading

Selain informasi waktu dan pasangan mata uang, detail trading seperti harga Entry, Stop Loss, Target Profit, Volume Trading, Harga Exit, Profit/Loss juga penting untuk dicatat. Melalui detail-detail angka ini, Anda dapat mengevaluasi diri apakah posisi yang diambil selama bertrading sudah benar atau belum.

Perlu diingat, kegagalan yang Anda alami pada satu waktu, tidak selalu dikarenakan strategi yang salah. Bisa jadi, sedang ada faktor-faktor eksternal yang membuat pasar bergejolak. Untuk menentukan apakah kesalahan berasal dari teknik trading Anda atau bukan, Anda dapat menambahkan detail berita atau info pasar berdampak tinggi di jurnal trading.

Pelupa adalah sifat dasar manusia, terutama jika berhubungan dengan angka-angka dan waktu. Karena itu, mencatat detail trading sangat berguna karena kita tidak perlu menerawang apa yang terjadi belakangan ini, cukup melihat pada jurnal trading harian yang dimiliki untuk dipelajari lagi.

Tips Membuat Jurnal Trading Forex Harian Lebih Menarik

1. Menambahkan Gambar Dan Warna

Meskipun trading forex bisa dijadikan sumber mata pencaharian, Anda tidak perlu terlalu kaku dalam membuat jurnal trading. Hal-hal sederhana seperti memilih buku jurnal dengan warna favorit, menambahkan gambar seperti chart sederhana, atau menempelkan hasil screenshot di jurnal, juga dapat dilakukan agar membuat jurnal trading forex tidak terasa membosankan.

2. Cari Inspirasi Lewat Forum Trading

Jika Anda adalah trader yang suka berselancar di internet, mencari inspirasi jurnal trading secara online juga bisa menjadi solusi. Gaya penyampaian jurnal trading ini pun macam-macam. Ada yang seperti menulis diary, ada juga yang singkat dan hanya berisi keterangan buka-tutup posisi serta prediksi.

Saat ini, telah banyak forum-forum trading dimana para trader forex membagikan aktivitas trading mereka. Beberapa forum trading yang populer di antaranya Forex Factory dan TradingView. Di Indonesia, trader-trader biasanya berkerumun di Kaskus, indo.mt5, atau di Forexindo. Seputarforex juga menyediakan wadah diskusi bagi trader di platform Telegram. Ternyata, banyak sekali ya pilihan untuk belajar trading forex pemula?

Kesimpulan

Pelajaran yang bisa kita petik dari membuat jurnal forex harian adalah: Kesuksesan tidak bisa dibangun dalam sekejap, dan hal itu berasal dari ketekunan diri sendiri. Karena forex adalah aktivitas individual, dimana tidak ada bos yang memerintah kita, maka sudah sewajarnya jika kita berdisiplin mengisi jurnal trading forex harian, untuk melakukan evaluasi terhadap performa diri sendiri. Kemauan untuk mengevaluasi diri dan tidak cepat menyerah adalah kunci kesuksesan dalam forex.

 
Belajar Dari Membuat Jurnal Trading Forex Harian


Belajar trading forex pemula dapat dimulai dari berbagai hal, salah satunya dengan membuat jurnal trading forex harian. Semua orang yang sedang belajar perlu membiasakan diri mencatat kegiatan trading dalam jurnal. Karena itu, artikel kali ini akan mengupas tuntas pembuatan jurnal trading forex harian sebagai bagian dari proses belajar trading forex pemula.

Apa Itu Jurnal Trading Forex Harian?

Semua trader tentunya tidak ingin mengalami rugi terus-terusan. Meskipun kesalahan adalah hal yang lumrah terjadi dalam proses belajar trading forex pemula, tetapi yang diharapkan setelahnya tentu mencapai sukses dalam bertrading. Pertanyaannya, bagaimana agar bisa begitu?

Salah satu tips yang perlu diperhatikan dan dibiasakan oleh para pelaku belajar trading forex adalah mencatat aktivitas trading. Tujuannya, agar kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan dan tidak mengulangi kekeliruan yang sama.

Pentingnya Jurnal Sebagai Bagian Dari Belajar Trading Forex Untuk Pemula

Jurnal trading forex harian adalah catatan yang merekam aktivitas kita selama trading. Isi di dalamnya tidak perlu terlalu rumit dan dapat disesuaikan dengan kenyamanan kita sendiri. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar manfaat jurnal trading forex bisa dirasakan.

Pastikan jurnal trading forex yang Anda punya memiliki elemen-elemen berikut:

1. Informasi Waktu

Kita semua telah memahami bahwa belajar trading forex adalah sebuah proses. Darimana kita bisa tahu perkembangan yang terjadi, kalau tidak membuat jurnal trading forex tanpa mencantumkan tanggal dan tahun trading? Karena itu, tuliskanlah informasi waktu yang jelas pada bagian atas jurnal trading Anda. Dari situ, Anda bisa memiliki bahan refleksi; apakah belajar trading forex Anda sudah ada peningkatan dari 3 bulan yang lalu? Sudah sejauh mana pengendalian emosi trading serta manajemen risiko Anda berkembang?

Selain tanggal dan tahun, detail seperti jam juga sangat penting dicatat. Pasar forex bisa sangat tenang, tetapi bisa juga sangat volatile terutama saat ada berita besar penggerak pasar. Jadi, sangat penting untuk mencatat kapan tepatnya Anda membuka posisi dan menutup posisi.

Ambil saja contoh sebagai berikut:

Informasi-waktu.png


Chart GBP/USD di atas diambil pada tanggal 11 November 2018, dengan time frame 1-hour. Dalam waktu beberapa jam, harga terlihat bisa berubah dengan sangat drastis. Harga menguat sampai 0.30 persen pada jam 3 sore, lalu turun hingga 0.32 persen pada jam 9 malam.

Dari sini, jelas bahwa perubahan besar bisa terjadi dalam waktu singkat. Jika Anda tidak mencatat detail jam di jurnal trading, maka Anda akan mudah melewatkan momen signifikan yang bisa mempengaruhi posisi trading. Tentu saja hal ini tidak serta-merta mengharuskan Anda untuk mencatat perubahan per jam setiap harinya. Anda cukup siaga ketika pasar sedang dalam volatilitas tinggi. Hal itu bisa diperkirakan dengan mudah jika Anda mengetahui karakteristik sesi trading forex.

2. Pasangan Mata Uang

Kini Anda telah menulis informasi waktu, jangan lupa juga menulis pasangan mata uang yang ditransaksikan. Jika hanya menulis "11 Desember 2018 jam 15.00, open posisi", tentu informasi yang kita butuhkan kurang. Data mengenai pasangan mata uang yang dipakai sangat penting, karena masing-masing pair memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Para trader pemula pada umumnya disarankan untuk trading pada mata uang mayorm karena spreadnya relatif rendah.

3. Detail Trading

Selain informasi waktu dan pasangan mata uang, detail trading seperti harga Entry, Stop Loss, Target Profit, Volume Trading, Harga Exit, Profit/Loss juga penting untuk dicatat. Melalui detail-detail angka ini, Anda dapat mengevaluasi diri apakah posisi yang diambil selama bertrading sudah benar atau belum.

Perlu diingat, kegagalan yang Anda alami pada satu waktu, tidak selalu dikarenakan strategi yang salah. Bisa jadi, sedang ada faktor-faktor eksternal yang membuat pasar bergejolak. Untuk menentukan apakah kesalahan berasal dari teknik trading Anda atau bukan, Anda dapat menambahkan detail berita atau info pasar berdampak tinggi di jurnal trading.

Pelupa adalah sifat dasar manusia, terutama jika berhubungan dengan angka-angka dan waktu. Karena itu, mencatat detail trading sangat berguna karena kita tidak perlu menerawang apa yang terjadi belakangan ini, cukup melihat pada jurnal trading harian yang dimiliki untuk dipelajari lagi.

Tips Membuat Jurnal Trading Forex Harian Lebih Menarik

1. Menambahkan Gambar Dan Warna

Meskipun trading forex bisa dijadikan sumber mata pencaharian, Anda tidak perlu terlalu kaku dalam membuat jurnal trading. Hal-hal sederhana seperti memilih buku jurnal dengan warna favorit, menambahkan gambar seperti chart sederhana, atau menempelkan hasil screenshot di jurnal, juga dapat dilakukan agar membuat jurnal trading forex tidak terasa membosankan.

2. Cari Inspirasi Lewat Forum Trading

Jika Anda adalah trader yang suka berselancar di internet, mencari inspirasi jurnal trading secara online juga bisa menjadi solusi. Gaya penyampaian jurnal trading ini pun macam-macam. Ada yang seperti menulis diary, ada juga yang singkat dan hanya berisi keterangan buka-tutup posisi serta prediksi.

Saat ini, telah banyak forum-forum trading dimana para trader forex membagikan aktivitas trading mereka. Beberapa forum trading yang populer di antaranya Forex Factory dan TradingView. Di Indonesia, trader-trader biasanya berkerumun di Kaskus, indo.mt5, atau di Forexindo. Seputarforex juga menyediakan wadah diskusi bagi trader di platform Telegram. Ternyata, banyak sekali ya pilihan untuk belajar trading forex pemula?

Kesimpulan

Pelajaran yang bisa kita petik dari membuat jurnal forex harian adalah: Kesuksesan tidak bisa dibangun dalam sekejap, dan hal itu berasal dari ketekunan diri sendiri. Karena forex adalah aktivitas individual, dimana tidak ada bos yang memerintah kita, maka sudah sewajarnya jika kita berdisiplin mengisi jurnal trading forex harian, untuk melakukan evaluasi terhadap performa diri sendiri. Kemauan untuk mengevaluasi diri dan tidak cepat menyerah adalah kunci kesuksesan dalam forex.


Trader sukses tentunya memiliki trading jurnal, catatan satu ini merekam seluruh jejak mereka selama berkarir di dalam dunia trading. Ibarat buku harian, mereka senantiasa mencurahkan semua kegiatan trading di dalam jurnal satu ini. Jadi mereka bisa melakukan riset terhadap pergerakan mereka sendiri jika kemudian terjadi kerugian.

Seringkali muncul pertanyaan, apakah trader mutlak harus memiliki jurnal seperti ini? Jawabannya tidak selalu wajib. Namun memang penulisa jurnal satu ini begitu penting bagi seorang trader. Pasalnya jurnal bisa membantu mereka melakukan perbaikan atas kemampuan trading secara pribadi. Terlebih hal ini akan membuka peluang kesuksesan jauh lebih besar lagi.

Saat seorang trader memulai pembuatan jurnal, mereka bisa dengan mudah melakukan rekapitulasi total terkait seluruh pendapatan selama melakukan trading. Selain rekapitulasi, mereka juga bisa melakukan analisa terhadap segala keputusan yang telah dibuat selama terjun ke dalam bisnis trading ini. Jadi semua kesalahan bisa dipertanggungjawabkan kemudian.

 

11. Tingkat inflasi
Indikator tingkat inflasi utama yang selalu digunakan adalah CPI(Consumer Price Index). Tingkat inflasi menunjukkan kenaikan harga-harga di tingkat konsumen maupun tingkat produsen. Yang paling berdampak adalah di tingkat konsumen (CPI), sedang di tingkat produsen disebut PPI (Producer Price Index). CPI diperhitungkan dengan mengukur perubahan harga barang dan jasa termasuk makanan dan minuman, sarana transportasi, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Inflasi ditentukan dengan kenaikan rata-rata sekelompok barang dan jasa tersebut dalam suatu periode waktu tertentu.

Tingkat inflasi yang tinggi akan mengurangi nilai suatu mata uang lebih cepat dari tingkat pendapatan konsumen untuk menyesuaikannya, terutama bagi mereka yang berpenghasilan tetap. Dengan demikian daya beli konsumen akan menurun sehingga standard kehidupannya juga akan merosot. Lagi pula tingkat inflasi yang tinggi akan mempengaruhi faktor-faktor lainnya seperti menurunnya jumlah tenaga kerja dan GDP.

Namun demikian, tingkat inflasi yang normal (tidak terlalu tinggi) cenderung berdampak positif. Sebaliknya jika terjadi keadaan deflasi atau penurunan harga juga bisa berdampak negatif pada perekonomian. Deflasi yang terjadi terus-menerus bisa menyebabkan resesi. Deflasi timbul bila konsumen cenderung untuk mengurangi pengeluarannya. Ini terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah uang beredar. Perusahaan cenderung untuk menurunkan harga jual karena persediaan yang melebihi permintaan, namun keuntungannya jadi berkurang hingga tidak mampu membayar hutang dan mengurangi karyawan. Tentu saja hal ini akan berdampak negatif pada ekonomi.

12. Nilai mata uang
Nilai mata uang yang kuat akan meningkatkan daya jual dan daya beli sebuah negara terhadap negara lainnya. Negara dengan mata uang yang lebih kuat akan bisa mengimpor produk-produk dari negara lain dengan harga yang lebih murah. Sebaliknya jika mata uang suatu negara melemah, maka permintaan akan produk-produk negara tersebut akan meningkat.

13. Tingkat suku bunga
Suku bunga terdiri atas suku bunga pinjaman dan deposito. Jika tingkat suku bunga meningkat maka nilai mata uang cenderung untuk menguat. Namun demikian jika inflasi sudah terlalu tinggi maka bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengurangi peredaran jumlah uang, sebaliknya jika terjadi deflasi bank sentral akan cenderung untuk menurunkan suku bunga.

14. Corporate profits
Corporate profits atau keuntungan dari perusahaan-perusahaan besar akan berdampak pada GDP. Jika keuntungan meningkat maka GDP akan cenderung naik. Harga-harga saham juga akan meningkat karena mereka juga menginvestasikan keuntungan di pasar saham.

15. Neraca perdagangan
Neraca perdagangan adalah selisih total nilai ekspor dan impor. Jika terjadi surplus berarti ada aliran dana yang masuk dan jika terjadi defisit berarti lebih banyak uang yang keluar dari negara tersebut. Neraca perdagangan yang surplus lebih diinginkan, dan memperkuat nilai mata uang.

16. Harga komoditi (dalam US dollar)
Harga komoditi emas dan perak sering digunakan sebagai indikator untuk mengetahui kekuatan US dollar. Jika harga komoditi tersebut naik maka US dollar sedang melemah dan sebaliknya. Harga komoditi ini merefleksikan sentimen terhadap US dollar.

Sumber : seputarforex.com

 

Indikator Fundamental Yang Menggerakkan Pasar

Setiap minggu ada puluhan data indikator fundamental ekonomi dan indeks survey yang dirilis di berbagai situs. Mana yang paling berpengaruh di pasar forex? Setiap minggu ada puluhan data indikator ekonomi dan indeks survey yang dirilis di berbagai situs. Banyak diantara data yang dirilis tersebut tidak mempengaruhi pergerakan harga di pasar forex, atau sangat kecil pengaruhnya. Sebagai trader, tentu kita ingin fokus pada indikator fundamental yang berdampak signifikan pada pergerakan harga pasar guna antisipasi dalam membuka posisi, atau mungkin menghindar dari pasar untuk mencegah terkena loncatan harga (slippage).

Indikator fundamental yang bisa menggerakkan pasar forex umumnya adalah yang berhubungan dengan data tenaga kerja, inflasi, aktivitas konsumen dan aktivitas investor. Seringkali sebuah indikator bisa memprediksi atau memberi konfirmasi pada indikator yang lain, misalnya Gross Domestic Product (GDP) dan inflasi. Pasar akan bereaksi jika rilis data berbeda dengan prediksi atau konsensus analis. Berikut beberapa indikator fundamental penting tersebut:

indikator-fundamental-yang-menggerakkan-pasar-1-113611-23016.jpeg

Data Tenaga Kerja: Non Farm Payrolls dan Unemployment Rate
Banyak ekonom berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja adalah indikator utama untuk mengetahui sehat atau sakitnya perekonomian suatu negara.

Di Amerika Serikat, Biro Statistik Tenaga Kerja (US Bureau of Labor and Statistics) setiap bulan merilis data tentang tenaga kerja yang meliputi Non Farm Payrolls (NFP) dan Unemployment Rate (tingkat pengangguran).

NFP mengukur perubahan jumlah tenaga kerja pada periode bulan sebelumnya diluar industri pertanian. Data yang dirilis tiap hari Jum’at minggu pertama ini termasuk indikator yang bersifat leading bagi indikator consumer spending (pengeluaran konsumen), consumer confidence (kepercayaan konsumen) dan consumer sentiment, yang mencerminkan kesehatan ekonomi secara keseluruhan.

Karena faktor konsumen menentukan hampir 70% dari aktivitas perekonomian AS, rilis data dari Biro statistik tenaga kerja AS ini selalu ditunggu oleh pelaku pasar dan analis. Dampak pada pergerakan pasar pun besar, baik pasar saham atau forex.

Bertambah atau berkurangnya lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja akan berpengaruh langsung pada keadaan perekonomian. Misalnya, berkurangnya jumlah tenaga kerja bisa diartikan makin susutnya pendapatan sektor bisnis dan industri. Jika banyak orang yang kehilangan pekerjaan, mereka tidak bisa membeli barang atau produk yang dihasilkan oleh sektor industri hingga mengurangi pendapatan sektor ini. Karena Amerika Serikat adalah negara yang terbesar perekonomiannya dan paling berpengaruh di dunia, maka rilis data NFP AS jauh lebih berdampak pada pasar dibandingkan rilis NFP Perancis misalnya.

Data Unemployment Rate (tingkat pengangguran) di AS dirilis oleh Biro Statistik Tenaga kerja bersamaan dengan NFP. Data ini mengukur jumlah tenaga kerja yang menganggur (tidak bekerja) dan sedang aktif mencari pekerjaan pada periode bulan sebelumnya. Walaupun Unemployment Rate adalah indikator yang bersifat lagging, tetapi jumlah tenaga kerja yang menganggur akan mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumen dan berdampak pada pendapatan sektor bisnis dan industri juga.

Data Mengenai Inflasi: CPI, PPI dan Tingkat Suku Bunga
Diantara rilis data Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI) dan tingkat suku bunga, indikator fundamental yang paling berdampak pada pasar adalah suku bunga. Tingkat suku bunga merupakan output dari dua indikator fundamental sebelumnya yang mengukur laju inflasi.

Bank sentral menentukan tingkat suku bunga berdasarkan indikator indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI). Kebijakan moneter bank sentral ini biasanya diumumkan tiap bulan, dan akan sangat berdampak langsung pada pergerakan pasar forex jika tingkat suku bunga yang dirilis berbeda dengan yang diharapkan para pelaku pasar dan analis.

Berbeda dengan dampak rilis data NFP AS, pengumuman tingkat suku bunga akan berdampak pada semua mata uang utama yang mengalami perubahan suku bunga (EUR, JPY, GBP, CHF, AUD, CAD dan NZD), tidak hanya US dollar. Bahkan kadang pergerakan harga pasar akibat tingkat suku bunga ini bisa melebihi dampak akibat rilis data NFP AS, seperti yang pernah terjadi pada GBP beberapa tahun lalu.

indikator-fundamental-yang-menggerakkan-pasar-2-114233-1.jpg

Data Consumer Price Index (CPI) yang berdampak pada pasar adalah Core CPI atau CPI inti, yaitu indeks harga konsumen diluar sektor makanan dan energi. Bank sentral dan trader biasanya mengacu pada CPI inti untuk mengantisipasi perubahan tingkat suku bunga. Perubahan CPI yang cukup signifikan mencerminkan laju inflasi yang tinggi hingga bisa berpengaruh pada reaksi bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga.

Producer Price Index (PPI) adalah indikator leading untuk tingkat inflasi. Jika produser menaikkan harga produk dan jasa, maka akan berpengaruh langsung pada tingkat pengeluaran konsumen dan tingkat kenaikan harga barang secara keseluruhan. Jika data PPI dirilis sebelum CPI, biasanya akan berpengaruh langsung pada CPI yang pada akhirnya bisa mempengaruhi bank sentral dalam menentukan suku bunga.

Selain CPI dan PPI, para pelaku pasar biasanya juga mencermati harga komoditi yang bisa berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa, seperti misalnya harga minyak mentah dunia. Beberapa tahun terakhir, volatilitas harga minyak dunia sangat mempengaruhi aktivitas perekonomian di berbagai negara industri maju. Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya produksi yang tentunya berakibat pada kenaikan harga produk yang dihasilkan dan jasa transportasi. Hal ini akan berdampak pada kenaikan tingkat laju inflasi.

Sumber : seputarforex.com

 
Tindakan Darurat Mengatasi Trading Yang Selalu Rugi


Jika diminta untuk memilih, tentunya tidak ada trader yang bersedia untuk merugi terus-menerus. Mungkin sekali-sekali rugi boleh, asalkan hasil akhirnya masih positif. Itulah yang ada di dalam benak para trader pada umumnya. Namun dalam kenyataannya, semakin trader sering rugi, semakin panik pula mereka.

Dalam trading forex, kerugian memang tidak bisa dihindari, namun jika sering terjadi atau bahkan berturut-turut, maka secara psikologis jarang sekali bisa diterima trader sebagai sebuah kenyataan. Ini menyebabkan mereka merusak sistem trading yang sedang digunakan.

Rentetan kerugian (losing streak) dapat menyebabkan cara pandang trader pada trading forex berubah. Pasar dianggap tidak ramah lagi dan mesti ditaklukkan. Cara trading yang disiplin dan konsisten segera ditinggalkan. Yang penting bagaimana bisa balas dendam dan menang melawan pasar.

Jika tidak segera diatasi, maka akan semakin menyulitkan trader baik dari segi psikologis maupun pada hasil trading yang semakin buruk. Apabila tidak menemukan ide sebagai jalan keluar, trader akan frustasi dan bisa saja melupakan trading forex.

Berikut ini adalah pengalaman seorang trader forex yang pernah frustasi akibat losing streak. Ia menuliskan tindakan mengatasi trading yang rugi. Cara itu perlu segera dilakukan agar trader yang hampir frustasi bisa melanjutkan trading dengan normal.

1. Mengatasi Trading Yang Rugi Dengan Istirahat Sejenak

Ketika Anda sedang kacau dan panik pasca kerugian beruntun, hentikan segera aktivitas trading dan ambil waktu untuk istirahat. Segera bangkit dan lupakan keruwetan posisi trading Anda. Anda nanti akan bisa berpikir lebih jernih tentang langkah terbaik untuk mengatasi posisi terbuka Anda yang sedang merugi. Cara ini sederhana tetapi sering diabaikan para trader.

Istirahat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Anda bisa melakukan apa saja yang disuka. Misalnya, santai sejenak sambil minum kopi atau senam ringan juga bisa menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali trading. Kalau pikiran fresh, Anda lebih mudah menyusun strategi-strategi trading andal.

2. Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Kerugian Beruntun

Kerugian beruntun bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya, pikiran yang sedang stres, euforia atau rasa senang yang berlebihan, serta perubahan kebiasaan rutin disebabkan kondisi lingkungan yang berubah dan belum teradaptasi. Tekanan mental semacam itu biasanya menyebabkan Anda overtrading.

Kalau sudah mengetahui faktor-faktor penyebab itu, Anda dapat mengatasinya dengan cepat. Banyak cara juga untuk mengatasi faktor penyebab kegagalan seperti point (1). Seorang panglima perang terkenal kerajaan China masa lalu, Sun Tzu, membuat peraturan bagi prajuritnya agar selalu dalam kondisi mental yang normal:

"Jangan asal bergerak kecuali tahu Anda akan mendapatkan manfaat, jangan asal menggerakkan pasukan kecuali tahu Anda akan menang, jangan asal menyerang kecuali posisi Anda sudah sangat kritis."

3. Pelajari Jurnal Trading Pada Periode Terjadinya Kerugian Beruntun

Setelah mengetahui faktor-faktor penyebab di luar sistem trading yang Anda gunakan, langkah berikutnya adalah meninjau implementasi rencana trading yang telah Anda sepakati. Lihat jurnal trading Anda pada periode terjadinya kerugian yang beruntun. Apakah Anda cukup konsisten pada rencana trading Anda? Jika Anda memang melenceng dari rencana, mungkinkah itu disebabkan oleh faktor pada point (2) di atas?

Karena sejatinya trading forex membutuhkan konsistensi dari strategi yang sudah disusun dalam jurnal trading. Memang strategi itu tidak langsung berhasil atau menghasilkan profit seketika, tapi dibutuhkan pengalaman dan "proses" untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus demi mencapai kesempurnaan.

4. Lakukan Tindakan Seperti Trader Profesional

Langkah selanjutnya adalah Anda segera melakukan pembenahan. Bertindaklah seperti seorang profesional, identifikasi penyebab utama timbulnya masalah, kemudian lakukan perbaikan. Jika pokok masalah ada pada point (2), apa yang mesti Anda lakukan, dan jika ada pada point (3), Anda mesti membenahi strategi atau rencana trading Anda. Segera lakukan untuk mengatasi trading yang rugi. Jangan menunda waktu lama-lama.

 
Tindakan Darurat Mengatasi Trading Yang Selalu Rugi


Jika diminta untuk memilih, tentunya tidak ada trader yang bersedia untuk merugi terus-menerus. Mungkin sekali-sekali rugi boleh, asalkan hasil akhirnya masih positif. Itulah yang ada di dalam benak para trader pada umumnya. Namun dalam kenyataannya, semakin trader sering rugi, semakin panik pula mereka.

Dalam trading forex, kerugian memang tidak bisa dihindari, namun jika sering terjadi atau bahkan berturut-turut, maka secara psikologis jarang sekali bisa diterima trader sebagai sebuah kenyataan. Ini menyebabkan mereka merusak sistem trading yang sedang digunakan.

Rentetan kerugian (losing streak) dapat menyebabkan cara pandang trader pada trading forex berubah. Pasar dianggap tidak ramah lagi dan mesti ditaklukkan. Cara trading yang disiplin dan konsisten segera ditinggalkan. Yang penting bagaimana bisa balas dendam dan menang melawan pasar.

Jika tidak segera diatasi, maka akan semakin menyulitkan trader baik dari segi psikologis maupun pada hasil trading yang semakin buruk. Apabila tidak menemukan ide sebagai jalan keluar, trader akan frustasi dan bisa saja melupakan trading forex.

Berikut ini adalah pengalaman seorang trader forex yang pernah frustasi akibat losing streak. Ia menuliskan tindakan mengatasi trading yang rugi. Cara itu perlu segera dilakukan agar trader yang hampir frustasi bisa melanjutkan trading dengan normal.

1. Mengatasi Trading Yang Rugi Dengan Istirahat Sejenak

Ketika Anda sedang kacau dan panik pasca kerugian beruntun, hentikan segera aktivitas trading dan ambil waktu untuk istirahat. Segera bangkit dan lupakan keruwetan posisi trading Anda. Anda nanti akan bisa berpikir lebih jernih tentang langkah terbaik untuk mengatasi posisi terbuka Anda yang sedang merugi. Cara ini sederhana tetapi sering diabaikan para trader.

Istirahat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Anda bisa melakukan apa saja yang disuka. Misalnya, santai sejenak sambil minum kopi atau senam ringan juga bisa menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali trading. Kalau pikiran fresh, Anda lebih mudah menyusun strategi-strategi trading andal.

2. Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Kerugian Beruntun

Kerugian beruntun bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Misalnya, pikiran yang sedang stres, euforia atau rasa senang yang berlebihan, serta perubahan kebiasaan rutin disebabkan kondisi lingkungan yang berubah dan belum teradaptasi. Tekanan mental semacam itu biasanya menyebabkan Anda overtrading.

Kalau sudah mengetahui faktor-faktor penyebab itu, Anda dapat mengatasinya dengan cepat. Banyak cara juga untuk mengatasi faktor penyebab kegagalan seperti point (1). Seorang panglima perang terkenal kerajaan China masa lalu, Sun Tzu, membuat peraturan bagi prajuritnya agar selalu dalam kondisi mental yang normal:

"Jangan asal bergerak kecuali tahu Anda akan mendapatkan manfaat, jangan asal menggerakkan pasukan kecuali tahu Anda akan menang, jangan asal menyerang kecuali posisi Anda sudah sangat kritis."

3. Pelajari Jurnal Trading Pada Periode Terjadinya Kerugian Beruntun

Setelah mengetahui faktor-faktor penyebab di luar sistem trading yang Anda gunakan, langkah berikutnya adalah meninjau implementasi rencana trading yang telah Anda sepakati. Lihat jurnal trading Anda pada periode terjadinya kerugian yang beruntun. Apakah Anda cukup konsisten pada rencana trading Anda? Jika Anda memang melenceng dari rencana, mungkinkah itu disebabkan oleh faktor pada point (2) di atas?

Karena sejatinya trading forex membutuhkan konsistensi dari strategi yang sudah disusun dalam jurnal trading. Memang strategi itu tidak langsung berhasil atau menghasilkan profit seketika, tapi dibutuhkan pengalaman dan "proses" untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus demi mencapai kesempurnaan.

4. Lakukan Tindakan Seperti Trader Profesional

Langkah selanjutnya adalah Anda segera melakukan pembenahan. Bertindaklah seperti seorang profesional, identifikasi penyebab utama timbulnya masalah, kemudian lakukan perbaikan. Jika pokok masalah ada pada point (2), apa yang mesti Anda lakukan, dan jika ada pada point (3), Anda mesti membenahi strategi atau rencana trading Anda. Segera lakukan untuk mengatasi trading yang rugi. Jangan menunda waktu lama-lama.


Di dalam dunia trading forex memang yang namanya resiko untuk kerugian tidak bisa di hindari, akan tetapi jika sering mengalami kerugian sampai berterusan maka seringkalinya para trader merasa tidak terima. Inilah peran dari psikologi para trader. Ini bisa membuat bubrahnya sistem trading yang sudah di tentukan dan akan di terapkan, dan jika memang tidak segera untuk di atasi maka akan bisa semakin menyulitkan para trader baik dari segi psikologis maupun pada hasil trading yang buruk. Jika tidak mendapatkan ide untuk keluar dari masalah tersebut para trader itu bisa saja merasa frustasi dan kehilangan kontrol tradingnya.

Di bawah Ini beberapa tindakan darurat agar para trader tidak mengalami stres dan frustasi. Lebihnya bangkit kembali untuk trading normal lagi.

  1. Sebentar saja untuk istirahat
  2. Cari penyebab kerugian beruntun
  3. Membuat jurnal trading

 

Belajar Forex Dari Sistem Trading Terburuk

Di suatu forum trader, ada seorang member yang memberikan pengumuman berbunyi: Dicari EA yang dijamin selalu loss. Wah, buat apa cari sistem trading terburuk seperti itu? Baru-baru ini di suatu forum trader, ada seorang member yang memberikan pengumuman yang menurut saya agak aneh. Bunyinya, "Dicari EA yang dijamin selalu loss". Lho, buat apa cari Expert Advisor yang dijamin loss?

Ternyata, dia berharap bisa menggunakan sinyal dari EA tersebut sebagai sinyal terbalik. Entah bagaimana cara dia mencari atau memanfaatkan EA yang dijamin selalu loss itu dan saya takkan mengulasnya di sini. Namun, melihat pengumuman tersebut membuat saya berpikir, memang ada baiknya kita mengetahui hal terburuk supaya kita bisa mengetahui di mana letak kesalahan atau kelemahannya, agar kelak bisa menghindarinya.

Nah, sehubungan dengan sistem trading, saya pernah membaca tentang satu metode yang dikatakan sebagai sistem trading terburuk yang pernah ada. Memang sih, sistem trading tersebut memiliki rekor terburuk ketika digunakan sistem trading di pasar saham. Namun, tak ada salahnya kita coba lihat, siapa tahu kita bisa ambil pelajaran dari sistem trading terburuk tersebut.

belajar-trading-forex-dari-sistem-terburuk-62969-25450.jpg

Sistem Trading Terburuk
Metode yang disebut-sebut sebagai sistem trading terburuk tersebut dikenal dengan istilah Average Down. Inti dari strategi ini adalah, trader melakukan aksi buy di saat tren sedang turun (harga bergerak berlawanan dengan keinginan trader), dan aksi buy ini dilakukan berulang-ulang selama tren terus menerus turun. Tujuan asalnya adalah mencari harga terendah dan mencoba menurunkan harga rata-rata saham yang sudah dibeli tersebut, sehingga apabila nantinya harga mulai naik, kita bisa menjual dengan keuntungan yang lebih tinggi.

Contohnya, katakanlah harga per lembar saham saat itu USD50 dan kita membeli sebanyak 1 lot. Harga kemudian turun menjadi USD40 per lembar. Bukannya melakukan Cut Loss, kita justru melakukan pembelian lagi sebanyak 1 lot pula, sehingga harga rata-rata 2 lot saham yang kita miliki adalah USD45. Jika harga ternyata masih turun lagi, kita kembali melakukan aksi beli kembali dengan tujuan untuk makin mengurangi harga rata-rata saham yang sudah kita miliki. Demikian seterusnya.

Nah, sudahkah terbayang bagaimana seandainya harga terus turun dan tak juga berbalik naik, padahal persediaan dana trader terbatas? Wah… menurut saya, itu sih sama saja dengan membuang uang.

Terbayangkah bila kita melakukan strategi yang sama di pasar forex? Mungkin Anda berpendapat, melawan trend seperti itu bisa saja kita lakukan apabila Money Management kita kuat.

Saya tak bermaksud mengatakan kalau melawan tren itu salah. Toh, kata para master, tak ada posisi yang "salah" dalam trading. Tapi… mari kita berpikir secara rasional saja. Buat apa "menyia-nyiakan" margin kita untuk mengulang posisi yang masih floating (jauh) negatif? Bukankan akan lebih menguntungkan secara rasional untuk menggunakan margin di posisi yang searah dengan trend saja!? Walaupun seandainya tren memang kemudian berubah arah dan floating negatif tersebut akhirnya ter-closed positif, bukankah kita tetap rugi waktu!?

Poin-poin yang Dapat Dipelajari Trader
Dalam ilmu ekonomi, apalagi bila berhubungan dengan investasi, kita harus selalu menghitung biaya kesempatan alias Opportunity Cost. Makna Opportunity Cost adalah kerugian karena kita tak memanfaatkan suatu alternatif bagus lantaran memilih alternatif lain pada waktu yang sama.

Jadi, seandainya kita memelihara posisi floating minus tersebut selama seminggu, kita seharusnya berpikir bahwa kita telah menyia-nyiakan modal trading kita selama seminggu tersebut, karena masih terpakai untuk menjaga posisi floating yang entah kapan akan berakhir. Akibatnya, kita jadi kehilangan kesempatan menggunakan modal tersebut untuk melakukan open position lain yang kemungkinan bisa menghasilkan profit lebih cepat dan atau lebih banyak.

Oke, jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sistem trading terburuk ini? Kalau boleh saya simpulkan di sini, ada empat hal:
  1. Jangan trading dengan menentang tren.
  2. Jangan terlalu percaya diri dan keras kepala mempertahankan pendapat, padahal pasar kemungkinan sudah memberikan sinyal berbeda.
  3. Jangan ragu untuk melakukan Cut Loss atau mengeksekusi Stop Loss, alias meng-"amputasi" posisi merugi sebelum kerugian makin membengkak.
  4. Saat dihadapkan pada banyak sinyal trading pada tempo bersamaan, pilihlah yang potensi profit dan risikonya paling proporsional. Jangan sampai kita harus menanggung Opportunity Cost karena salah mengeksplorasi peluang yang profitabilitasnya paling buruk dan risikonya paling tinggi.

Sumber : seputarforex.com

 
KESALAHAN TRADER PEMULA DALAM MEMILIH ROBOT FOREX GRATISAN


Robot forex adalah perangkat lunak untuk trading forex yang mampu mengotomatiskan pengambilan keputusan dalam trading Anda. Robot forex gratis paling banyak dibuat dengan menggunakan MetaTrader. Robot-robot ini dapat digunakan sebagai 'penasihat ahli' dan hampir dapat melakukan apa saja mulai dari memberi sinyal untuk melakukan perdagangan hingga menempatkan dan mengelola trading untuk Anda secara otomatis.

Meskipun terdengar mudah dan menyenangkan, para trader profesional umumnya tidak sembarangan dalam memilih robot forex gratisan. Lantas, apa saja kesalahan paling umum yang dilakukan para trader pemula saat memilih robot forex?

Tidak Membekali Diri dengan Pengetahuan Seputar Trading

Meskipun robot dapat melakukan semua secara otomatis, tapi para trader tetap harus memahami mekanisme trading beserta strategi forex. Ini merupakan hal mendasar yang harus Anda miliki. Robot forex memang memudahkan, tapi tidak mengerjakan semuanya untuk Anda. Keberadaannya adalah untuk membantu Anda yang tak punya banyak waktu atau kurang telaten untuk mengatur trading setup manual.

Tidak Melakukan Pengujian

Dari sekian banyak robot forex gratisan yang tersedia di pasaran, semua memberikan iming-iming keuntungan besar. Tapi ketika Anda memilih salah satunya, pastikan untuk melakukan uji coba robot forex, terutama jika Anda berniat untuk membeli. Pengujian ini akan menghindarkan pengguna dari kesalahan-kesalahan fatal yang bisa menyebabkan kerugian trading. Perhatikan dengan baik bagaimana kinerja robot dengan mengujinya langsung lewat akun demo.

Memilih Broker yang Salah

Dengan beberapa alasan, ada broker forex yang tidak memperkenankan kliennya memakai robot forex untuk trading. Karena itu, pastikan Anda memilih broker yang luwes dari sisi strategi dan memungkin klien menggunakan robot forex saat trading. Di FOREXimf, Anda bisa melakukan trading dengan menggunakan robot forex T200.

Melupakan Risiko

Walaupun robot forex gratisan sudah memiliki pengaturan sendiri dalam eksekusi order, risiko kerugian akan tetap ada. Inilah yang sering dilupakan oleh para trader pemula. Mereka menganggap dengan menggunakan robot forex, secara otomatis mereka akan mendapatkan untung. Padahal, kerugian bisa datang kapan saja baik dari pola pergerakan harga yang di luar dugaan, atau kesalahan dari robot forex yang digunakan.

Tidak Mengikuti Instruksi Penggunaan

Setiap jenis robot forex beroperasi menurut aturan yang sudah. Ketika menjalankan dan mengubah pengaturan, pastikan untuk memerhatikan instruksi yang terlampir dari pembuat robot trading. Beberapa poin penting seperti rekomendasi deposit minimal, pasangan mata uang, ukuran lot dan lain sebagainya dapat menjadi pertimbangan dalam memaksimalkan kinerja robot trading yang Anda gunakan.

Tidak Teliti dengan Menggunakan Robot Forex Abal-abal

Meskipun tidak berbayar, menggunakan robot forex gratis tetap harus hati-hati dengan produk abal-abal. Beberapa ciri robot forex penipuan antara lain menjanjikan profit konsisten yang tidak masuk akal, diarahkan ke broker yang tidak terpercaya hingga iming-iming lain yang menggiurkan. Selalu ingat bahwa dalam trading forex tidak ada yang namanya keuntungan konsisten. Selalu ada risiko berupa kerugian jika Anda menjalankannya.

 
KESALAHAN TRADER PEMULA DALAM MEMILIH ROBOT FOREX GRATISAN


Robot forex adalah perangkat lunak untuk trading forex yang mampu mengotomatiskan pengambilan keputusan dalam trading Anda. Robot forex gratis paling banyak dibuat dengan menggunakan MetaTrader. Robot-robot ini dapat digunakan sebagai 'penasihat ahli' dan hampir dapat melakukan apa saja mulai dari memberi sinyal untuk melakukan perdagangan hingga menempatkan dan mengelola trading untuk Anda secara otomatis.

Meskipun terdengar mudah dan menyenangkan, para trader profesional umumnya tidak sembarangan dalam memilih robot forex gratisan. Lantas, apa saja kesalahan paling umum yang dilakukan para trader pemula saat memilih robot forex?

Tidak Membekali Diri dengan Pengetahuan Seputar Trading

Meskipun robot dapat melakukan semua secara otomatis, tapi para trader tetap harus memahami mekanisme trading beserta strategi forex. Ini merupakan hal mendasar yang harus Anda miliki. Robot forex memang memudahkan, tapi tidak mengerjakan semuanya untuk Anda. Keberadaannya adalah untuk membantu Anda yang tak punya banyak waktu atau kurang telaten untuk mengatur trading setup manual.

Tidak Melakukan Pengujian

Dari sekian banyak robot forex gratisan yang tersedia di pasaran, semua memberikan iming-iming keuntungan besar. Tapi ketika Anda memilih salah satunya, pastikan untuk melakukan uji coba robot forex, terutama jika Anda berniat untuk membeli. Pengujian ini akan menghindarkan pengguna dari kesalahan-kesalahan fatal yang bisa menyebabkan kerugian trading. Perhatikan dengan baik bagaimana kinerja robot dengan mengujinya langsung lewat akun demo.

Memilih Broker yang Salah

Dengan beberapa alasan, ada broker forex yang tidak memperkenankan kliennya memakai robot forex untuk trading. Karena itu, pastikan Anda memilih broker yang luwes dari sisi strategi dan memungkin klien menggunakan robot forex saat trading. Di FOREXimf, Anda bisa melakukan trading dengan menggunakan robot forex T200.

Melupakan Risiko

Walaupun robot forex gratisan sudah memiliki pengaturan sendiri dalam eksekusi order, risiko kerugian akan tetap ada. Inilah yang sering dilupakan oleh para trader pemula. Mereka menganggap dengan menggunakan robot forex, secara otomatis mereka akan mendapatkan untung. Padahal, kerugian bisa datang kapan saja baik dari pola pergerakan harga yang di luar dugaan, atau kesalahan dari robot forex yang digunakan.

Tidak Mengikuti Instruksi Penggunaan

Setiap jenis robot forex beroperasi menurut aturan yang sudah. Ketika menjalankan dan mengubah pengaturan, pastikan untuk memerhatikan instruksi yang terlampir dari pembuat robot trading. Beberapa poin penting seperti rekomendasi deposit minimal, pasangan mata uang, ukuran lot dan lain sebagainya dapat menjadi pertimbangan dalam memaksimalkan kinerja robot trading yang Anda gunakan.

Tidak Teliti dengan Menggunakan Robot Forex Abal-abal

Meskipun tidak berbayar, menggunakan robot forex gratis tetap harus hati-hati dengan produk abal-abal. Beberapa ciri robot forex penipuan antara lain menjanjikan profit konsisten yang tidak masuk akal, diarahkan ke broker yang tidak terpercaya hingga iming-iming lain yang menggiurkan. Selalu ingat bahwa dalam trading forex tidak ada yang namanya keuntungan konsisten. Selalu ada risiko berupa kerugian jika Anda menjalankannya.


Apa sih robot trading itu? Robot trading adalah suatu software yang di-install-kan ke metatrader/platform trading dari broker yang kalian gunakan. Bahasa kerennya untuk robot trading ini adalah AI -- Artificial Intelegence.

Tujuan robot trading ini sendiri adalah untuk mempermudah kalian untuk trading otomatis ya (auto pilot gitu). Jadi, intinya, kalau pakai robot ini maka sebuah software mesin pintar yang akan melakukan analisa market dan yang melakukan trading open order, semuanya dilakukan robot.

Kalian bertugas untuk memantau pergerakan order yang dibuat oleh robot itu tadi. Dengan harapan menghasilkan profit yang banyak tentunya.

 

Resiko Itu Pasti Ada, Tinggal Bagaimana Kita Mengelolanya

Setiap kegiatan dan aktivitas di dunia ini pastinya memiliki resiko, termasuk trading. Bagaimana cara terbaik untuk mengelola resiko? iklan iklan Semua kegiatan yang kita lakukan pasti memiliki resiko, baik besar maupun kecil pasti akan ada resikonya. Dalam kegiatan keseharian pun, resiko adalah teman sejati yang selalu setia menemani kemanapun kita melangkah. Dia tidak mau menghindar atau bahkan dihindari. Karena sekuat apapun kita menghindar, maka sekuat itu pula resiko itu mendekat.
Begitupun dalam kegiatan usaha, yang namanya resiko itu pasti selalu ada dan tidak akan pernah bisa dihilangkan. Tidak peduli besar atau kecil jenis usahanya dan tidak peduli jenis usaha apa yang sedang dijalankannya. Kalau kita menyadari bahwa resiko adalah teman sejati setiap langkah kita, sahabat terdekat dengan setiap kegiatan bisnis kita, maka sangatlah tidak bijak seandainya kita melupakan, menghindari ataupun menjauhi resiko tersebut.

Resiko itu bukan untuk dihindari, namun harus dihadapi dan dikelola. Karena apabila kita mampu menghadapi dan mengelolanya dengan benar, maka kita bisa mengelola potensi-potensi kerugian yang ada. Ada seorang trader pernah berkata seperti ini:

"Jangan tanyakan kepada diri Anda berapa persen Anda siap menerima keuntungan, tetapi tanyakanlah berapa persen Anda siap menanggung kerugian."

Penyataan di atas menjadi sangat penting karena berhubungan erat dengan mental (emosi) kita saat melakukan trading. Kita juga akan mengetahui bagaimana harus mengelola resiko yang sudah terukur itu menjadi sebuah keuntungan.

Mungkin sudah terlalu banyak bukti dari pengalaman para trader yang membiarkan kerugian itu terus berjalan karena tidak mau rugi dan berharap harga akan balik kembali. Pada akhirnya, ia malah menderita kerugian yang cukup banyak karena harapan itu hanya didasarkan pada ekspektasi kosong tanpa basis analisa yang jelas.

Kenalilah resiko itu, bersahabatlah dengan resiko itu, dan kelolalah resiko itu. Maka kita akan bisa mengembangkan perdagangan sesuai dengan apa yang diharapkan. Jadi, tanyakanlah kepada diri sendiri sebelum melakukan trading forex, berapa persen mental Anda mampu atau sanggup menanggung kerugian. Kemudian cobalah untuk mengelola potensi kerugian tersebut agar menjadi keuntungan.

Contoh Pengolalaan Resiko Trading
Anda punya modal trading $1000 dan secara emosional mampu menanggung kerugian maksimal sebesar $100 per posisi (1% dari modal). Menyesuaikan kerugian maksimal dengan jumlah yang mampu Anda tanggung secara emosional artinya menakar seberapa besar loss yang menurut pandangan pribadi Anda masih wajar, sehingga jika benar terjadi, Anda tidak menjadi stres dan berupaya "mengembalikan" kerugian tersebut bagaimanapun caranya. Katakanlah Anda sudah merasa sangat kehilangan apabila kerugian sudah melebihi $100 di satu posisi, maka batasi kerugian maksimal per trade di angka $100.

Setelah mengetahui berapa jumlah kerugian maksimal sesuai batas toleransi risiko Anda, maka selanjutnya atur manajemen resiko yang mengakomodasi standar tersebut. Untuk mengupayakannya, ada beragam cara yang bisa Anda pilih. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan fitur Stop Loss yang bisa menutup posisi rugi secara otomatis pada level tertentu.

Di sini, Anda bisa menentukan sendiri di level mana Stop Loss akan terpicu. Apabila Anda menentukan besar kerugian per posisi tak bisa lebih dari $100, maka cukup hitung nilai per pips dari setup posisi Anda, lalu gunakan patokannya untuk menempatkan Stop Loss.

Contohnya: Anda open posisi buy EUR/USD pada harga 1.2000 dengan lot 0.1 (10,000 unit). Volume trading 0.1 lot sendiri memiliki patokan nilai $1 per pips untuk posisi trading EUR/USD. Oleh karena itu, Anda cukup mengkonversinya menjadi pips dengan perhitungan: $1 x $100 = 100 pips.

Setelah memperoleh hasil tersebut, maka Stop Loss ideal yang sesuai batas toleransi risiko Anda adalah: 1.2000 - 0.0100 = 1.1900.

Perlu diketahui, penggunaan Stop Loss biasanya juga diiringi dengan Take Profit yang berfungsi untuk mengunci keuntungan dengan cara menutup posisi secara otomatis ketika sedang profit. Karena besar resiko biasanya sebanding dengan peluang keuntungan, maka sesuaikanlah penggunaan Take Profit yang ideal dengan Stop Loss Anda.

Jangan terlalu jauh menautkan Take Profit di jarak 1000 pips dari Entry apabila Stop Loss Anda cuma 100 pips. Biasanya, jarak Take Profit 3x dari Stop Loss sudah menjadi ukuran maksimal bagi trader. Lebih dari itu, maka posisi Anda rawan terkena Stop Loss sebelum Take Profit tersentuh. Bagaimanapun juga, pasar tidak selalu bergerak trending secara terus-menerus. Seperti yang dikatakan oleh Paul Tudor Jones:

"Market hanya bergerak dalam trend sekitar 15 persen (dari total fluktuasinya); selebihnya, pasar hanya bergerak sideways."

Setelah membaca ulasan di atas secara menyeluruh, berikut adalah infografi mengenai resiko trading untuk membantu Anda mendapat simpulan yang mudah dipahami:

Sumber : seputarforex.com

 

Rasio 1:2 Tidak Selalu Bermanfaat

Dalam teori tradisional, resiko dan profit biasanya diukur dengan rasio 1:2. Kenyataannya, belum banyak trader yang benar-benar menerapkan teori ini. Bagaimana Anda menentukan rasio risk dan reward dalam trading? Kami yakin tidak ada trader yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan pasti dan jawaban yang sama. Pertanyaan itu mirip dengan menanyakan berapa banyak langkah yang Anda butuhkan untuk berjalan ke luar dari apartemen Anda di kota New York saat musim dingin.

Trading itu ibaratnya cuaca, kadang panas tapi juga terkadang dingin. Demikian juga halnya dengan pasar, terkadang bergerak cepat, terkadang bergerak lambat. Oleh karena itu pertanyaan tentang resiko dan imbalan selalu disesuaikan dengan keadaan terkini.

Dalam teori tradisional, resiko dan profit biasanya diukur dengan rasio 1:2. Dengan rasio ini, Anda dapat mempertaruhkan setengah dari jumlah keuntungan sehingga jika target profit 100 point maka stop lossnya adalah 50 pips. Teori ini terdengar hebat. Anda hanya perlu menang 4 kali dari 10 kali trading yang kalah. Namun, pada kenyataannya, belum banyak trader yang benar-benar menerapkan dan setia dengan penggunaan teori ini.

Pasar, dalam kenyataanya, tidak sama seperti sebuah pabrik yang memberikan keuntungan dengan mudah kepada Anda. Yang terjadi sebenarnya adalah, pada awalnya trading berjalan secara normal namun tanpa diduga pasar bergerak melawan posisi Anda. Ibaratkan seperti ini: Anda menargetkan kerugian sebanyak 100 pips dan berencana untuk mengunci profit ketika sudah mencapai 200 pips. Setelah entry, harga terus naik dan ketika profit sudah terkumpul sebanyak 199 pips, harga malah berbalik turun hingga 100 poin. Apa yang terjadi? Jelas stop loss Anda akan tersentuh, dan posisi buy yang tadinya berjalan sesuai harapan malah ditutup dengan kerugian.

Di atas kertas, Anda memang kehilangan 100 poin, tetapi dalam kenyataannya Anda kehilangan -299 poin (Stop loss 100 poin dan -199 hasil pembalikan pasar). Dengan demikian, teori rasio 1(risk) : 2(reward) sebenarnya malah melipatkan kerugian Anda.

Gunakan Trailing Stop
Inti dari permasalahan ini adalah bahwa keuntungan Anda tidak dapat diperkirakan dengan benar-benar pasti di pasar forex. Satu-satunya hal yang dapat Anda kendalikan adalah resiko. Itulah sebabnya kami selalu lebih dahulu menentukan target dan dengan tekun mengendalikan risiko menggunakan trailing stop. Mungkin hal ini tidak terlihat sangat memukau, namun percayalah penggunaan trailing stop jauh lebih mudah daripada memakai rasio 1:2.

Dengan pemakaian trailing stop, Anda akan lebih mudah mengantisipasi pergerakan harga yang tiba-tiba berubah arah secara tajam. Katakanlah Anda open buy pada pasar yang sedang uptrend, Anda bisa memposisikan trailing stop untuk bergeser naik setiap ada peningkatan harga sebanyak 10 pips. Dengan demikian, ketika harga berbalik turun secara tajam, posisi tersebut tidak akan terclose dengan kerugian total. Metode ini sangat kompatibel dengan prinsip "cut losses and let your profits run".

Sumber : seputarforex.com

 
Back
Top